
"Ini adalah pinggiran kota, berani sekali kau hendak menyerang kami disini, satu tembakan kami letuskan dan ratusan pasukan kami akan segera datang kemari", gertak Herrmann.
Dia berpikir mungkin dengan ancaman, wanita ini akan meninggalkan mereka, seandainya ancaman tidak mempan maka terpaksa peluru yang akan berbicara, dan semoga itu berhasil membunuh musuh-musuh ini.
Sebenarnya dia masih belum yakin perempuan ini adalah Ni Gaok, tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati, pikirnya.
"Ratusan pasukan kompeni ya? sekitar sebulan lalu kami menghabisi seratus orang dari kalian. Darah pasukan kalian benar-benar nikmat", ujar Ni Gaok sambil leletkan lidah.
Herrmann dan pasukannya kaget mendengar hal itu, ternyata perempuan ini yang membantai pasukan mereka tanpa menyisakan seorang pun saksi mata.
Menyadari betapa berbahayanya lawan, mereka pun segera mengarahkan senapan ke arah Ni Gaok.
Ke lima pengawal Ni Gaok bergerak maju untuk melindungi majikannya.
"Sudah kuperingatkan kalian jangan mendekat, mundur atau kami tembak!!!" bentak Herrmann.
Para pengawal Ni Gaok malah bergerak makin maju mendekat, dan bergerak dengan cepat mengarah ke mereka.
"Tembak!!" ujar Herrmann bersamaan dengan menyerbunya para pengawal.
Duar!!
Dar!!
Duar!!
Rentetan tembakan bersahutan memecah keheningan di pinggiran kota tersebut.
Tembakan tersebut terdengar sampai ratusan meter jauhnya membuat penghuni kota tersentak.
Para prajurit dikota segera meniup peluit mereka bersahutan. Dan segera puluhan prajurit berlarian mendatangi arah asal tembakan.
Para pengawal Ni Gaok berlari maju sambil gunakan tangan kiri melindungi wajah. Beberapa peluru jelas terlihat berhasil membuat lubang di tubuh mereka, mencabik pakaian, kulit, dan daging. Asap panas mesiu terlihat mengurai keluar dari lubang-lubang tersebut.
"Buak!!, seekor kuda terhantam kuat di leher, kuda tersebut meringkik mengangkat kaki depannya, penunggangnya yang tidak siap langsung terpental ke belakang.
"Wuut", serangan cemeti Ni Gaok dalam jurus sembilu pembelah jantung segera menghantam dada kiri seorang serdadu kompeni merobohkannya dari atas kuda.
__ADS_1
Seorang pengawal lain mendekati prajurit yang berkuda. Prajurit kompeni tersebut tusukkan bayonetnya, "tring", si pengawal menangkis dengan tangan kirinya yang terbalut sarung tangan. Bunga api memercik terang. Si pengawal meraih leher kuda, memutarnya kebawah lalu jatuhkan diri. Kuda berikut penunggangnya terbanting ke tanah yang becek.
"Se..setan!!", ujar si prajurit kompeni sebelum terjatuh dan tertimpa kudanya.
"Lari.. berpencar, selamatkan diri kalian!!", perintah Herrmann melihat para prajuritnya tak sanggup menghadapi musuh. Dia baru menyadari ternyata musuh-musuh ini begitu mengerikan. Selain tak tewas di tembak, mereka juga sangat kuat.
Mendengar perintah Herrmann serentak para prajurit berpencar berusaha melarikan diri.
Tapi terlambat karena musuh sudah terlalu dekat, dan mereka tak berniat melepaskan satupun prajurit kompeni disitu.
Seorang pengawal melompat diantara dua prajurit berkuda kompeni yang hendak melarikan diri, sambil melompat kedua tangannya mencengkeram leher kedua prajurit berkuda di kiri dan kanan lalu jatuhkan mereka ke belakang meninggalkan kuda-kuda mereka berlari tanpa penunggang.
Brugh.. Bugh.. Kedua serdadu kompeni jatuh ke tanah yang becek. Kedua tangan mereka menggapai-gapai tangan pengawal Ni Gaok yang dibalut baja.
Si pengawal lepaskan cengkeraman di leher lalu dengan cepat dan kuat gunakan ujung jarinya yang di selubungi sarung tangan baja menusuk jantung kedua musuh "Crassh!!", kedua prajurit kompeni bersamaan meregang nyawa dengan jantung hancur.
