
Selepas subuh Awang memimpin rombongan menunggu di semak-semak. Di pinggir jalan, arah tenggara dari tempat mereka bersembunyi seminggu ini.
Di tempat ini lah Mat Kecik membuat janji untuk bertemu Madan yaitu anak dari sepupu Ruslan, anggota laskar Awang.
Sebelumnya pada pagi tadi, Madan bertemu dengan Mat Kecik yang sedang menyamar untuk mengamati situasi di pasar lokal.
Saat itu Madan benar-benar kaget dapat bertemu dengan Mat Kecik, begitu senangnya dia bertemu dengan orang kepercayaan Awang itu.
Dia bercerita tentang betapa banyak kisah perjuangan mereka yang tengah beredar di antara penduduk setempat.
Setelah mendengarkan Madan mengungkapkan kekagumannya, Mat Kecik pun bercerita bahwa mereka saat ini memerlukan bantuan untuk melewati penjagaan kompeni, agar dapat pulang ke persembunyian.
Dengan bersemangat Madan berkata dia akan membantu Awang dan rombongan keluar dari persembunyian mereka, tinggal katakan saja apa yang harus dia lakukan. Madan juga bercerita bahwa sekarang dia bekerja sebagai pengantar garam dari Belawan ke Medan, dan dengan begitu kemungkinan dia bisa membantu mereka.
Sama seperti kebanyakan remaja sebayanya, sejak kecil Madan sangat mengagumi para pejuang yang menentang kompeni.
Hal itu menjadi lebih mengagumkan lagi baginya setelah mendengar Awang dan pasukannya memporak porandakan pos kompeni dari Sunggal hingga Klambir Lima.
Dulu di usia empat belas tahun Madan pernah meminta kepada pakciknya Ruslan untuk mengizinkannya bergabung dengan laskar.
Hanya saja Awang selaku pimpinan laskar melarang, karena Awang tidak mau anak itu meninggalkan ibunya yang hidup sendirian.
⚜️⚜️⚜️
Setelah mendengar dari Mat Kecik tentang pertemuan mereka, tadi siang dengan senangnya Awang memerintahkan Mat Kecik kembali menemui Madan dan menceritakan rencana mereka.
Dan sorenya Mat Kecik kembali menemui Madan. Seperti yang mereka harapkan Madan pun menyanggupi untuk mengikuti rencana tersebut.
Kini, seperti yang telah disepakati sebelumnya, maka Madan dalam perjalanannya menjemput garam di Belawan selepas subuh akan menunggu mereka di salah satu sudut jalan.
Mereka menunggu waktu selepas subuh karena disaat itu lah penjagaan tidak terlalu ketat, dimana sebagian besar pasukan kompeni sedang beristirahat.
Tak berapa lama mereka menunggu di sesemakan, terdengar lonceng berdenting di kejauhan. Lonceng kecil yang biasa di gantung di leher lembu.
Lalu menyusul terdengarnya suara lonceng, terlihat tiga buah pedati pembawa barang berjalan pelan di tarik tiga ekor lembu, menapaki jalanan umum dari Medan menuju ke Belawan.
Tampak di masing-masing pedati ada seorang kusir diatasnya. Pada tiap pedati disudut sebelah kiri di tancapkan obor sebagai isyarat yang disepakati Madan dengan Mat Kecik, sebagai penanda bahwa keadaan aman.
Di dekat tempat Awang dan rombongan bersembunyi Madan memberi tanda dengan batuk keras-keras sebanyak tiga kali.
"Itu tandanya", bisik Mat Kecik.
Mat Kecik segera keluar dari persembunyian dan menghampiri.
Melihat kehadiran Mat Kecik, Madan dan kedua temannya segera turun dari pedati. Madan dan kedua temannya semua sebaya, remaja berusia sekitar tujuh belasan.
"Bagaimana?" tanya Mat Kecik.
"Aman Pakcik", jawab Madan, lalu meraih tangan Mat Kecik dan mencium tangan tersebut.
Kedua temannya juga dengan semangat berebut menyalami dan mencium tangan Mat Kecik.
Mat Kecik tertawa pelan melihat kelakuan mereka.
Setelah itu dia melambaikan tangan memberi isyarat pada teman-temannya.
Awang dan teman-teman keluar dari persembunyian menghampiri.
Madan langsung menuju Awang, dengan sopan menyalami dan mencium tangannya.
Awang menepuk bahu Madan, "apa kabar anakku?" tanyanya.
"Alhamdulillah sehat Pakcik", jawabnya.
