
Kapal kompeni berlubang disana sini dan mulai terbakar dilalap api.
Para prajurit diatasnya yang hanya berjumlah sekitar selusin terlihat melompat kelaut. Lalu tak lama kemudian kapal pun meledak "Blegar!!".
Serentak orang-orang di kapal yang di nakhodai Rustam bersorak riang. Ini kapal kompeni kedua yang mereka hancurkan pagi ini.
⚜️⚜️⚜️
"Sial!!, benar-benar sial!!", geram Heidrich. Entah untuk yang keberapa kalinya pihaknya di kerjai oleh laskar rakyat.
Sementara itu Ni Gaok dan orang-orangnya segera menjauh ke darat, karena berpikir yang berada di kapal perang dan menenggelamkan kapal mereka adalah pasukan kompeni. Ni Gaok bergerak mundur perlahan tanpa melepas pandangan dengan geram. Seolah mengejek, kapal musuh kini mendekati kapalnya yang barusan mereka tenggelamkan.
Ulong menatap dengan teropong mengamati Ni Gaok yang terlihat kesal di tepi pantai.
"Itu Ni Gaok bang", ujar Ulong kepada Awang sambil menyerahkan teropong.
Awang mengambil teropong dari tangan Ulong lalu bersama kedua gadisnya bergantian mengamati ke pantai.
"Wajahnya kecut seperti baru termakan asam", ujar Awang terkekeh menertawakan ekspresi kesal Ni Gaok.
"Seram ya, cantik tapi seram", ujar Mardiani begitu melihat melalui teropong. "Mana, coba aku tengok", sambung Salhah.
Ni Gaok menatap orang-orangnya, baru setelah itu teringat kepada tawanannya. Tawanan itu tadi telah diturunkan ke sekoci bersama tiga orang pengawalnya dan beberapa orang pasukan, sesaat sebelum meriam-meriam menembaki kapal mereka.
"Cepat tunjukkan jalannya!!", perintah Ni Gaok pada serdadu Belanda tersebut. Si Serdadu meringis lalu berjalan diikuti oleh seluruh rombongan.
Ni Gaok menatap kembali kekapal Ulong lalu mengangguk, menyeringai dan mengikuti rombongannya menjauhi garis pantai.
"Kita tunggu disini saja, agar lebih jelas melihat apa yang selanjutnya terjadi", ujar Ulong. Saat itu kapal mereka berjarak sekitar tiga puluh meter dari bangkai kapal Ni Gaok yang mereka tenggelamkan.
Brak!! terdengar suara kayu di pukul. Ulong dan beberapa orang yang diatas dek melongok ke samping kapal tempat asal suara.
Brak!!, Bruk!! Ternyata tiga dari pengawal Ni Gaok tidak mengikuti majikannya naik kedarat, dan kini berusaha memanjat sisi kanan kapal dengan menancapkan jemari bersarung baja milik mereka ke lambung kapal.
Awang bergegas mengambil tombak.
"Tutup seluruh jendela meriam sebelah kanan!!, teriak Ulong.
Mat Kecik dan seluruh orang di kabin meriam segera menutup jendela-jendela yang berjajar di sepanjang sisi kanan kapal.
Bruak!! sebuah jendela hancur berkeping-keping di hantam seorang pengawal. Lalu tubuhnya melompat masuk menerobos jendela yang hancur.
__ADS_1
Begitu musuh melompat masuk ke geladak, Mat Kecik langsung menyambutnya dengan tendangan.
Bledugh!! Brakk!! lawan terkena tendangan di perut dan terlempar menabrak dinding.
"Hei kalian, keluar!!", ujar Mat Kecik kepada para penduduk desa yang saat ini menjadi kelasi. Serentak para penduduk desa berlarian menaiki tangga menuju dek.
Di kabin meriam tinggal Mat Kecik, Arman, dan Putra.
"Mari kita uji kehebatan pengawal Ni Gaok", ujar Mat Kecik sambil cabut golok. Putra dan Arman juga ikut mencabut golok.
Lawan bisa segera bangkit walau tertendang sangat kuat. Tanpa jeda dia langsung menyerang dengan pukulan ke arah Mat Kecik.
"Ahh cuma segitu kemampuanmu?", ejek Mat Kecik lalu miringkan tubuh dan hantamkan siku ke tangan lawan yang berbalut besi. "Trang!!".
Dengan tangan kanan Mat Kecik membalas tebaskan golok ke kepala lawan.
"Tring!!" lawan menangkap goloknya. Golok tertangkap, tak hilang akal Mat Kecik gunakan kaki kanan menendang sekuat tenaga ke perut lawan.
Bruagh!!! tubuh lawan menghantam dinding kapal hingga sebagian punggungnya menerobos ke luar dinding.
"Hoi hentikan, kau merusak kapal!!", teriak Awang dari atas dek. Mat Kecik cuma nyengir mendengar teriakan awang.
Para penduduk yang naik ke dek segera naik lagi ke atas ruang komando begitu melihat Ulong dan teman-temannya sedang berhadapan dengan musuh. Lalu dari situ mereka menonton pertarungan.
