Ulong Belati

Ulong Belati
Hadirnya Musuh Lain


__ADS_3

Datuk Awan pernah mendengar tentang kemampuan Ki Bayu dari Awang pada pertemuan para laskar di Sunggal. Tapi dia mengamati tadi ada beberapa hal yang janggal.


Ki Bayu yang di dengarnya dari cerita Awang, selalu bersama satu serigala raksasa dan dua serigala jadi-jadian dan kini Ki Bayu hanya sendiri. Selain itu kaki Ki Bayu putus di sebelah kanan, sementara Awang juga tidak pernah bercerita tentang hal tersebut.


Apa mungkin ada yang dapat menemukan kelemahan dan melukai serta membunuh peliharaan orang ini, pikir Datuk Awan. Atau jangan-jangan kesaktiannya sudah hilang. Karena jelas tadi Ki Bayu bisa dilukai Datuk Putih harimau besar tunggangannya, tidak kebal seperti yang dia dengar. Bahkan luka tersebut masih terlihat di bahu kanannya, tidak secara ajaib menghilang.


Ki Bayu melompat menubruk Datuk Awan. Tapi Datuk Awan melompat lalu tendangkan kaki kiri, Ki Bayu menangkis dengan tangannya sambil teruskan menubruk. Tapi lagi-lagi tendangan Datuk Awan hanya pancingan, menyusul tendangan kaki kiri yang ditangkis, tendangan berikutnya dengan kaki kanan telak mengenai dagu Ki Bayu. Saking kuatnya tendangan itu Ki Bayu sampai terjengkang ke belakang.


Ki Bayu yang tidak merasakan apa-apa langsung mencoba berdiri, tapi Datuk Awan bergerak maju lalu sodokkan lutut ke dagu Ki Bayu. Ki Bayu yang belum bersiap tak bisa menangkis serangan, terpental mundur berguling ke belakang.


"Ck.. ck.. ck lemah, benar-benar lemah", ujar Datuk Awan gelengkan kepala.


Datuk Awan memegang dan memperhatikan keris di tangannya. dia mengernyit karena keris ini memancarkan hawa dingin, sepertinya bukan senjata sembarangan.


Ki Bayu menatap lawan yang sedang memperhatikan keris ditangan mengabaikannya. Dengan geram dia hentakkan kaki di tanah mendorong tubuhnya meluncur ke depan.


Datuk Awan cuma miringkan tubuh lalu tarik kaki kiri menjauh ke belakang, begitu tubuh Ki Bayu berada dihadapannya di angkat dan tekuk kaki kanan hingga lututnya hampir menyentuh dada lalu tendang sekuat tenaga ke rusuk Ki Bayu, "Bugh!!", kembali Ki Bayu terpental begitu jauh.


"Ggrrrr!!", Ki Bayu menggeram buas, kesal juga panik, orang tua ini benar-benar lihai, tak bisa sedikitpun disentuhnya.


"Gerakanmu terlalu mudah di tebak", ujar Datuk Awan terkekeh menyadari kebingungan lawan.


"Seandainya tanpa sihir dan peliharaanmu, maka bisa kupastikan kau sudah terkoyak-koyak di sabet ponakanku Leman", ujar Datuk Awan.


Ki Bayu kembali pasang kuda-kuda untuk menyerang.


Namun baru saja dia memasang kuda-kuda Datuk Awan melesat maju lalu sabetkan keris di tangan ke leher Ki Bayu.


"Cress!!"


"Gila, cepat sekali serangan orang tua ini" pikir Ki Bayu. Dia bahkan tidak menyadari lawan menyerang.


Datuk Awan yang setelah menyerang menjauh beberapa meter dari Ki Bayu menatap lawannya, kini giliran dia yang kaget, tidak ada bekas goresan di leher lawan, padahal jelas tadi keris di tangannya menyayat sangat dalam.

__ADS_1


Ki Bayu terkekeh melihat ekspresi lawan lalu melompat menerkam musuh, tangan kirinya meraih leher dan tangan kanan di tekuk agar sikunya menghantam dagu lawan.


Sebelum tangan kiri Ki Bayu mencapai leher, Datuk Awan memutar tubuh hingga hampir berlaga punggung dengan Ki Bayu, lalu menyikut tengkuk lawan. Ki Bayu maju terhuyung. Dari belakang Datuk Awan tancapkan keris di tangannya ke punggung Ki Bayu hingga menembus ke dada kirinya.


Ki Bayu mencoba meraih ke belakang tapi Datuk Awan tidak memberi kesempatan, dengan kaki kanan di dorongnya tubuh Ki Bayu maju kedepan.


Setelah lawan limbung dia kait kaki kiri Ki Bayu dengan kakinya sehingga lawan terjatuh telungkup.


Sepertinya sia-sia serangan dengan senjata tajam maupun pukulan, pikir Datuk Awan melihat lawan setelah tertelungkup kini berbalik lagi dan siap menyerang.


"Datuk" ujarnya menoleh ke harimau putih yang dalam posisi mendekam tak jauh dari mereka, siap menerkam.


