Ulong Belati

Ulong Belati
Pemburu di Buru


__ADS_3

Seminggu sebelumnya, di sore hari.


Ki Bayu berlari menerabas sesemakan terpincang-pincang.


Sudah sekitar tiga hari dia tersesat tak tahu arah setelah melarikan diri dari Ulong dan kelompoknya. Berjalan dan berlari hanya berpedoman pada matahari. Walau kesaktiannya mengandalkan kegelapan tapi pada saat ini dia harus mengesampingkan itu dan harus bergerak sebelum matahari terbenam. Yang terpenting menurut pemikirannya adalah menemukan tempat aman untuk saat ini.


Dia memang orang sakti, tapi berlari bukanlah keahliannya apalagi saat ini kakinya tinggal sebelah, dan serigala raksasa yang biasa ditungganginya telah tewas. Hal itu juga mengurangi kemampuan inderanya. Penciuman, pendengaran dan penglihatannya kini tidak semumpuni disaat serigala raksasa itu masih ada.


Ki Bayu menatap sekeliling.


Entah dimana saat ini dia berada, "Sial, benar-benar sial!!!", dia menyumpah entah untuk yang keberapa kalinya.


Belum pernah dia merasa setakut ini, kesombongan dan kepercaya diriannya raib tak berbekas.


Selama ini dia mengandalkan para serigala dan kesaktiannya, sekarang semua seolah musnah begitu saja. Dia bahkan tidak tahu arah mana yang harus dituju karena tempat ini bukanlah tempat asalnya di pulau Jawa.


Seandainya dia dapat menemukan jalanan maka perjalanannya seharusnya lebih cepat, tapi sudah tiga hari mencari tak ditemukannya jalanan bahkan sekedar jalan setapak.


Di belakangnya berjarak sekitar satu kilometer adalah hutan yang barusan dia lewati dan kini di sekitarnya terhampar padang ilalang luas berkilo-kilo meter jauhnya.


Ki Bayu terjatuh lagi untuk yang kesekian kalinya, kakinya yang dipasangi tonggak tidak dapat merasakan bagian tanah yang lembek sehingga dengan mudah kaki palsunya tersebut terbenam dan dia pun kehilangan keseimbangan, terjerembab mencium tanah.


Ki Bayu jatuh tertelungkup sehingga seluruh wajahnya menjadi kotor.


Diusapnya wajah dengan pakaiannya, lalu meludahkan tanah dan rumput yang masuk ke mulut berkali-kali.


Dia duduk sebentar menenangkan diri dan menatap ke langit, seekor burung gagak terlihat melayang-layang di udara di atas kepalanya. Burung gagak terbesar yang pernah dia lihat, hampir dua kali besar dari ukuran normal.


"Burung sialan, aku belum mati bodoh", makinya. Anehnya burung tersebut malah berkaok keras seperti menertawakan kesialannya.


Setelah membersihkan diri seadanya dia kembali bergerak menuju ke arah Utara untuk menemukan pihak kompeni, mencari pertolongan. Harapannya adalah kembali ke pihak kompeni, bertemu Suma lalu minta diberikan beberapa prajurit sebagai bawahan. Cuma itu cara yang terpikirnya untuk tetap selamat. Tanpa dia tahu bahwa Suma telah mengkhianatinya


Satu hal lain yang mengkhawatirkannya saat ini adalah perjanjian atas kesaktian yang dia miliki.


Yaitu perjanjian yang telah dibuatnya dengan siluman serigala di suatu tempat di gunung Ciremai Jawa Barat. Dimana dia harus menyerahkan darah perawan setiap dua belas kali purnama.


Perjanjian tersebut dilakukannya puluhan tahun lalu disaat dia masih muda dan kampungnya di teror oleh seekor harimau putih, harimau yang meninggalkan luka di wajah dan kulitnya kini dikenakan sebagai penutup bahu.


