Ulong Belati

Ulong Belati
Mat Kabur


__ADS_3

Tiga hari kemudian di Klambir Lima.


Pagi sekitar pukul sepuluh, Suma datang memasuki ruang komando yang sudah selesai di bangun untuk menemui Heidrich.


Saat itu Heidrich sedang duduk di temani orang kepercayaannya, sersan Jhon di dalam ruangan.


Suma datang menghantarkan surat yang di lipat rapi dan di segel dengan lilin berwarna coklat bercap resmi maskapai perkebunan.


Heidrich menerima surat tersebut dengan penuh tanda tanya, dibukanya segel dan membaca surat tersebut dengan cermat.


Terlihat ekspresinya kaget setelah membaca isi surat tersebut yang memintanya untuk menangkap Ki Bayu hidup atau mati.


Dia berdiri dari duduknya.


Walau dia sadar bahwa Ki Bayu memang sudah selayaknya di hukum, tapi dia merasa ini sangat mencurigakan dengan munculnya Suma yang datang begitu saja membawa surat perintah penangkapan Ki Bayu.


Paling tidak seharusnya Suma terlebih dahulu berdiskusi dengannya sebagai penguasa militer di wilayah ini sebelum menemui pihak maskapai.


Selain itu dia juga ragu bagaimana caranya dia dapat mengalahkan Ki Bayu. Prajuritnya bakal terbunuh sia-sia menghadapi orang itu, dan kedua serigalanya yang tersisa. (Baik Heidrich maupun Suma sama sekali tidak tahu kalau Ki Bayu saat ini sendirian, setelah kedua peliharaannya yang tersisa dikalahkan oleh Ulong dan kawan-kawan).


"Jadi selain memburu Ulong dan gerombolannya, pasukan kita juga harus mengejar Ki Bayu?", tanya Heidrich pada Suma setelah membaca surat yang dibawa Suma.


"Saya tidak tahu isi surat tersebut komandan, seperti anda lihat sendiri surat tersebut masih bersegel, kalau memang seperti itu permintaannya aku takut kita harus segera menanggapinya", jawab Suma takut-takut.


"Bagaimana mereka bisa tahu soal keadaan disini dan tentang masalah Ki Bayu?" tanya Heidrich lagi.


"Kalau soal itu, tadinya saya mengunjungi seorang informan di pelabuhan Belawan, sepulangnya dari sana saya bertemu meneer Pieter yang menjadi pejabat maskapai" ujar Suma.


"Aku tahu siapa Pieter, tidak perlu kau jelaskan tentang dia", ujar Heidrich memotong tak sabar.


Suma terdiam, Heidrich menatap Suma lalu dongakkan dagu memberi isyarat melanjutkan.


"Maafkan kelancangan saya komandan, setelah kami mengobrol aku bercerita tentang Ki Bayu, juga tentang pertengkaran anda dengannya", ujar Suma dengan ekspresi polos.


"Kau ceritakan semua hal itu padanya? Apa kau paham bahwa ada hal-hal yang boleh dan ada hal-hal yang tak boleh kau ceritakan kepada semua orang? Urusan ini adalah urusan militer, bukan urusan mereka!!!" nada bicara Heidrich jadi meninggi.


"Maaf komandan, hal tersebut memang bukan urusan mereka, tapi bila mereka tidak diingatkan tentang Ki Bayu aku kuatir kelak akan menimbulkan masalah", ujar Suma membela diri.


Heidrich menatap Suma dengan kesal, "baiklah sudah terlanjur, sepertinya mau tidak mau aku harus memenuhi permintaan pihak maskapai. Tapi sebagai atasanmu aku tidak bisa menerima tindakanmu itu, aku menskorsmu untuk tidak bertugas selama dua Minggu mulai hari ini", ujar Heidrich.


"Siap komandan", ujar Suma memberi hormat. Lalu Heidrich lambaikan tangan menyuruhnya pergi.


Suma pergi keluar dari ruangan sambil menyeringai puas, semua sesuai rencana. Dia sengaja memancing kemarahan Heidrich dengan bermain pura-pura polos dan bodoh. Kini dengan diskorsnya dia maka dia tidak perlu ikut menanggung akibat seandainya tentara kompeni di kalahkan Ki Bayu.


⚜️⚜️⚜️


Kini Heidrich berdiri disamping kudanya di luar halaman salah satu rumah seorang buruh kebon.


Dari balik pagar tanaman bonsai setinggi pinggang dia berdiri diam, lalu tersenyum-senyum sendiri. Saat itu dia sedang memperhatikan Nilam bermain sendirian di halaman rumah.