Datuk putih harimau besar langsung melompat dan menerkam begitu mendengar isyarat Datuk Awan.


Harimau besar itu menerkam tepat di tengkuk Ki Bayu. Lalu menggeram dan menggoyang-goyangkan kepala dengan kuat untuk mengoyak tubuh mangsanya.


Dalam remang cahaya malam di terangi bulan separuh, Datuk Awan memperhatikan tidak ada darah mengucur di tengkuk Ki Bayu yang tak bisa berkutik di gigit harimau.


"Jangan lepaskan", ujar Datuk Awan lalu dia melompat naik ke punggung Harimau putih.


Barusan dia menyimpulkan bukan serangan harimau besar yang bisa melukai Ki Bayu melainkan waktu saat dia di serang. Sesudah matahari terbenam tadi disaat dia melihat tubuh Ki Bayu berpindah tempat, ternyata bukan dia yang salah lihat, sepertinya di saat itulah kekuatan Ki Bayu muncul.


"Bagus kau tidur saja di rahang Datuk putih, nanti kami cari cara menghabisimu", ujar Datuk Awan terkekeh.


Ki Bayu berusaha membebaskan diri sebisanya tapi cengkeraman Harimau di tengkuk membuatnya tak dapat berbuat apapun.


Kini harimau tersebut mulai berlari dengan membawa dia dimulutnya, menerabas ilalang dan belukar. Walau dia tak bisa dilukai tapi ini mengesalkan bagi Ki Bayu diperlakukan bagai mainan seperti itu.


Sepertinya ajal akan menjemput tak lama lagi pikirnya, memohon juga tidak mungkin akan mendapat belas kasihan, karena dia telah membunuh keponakan orang tua ini.


Mereka melintasi padang ilalang ke arah timur dengan cepat.


Ilalang dan sesemakan berkali-kali menghantam wajah Ki Bayu, benar-benar menyedihkan dia tak mampu berbuat apa-apa.

__ADS_1


Sekitar satu kilometer berlari, tiba-tiba Datuk Awan dan harimaunya menoleh ke kanan, karena merasakan ada sesuatu yang bergerak ke arah mereka dengan cepat.


Ilalang berbunyi krosak-krosak sepanjang sesuatu yang datang itu bergerak cepat.


Datuk Awan loncat dari duduknya dan berdiri di atas punggung Harimau putih, menatap ke arah kanan untuk memastikan serangan.


Tapi tiba-tiba serangan justru lebih dulu muncul dari arah kiri, "Duagh", Harimau putih tersentak keras karena sebuah pukulan mendarat di rahangnya.


Berbeda dengan yang bergerak cepat menghampiri dari kanan, ternyata ada musuh lain yang bersembunyi di sebelah kiri menunggu mereka.


Ki Bayu lepas dari gigitan harimau lalu terpental, dalam kaget Ki Bayu girang karena kini terlepas dari cengkeraman Harimau, namun belum lagi tubuhnya mencapai tanah dari sesemakan di depannya menyeruak sebuah bayangan lain.


Sebuah tinju menghantam telak kepala Ki Bayu. Mementalkannya berbalik arah. Refleks dia memutar tubuh agar terjatuh pada dua kakinya.


"Gusrak!!", Ki Bayu jatuh menerabas ilalang. Dia berpikir keadaan sudah aman, bersiap melarikan diri. Tapi dari samping sesosok bayangan lagi menyeruak dan meninjunya, "Duash!!", Ki Bayu terpental lagi.


"Siapa kalian setan?" ujar Datuk Awan lalu meloncat turun menerjang ke penyerang harimau putih.


Tendangannya mengarah ke lawan yang ternyata manusia berpakaian serba hitam.


Tendangan Datuk Awan mengarah kepala lawan, tapi lawan dengan gerakan yang terlihat kaku menangkis dengan kedua tangan disilangkan di depan wajah.


"Bruagh!!, kuat sekali tangkisan lawan, sesuatu yang berkilat terlihat di tangannya. Lalu tangan yang menangkis didorongkan ke depan membuat Datuk Awan terpental mundur.


Datuk Awan bersalto ke belakang lalu berdiri di atas satu kaki diatas punggung Harimau putih.


"Hebat sekali", suara seorang perempuan, terlihat dalam sinar rembulan seorang perempuan berdiri di antara sesemakan setinggi pinggang bertepuk tangan.


Perempuan itu menggerakkan tangan kanannya kepinggang kiri lalu kembangkan tangan tersebut seperti menarik senjata dan tubuhnya berputar.


Datuk Awan dan harimau raksasa refleks melompat tinggi, sesuatu yang gelap terlihat keluar dari tubuh wanita tersebut.


Dan seluruh ilalang di sekitar si perempuan hingga pada radius sepuluh meter tumbang terpapras.

__ADS_1


Hingga kini perempuan menyeramkan itu jelas terlihat berdiri di tengah ilalang yang rebah.


Sedangkan lima sosok pria bersamaan bergerak mendekat lalu berjongkok dengan sebelah kaki diturunkan ke tanah membelakangi perempuan tersebut, bersiaga.


__ADS_2