
Perahu itu perlahan mendekat lalu terjadilah hal mengejutkan juga menggembirakan.
Awang ternganga menatap tak percaya, lalu buru-buru membantu para penumpang perahu untuk menaiki kapal.
Awang, Arman, dan Mat Kecik menyambut mereka yang baru datang dengan mata berkaca-kaca terharu. Bagaimana tidak, yang datang adalah lima orang teman yang selamat dari markas persembunyian Awang.
Mereka saling berpelukan, melepas rindu. "Bersyukurnya hati ini tidak terkira melihat saudara di depan mata", ujar Awang.
"Patik tidak berpikir bisa melihat wajah kalian lagi para saudara", balas Tama dengan girang.
"Saudaraku", ujar Mat Kecik memeluk Tama yang bertubuh sama besar dengannya.
Setelah selesai melepas rindu, sambil mengusap mata yang berkaca-kaca, Awang memperkenalkan teman-temannya ke orang-orang di atas kapal.
Mereka bersalaman dan berkenalan, Mardiani dan Salhah tak sadar berdiri sambil memegang lengan kiri dan kanan Awang.
Tama melihat itu dan tersenyum lebar menggoda Awang, kedua gadis langsung tersadar dan melepaskan pegangan di tangan Awang.
Mereka menatap Ulong dan Laksmi lalu menyalami dengan akrab. Sama seperti Awang mereka pun sudah lama mengenal Ulong.
Tama menepuk-nepuk pundak Ulong, "selama dalam pelarian, patik banyak mendengar cerita-cerita hebat tentangmu", ujarnya kagum.
Ulong seperti biasa hanya tersenyum malu-malu.
"Bagaimana kalian bisa tiba disini?", tanya Awang penasaran.
"Kami mencuri kuda dari perkemahan kompeni di Hamparan Perak, dalam kebingungan tak tahu mau kemana kami bertemu penduduk desa di pinggir pantai. Kami mendengar penduduk desa bercerita bahwa Ulong dan Awang membantu mereka membunuh dua peliharaan Ki Bayu, lantas kami pun katakan kalau kami teman kalian dan mereka mau mengantar kami kesini", sambungnya.
Awang manggut-manggut mendengar itu.
"Kami pandai membujuk orang", sambung Samsul yang baru datang bersama Tama.
Awang menoleh ke perahu, terlihat dua penduduk desa yang mengantar meringis dengan mata biru lebam, mereka mengacungkan jempol pada Awang.
"Itu siapa?" tanya Mat Kecik sambil melihat ke perahu yang ditambatkan di samping kapal.
Diatas perahu yang membawa mereka tampak duduk seorang berpakaian serdadu Belanda yang tangannya terikat kebelakang dan kepalanya ditutupi karung.
"Kami menemukan pasukan kompeni itu terdampar pingsan di dekat muara dalam perjalanan berkuda menuju desa. Kalau melihat dari pakaian yang dikenakannya sepertinya dia seorang perwira, itu makanya kami membawa dia sebagai tawanan", ujar Tama menunjuk orang yang berada diatas perahu.
Mereka menaikkan tawanan Belanda tersebut ke atas kapal, setelah tawanan berdiri di atas kapal mereka mengelilinginya, Awang menarik lepas karung yang menutup kepala si serdadu.
Rustam langsung kaget melihat pria tersebut, walau tertutup brewok disana sini dan wajahnya terlihat kotor tapi Rustam segera mengenali wajah Heidrich.
Pria Belanda tersebut bertubuh sama tinggi dengan Ulong dan Mat Kecik, berusia tiga puluhan, dengan rambut pirang, brewok kasar terlihat disana sini karena tidak bercukur beberapa hari.
Terlihat pria itu mengerjap-ngerjap sesaat untuk membiasakan matanya.
"Mat Kabur?", ujar heidrich kaget begitu melihat Rustam. Ulong dan teman-teman saling berpandangan.
