
Serdadu Belanda yang menjadi tawanan menunjukkan tempat dimana peti berisi tubuh Suma. Lokasi itu masih seperti saat dia menanamnya, belum ada bagian-bagian yang terlihat di korek.
"I..inni..aku sudah menunjukkan tempatnya, sekarang.. be..bebaskan aku", ujar si prajurit takut-takut.
Ni Gaok menyeringai, "baiklah kau akan ku bebaskan".
Si prajurit tampak senang, karena akhirnya penderitaannya akan berakhir dan dia dapat kembali ke kelompoknya.
"Dari dunia fana ini", ujar Ni Gaok sambil menyeringai seram.
"Ja..jangan!!", ujar si prajurit ketakutan.
Ni Gaok mengangkat jari telunjuknya lalu, Crashh!! ujung cemeti yang selalu berada di ujung telunjuk di jentikkan ke arah dada kiri si serdadu kompeni.
Si serdadu langsung roboh karena jantungnya tertembus cemeti.
"Bagaimana mungkin aku membebaskanmu sementara aku membutuhkan darahmu", ujar Ni Gaok menyeringai seram.
Setelah si serdadu tewas dua orang pengawal Ni Gaok mengangkat lempengan karang yang cukup besar menimpa tanah di tempat peti terkubur.
Sementara ketiga pengawalnya membongkar kubur diawasi beberapa orang pasukan Suma, dia memerintahkan sisa rombongan untuk menyebar ke sekitar mengamankan lokasi.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwasanya Heidrich dan orang-orangnya berada di bukit karang di hadapan mereka.
Tanpa kesulitan sama sekali ketiga pengawal Ni Gaok berhasil mengorek tanah dan menemukan peti yang tertimbun di dalamnya.
Ni Gaok mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil merapal mantera, bulir-bulir darah prajurit yang baru saja dibunuhnya mengambang keudara lalu mengalir memasuki peti berisi potongan tubuh Suma. Terdengar suara bergemeretak di dalam peti.
Kedua pengawal mengangkat peti keluar dari lubang, bersamaan dengan Ni Gaok melakukan ritual.
Tiba-tiba sebuah tong kayu berisi mesiu yang dipasangi sumbu dan disulut, dijatuhkan dari atas bukit karang.
"Awas serangan!!", teriak seorang anggota rombongan. Segera beberapa pasukan kompeni bawahan Suma yang berada di sekitar, mundur menjauh lalu tiarap.
"Sial", ujar Ni Gaok, ritualnya buyar, darah berhenti mengalir ke peti. Dia segera satukan kedua pasang jempol dan telunjuk kiri dan kanan lalu menghilang berubah menjadi enam ekor gagak dan berusaha terbang menjauh.
__ADS_1
Bledarr!! tong jatuh di dekat ketiga pengawalnya yang sedang mengangkat peti, menimbulkan ledakan dahsyat. Ketiga pengawal terpental dengan beberapa bagian tubuh tercabik akibat ledakan, sedangkan peti yang sedang mereka angkat hancur berterbangan, pecahan kayunya dan kayu dari tong yang meledak berlesatan kesana kemari dengan kecepatan mematikan menembus tubuh para pengawal dan tubuh Suma di dalam peti.
Seorang bawahan Suma menatap sesuatu yang cukup besar terjatuh ke arahnya, refleks dia menangkap.
"Haaah!!!", pria itu menjerit kaget karena ternyata itu adalah kepala Suma yang mulutnya disumpal kain. Matanya melirik kesana kemari dan mulutnya menggumam tak jelas. Saking kaget dan takutnya tak sadar prajurit ini mencampakkan kepala tersebut.
Ledakan yang begitu kuat terdengar sampai ke pantai dimana kapal Ulong berlabuh.
Ulong dan rombongan saat itu sedang mengawasi tubuh pengawal Ni Gaok yang terbakar menyala tapi masih meronta-ronta.
Ulong mencoba melihat melalui teropong kearah ledakan yang terdengar namun tidak bisa melihat apa-apa kecuali asap ledakan karena terhalang rimbunan semak dan pohon-pohon disana.
"Ada apa Long?", tanya Awang.
"Tak tahu bang aku cuma melihat asap, sepertinya sesuatu meledak disana", ujar Ulong sambil menyerahkan teropong ke Awang.
Sementara itu pada saat bersamaan.
Begitu Ni Gaok berubah menjadi enam ekor burung gagak, "sekarang!!", teriak Heidrich.
Para penembak jitu menembaki burung-burung tersebut, tiga diantaranya langsung tewas dihajar beberapa peluru, satu lagi hanya terserempet di sayap, dan dua lainnya lolos.
Dia sama sekali tidak menyangka serangan ini, dan berpikir setelah serangan yang menenggelamkan kapal mereka, tidak ada serangan lain yang menanti. Dan akhirnya mereka terjebak untuk kedua kalinya di hari ini.