Seorang musuh langsung berhadapan dengan tombak Awang. Disaat Awang menusuk, musuh pukulkan tangan kanannya ke depan. Tusukan tombak di laga dengan tinju lawan yang dibalut sarung tangan besi, "cring, krak!!, tombak Awang patah berkeping-keping terhantam tinju lawan. Awang terkaget lalu melompat mundur.
Ulong tak tinggal diam lalu lemparkan dua buah belati mengenai leher dan dada kiri kedua lawan di kanan dan kiri.
Crep!! crep!!
Ajaib lawan tidak tumbang dan tidak berdarah sama sekali, padahal jelas terlihat belati menghunjam dalam, ditubuh mereka.
Laksmi meloncat mundur ke arah anjungan lalu gunakan busur dan anak panah, begitu juga Mardiani dan Salhah.
Anak-anak panah dilesatkan crep!! crep!! crep!! menancap ke kepala dua musuh di dek.
Berbeda dengan Suma yang masih mempunyai kemampuan berpikir sendiri, para pengawal ini bekerja sesuai apa yang diperintah pikiran Ni Gaok. Bila disuruh serang maka mereka tidak akan berhenti menyerang selagi mereka mampu bergerak, tak perduli seberapa banyak luka atau di bagian manapun mereka terluka.
Ulong dan kawan-kawan sempat lengah karena berpikir musuh langsung tumbang terpanah di kepala.
Kelengahan yang fatal, seorang lawan menyerang kaki Awang dengan plesetkan tubuh di lantai kapal. Refleks Awang melompat ke dinding pagar dek lalu menggunakan pagar sebagai tumpuan untuk melompat lagi dan dari atas bagaikan elang dia hunus golok dan bacokkan ke kepala lawan.
__ADS_1
Tubuh lawan terus meluncur, golok Awang meleset beberapa Senti dari kepala lawan. Luncuran tubuh lawan tidak terhenti mengarah Mardiani dan Salhah. Kedua gadis tidak sempat cabut senjata, karena tidak menduga serangan. Dan musuh merangkul tubuh mereka berdua lalu jatuhkan diri ke laut.
"Byurr!!
"Mardiani, Salhah!!", teriak Angku Razak kaget.
Awang terperangah, tanpa berpikir panjang dia melompat ke laut dengan golok terhunus.
Kedua gadis berusaha menendang tubuh lawan dengan lutut, karena kedua tubuh mereka di dekap berhimpitan rapat sehingga mereka tidak dapat menggunakan tangan untuk melawan.
Segala serangan sia-sia dilakukan dalam posisi terjepit seperti itu. Terutama karena lawan tidak merasakan apa-apa.
Awang menyelam mengejar tubuh mereka yang jatuh ke laut. Sebagai orang pesisir dia sangat ahli dalam selam menyelam, apalagi tempat ini tidak lebih dari lima belas meter kedalamannya.
"Ketemu, semoga belum terlambat", batin Awang melihat musuh yang mendekap kedua gadis.
Sadar musuh tidak terpengaruh oleh luka, Awang sabetkan goloknya ke sambungan lengan untuk memutuskannya.
Sangat sulit membacok di dalam air, kekuatan serangan berkurang separuh. Awang bacokkan sekali dan lawan hanya menyeringai seram menatapnya.
Awang panik melihat perlawanan Mardiani dan Salhah melemah.
Dengan geram Awang tebaskan berkali-kali golok di tangan ke bahu kiri lawan. Berhasil, luka terbuka dengan lebar, lalu Awang injakkan kaki kepundak dan menarik bahu lawan sekuat tenaga sehingga lengan kirinya terlepas.
Lawan melepaskan kedua gadis yang didekapnya lalu memukul Awang dengan tangan kanan.
Awang kibaskan tangan untuk mendorong tubuhnya naik ke atas mengelakkan serangan, lalu dari atas menebas leher musuh hingga putus. Dengan kepala terlepas tangan musuh masih mencoba meraihnya. Awang mendorong tubuh lawan dengan kaki agar menjauh, lalu menarik tubuh Mardiani dan Salhah menuju permukaan.
Sementara itu Ulong masih menghadapi lawan satunya dan mencabut dua belati lain dari pinggang, digenggamnya kedua belati dengan mengarahkan sisi tajam ke bawah.
Saat musuh berusaha memukul dia merunduk berputar. Sambil memutar tubuh, dia bergerak cepat menyayat kedua paha lawan dengan kedua belati di tangan.
Crash!!
Lalu menggunakan kekuatan putaran tubuh dia tancapkan belati kerusuk kiri, musuh membalas dengan pukulkan tangan kirinya tapi Ulong tarik belati yang masih tertancap menyayat menyilang ke kanan bawah sambil merunduk.
Perut musuh terkoyak panjang, membuat ususnya terburai, begitupun luka itu tidak mempengaruhi refleks dan kecepatan geraknya. Kaki kanannya justeru ditendangkan ke tubuh Ulong.
Dugh!! Brak!!
"Abang!!", teriak Laksmi melihat kekasihnya terpental karena tendangan musuh, tubuh Ulong terpental lalu membentur tiang layar. Dengan marah Laksmi lesatkan anak panah dengan cepat susul menyusul. Tiga batang anak panah lagi menancap di kepala lawan. Namun musuh ini tidak juga roboh.
__ADS_1