Awang memberi isyarat dengan mata kepada Tama dan yang lain.
Ulong dengan cepat dapat membaca situasi.
"Bawa tuan kompeni ini ke sel di bawah, beri dia air, makanan, dan pakaian bersih", ujarnya.
Awang mengangguk, lalu Putra dan Mat Kecik membawa Heidrich menuruni tangga ke geladak.
__ADS_1
Rustam cuma nyengir, lalu Awang mengajak mereka yang baru datang masuk ke ruang komando, diikuti Ulong dan yang lain.
Didalam ruangan, mereka pun duduk di kursi yang disediakan, sementara sebagian lagi duduk bersila di lantai.
Disitu Rustam, Awang, dan Ulong bergantian menjelaskan ihwal pertemuan dan pencarian mereka hingga ke markas persembunyian Awang dan menemukan markas porak poranda. Juga mereka menceritakan kisah perjalanan hingga mereka berakhir disini di tengah lautan.
Tama dan yang lain mengangguk-angguk takjub mendengar apa yang teman-temannya ini lalui dalam perjalanan begitu lama demi kembali ke persembunyian.
Mereka kaget mendengar ternyata Nilam masih hidup, dan sekarang di rawat di salah satu rumah buruh atas perintah Heidrich, perwira Belanda yang mereka bawa kesini.
"Untung aku mencegahmu membunuhnya", ujar Tama menoleh ke Samsul, yang di toleh nyengir lalu angkat bahu.
Tak lama Mardiani dan Salhah memasuki ruangan membawa kopi panas. Mat Kecik dan putra pun memasuki ruangan.
Bagaimana tahanan kita bang?", tanya Ulong.
"Dia sedang beristirahat, makanan dan minuman sudah disediakan penduduk desa", jawab Mat Kecik.
Ulong dan Awang mengangguk bersamaan membenarkan tindakan Mat Kecik.
Setelah menyeruput kopi, kini giliran Tama yang bercerita mulai dari saat di malam Ki Bayu menyerang pemukiman mereka di hamparan perak, dan melihat Ruslan terbunuh demi melindungi Nilam yang hendak dimangsa serigala raksasa.
Dan yang mengagetkan bagi Ulong dan kawan-kawan adalah penghujung cerita, dimana Ki Bayu disaksikan Tama dan kelompoknya tewas di tembak serdadu kompeni.
"Berarti memang benar dugaan Pakcik, kalau Ki Bayu telah bersebrangan dengan pihak kompeni", ujar Ulong kepada Rustam.
Setelah itu Tama juga bercerita tentang seorang perempuan aneh bersama lima pengawalnya yang lebih aneh lagi. Mereka bercerita bagaimana perempuan tersebut bersama teman-temannya menyerbu perkemahan kompeni tak lama sesudah Ki Bayu tewas, lalu membantai seluruh pasukan kompeni hingga habis tak bersisa, dan menghisap darah dari musuh-musuh yang tewas.
Ulong dan teman-teman kaget.
"Berarti ada musuh lain yang lebih berbahaya", ujar Mat Kecik.
"Sangat berbahaya", ujar Samsul menambahi.
"Kurasa tawanan yang kami bawa itu juga berasal dari perkemahan tersebut", sambungnya.
"Bukan kurasa, tapi memang iya", ujar Tama lalu meremas wajah temannya tersebut, gemas.
Samsul hanya nyengir.
"Tawanan itu, eh Letnan Heidrich ya namanya, kami menemukannya tergeletak pingsan di pinggir muara, bersama beberapa prajurit kompeni lain yang tewas dibantai di perkemahan" ujar Tama.
"Sepertinya ada sesuatu yang sedang berlaku diantara para prajurit kompeni, sesuatu yang tidak beres, bisa jadi akan menguntungkan kita. Kupikir besok kita harus menginterogasi Letnan tersebut", ujar Ulong.