Kini peti tempat penyimpanan potongan tubuh Suma hancur berantakan dengan seluruh isi tubuh terserak kesana kemari, ketiga pengawal yang tersisa tak luput dari luka, ketiganya kehilangan kaki akibat ledakan barusan. Beberapa luka juga nampak menganga lebar tak berdarah di tubuh mereka.
Setelah ledakan dan tembakan penembak jitu ke arah burung-burung gagak Ni Gaok, kini dua ratus orang prajurit kompeni di atas karang mulai menembaki musuh yang berada dibawah.
Duar Dar dar Dar dar
Ni Gaok harus cepat-cepat berlindung kebalik sebatang pohon besar agar tidak tersambar peluru yang menerpa bagai hujan.
Para prajurit rombongan Ni Gaok yang tidak menduga serangan segera roboh bergelimpangan bersimbah darah. Sebagian langsung bertiarap dan bersembunyi dibalik batang-batang pohon dan bebatuan.
Setelah gelombang pertama tembakan mereka yang dibawah ganti balas menembak keatas kearah musuh. Beberapa anak buah Heidrich terkena tembakan balasan, tiga orang jatuh dari tebing bergedebukan.
__ADS_1
Suasana disitu jadi penuh rentetan tembakan dan desing peluru. Putih asap mesiu bagaikan kabut menghalangi pandangan.
Duar!! der!! Dor!!, dzing!! dzing!!
Batang-batang kayu ditembaki dan serpihannya berterbangan kemana-mana. Rimbunan semak belukar patah dan daun-daunnya beterbangan kesana kemari.
Duar!! dar!! dar!!
Tanah di bawah, dan karang terjal diatas, terhantam peluru menimbulkan keping yang berhamburan. Bau anyir darah prajurit yang tertembak berpadu dengan asap mesiu.
Beberapa prajurit terjatuh di dekat Ni Gaok, dan dia sama sekali tak bisa melakukan apa-apa karena jarak musuh terlalu jauh di atas bebukitan karang.
Tembak menembak terus berlangsung, kilatan tembakan, suara dan asapnya terlihat sampai di tempat Awang mengamati dengan teropong. "Seperti pesta kembang api disana", kekeh Awang.
"Brugh!!", tubuh pengawal Ni Gaok yang belum sepenuhnya terbakar terjatuh ke dek karena ikatannya hancur di makan api.
Tubuh gosong tersebut merangkak tak tentu arah di lantai kapal. Sarung tangan bajanya terlepas dari tangan yang tak lagi berdaging.
Orang-orang di dek menyebar menjauh. Ulong mengambil tombak baja pengait yang terletak di dek tak jauh darinya, dengan tombak tersebut dia mengungkit tubuh gosong tersebut ke pinggir pagar dek.
"Makhluk jahanam", ujar Mat Kecik lalu dengan cepat dia mengangkat tubuh tersebut pada bagian kaki dan campakkan ke laut. Beberapa bagian tubuh gosongnya segera terlepas berserakan begitu di campakkan.
Mat Kecik menyeringai puas setelah berhasil mencampakkan tubuh tersebut, lalu menepuk-nepukkan kedua telapak tangan membersihkannya dari bekas-bekas hangus.
Ni Gaok dan pasukannya terdesak habis-habisan, beberapa orang lagi prajurit yang bersamanya tumbang. Dia sendiri terluka parah akibat tadi kehilangan tiga ekor gagaknya dan satu lagi yang tertembak di sayap.
Dari balik pepohonan dia merapal mantera berkomat-kamit. Butiran-butiran darah para prajurit yang tewas baik di pihaknya maupun di pihak Heidrich naik ke udara lalu melayang ke arahnya. Ni Gaok menengadahkan wajah menyerap untaian butir-butir darah yang memasuki tubuhnya.
Sementara itu, sersan Jhon dan seratus lima puluh orang prajuritnya mengitari bukit karang lalu menuruni tebing dengan beberapa tangga tali pada jarak sekitar seratus meter dari wilayah pertempuran.
Begitu turun mereka mengendap-endap mendekat dari sisi kanan rombongan Ni Gaok, lalu pada jarak sekitar tiga puluh meter bersamaan mereka melepaskan tembakan. Belasan lagi prajurit yang bersama Ni Gaok segera berjatuhan tertembus peluru.
Beberapa peluru bahkan menyasar Ni Gaok yang terbuka posisinya di bagian samping.
Bahu dan lehernya terkena tembakan peluru, tembus tapi tidak berdarah. Hanya saja rapalan manteranya menjadi kacau dan darah yang mengarah ketubuhnya terserak menyiprat kemana-mana. Ni Gaok tersadar dari meditasinya lalu mendelik buas ke arah para penyerang.
__ADS_1
Sehabis menembak, Jhon dan pasukannya melanjutkan menyerang dengan pedang dan bayonet terhunus.
"SERBUU!!!"