Sejak pertama tiba disini gadis kecil itu dititipkan di rumah ini. Rumah keluarga buruh kontrak dari pulau Jawa, Lik Pardi dan Mbok Marni. Mereka hanya tinggal bertiga dengan anak gadisnya, dan mereka tidak keberatan Nilam tinggal bersama mereka, apalagi itu atas permintaan Heidrich dan Heidrich juga menanggung segala kebutuhan Nilam.


Heidrich sendiri sengaja menitipkan bocah itu disini karena dia ingin bocah tersebut menjauh dari keras kehidupannya sebagai tentara.


Heidrich senang Bocah ini akhirnya kembali riang dan mau bermain. Beberapa hal yang dia ingat saat pertama kali bocah itu tiba disini ialah Nilam mengalami trauma berat akibat serangan Ki Bayu di markas persembunyian Awang.


Bocah itu hampir selalu harus ditemani terutama pada malam hari. Bocah itu juga sering menangis bila teringat para laskar yang mengasuhnya, dan berkali-kali memanggil nama-nama para laskar, Rustam, Awang dan lain-lain.


Begitu pun Heidrich tahu kalau Awang, Ulong dan Laksmi, belum tewas, karena dia sendiri datang ke tempat persembunyian mereka yang di hancurkan Ki Bayu beberapa hari sesudah Suma melaporkan pasukannya turut tewas di bantai orang tua tersebut disitu. Jelas Heidrich melihat kuburan masal tempat para laskar dikebumikan dan tidak ada nama Awang, Ulong, atau Laksmi di nisan batu diatas kuburan tersebut.


Kini dia menikmati memperhatikan gadis kecil yang dianggapnya seperti keponakan sendiri tersebut sedang bermain.


Heidrich ingin menghampiri, tapi tak enak rasanya mengganggu keasyikan Nilam.


Tapi Nilam yang sedang bermain justru merasa ada yang memperhatikan, dia menoleh lalu tertawa riang begitu tahu Heidrich berdiri di luar pagar.


Dilambaikan tangan mungilnya memanggil Heidrich, "Pakcik sini", ujarnya. Nilam memang sangat akrab dengan Heidrich, karena Heidrich rutin menemui dan menghiburnya.

__ADS_1


Heidrich kaget melihat Nilam menyadari kehadiran dan memanggilnya, dia segera menambatkan kuda di pagar tanaman dan bergegas memasuki halaman rumah menghampiri. Lalu dia ikut berjongkok di samping Nilam.


Terlihat Nilam sedang bermain dengan beberapa mainan berupa peralatan rumah tangga dari timah yang diberi Heidrich sebelumnya, di letakkannya mainan tersebut berjajar di atas batu di halaman.


"Nilam main apa nak?", tanya Heidrich.


"Ini Pakcik", ujar Nilam menjawab singkat, dia berpura-pura menuangkan air dari ceret mini ke gelas yang juga mini lalu serahkan ke Heidrich.


Heidrich nyengir, demi menyenangkan Nilam dia menerima gelas mini tersebut lalu pura-pura meminum dari situ.


Sebenarnya Heidrich saat ini hanya mampir hendak melihat Nilam sebelum pergi melaksanakan permintaan yang diterimanya dari pihak maskapai perkebunan, yaitu untuk memburu Ki Bayu.


Tak lama terdengar beberapa derap kaki kuda berjalan mendekat. Heidrich menoleh, ternyata sersan Jhon yang datang bersama dua orang prajurit Belanda lainnya.


Satu hal yang aneh menurut Heidrich kenapa mereka menyusulnya kesini, bukankah dia telah memerintahkan mereka untuk menunggunya di markas.


Dia mengelus kepala Nilam "sebentar ya nak, Pakcik temui Pakcik Jhon dulu", ujar Heidrich.


Dia berjalan keluar dari halaman rumah dan menghampiri bawahannya tersebut, "ada apa?", tanyanya.


"Kami mendapat info baru tentang Ki Bayu", ujar Jhon.


Jhon melihat kearah Nilam yang menatapnya, dia mendadahkan tangannya memberi salam sambil tersenyum, Nilam balas berdadah dan tersenyum.


"Ada informasi yang harus anda dengarkan komandan, menurutku sangat penting", ujar Jhon.


"Coba sampaikan lah", ujar Heidrich menunggu.


"Sepertinya anda harus melihatnya sendiri untuk memastikannya komandan, ada seseorang pedagang yang datang ke markas, katanya dia meminta bantuan karena pedatinya terpaksa dia tinggalkan di jalan akibat perkelahian Ki Bayu dan rombongan Ulong", ujar Jhon menjelaskan.


