
Suma melarikan diri ke arah Klambir Lima meninggalkan debu berkepul di belakangnya.
Diraba tubuhnya, terdapat banyak luka bekas tembakan disana, luka-luka itu tidak terasa sakit tapi cukup melemahkannya. Sama seperti boneka lainnya milik Ni Gaok, Suma juga tidak merasakan sakit. Yang membedakan dirinya dengan yang lain adalah dia tidak dibangkitkan dari kematian.
Dan itu yang membuatnya berbeda, selain memiliki kekuatan dan kemampuan sama dengan boneka-boneka Ni Gaok, kemampuan manusianya belum hilang, kecerdasan, hasrat dan juga perasaan.
Kini dia harus berpacu dengan waktu, menuju Klambir Lima ke sisa pasukannya dan bersiap melakukan aksi balasan sebelum mereka mengetahui kejadian ini dan berpaling darinya.
"Kurang ajar, ternyata benar si Heidrich sialan itu masih hidup, kacau..benar-benar kacau!!", geramnya.
Suma menyumpah serapah sepanjang jalan, dan berkuda bagai dikejar setan. Berkali-kali orang-orang di jalan harus menyingkir agar tidak tertabrak olehnya.
Dia menoleh ke belakang, belum ada tanda-tanda pengejar, masih ada harapan baginya memperbaiki ini. Setelah dia kembali ke pasukannya dia akan segera mencari cara untuk menyingkirkan Heidrich dan Jhon. Lalu setelah membunuh mereka dia akan membuat laporan kecelakaan bagi mereka berdua dan melaporkannya pada pihak maskapai dan atasannya di Medan.
"Ni Gaok sialan dimana dirimu, kenapa tidak kau habisi si Heidrich itu", batin Suma memaki dalam hati.
Sekitar setengah jam lamanya Suma memacu kuda melintasi jalan berliku kering menembus hutan dan padang ilalang.
Seekor burung gagak terbang di atas kepalanya menyambut begitu dia hampir memasuki kawasan Klambir Lima.
"Ni Gaok", batinnya begitu menyadari burung Gaok (sejenis gagak\= raven, gagak \= crow) tersebut mengitarinya.
Dia segera menghentikan laju kudanya. Burung gagak besar tersebut mendarat dan hinggap di atas kepala kuda.
Burung tersebut miringkan kepala menatap Suma dengan mata kanannya.
"Kemari lah, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu, Heidrich dan orang-orangnya sedang mengejarku", ujar Suma.
"Gaak..gaak..!!", jawab burung milik Ni Gaok tersebut.
"Gaak..gaak..!! lalu burung itu terbang ke arah barat.
"Sial, aku tidak paham bahasa burung", ujar Suma, rasa panik mematikan nalarnya, dia tidak menyadari bahwa burung tersebut terbang ke arah tempat tinggal Ni Gaok, mengarahkannya untuk mengikuti. Dia kembali menggebrak kuda memacunya ke arah perkebunan Klambir Lima.
Lima puluh meter dari tempatnya bertemu burung, di antara dua pohon besar di saat dia melintas tiba-tiba seutas tali di tarik naik dari tanah di bawahnya mengetat kencang setinggi leher.
__ADS_1
Tali yang tadinya di selimuti dedaunan kering untuk menyamarkan kini di tarik ketat dengan masing-masing lima belas orang di kedua ujungnya.
Tiga puluh prajurit kompeni telah menunggu di sana, dipimpin sersan Bill, yaitu komandan terdahulu di pos pertahanan di Klambir Lima. Pria tinggi besar tersebut telah menyiapkan jebakan itu untuk menangkap Suma atas perintah Jhon dua hari yang lalu.
Kuda yang ditunggangi Suma menabrak tali pada leher sehingga jatuh terjengkang ke belakang berikut penunggangnya. Suma setelah jatuh dari kuda berhasil menyeimbangkan diri dan berlutut di tanah tapi tubuh kuda berputar saking keras jatuhnya dan menimpa tubuhnya.
"Bruagh..bukk!!", seperti sebelumnya dia tidak merasakan sakit sedikitpun, tapi saat dia mencoba bangkit ternyata beberapa bagian dari tulangnya patah di kaki dan tangan kiri.
"Sial!!, sial!!", geramnya. Dia berdiri tidak sempurna, kaki kirinya terlihat membengkok karena patah sedang tangan kirinya terkulai tidak bisa di gerakkan.
Di ambilnya pedang yang jatuh tergeletak di tanah lalu acungkan ke kanan dan kekiri mengancam.
"Tembak!!", teriak Bill, dan rentetan senapan yang sudah disiapkan para prajurit pun menyalak.
"Dar..duar..Duar!!", bersahut-sahutan.
