Ulong Belati

Ulong Belati
Desa Misterius di Pinggir Pantai


__ADS_3

Sekitar dua kilometer dari pantai yang dipenuhi pohon kelapa, mereka menemukan sebuah perkampungan nelayan.


Rumah-rumah panggung besar dan kecil terlihat berjajar menghadap ke pantai.


Ada belasan rumah disitu terbagi menjadi dua baris, tersamar oleh gelap malam yang baru saja turun, hanya di terangi gemerlap bintang dan bulan sabit.


Sekitar seratus meter di belakang rumah-rumah tersebut terdapat kebun-kebun penduduk yang ditanami pisang dan ubi kayu.


Ada hal yang aneh pada perkampungan ini, yaitu tidak terlihat adanya satupun penerangan disana.


Ini benar-benar mencurigakan, karena rumah-rumah dan kebun-kebun disini terlihat terawat baik. Bukan seperti perkampungan yang sudah lama ditinggal penghuninya.


Melihat kejanggalan itu mereka lalu berjalan mendatangi rumah terdekat dengan sikap waspada, bagaimanapun tempat ini asing bagi mereka, dan bisa saja ini adalah jebakan pihak kompeni.


Awang memberi isyarat pada Ulong.


Ulong mengangguk lalu memberi isyarat pada yang lain untuk berpencar mengamati.


Tanpa suara mereka bergerak dalam gelap menyisir rumah-rumah disini.


Ulong berjalan berdekatan dengan Laksmi Putra, dan Angku Razak, tujuannya menyisir rumah-rumah yang mendekat kelaut.


Ada banyak jaring dan peralatan memancing nelayan mereka lihat di sekitar rumah-rumah disini, ada yang disampirkan di palang-palang kayu, atau diletakkan begitu saja di tanah. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.


Beberapa pohon kelapa yang banyak terdapat disekitar perkampungan terlihat melambai-lambaikan daunnya yang ditiup angin, menimbulkan suara berkresekan, membuat suasana bertambah mencekam.


Ulong memeriksa rumah pertama yang terdekat jaraknya dari mereka.


Sedangkan Laksmi dan yang lainnya bersiaga di halaman mengawasi sekeliling sambil menghunus senjata. Laksmi dengan busur dan anak panahnya, Putra dan Angku Razak dengan golok ditangan.


Berdiri di anak tangga, Ulong mengetuk perlahan pintu rumah yang terdekat, lalu karena tidak ada jawaban dia mencoba mendorong pintu tersebut.


Pintu rumah terkunci, setelah didorong dan tak mau terbuka lalu Ulong memberi isyarat pada putra dan Angku Razak untuk melanjutkan memeriksa rumah berikutnya, sementara itu dia dan Laksmi memeriksa sekeliling rumah pertama.


Tidak ada juga apapun temuan di sekitar halaman rumah yang terlihat mencurigakan, hanya ada jaring ikan dan beberapa pancing yang di tegakkan pada palang kayu yang dipakukan ke kaki rumah panggung. Dari samping, depan, dan belakang, dapat mereka lihat seluruh jendela rumah tersebut juga tertutup rapat.


Mereka melihat Arman dan Mat Kecik memeriksa rumah lain dibelakang rumah ini, berjarak belasan meter dari mereka.


Terlihat juga Awang, Mardiani dan Salhah berlari kecil tanpa suara menuju rumah lain yang lebih jauh.


Mereka memeriksa seluruh rumah dengan cepat, beberapa rumah terkunci dan beberapa lainnya hanya di tutupkan saja pintunya.


Pada rumah-rumah yang tidak terkunci Ulong masuk ke dalam rumah dan memeriksa setiap ruangan.


Namun tetap tidak ada seorangpun di setiap rumah yang mereka kunjungi.


Pada perkampungan ini ada delapan rumah berjajar di sebelah depan, sedang di barisan belakang ada sepuluh rumah lagi, semua dalam keadaan gelap dan sepertinya tak berpenghuni.


Pada saat tiba dirumah ke enam mereka mendengar suara seperti kayu dipukul berkali-kali. Suara tersebut begitu nyata terdengar di keheningan malam, berasal dari rumah paling ujung di deretan terdepan.


Mereka segera berlari mendekati asal suara tersebut dengan berhati-hati.


Dalam gelap mereka mendekat lalu memperhatikan dinding rumah paling ujung yang menghadap ke timur.


Dari situ suara kayu "glodak, glodak", tersebut berasal.


Ternyata suara tersebut berasal dari daun jendela disamping rumah yang terbuka dan tertiup angin sehingga berkali-kali terbanting menghantam dinding.


Ulong garuk kepala dan menyeringai, Awang dan yang lain-lain yang juga telah tiba disitu tersenyum kecut.


Ulong mencoba mendorong pintu rumah tersebut yang ternyata tidak terkunci, setelah masuk ke dalam dia menuju ke kamar di mana jendelanya yang tadi tidak tertutup dengan benar, lalu tutupkan daun jendela itu dan menguncinya agar tidak terbanting-banting seperti tadi.


