
Awang merangkul lalu menepuk-nepuk bahu Ulong sambil tertawa.
Tak tahu dia bagaimana mengungkapkan kekaguman pada temannya itu.
"Ternyata tak banyak musuh yang tersisa di dalam sini", ujar Ulong di depan gerbang tadi saat teman-temannya memuji mereka berdua.
Laksmi hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya.
Memang selain tiga orang yang dilumpuhkannya di halaman belakang, hanya tersisa tiga orang lagi di dua bangunan yang berhadapan di depan.
Dengan mudah dia dan Laksmi menjatuhkan mereka, tanpa perlawanan.
Tapi yang membuat Awang dan yang lain-lain kagum bukan hanya kepiawaian Ulong berhasil menerobos pertahanan musuh, melainkan karena semua siasatnya.
Sejak awal mereka menyerang jembatan, membakar padang ilalang, itu semua atas arahan Ulong.
Walau ada beberapa kali Ulong meminta saran dan berdiskusi dengan Awang dan orang-orang kepercayaannya, itu dikarenakan Ulong mengerti bahwa Awang lebih paham situasi disini.
⚜️⚜️⚜️
Putra menyerahkan tugas menjaga kuda-kuda pada Mardiani dan Salhah lalu bergegas masuk ke dalam komplek pos pertahanan musuh.
Bersama Laksmi dan Angku Razak dia membebaskan seluruh tahanan yang mereka temukan.
Ternyata bangunan memanjang ke selatan yang di lihat Ulong sebelumnya adalah penjara tempat para tahanan lain di sekap.
Bangunan tersebut dibagi menjadi tiga sel.
Selain tahanan yang terikat di halaman belakang, ada dua puluh orang lagi yang mereka temukan di sel-sel tersebut.
Beberapa yang ditahan disitu adalah laskar, ada juga pemuka masyarakat, sedang sisanya adalah kriminal biasa dan orang-orang yang salah tangkap.
Putra dan Laksmi menanyai mereka, tapi tidak satupun dari mereka yang mengenali Siti dan Paijo.
Sementara itu, bersama dengan para tahanan yang sudah dibebaskan, Ulong dan rombongan merampas apa yang bisa mereka bawa, lalu membakar seluruh bangunan.
"Jangan sisakan apapun untuk musuh, apapun yang tidak bisa kita bawa bakar atau hancurkan!!" perintah Ulong.
Arman dan Mat Kecik menemukan sebuah meriam di halaman depan dengan beberapa bola besi sebagai peluru ditumpukkan di dekatnya, juga tong berisi mesiu.
Melihat itu mereka saling pandang lalu mengekeh.
Mat Kecik dan Arman mengisi meriam tersebut dengan mesiu lalu memasukkan bola besi ke dalamnya.
Mat Kecik nyengir lalu sulutkan api ke lubang kecil diatas batang meriam.
Api itu membakar mesiu di dalamnya, mesiu yang terbakar meledak dan melontarkan bola besi panas.
"Duar!!!!"
"Bledummm", gerbang depan dan sebagian dinding roboh di terjang peluru meriam.
Arman dan Mat Kecik terlonjak kaget, setelah itu berpandangan lalu tertawa bersamaan, itu pertama kali mereka menembakkan meriam.
Ternyata begitu deras suaranya.
Ulong dan Awang begitu mendengar suara ledakan bergegas berlari mendatangi, mereka menatap pintu gerbang yang roboh lalu gelengkan kepala setelah tahu itu ulah Mat Kecik dan Arman.
__ADS_1
⚜️⚜️⚜️
Pagi menjelang siang, asap dan bau terbakar masih memenuhi komplek Pos Pertahanan kompeni yang porak poranda.
Bangunan itu tinggal puing-puing, beberapa bagian bangunan yang terbuat dari kayu masih menjadi bara yang menyala merah kekuningan.
Dinding-dinding roboh dan berlubang disana sini.
Tadi malam setelah Ulong dan rombongan pergi bersama para tahanan, Mat Kecik dan Arman tinggal sebentar untuk bersuka ria menghabiskan mesiu dan selusin peluru meriam, menembak kesana kemari di dalam tembok merobohkan apapun yang diterjang peluru meriam.
Kini saat bala bantuan kompeni dari Sunggal tiba mereka hanya menemukan segalanya hancur berantakan.
Letnan Heidrich terlihat berdiri dengan geram menatap tiang bendera di halaman.
Wajahnya memerah menahan amarah.
Laskar-laskar ini tak cukup hanya membakar jembatan, menghancurkan pos mereka dan membunuhi para prajuritnya.
Dan kini dia melihat hal lain yang membuatnya makin marah.
Bendera mereka tergeletak begitu saja di dekatnya berdiri, berselimut tanah dan sobek disana sini.
Sedangkan di tiang bendera, berkibar sebuah celana kolor yang lusuh berwarna putih kecoklatan.
Ratusan pasukan yang berada disitu, tak ada satupun yang berani berbicara, semua menunggu dalam diam.
Dua orang serdadu belanda bergegas mengerek turun "bendera gadungan" tersebut atas perintah sersan Jhon sebelum komandan mereka semakin marah.
Setelah itu mereka menaikkan bendera mereka yang sudah sobek dan kotor.
Tadi malam setelah mendapat kabar bahwa sebagian laskar menyerang jembatan, Heidrich dan Jhon orang kepercayaannya segera membawa dua ratus orang berkuda di tengah malam buta.
Tapi begitu tiba disana mereka hanya menemukan padang ilalang luas yang masih terbakar dan jembatan penyebrangan dalam keadaan hancur, tak bisa lagi digunakan.