Dia menatap orang-orang yang bersama Awang, "yang mana Pakcik Ulong dan Makcik Laksmi?" tanyanya berbisik.
Awang tertawa lalu menoleh ke arah rombongan, "Long, Laksmi, ini ada penggemar kalian", ujarnya.
Ulong dan Laksmi menghampiri sambil tersenyum.
"Pakcik, Makcik", ujar Madan membungkuk hormat.
__ADS_1
Ulong dan Laksmi tersenyum, dalam hati mereka merasa terlalu tua dengan panggilan tersebut. Kalau dengan Awang, Mat Kecik, atau Arman boleh saja Madan memanggilnya Pakcik, karena mereka berusia sekitar tiga puluhan. Sedangkan dia dan Laksmi, mereka berdua dua puluh lima tahun saja belum.
Awang terkekeh "Hei mereka belum cocok kalian panggil Pakcik dan Makcik", ujarnya.
Madan nyengir malu lalu garuk-garuk kepala.
Teman-teman Madan tampak sangat girang bertemu para laskar yang beberapa saat ini menjadi buah bibir di kampung mereka.
Mereka berbisik-bisik sambil menatap pada Mat Kecik.
"Yang mana Pakcik Ulong, dan Makcik Laksmi", ujarnya.
Mat Kecik menunjuk Ulong dan Laksmi yang sedang berbicara dengan Madan.
"Ulong itu yang di pinggangnya banyak terselip belati, sedangkan Laksmi yang paling cantik, berdiri di sebelah Ulong".
Mendengar ucapan Mat Kecik para remaja itu bergegas menghampiri.
"Ini Pakcik Ulong?" tanya seseorang dari mereka lalu bergegas menyalami Ulong dan mencium tangan Ulong dengan takzim.
Ulong terkekeh melihat kelakuan para remaja ini.
Setelah menyalami Awang, Ulong, dan Laksmi mereka menghampiri sisa rombongan dan menyalaminya.
Saat menghampiri putra, Mardiani dan Salhah, yang tak beda jauh usianya dari mereka ketiga anak muda ini jelas terlihat menatap penuh kekaguman.
Ada rasa iri di hati mereka karena dalam usia begitu muda Putra dan kedua gadis ini telah menjadi pejuang dan menjadi pengikut Awang yang begitu terkenal.
Putra tersenyum lebar menyalami mereka, sedang kedua gadis menyalami mereka sambil tersipu-sipu.
Setelah silaturahmi singkat tersebut Madan meminta kedua temannya untuk mengikuti putra mengambil kuda-kuda mereka yang disembunyikan tak jauh dari situ.
Tak lama mereka muncul kembali dengan membawa kuda-kuda.
Selain dua kuda yang mereka tunggangi ada sembilan kuda lagi yang mereka bawa di belakang.
Rencananya mereka akan menyembunyikan kuda-kuda tersebut di hutan, tak jauh dari perkampungan.
Kedua temannya mengangguk lalu berpamitan pada Awang dan teman-teman, setelah itu mereka menunggang kuda ke arah timur, keluar dari jalanan.
Rombongan laskar segera menaiki ketiga pedati.
Satu pedati di depan pengendaranya adalah Madan.
Sedang dua pedati lain yang berjalan di belakang di kendarai Ulong dan Putra, sedang sisanya bersembunyi di dalam gerobak pedati ditutupi timbunan jerami lalu diatasnya di letakkan kain.
Ketiga pedati mulai berjalan perlahan meninggalkan tempat pertemuan.
Jalan yang mereka telusuri itu adalah jalan tanah yang cukup lebar, dapat dilalui lima pedati sekaligus.
Beruntung sudah hampir sebulan ini tidak ada turun hujan sehingga jalan tidak becek dan tidak menghambat perjalanan.
Setelah hampir setengah jam mereka berkendara di temani kesunyian malam, tampak di di depan ada pos penjagaan kompeni.
Setelah cukup dekat mereka melihat ada tiga orang berdiri disana di depan pos di pinggir jalan, sementara beberapa meter di belakangnya ada dua tenda. Sepertinya tempat beristirahatnya pasukan tambahan.
"Mereka benar-benar mengerahkan kekuatannya memburu kami", pikir Ulong.
Seorang serdadu kompeni pribumi berdiri di tengah jalan menghentikan pedati.
Dia mengenali Madan yang memang seminggu sekali mengantar garam.
"Kenapa sampai tiga pedati yang kau bawa Dan?" tanya si penjaga.