Pengamatan selesai, dan bisa dipastikan tidak ada satu manusia pun di perkampungan itu.

__ADS_1


Mereka berkumpul di halaman rumah terakhir tadi.


Ulong duduk di tangga rumah panggung dengan Laksmi berdiri disebelahnya.


Sementara yang lain berdiri berkeliling.


"Tidak ada apapun disini", ujar Arman.


"Seolah-olah kampung disini ditinggalkan begitu saja oleh para penghuninya", timpal Awang.


"Terlihat dari banyaknya perlengkapan nelayan disini dan lokasi kampung yang berada di pinggir laut bisa dipastikan ini adalah kampung nelayan. Anehnya kenapa tidak ada satupun kapal atau perahu yang terlihat di tambatkan" ujar Laksmi.


Ulong mengangguk lalu berkata, "rumah-rumah dan kebun-kebun dalam keadaan terawat baik, padahal tidak ada seorang pun yang tinggal disini".


"Beberapa rumah dalam keadaan terkunci sedang beberapa lagi tidak, seolah-olah ditinggalkan tergesa-gesa oleh pemiliknya", sambungnya.


Ulong menunduk berpikir sebentar, lalu menatap teman-temannya.


"Jadi bagaimana, apakah kita bermalam disini atau meninggalkan tempat ini dan mencari tempat lain?", tanya Ulong.


Ulong menatap Mat Kecik, yang ditatap mengangkat bahu lalu hembuskan napas dan pasang tampang lemas, begitupun Arman.


Ulong tersenyum geli melihatnya.


"Ada baiknya kita beristirahat saja disini Long, tapi harus tetap berhati-hati dan usahakan jangan sampai menimbulkan suara" ujar Awang.


"Kita juga harus bergantian berjaga", ujar Laksmi.


Yang lain mengangguk setuju. Lalu mereka memilih rumah yang cukup besar di deretan belakang untuk tempat beristirahat, kebetulan rumah tersebut tidak dikunci pintunya.


Ada dua kamar dirumah tersebut.


Para wanita tidur di salah satu kamar, sedangkan para laki-laki tidur di lantai ruang tamu.


Mereka menghidupkan lampu sentir yang terbuat dari batang bambu diisi minyak kelapa dan dipasang kain sebagai sumbunya.


"Sudah lama sekali aku tidak tidur di ranjang kak", ujar Mardiani pada Laksmi setibanya mereka di kamar, dia berbaring di atas tilam lalu rentangkan tangan dan kaki.


Laksmi tersenyum. Dia menatap kedua gadis ini. Dulu sewaktu mereka belajar bela diri dan memanah padanya, usia mereka baru dua belas tahun. Sekitar setahun lamanya dia dan Siti mengajari kedua gadis ini. Dan kini mereka sudah tumbuh menjadi gadis-gadis yang cantik dan kuat.


Salhah dengan riang hempaskan tubuhnya ke atas ranjang untuk merasakan lembutnya tilam.


"Benar-benar nyaman rasanya", desah Salhah.


Setelah memadamkan lampu mereka tidur di ranjang di kamar tersebut.


Ranjang itu hanyalah ranjang biasa terbuat dari kayu, tapi diberi tilam diatasnya yang dibuat dari kapuk yang di isi ke kain dan dijahit sekelilingnya, dan diatasnya di letakkan kain sebagai seprei. Walau sederhana tapi tetap saja ini ranjang yang nyaman.


Mereka tidur bertiga di atas ranjang tersebut, dan


tak perlu waktu lama, mereka pun segera terbuai dalam mimpi.


Giliran pertama untuk berjaga jatuh pada Awang dan Mat Kecik. Mereka sendiri yang mengajukan diri untuk berjaga.


Awang dan Mat Kecik berdiri berjaga di teras tanpa berbicara agar tidak menimbulkan suara apapun.


Awang menatap ke arah laut dan entah bagaimana angannya begitu saja kembali ke perbincangan atau lebih tepat ucapan Angku Razak tentang Mardiani dan Salhah.


Suatu hal yang benar-benar menakutkan baginya, yaitu menikah.


Walaupun kalau dipikir-pikir kedua gadis ini memang cantik. Apalagi tadi saat berjalan bertiga Mardiani dan Salhah bercerita bahwa Salhah dan Mardiani bersepupu dari pihak ibu, jadi sah saja bila mereka berdua dia jadikan istri, kalau mereka tidak keberatan.


Tapi itu benar-benar menakutkan bagi Awang, pikirannya membayangkan bagaimana nanti dia mengurus para perempuan itu dalam keadaan perang seperti ini. Tubuh sebatang saja tidak terurus konon lagi mengurus anak orang, dua pula, pikirnya.

__ADS_1


Apalagi dia sudah terbiasa hidup bebas bertualang kesana kemari bersama teman-temannya.