Heidrich menatap Jhon kaget, tak disangkanya mereka akan mendapat info tentang Ki Bayu dan Ulong secepat itu.


Heidrich berpamitan pada Nilam, bocah kecil itu merengut kesal, karena harus ditinggal lagi.


Saat itu mbok Marni sudah berdiri di samping Nilam dan membungkuk hormat pada Heidrich, "tabik ndoro", ujarnya.


"Pakcik mau pergi kerja dulu, nanti kita main lagi", ujarnya tersenyum. Nilam masih cemberut tapi perlahan mau juga tersenyum.


Heidrich berpamitan pada mbok Marni setelah memberikan beberapa keping perak untuk biaya mereka merawat Nilam.


Mereka pun berkuda menuju markas mereka untuk menemui orang yang disebut Jhon.


Mereka memasuki areal markas di Klambir Lima yang sudah dipugar walau belum sepenuhnya selesai.


Masih banyak pekerja bangunan berlalu lalang dan bekerja disana sini.


Memasuki ruang kerja Heidrich, terlihat seorang tua berusia sekitar enam puluhan, berambut hitam diselingi uban disana sini sedang duduk di dalam ruangan, orang tua tersebut mengenakan pakaian dan penutup kepala berwarna kuning khas melayu. Di meja dihadapannya, yaitu di meja kerja Heidrich ada segelas kopi yang tinggal seperempat isinya. Juga ada pisang goreng dan ubi goreng di piring kecil terletak disana.


Heidrich duduk di kursinya di belakang meja menghadap orang tua tersebut. Heidrich menatap orang tua tersebut lalu tersenyum ramah dan menyalaminya. "Perkenalkan pakcik, saya adalah Letnan Heidrich pimpinan di sini".


Pria itu balas tersenyum ramah, dia tidak menyangka perwira yang berkuasa disini begitu ramah. Dia memperkenalkan diri sebagai Mat Kabur.


Heidrich menatap seorang bawahannya yang sedari tadi berada di ruangan tersebut. "Tolong tambahkan kopi Pakcik ini", perintahnya. Prajurit itu menghormat lalu bergegas keluar ruangan.


"Silahkan sampaikan apa yang Pakcik ceritakan kepada kami tadi kepada komandan", ujar Jhon yang berdiri di samping Heidrich.


Orang tua itu pun bercerita bahwa dia adalah seorang pedagang dari Binjai, dia menceritakan bahwa kemarin siang disaat dia melintas di bagian jalan antara Klambir Lima dan Binjai, lembu penarik pedatinya di serang serigala jadi-jadian. Lalu dia berlari bersembunyi meninggalkan pedatinya, tak lama sekelompok laskar juga tiba disana, mereka menyerang serigala jadi-jadian dan serigala raksasa yang ternyata milik seorang tua yang menyeramkan.


"Kelompok laskar yang mana? apakah ada yang bisa Pakcik kenali?", tanya Heidrich.


"Aku mendengar mereka menyebut diri sebagai Ulong dan Awang, tapi saya tidak kenal orang tua yang membawa serigala-serigala mengerikan tersebut", ujar Mat Kabur lalu menggambarkan tentang Ki Bayu dan kedua serigalanya.


"Walau saya bersembunyi di semak-semak, tapi saya mengintip dan melihat seluruh perkelahian", sambungnya.


Tak berapa lama seorang perempuan memasuki ruangan membawa ceret kecil berisi kopi dan beberapa gelas tambahan, setelah menghormat perempuan tersebut meletakkan bawaannya di meja dan bergegas meninggalkan ruangan.


"Silahkan di minum Pakcik, agar lebih enak bercerita", ujar Heidrich.

__ADS_1


Heidrich meraba saku celananya karena terasa ada yang mengganjal disana, sebuah cangkir timah. Mainan Nilam ternyata tak sengaja terbawa olehnya.


Diletakkannya mainan tersebut di atas meja. Mat Kabur memperhatikan apa yang dilakukan Heidrich.


Heidrich tertawa menanggapi tatapan Mat Kabur, "Ooh ini punya keponakanku Nilam", ujar Heidrich.


"Silahkan dilanjutkan ceritanya Pakcik", ujar Heidrich.


Mat Kabur pun kembali bercerita.


"Disitu saya lihat Ulong dan teman-temannya, aku tak ingat pasti jumlahnya, mengalahkan serigala raksasa dan serigala jadi-jadian", ujar Mat Kabur, sambil duduk dia bergaya menggerak-gerakkan tangan dan kaki mempraktekkan jurus-jurus mereka yang berkelahi.


"Ki Bayu kalah, bagaimana bisa?", tanya Heidrich.


"Ooh orang itu namanya Ki Bayu?", tanya Mat Kabur.