Kini purnama yang dijanjikan tinggal menghitung hari. Tanpa serigala tunggangan dan serigala jadi-jadian sebagai pengawal dia menjadi benar-benar kesulitan untuk bergerak.


Menyerang desa-desa sekitar untuk menculik gadis perawan akan menjadi sangat sulit, penduduk bisa saja mengepungnya dan tidak tertutup kemungkinan mereka akan segera mengetahui kelemahan dan mengalahkannya.


Kalau biasanya berjalan bersama peliharaannya orang melihatnya saja sudah lari ketakutan dan tak berani mendekat. Kini dia hanya seorang tua yang kurang menyeramkan, dan sendirian. Walau tak bisa melukai tapi orang-orang akan mengeroyok dan mengikatnya, dan bila itu terjadi, kejadian yang menimpa dua peliharaannya pun akan terjadi padanya.


Mengingat hal tersebut membuatnya memaki lagi, "Siall!!".


Kini di perjalanan di semak-semak jauh dari peradaban, samar-samar dia mendengar suara beberapa wanita di kejauhan.


Ki Bayu bergegas berjalan mendekat lalu mengintai dari balik sesemakan. Di kejauhan empat orang gadis berjalan dengan membawa kain di sampirkan ke pundak. Mereka adalah penduduk desa yang hendak mandi ke sungai. Ki Bayu bersorak girang di dalam hati, sepertinya peruntunganku belum sepenuhnya habis pikirnya.


Apalagi ada empat perempuan muda, salah satu pasti masih perawan dan bisa dijadikan persembahan, aku tidak akan keberatan untuk memeriksanya satu persatu pikir Ki Bayu terkekeh senang, nafsu yang selama ini dipelihara menuntutnya untuk disalurkan terlebih dahulu dan segera melupakan masalah.


Dengan mengendap-endap di semak-semak dia mengikuti ke empat perempuan tersebut berjalan menuju kali.


Perempuan-perempuan muda ini berjalan sambil bercanda riang, tak tahu nasib buruk sedang mengintai mereka.


Para wanita ini tiba di kali, dan kini Ki Bayu tercekat tak bisa menahan perasaan.


Bagaimana tidak setelah melihat sekeliling memeriksa keadaan dan dirasa aman, para wanita berusia dua puluhan ini melolosi pakaiannya di pinggir kali.


Jakun Ki Bayu jadi naik turun menelan ludah melihat pemandangan ini. Seandainya situasinya tidak sedang buruk sudah pasti di terkamnya para gadis tersebut.


Sayangnya tontonan mengasyikkan itu tak berlangsung lama, para perempuan muda tersebut segera memakai sarung, pinjungan sebatas dada untuk basahan selagi mandi.


Begitupun bahu dan paha mulus mereka masih bisa di tonton dan itu sudah membuat Ki Bayu ngos-ngosan.


Para perempuan ini berendam di tengah kali yang cukup lebar dengan airnya yang jernih dangkal sepinggang, sambil bercanda riang.


Ki Bayu berusaha menguasai diri mengingat dia tidak boleh lupa akan apa yang dijadikan tujuannya. Lalu perlahan dia mendekat ke sungai, begitu para gadis itu lengah diapun mengambil pakaian mereka yang ditumpuk di pinggir kali.

__ADS_1


Segera setelah mencuri pakaian para gadis Ki Bayu kembali bersembunyi di sesemakan dan kembali menikmati pemandangan indah.


Di atas kepalanya, tanpa disadari burung gagak yang tadi, masih terbang berputar-putar sesaat memperhatikan lalu terbang menjauh.


Burung gagak itu terbang dengan cepat melintasi padang ilalang dan pepohonan di bawah, sesekali kepalanya di miringkan mengamati apa yang dilalui.


Terlihat hamparan hutan luas disambung hamparan rumput serba hijau.


Terlihat pula seekor harimau putih besar sedang melintas dengan seseorang duduk menungganginya melintasi padang ilalang.