Teringat tentang teman, "saat ini teman lamaku hanya tinggal Mat Kecik dan Arman",


"teman bermain sedari kecil yang sudah seperti saudara", pikir Awang sedih.


Awang melihat ke arah Mat Kecik yang berdiri dengan bertumpu pada kedua tangan ke pagar teras rumah panggung. Tubuhnya yang tinggi dan tegap berdiri menghadap ke Barat membelakanginya.


Tinggi Awang hanya setelinga Mat Kecik yang tingginya sekitar enam kaki (satu kaki 30 cm),


Awang menarik napas, teringat lagi akan Ruslan, Hamid, Pakcik Leman dan yang lain-lain. Perang jahanam datang menghampiri dan merenggut teman-teman serta keluarga. Dan orang-orang yang telah begitu lama dikenalnya pergi satu demi satu.


Berbeda dengan Ulong yang menemukan teman-teman kelompoknya dalam perjalanan berperang. Teman-teman Awang hampir seluruhnya adalah teman-temannya sekampung, dan dia memiliki banyak kenangan bersama mereka.


"Ah pikiran sialan", pikir Awang.


"Ada banyak masalah yang harus kusikapi, kenapa pula aku harus memikirkan perempuan", batinnya.


Awang menatap sekeliling, tidak ada apapun yang mencurigakan, hanya suara daun-daun nyiur bukan hanya melambai tapi bergesekan di tiup angin laut.


Mereka berjaga empat jam ke depan, hingga lewat tengah malam. Lalu mereka bergantian beristirahat digantikan Ulong dan Putra.


Dan tidak terjadi apapun hingga pagi menjelang, mereka malam ini menikmati damainya suasana pantai.


Pagi ini dengan tenang mereka duduk di bawah pohon kelapa beralaskan pasir pantai, menghidupkan api untuk memanggang ikan asap yang mereka temukan di beberapa rumah. Ikan jenis bandeng.


Mereka menggunakan pemanggang dan kayu bakar yang juga di ambil dari rumah-rumah disitu untuk memanggang ikan-ikan tersebut.


Matahari belum lagi terbit saat itu, hanya cahaya kuningnya terlihat bias menyapu langit timur.


"Benar-benar aneh, begitu banyak makanan bisa ditemukan di perkampungan ini, seolah-olah penduduknya hanya pergi berbarengan sekedar untuk bertamasya", ujar Mat Kecik sambil mengunyah ikan dengan semangat.


Awang tersenyum melihat temannya itu, dia bersyukur Mat Kecik sudah mau berbicara pagi ini setelah sehari semalam berduka.


Sedangkan kalau untuk selera makan Awang tak terlalu kuatir, Mat Kecik tidak mengenal duka kalau berkaitan dengan makanan, kapan pun waktunya dia akan selalu senang untuk makan.


"Sama, akupun bertanya-tanya apakah aku harus bingung atau bersyukur", ujar Arman.


"Ngapain kau bertanya-tanya Man, makan aja dulu sampai kenyang, nanti kalau udah kenyang baru terserah mu lah mau bingung atau bersyukur", ujar Mat Kecik sambil menatap ikan yang di pegangnya.


Mardiani dan Salhah tak dapat menahan geli dan cekikikan. Sementara yang lainnya hanya tersenyum-senyum.


"Benar juga ya, ngapain pula bertanya-tanya, makan saja dulu", ujar Laksmi tertawa.


Mat Kecik menatap mereka yang ada disitu lalu seperti tersadar bahwa mereka melihat ke arahnya. Dia tidak bermaksud melucu, memang seperti itulah dia adanya.


"Maaf, maaf, maklum aku lapar sekali. Makanya aku tak sadar ada banyak orang disini, yang terlihatku tadi cuma wajah si Arman", ujarnya.


Selesai sarapan, mereka melanjutkan dengan berbincang merancang rencana untuk perjalanan ke arah timur.


Ditengah perbincangan tiba-tiba Awang berdiri sambil menatap kelaut, kebetulan duduknya memang menghadap ke arah itu, mereka yang ada disitu serentak berdiri dan mengikuti arah pandangan Awang.


Di kejauhan di batas antara gelap birunya air dan terang birunya langit mereka melihat beberapa titik mengarah ke darat, "sepertinya perahu bang", ujar Ulong pada Awang.


Tanpa dikomando Laksmi, Mardiani dan Salhah segera menyebar mengambil posisi untuk memanah.


Ulong dan yang lainnya segera bersiap berdiri dan menghunus senjata.


Tak lama, sekitar sepuluh menit kemudian, lima belas buah perahu besar dan kecil mendarat di pantai.


Perahu-perahu tersebut membawa banyak penumpang dari segala usia, bahkan ada beberapa balita disana digendong ibunya.


Para laki-laki dewasa begitu turun lalu menghampiri Ulong dan teman-teman sambil membawa berbagai senjata. Jumlah mereka dua puluh lima orang.

__ADS_1


__ADS_2