Herrmann memacu kudanya maju sambil tebaskan pedang di tangan ke arah seorang pengawal.
"Sial kuat sekali, makhluk apa sebenarnya mereka ini?", pikirnya.
Herrmann terpaksa melepas pedang, lalu majukan kuda hingga si pengawal berada di sampingnya.
Setelah si pengawal berada di sampingnya Herrmann tendangkan kakinya ke kepala lawan.
Si pengawal tenang saja menerima tendangan di kepala tetap tak berusaha mengelak, tangan kirinya di pergunakan untuk menarik kaki Herrmann yang menendang. Herrmann terjatuh ke tanah.
Ni Gaok baru saja menyabetkan cemeti melilit leher seorang prajurit dan menjatuhkannya ke tanah dengan leher hampir putus.
Melihat Herrmann dijatuhkan oleh seorang pengawalnya dia segera menghampiri dan menyeringai.
"Aku akan membawa rahasia ini sampai mati, kau tidak akan mendapat apapun dariku", ujar Herrmann menyeringai.
"Baiklah kalau begitu", seringai Ni Gaok lalu sentilkan ujung cemeti ke jantung Herrmann.
"Crasshh!!", Ahk.. tubuh Herrmann tersentak karena serangan tepat di jantung dan diapun langsung meregang nyawa.
__ADS_1
Para pengawal Ni Gaok terhubung dan mendapat perintah langsung dari pikirannya. Mereka tahu siapa-siapa yang harus dibunuh dan yang mana harus di biarkan hidup.
Para prajurit berjatuhan dari kuda-kudanya dipukul dan dibanting pengawal Ni Gaok.
Hampir kesemuanya tewas dalam waktu cepat.
Kini hanya tersisa dua prajurit yang tadi duduk diatas pedati, saat itu mereka sudah berlari ke kanan dan kiri berpencar memasuki perkebunan melinjo yang gelap.
Ni Gaok dan para pengawalnya segera berpencar mengejar. Salah satu dari prajurit yang lari ini akan dijadikannya sandera penunjuk jalan.
Sekitar lima menit kemudian sekitar lima puluh prajurit kompeni dari kota tiba berlari-lari dengan membawa obor dan lentera. Mereka kaget begitu menemukan teman-teman mereka sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Mereka memeriksa sekeliling, tapi tidak menemukan seorang pun dalam keadaan hidup.
Para prajurit tewas dalam keadaan mengenaskan, beberapa kuda juga menjadi korban ikut bergelimpangan. Seekor kuda terlihat terbaring sekarat, meringkik kesakitan. Seorang prajurit mengakhiri penderitaannya dengan menembak tepat di dahi.
Lalu seorang prajurit lainnya memeriksa kolong pedati, "siapa kau?", bentaknya begitu mendapati seseorang sedang bersembunyi disana. Ternyata orang itu adalah penduduk desa yang tadi menumpang pedati, pria itu telungkup di tanah becek berlumpur. Dan dia segera keluar dari kolong pedati sambil mengangkat kedua tangannya.
"Siapa kau?", si prajurit mengulangi pertanyaannya.
"Sa..saya tadi menumpang di pedati ini diajak tuan-tuan kompeni di jalan karena saya hendak ke kota Belawan", ujarnya dengan takut.
Seorang prajurit lain yang berpangkat kopral segera mendatangi, "Pakcik, apakah Pakcik bisa menceritakan seluruh kejadian disini?", tanyanya.
Penduduk desa itu mengangguk dengan takut, "bawa orang tua ini dan berikan dia air untuk membersihkan diri, dia saksi satu-satunya yang dapat menjelaskan kejadian disini", ujar si kopral.
Tak lama berselang menyusul puluhan lagi prajurit kompeni berkuda mendatangi lokasi.
Mereka segera turun dari kuda-kudanya dan memeriksa keadaan.
Baru saja para prajurit ini turun dari kuda dan memeriksa, terdengar langkah berlari dari arah timur.
Serentak seluruh prajurit disitu mengarahkan senjatanya ke asal suara.
Terlihat seorang prajurit kompeni berlari ke arah mereka.
"Aa..aku di kejar musuh", ujarnya dengan wajah pucat dan napas tersengal-sengal.
__ADS_1