"Iya Pakcik, ada tambahan garam yang disuruh kami bawa", ujarnya.
Dua lagi serdadu kompeni yang berjaga mendatangi, mereka melihat ke Ulong dan Putra.
"Temanmu ini siapa?" tanyanya.
"Mereka karyawan baru Pakcik" jawab Madan sambil tertawa mencairkan suasana.
__ADS_1
Ulong dan Putra tersenyum dan mengangguk kepada mereka.
"Siapa namamu?" tanya seorang serdadu kompeni.
"Saya Jagat tuan", jawab Ulong.
"Saya Putra tuan", jawab Putra, nama putra sangat banyak di sini, hingga dia tak perlu kuatir untuk menyebutkan nama asli. Lagi pula namanya bukan lah nama yang masuk daftar pencarian utama kompeni.
Mereka mengamati sebentar tapi tidak memeriksa isi gerobak karena tidak terlalu bercuriga, mereka telah mengenal Madan cukup lama, remaja ini sangat sopan dan belum pernah terlibat masalah.
Di dalam gerobak, Laksmi, Mardiani dan Salhah sudah bersiap dengan busur dan panah.
Sedangkan Awang dan yang lain-lain telah bersiap dengan tombak dan golok.
Mereka menunggu dengan tegang.
Seorang serdadu kompeni yang melihat-lihat bagian belakang gerobak pedati memberi isyarat pada temannya di depan.
Setelah itu serdadu yang di depan memerintahkan mereka untuk kembali berjalan.
Dan ketiga pedati pun mulai berjalan perlahan meninggalkan pos tersebut.
Tak ada hambatan lain setelah itu, Awang dan rombongan meninggalkan Madan dan dua pedati lain sekitar satu kilometer dari lokasi pengambilan garam.
"Terima kasih banyak Dan, salam buat ibumu", ujar Awang sebelum pergi.
"Iya Pakcik, sama-sama, aku juga senang akhirnya bisa membantu para pejuang", jawabnya.
"Nanti kusampaikan salam Pakcik pada ibu, beliau pasti sangat senang", ujar Madan tersenyum.
Setelah itu Awang dan rombongan berjalan menyusuri kebun kelapa di kanan jalan menuju ke barat hingga beberapa kilometer dan memasuki hutan.
Awang dan rombongan tiba di kampung kecil persembunyian mereka saat matahari sudah terbit sepenuhnya.
Dan menemukan hal yang mengagetkan.
Kampung kecil persembunyian mereka telah porak poranda seperti di terjang ****** beliung.
Seluruh bangunan hancur, berlubang dan kayu-kayunya patah. Atap Rumbia berserakan di dekatnya.
Terlihat bekas-bekas pertarungan disana-sini dan mayat-mayat laskar bergelimpangan.
Semua dalam keadaan tubuh hancur, terkoyak dan tercabik-cabik.
Jumlah yang tewas delapan orang, termasuk Ruslan.
Arman dan Mat Kecik berlari memeriksa kesana kemari seperti orang gila.
"Aaargggggh.. kurang ajar..Biadab!!!" ujar Mat Kecik. Dia mengamuk lalu ambil sebuah bangku yang terletak didekatnya, lalu bantingkan dengan sekuat tenaga ke tanah hingga hancur berkeping-keping.
Awang menatap tempat tersebut dengan mata berkaca-kaca, ada lima belas orang anggotanya disitu sebelumnya dan kini semuanya raib, hanya mayat-mayat ini yang tersisa.
Tidak ada mayat seorang musuh pun yang terlihat disitu.
Dia bersimpuh memperhatikan tubuh Ruslan dan setelah melihat lukanya, dia berujar geram, "Ki Bayu".
Arman mendekati Awang, dia melihat tangan Ruslan menggenggam boneka jerami yang berlumuran darah.
Di raihnya boneka jerami tersebut lalu mendesis lirih, "Nilam".
Awang dan Mat Kecik mendengar itu menatap ke arah boneka rumput dengan ekspresi geram.
Ulong dan yang lain cuma berdiri menatap dengan iba tanpa mampu berkata apa-apa.
Mendadak Ulong dan Laksmi mendengar ada suara semak berkresekan di sebelah kanannya dan muncul perasaan seperti sedang di awasi.
"Musuh di arah selatan, semuanya tiarap!!!" teriak Ulong.
"Duar..Duar..Duar..!!!"
Rentetan tembakan menghujani mereka, bersahut-sahutan memecah keheningan pagi.
__ADS_1