Dengan cepat berkilo kilo meter di lewati burung tersebut, dan setelah melintasi hutan dia terbang di atas perkebunan lalu melintasi persawahan luas dan rumah-rumah penduduk, lalu terbang di hutan yang luas lagi hingga menemukan padang rumput.


Di padang rumput ini dia menukik turun menuju enam sosok berpakaian serba hitam yang sedang duduk di atas kuda-kuda yang juga hitam.


Burung tersebut menghunjam ke salah satu tubuh. Tubuh milik perempuan mengenakan baju panjang sebetis serba hitam, dengan rambut panjang tergerai sebahu.


Perempuan itu tertunduk di atas kuda dengan kedua lengan terangkat ke samping, wajahnya lumayan cantik tapi terlihat dingin, hidungnya mancung mungil, bibirnya berwarna biru kehitaman kontras dengan kulitnya yang putih.


"Foosh!!" burung gagak tersebut menabrak kepala perempuan tersebut lalu menghilang tanpa bekas.


Begitu burung gagak tersebut menghilang, si perempuan tersadar, angkat kepalanya lalu menyeringai seram.


⚜️⚜️⚜️


Kembali ke Ki Bayu yang sedang asyik menikmati pemandangan dari pinggir kali.


Para perempuan muda ini tiba-tiba menyadari pakaian yang mereka tinggal di tepi sungai telah raib tak ada di tempatnya.


Mereka bergegas menepi dan mencari-cari menatap berkeliling dengan bingung. Karena tidak tahu harus mencari kemana lagi, salah seorang dari mereka berteriak, "Oi siapa yang sembunyikan pakaian kami?".


"Udah mau Maghrib, jangan main-main kalian", ujar seorang yang lain yang bertubuh mungil.


"Jangan teriak kuat-kuat, jangan-jangan itu pekerjaan mambang (Hantu) air" ujar satunya berkata pelan. Mereka saling bertatapan dengan takut.


"Ayo kita pulang saja", ujar yang hitam manis. Yang lain mengangguk mengiyakan dan mereka pun berjalan meninggalkan sungai hanya mengenakan pakaian basah.


Serentak para gadis tersebut menjerit ketakutan.


"Jangan bergerak!!!" ujar Ki Bayu, matanya dengan liar menelusuri tubuh keempat gadis tersebut yang terbuka pada bahu dan paha kebawah.


Segala kesusahan serasa hilang, terbayang bakal menikmati tubuh tiga dari gadis di hadapannya. Tidak terlalu cantik tapi cukuplah menghangatkan pelariannya hingga purnama tiba. Tiga untukku satu untuk junjunganku, pikirnya.


Jarak Ki Bayu dengan mereka berempat terlalu dekat, para gadis ini tidak mungkin berlari.


"Aa..apa..maumu orang tua?" tanya salah seorang yang paling berani dan paling cantik di antara mereka.


Ki Bayu tidak menjawab, dia maju acungkan keris hingga hampir menyentuh leher si gadis.


"Kau, ikat tangan ketiga temanmu yang lain, jangan coba-coba melarikan diri kecuali kau mau temanmu ini mampus!!" gertak Ki Bayu menoleh ke arah si hitam manis sambil mencampakkan pakaian dan sarung para gadis yang tadi dicurinya.


Dengan ketakutan gadis yang di perintahkannya mematuhi, dan mulai mengikat tangan temannya yang terdekat.


Ki Bayu menyeringai. Sambil memperhatikan si hitam manis mengikat teman-temannya Ki Bayu memanfaatkan kesempatan, tangan kirinya diarahkannya hendak meraba tubuh gadis yang di todongnya.


Tiba-tiba terdengar suara raungan harimau sangat keras. Suaranya menggema di sekitar situ, semua mereka yang ada disitu kaget mendengarnya. Dua orang gadis sampai terjongkok karena kakinya gemetar tak kuat berdiri.