Terlihat tubuh Suma di penuhi asap panas peluru yang ditembakkan. Para prajurit kompeni yang menembak kaget melihat Suma yang tidak juga mati setelah di berondong peluru sebanyak itu.
Padahal jelas terlihat tubuh dan pakaian Suma tercabik disana sini akibat peluru yang menghantamnya.
Para prajurit menjauh begitu Suma berusaha mencapai mereka. Satu keuntungan bagi mereka para penyerang, Suma kesulitan untuk membalas karena kaki dan tangan kirinya patah.
"Tembak kepalanya!!", perintah Bill.
Kembali tembakan bersahut-sahutan menyalak, kali ini menyasar kepala Suma, Suma berusaha menutupi kepala dengan tangan yang memegang pedang. Walau dia tidak bisa dibunuh tapi luka-luka pada inderanya akan mengurangi kemampuan, apabila ada diantara peluru tersebut terkena mata maka dia pun akan kehilangan kemampuan melihat.
"Duar!! Duar!!", tembakan berkali-kali mengenai tangannya yang digunakan untuk melindungi wajah hingga tangan tersebut tercabik-cabik dagingnya dan kelihatan tulangnya.
Sadar tidak mungkin lagi melawan, Suma mencoba berjalan ke arah barat untuk menuju ke tempat gurunya, Ni Gaok. Hanya perempuan itu yang dapat menyembuhkan luka-lukanya agar pulih seperti sedia kala. Dengan terseok-seok dia berusaha melarikan diri dari musuh.
"Beberapa orang pergunakan tali, selebihnya terus menembak!!", perintah Bill.
Beberapa prajurit kompeni mengambil tali yang tadi menjatuhkan Suma dan kudanya, sedangkan yang lain terus menembaki. Beberapa bagian tubuh Suma bahkan terlihat sudah berlubang tembus karena di tembak berulang kali pada tempat yang sama.
Kini Suma menjatuhkan pedangnya dan tangan kanan yang masih bisa di gerakkan digunakan untuk menutup tengkuk menghindari luka di kepala, karena luka disana berarti dia kehilangan kemampuan berpikir.
__ADS_1
"Wuut!!", tali yang pada ujungnya dibuat menjadi lingkaran **** menjerat tubuh Suma pada leher sekaligus dengan tangan yang berusaha menutupi kepala.
Setelah tali melibat tubuhnya, sepuluh orang prajurit menariknya sehingga terjatuh ke belakang, telentang.
Suma hendak berdiri tapi Bill berlari menghampiri dengan pedang terhunus dan menebas tangan kanannya hingga putus. Kini Suma tak bisa lagi melawan. Kaki kanannya yang masih utuh juga segera ditebas putus pada betisnya oleh Bill.
Tak lama Heidrich, Jhon dan puluhan pasukannya yang mengejar Suma tiba.
"Komandan", ujar Bill bersiap dan memberi hormat bersama para prajurit yang berada disitu.
Heidrich mengangguk membalas hormat mereka.
"Bagaimana pasukan yang jadi bawahannya?", tanya Heidrich setelah turun dari kudanya dan mendekat.
"Mereka tidak tahu kejadian ini komandan", jawab Bill.
"Bagus, kalau begitu segera urus pengkhianat ini", ujar Heidrich sambil memperhatikan Suma yang tergeletak di sesemakan. Dia heran kenapa orang ini tidak mati dengan luka separah itu, benar-benar ajaib. Bahkan seharusnya dia sudah tewas sesudah berkali-kali terkena tembakan di jalanan Belawan tadi, dan yang terjadi justru dia masih sanggup berkuda sejauh ini. Luka-luka ditubuhnya juga tidak mengeluarkan darah setetespun.
Tapi negeri ini memang penuh misteri, banyak orang-orang sakti disini memiliki kemampuan di luar akal, sama seperti Ki Bayu sebelumnya, pikir Heidrich.
"Komandan, tolong..maafkan aku", ujar Suma dengan tatapan memelas.
"Aku memaafkanmu, tapi hukum harus di berlakukan, kau telah berencana membunuhku dan berhasil membuat seratus orang prajuritku tewas", jawab Heidrich.
"Potong leher, kedua tangan dan kedua kakinya, masukkan ke dalam kotak, gembok, lalu buang kelaut. Biarkan dia menerima konsekuensi atas kejahatan dan ilmu hitam yang dia pelajari", tegas Heidrich.
"Tolong-tolonglah komandan, beri aku kesempatan untuk menebus ini", pinta Suma.
"Dan jangan lupa sumpal mulutnya", ujar Heidrich.
Seorang prajurit lantas menyobek bahu pakaian Suma dan menyumpal mulutnya dengan robekan pakaian tersebut.
"Ayo Jhon kita harus membuat laporan ke atasan kita", ujar Heidrich.
"Siap komandan", ujar Jhon.
__ADS_1