Heidrich mengangguk membenarkan.


Orang tua yang mengaku Mat Kabur ini tak lain adalah Rustam yang di minta Ulong untuk memberikan informasi menyesatkan pada pihak kompeni.


Disini Rustam justru bertanya-tanya dalam hati kenapa mereka para kompeni tidak tahu tentang keadaan Ki Bayu. Lalu Heidrich barusan menyebut nama Nilam, dia jadi teringat bahwa Awang, Arman, dan Mat Kecik pernah bercerita tentang bocah perempuan bernama Nilam.


"Aku tidak tahu pasti bagaimana kesaktian Ki Bayu, tapi mereka para laskar kulihat tidak terlalu sulit untuk mengalahkannya", ujar Mat Kabur.


"Kejadian itu siang hari ya?" tanya Heidrich.


"Benar tuan, ooh aku jadi teringat mereka berkata soal bayangan di siang hari", ujar Rustam.


"Ulong berhasil menemukan kelemahan Ki Bayu soal bayangan begitu kalau aku tidak salah dengar, sehingga dua ekor serigala peliharaannya berhasil dibunuh oleh mereka. Ki Bayu sendiri terpaksa melarikan diri sendirian ke arah sini, tapi aku tak tahu apa dia sudah tiba disini atau belum".


Heidrich terdiam, ada banyak info menarik yang dia dapati, pertama bahwa Ki Bayu ternyata bisa dikalahkan pada siang hari, kedua seluruh peliharaan Ki Bayu dua serigala jadi-jadian dan serigala raksasa telah terbunuh. Awalnya dia ragu soal jumlah terakhir peliharaan Ki Bayu, walau sewaktu terakhir kali bertemu dengannya Ki Bayu hanya membawa dua ekor serigala.


Berarti satu serigala lagi memang sudah terbunuh sebelum orang tua tersebut bertarung melawan rombongan Ulong dan Awang.


Dan kalau Ki Bayu berhasil lari kesini maka tidak akan sulit untuk menangkapnya.


"Sedangkan Ulong dan rombongan aku melihat mereka mengarah ke Binjai tuan", ujar Rustam menjelaskan.


Benar-benar info berharga pikir Heidrich.


"Pakcik ada satu hal yang aku minta, aku harap Pakcik mau berjanji", ujar Heidrich.


Rustam mendengarkan dengan serius.


"Janji apa tuan?", tanyanya.


"Aku ingin Pakcik berjanji tidak menceritakan kisah ini pada siapapun", pinta Heidrich.


Rustam menatap serius pada Heidrich.


"Begini, lembu penarik pedatiku sudah mati dibunuh serigala, dan aku terpaksa menumpang pedati orang lain untuk menuju kesini, jadi berikan aku kuda untuk tungganganku kembali ke Binjai, dan aku akan berjanji pada tuan", ujarnya.


Heidrich menatap Rustam lalu terdiam. Tak lama dia bangkit dari duduknya.


"Sebentar ya", ujar Heidrich, dia berdiri lalu berjalan keluar ruangan. "Jhon", panggilnya, sersan Jhon mengikuti atasannya tersebut keluar dari ruangan.


Tak lama Heidrich masuk ke dalam ruangan sendirian, "baiklah Pakcik aku akan memberikan seekor kuda, tapi janji jangan ceritakan pada siapapun tentang kejadian ini", pinta Heidrich.


Rustam mengangguk senang, akhirnya dia bisa kembali menemui Ulong dan rombongan di Belawan sesuai yang mereka rencanakan tanpa harus berjalan kaki. Sebelumnya dia berjalan kaki hampir dua hari lamanya bersama beberapa orang kampungnya untuk tiba disini.


Setelah Rustam pergi dengan kuda barunya, Heidrich segera mengumpulkan seratus lima puluh orang prajuritnya, tujuannya adalah mengejar Ki Bayu.


Tak lama Heidrich dan pasukannya berkuda keluar dari markas menyusuri jalan umum. Cuaca begitu terik saat itu, mereka meninggalkan debu berkepul di belakang mereka.


Pada pertigaan mereka membelok ke Utara tujuannya untuk mengejar Ki Bayu.


Rustam yang sesudah mendapatkan kuda tidak langsung pergi tapi bersembunyi di sesemakan di pinggir persimpangan menunggu. Sambil menimang-nimang mainan timah berbentuk cangkir yang diambilnya dari meja Heidrich, dia memperhatikan pasukan yang dipimpin langsung Heidrich dan Sersan Jhon bergerak ke arah Utara ke hamparan perak, bukannya ke arah Barat yaitu ke Binjai.

__ADS_1


__ADS_2