Mereka juga sempat bertemu dengan bala bantuan dari Klambir Lima yang sudah berada diseberang sungai tempat mereka berada.
Karena waktu itu malam tidak mungkin memperbaiki jembatan, maka mereka terpaksa memutar mengambil jalan ke barat lalu berbelok kesini dan baru tiba pagi ini.
"Sersan Jhon", ujar Letnan Heidrich.
"Siap komandan", jawab Jhon sigap.
"Panggil komandan pos ini" perintahnya.
Jhon memberi hormat lalu berlari menghampiri para prajurit yang sedang berdiri tak jauh dari situ.
Tak lama dia kembali dengan seorang serdadu Belanda bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal.
Letnan Heidrich berjalan menjauhi kerumunan diikuti sersan Jhon dan Komandan pos jaga yang juga berpangkat sersan.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi" ujar Heidrich sambil berjalan.
Dengan takut-takut komandan Pos menceritakan secara detil apa yang dia ketahui, mulai dari dua orang serdadu patroli yang melapor bahwa jembatan diserang, hingga akhirnya dia memutuskan membawa orang-orangnya ke jembatan.
Dia juga menceritakan di tengah jalan dia menemukan mayat-mayat pasukan patroli sekitar satu kilometer sebelum jembatan.
Heidrich menggertakkan rahang, begitu marah mendengar cerita itu.
__ADS_1
Tapi dia sadar tak ada guna memarahi bawahannya ini. Sersan ini terkecoh oleh para gerilyawan, dan seandainya dia yang menjadi komandan pos ini kemungkinan besar dia juga bakal terkecoh.
"Dua puluh orang prajurit ku sudah kukirim pulang begitu aku menemukan mayat-mayat serdadu yang berpatroli, saat itu aku tersadar itu siasat musuh mengelabui agar kami meninggalkan pos", sambung si sersan.
"Mereka yang kuperintahkan pulang terlebih dahulu masih sempat mendengar beberapa kali tembakan meriam menggelegar dari sini, sayangnya saat mereka tiba disini komplek sudah hancur dan sebagian tengah di lalap api ", ujarnya kembali.
⚜️⚜️⚜️
"Sudah cukup jauh kita dari markas kompeni", ujar seorang pemuka adat yang ikut bersama Ulong.
"Saya rasa kami harus memisahkan diri dari rombongan tuan", sambungnya lagi.
"Apakah itu aman bagi kalian?", tanya Ulong.
"Kami berasal dari desa sekitar sini, keluarga kami juga disini dan mereka bisa menyembunyikan kami dengan cukup baik" balas orang tua tersebut.
Lalu dia meneruskan, "beberapa dari orang-orang yang terluka ini sudah sepakat untuk ikut dengan kami sampai mereka pulih, agar tidak memberatkan perjalanan kalian", pungkasnya.
Setelah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, akhirnya mereka pun memisahkan diri dari rombongan Ulong bergerak ke barat.
Dari situ Awang dan kedua orang kepercayaannya melanjutkan memimpin jalan menuju persembunyian mereka.
Mereka melanjutkan berkuda beberapa kilometer lagi sampai benar-benar yakin musuh tak dapat menemukan, lalu berhenti di dekat suatu mata air di hutan untuk mengisi perut lalu beristirahat.
Ulong memperhatikan sekitar tempat mereka beristirahat, hanya ada padang ilalang luas di selingi banyak pohon besar.
Angin cukup kencang dan selalu bertiup disini, angin laut. Bila berjalan beberapa kilometer lagi ke Utara maka akan bertemu dengan selat Malaka.
Tempat ini benar-benar sangat jauh dari perkampungan mereka di Bahorok, jaraknya mungkin sekitar satu harian berkuda atau lebih untuk tiba disana.
Ulong teringat teman-temannya, dan dia kembali teringat teman lamanya Siti, dan pasangannya Paijo.
Ulong menghela napas dalam.
"Semoga mereka baik-baik saja", ujar Laksmi yang tahu-tahu sudah berada di sampingnya.
Ulong menoleh lalu berujar, "kita tidak menemukan mereka disini, kabar pun tidak ada terdengar. Seandainya mereka masih hidup kemungkinan mereka sudah kembali ke perkampungan di Bahorok".
Laksmi menatap Ulong, benar juga pikirnya.
"Setelah keadaan cukup aman kita harus kembali untuk kesana memastikan itu" sambung Ulong.
Laksmi menoleh memperhatikan ke arah rombongan mereka yang sedang beristirahat.
Hanya tinggal sembilan orang saja mereka saat ini.
Jumlah yang sama seperti saat sebelum mereka membebaskan para tawanan.
Saat ini giliran mereka berdua berjaga, dia dan Ulong.
Awalnya Putra bersikeras ingin ikut berjaga dengan alasan karena dia terus terpikirkan kakaknya dan tak mungkin bisa tertidur, tapi Laksmi melarangnya karena sejak kemarin mereka belum ada beristirahat.
Laksmi tersenyum melihat kini Putra terlihat tertidur bersandar di sebatang pohon, pulas bagai bayi.
Putra yang di kenalnya sejak berusia lima tahun, di waktu dia bersama Siti berlatih menjadi laskar wanita.
Dan dia turut merawat Putra seperti adik sendiri.
__ADS_1
"Siti dimana dirimu", bisik Siti lirih.
Suasana begitu tenang, angin bertiup sedikit lebih kencang menerbangkan beberapa helai ilalang kering menjauh.