Menyusul raungan, sesosok bayangan putih melompat dari sesemakan di pinggir jalan.


Ki Bayu terpental karena terjangan yang begitu cepat dan mendadak.


Lalu seekor harimau putih hampir sebesar kerbau berdiri tegak hanya beberapa meter dari mereka.


Kini para gadis terduduk menggeletar ketakutan.


"Jangan takut anak-anak, aku datang untuk menolong kalian", ujar orang yang baru datang yaitu Datuk Awan Putih.


Para gadis makin kaget karena Datuk Awan entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh di belakang mereka.


"Cepat kalian pergi, orang tua ini biar patik yang urus", ujarnya.

__ADS_1


Para gadis menatap takut-takut lalu mengambil pakaian mereka yang terhampar di tanah dan berlari meninggalkan tempat tersebut.


"Teri..makasih Datuk , makasih", ujar mereka dengan gemetar.


Ki Bayu yang jatuh terguling kini bangkit dengan geram, bahunya tergores cukup dalam dan mengucurkan darah.


"Sial", batinnya, saat itu hampir Maghrib, tapi matahari masih terlihat sehingga dia tidak bisa menyembunyikan wujudnya sebagai bayangan.


Itu pula yang menyebabkan harimau putih raksasa tersebut dapat melukainya.


Benar-benar situasi yang tidak menguntungkan.


"Siapa kau orang tua, kenapa ikut campur urusanku", tanya Ki Bayu menggeram.


"Aah.. sama kita tua, tapi aku bukan tua keladi sepertimu, semakin tua semakin gatal", ujar Datuk Awan terkekeh.


"Ada baiknya kau sebutkan siapa namamu agar dapat kerisku mengukir nama di nisan mu", ujar Ki Bayu menggertak.


"Bagaimana kalau kau sebutkan namamu, karena melihat keadaanmu sepertinya aku yang akan mengukir nisanmu", ujar Datuk Awan kembali terkekeh.


Tak kan menang bersilat lidah dengan orang-orang dari negeri ini pikir Ki Bayu kesal.


"Baiklah, kau dengarkan baik-baik, namaku adalah Ki Bayu pendekar asal tanah Jawa, saat ini aku bekerja untuk kompeni", ujar Ki Bayu kembali menggertak, dia tidak mungkin melawan orang tua ini sekaligus dengan harimaunya. Dia berharap dengan menyebut namanya orang tua ini akan takut dan kemungkinan pergi.


Datuk Awan putih terlihat kaget, inikah Ki Bayu? mengapa selemah ini pikirnya, mana serigala-serigala siluman yang selalu bersamanya.


"Kenapa kau terdiam? apakah kau takut? enyahlah sebelum aku menggorokmu!!!", ujar Ki Bayu, kini dia acungkan kerisnya.


Datuk Awan terlihat tersadar dari kagetnya, " Aah ternyata kau Ki Bayu, aku sudah begitu lama mencari-carimu", ujar Datuk Awan.


"Untuk keperluan apa kau mencariku?", tanya Ki Bayu, dia menatap sekeliling dan terlihat senang, matahari kini telah hilang.


Datuk Awan kaget lalu mengerjap-ngerjapkan mata, berpikir mungkin dia salah lihat, posisi Ki Bayu berdiri tiba-tiba berubah tempat.


Ini adalah bagian ilmu Ki Bayu, begitu tidak disinari matahari maka bayangannya akan mewujud menjadi tubuh asli, sedang tubuh asli menjadi bayangan sehingga sekilas barusan seperti dia berpindah tempat.


Begitupun Datuk Awan tetap terlihat tenang, "aku mencarimu pertama karena kau telah membunuh keponakanku Leman dan beberapa orang anggota laskar pimpinan Awang. Yang kedua aku juga mencarimu karena aku bermusuhan dengan kompeni. Yang ketiga sepanjang yang aku dengar kau telah membunuhi dan meneror penduduk disini, dan itu jadi masalah buatku", ujarnya.


"Sial", pikir Ki Bayu, sepertinya pertempuran tak mungkin lagi di hindari.


"Baiklah kalau itu mau mu, kau akan mati tak bernisan", ujar Ki Bayu, merasa tidak ada gunanya lagi bicara panjang lebar, dia menyerang dengan keris terhunus ke arah Datuk Awan.


Datuk Awan terkekeh, gerakan Ki Bayu terlalu kaku dengan kaki kayunya, sebelum tusukan sampai dia majukan kaki menendang tenggorokan Ki Bayu dengan ujung telapak kaki dibawah jemari. Kalau sampai terkena maka dapat meremukkan batang tenggorokan.


Ki Bayu melihat gerakan Datuk Awan, "Lihai sekali orang tua ini", pikirnya.


Tendangan Datuk Awan ke tenggorokan langsung di hadang telapak tangannya.


Ki Bayu kini yang terkekeh, dia maju lalu kaki kanannya yang terbuat dari kayu disapukan ke kaki kiri Datuk Awan. Serangan yang kalau tidak dihindari pasti sangat menyakitkan dan menjatuhkan Datuk Awan ke tanah.


Hebatnya dalam keadaan kaki kanan masih di tahan telapak tangan Ki Bayu, Datuk Awan sanggup bersalto ke belakang sambil kini kaki kirinya tendangkan ke siku Ki Bayu.


"Kurang ajar!!!" teriak Ki Bayu, ternyata serangan tadi hanya untuk memancingnya. Kini keris Ki Bayu terlepas dari tangannya karena sikunya terhantam punggung kaki kiri Datuk Awan.


Ki Bayu menatap kerisnya yang terlontar ke udara, dia menunggu keris tersebut jatuh bermaksud hendak menangkap. Tapi Datuk Awan memang pesilat hebat, setelah tadi bersalto ke belakang sambil menendang siku, kini setelah berdiri tegak dia geser kaki kiri sejauh mungkin kedepan untuk merapatkan jarak dengan musuh. Setelah itu bertumpu pada kaki kiri dia berikan tendangan memutar ke arah pinggang Ki Bayu "Duashh!!", Ki Bayu terkenal tendangan telak di pinggang terpental jauh, berguling beberapa kali.


Datuk Awan berdiri dengan kaki kiri, tidak menurunkan kaki kanan yang barusan digunakan menendang Ki Bayu. Dengan anggun dia memamerkan keseimbangannya menggunakan jurus bangau lalu menangkap keris Ki Bayu yang jatuh tepat di hadapannya.


Ki Bayu nyusruk di rerumputan, "Setan, sialan!!", geramnya. Di genggamnya tanah di bawahnya lalu lemparkan ke arah Datuk Awan. Serangan sia-sia, Datuk Awan terkekeh miringkan tubuh sedikit menghindar tanpa merubah posisi sebelah kaki yang terangkat.


"Kalau ku lihat kau tidak memiliki dasar beladiri yang baik, atau mungkin dulunya beladirimu baik tapi terlalu sering mengandalkan kesaktianmu justru membuat kemampuanmu itu menjadi tumpul", ujar Datuk Awan.


Ki Bayu mengerti yang di maksud Datuk Awan, memang dia selalu mengandalkan serigala peliharaan dan ilmu bayangannya, sehingga refleksnya menjadi tumpul, dari pada menghindar dia lebih sering memberikan tubuhnya untuk diserang.


Kini keris pusakanya berada di tangan Datuk Awan, pakai apa dia harus melawan, pikirnya.


Akhirnya dia memutuskan selagi lawan belum mengetahui kelemahannya dia akan merangsek maju seperti biasa tanpa perduli keselamatan.


Lalu rebut senjatanya.

__ADS_1


__ADS_2