"Aah tunggu dulu, ada satu hal, jangan sampai dia tahu nama asliku, karena nanti mereka akan mencari ke desaku, bisa jadi masalah. Biarkan aku tetap menjadi Mat Kabur", ujar Rustam.
Hadirin kesemuanya mengangguk sambil tersenyum, apa tidak ada nama yang lain untuk menyamar selain menjadi Mat Kabur pikir mereka.
⚜️⚜️⚜️
Dan begitulah, keesokan harinya Ulong, Awang, dan Angku Razak membawa Heidrich ke dek untuk menanyainya.
Saat itu Heidrich sudah tidak mengenakan seragamnya. Dia mengganti pakaian dengan yang di beri oleh Mat Kecik. Tangannya juga sudah tidak diikat atas perintah Ulong.
"Bagaimana, apa yang ada dalam pikiran tuan?", tanya Ulong sesudah mereka duduk di atas dek, seluruh laskar hadir disitu.
Heidrich menatap mereka satu persatu, dan berpikir mungkin ini ajalnya.
__ADS_1
"Kalau kalian hendak membunuhku silahkan, aku tidak akan meminta untuk dikasihani. Tapi atas dasar kemanusiaan aku mohon kabulkan satu permintaanku, izinkan aku menulis surat untuk wakilku sersan Jhon agar dia menggantikanku merawat keponakanku Nilam", ujarnya.
Awang menatap dengan pandangan menyelidik.
"Bagaimana kalau kau tidak kami bunuh, bahkan mungkin kami akan melepaskanmu?" tanya Ulong.
Mereka yang berada disitu kaget, tapi mereka diam saja karena percaya Ulong punya suatu rencana.
"Maksudmu?" tanya Heidrich, dia tidak tahu siapa pria ini, tapi sepertinya dia yang memegang kendali disini.
"Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu, jawabanmu akan menentukan nasibmu kedepannya", ujar Ulong.
"Apa yang ingin kalian ketahui dariku?", tanya Heidrich.
"Pertama kami ingin tahu apa alasan kalian memburu Ki Bayu", ujar Awang.
"Kalau kau tanya pendapat pribadiku, dia bukan manusia, memang layak mati", ujar Heidrich. Dia mengira-ngira apa mungkin orang-orang ini bersekutu dengan Ki Bayu, seandainya memang begitu maka dia tidak akan berbohong bahwa dia tidak sedikitpun menyesal orang tua itu tewas di tangan prajuritnya.
"Baiklah, aku mendapat permintaan dari Maskapai", ujarnya. Lalu dia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam baju yang dikenakan. Soal ini tidak perlu dirahasiakan pikir Heidrich.
Ulong mengambil surat tersebut membaca sebentar, setelah itu memberikannya pada Mat Kecik, "Mm..bacakan Long", ujar Mat Kecik malu, dia tidak bisa membaca.
Ulong cuma bisa nyengir, Awang mengambil surat tersebut dari tangan Mat Kecik lalu membacanya.
"Inti dari surat tersebut adalah, permintaan dari Maskapai Perkebunan untuk menangkap Ki Bayu hidup atau mati", jelas Ulong
"Itu adalah ulah Suma, dia mengatur ini agar aku yang pergi mengejar Ki Bayu", ujar Heidrich.
Ulong menatap Heidrich dengan kaget.
Heidrich melihat ekspresi Ulong, sepertinya orang ini mengenal Suma, pikirnya.
"Kan tak mungkin begitu saja pihak Maskapai mengeluarkan surat seperti ini tanpa ada kesalahan dari Ki Bayu?", selidik Ulong.
"Dia menceritakan bahwa Ki Bayu membantai pasukannya di markas persembunyian Awang", jawab Heidrich.
Kali ini Ulong dan teman-teman yang kaget.
"Itu kapan terjadinya?", tanya Awang.
Heidrich menatap ekspresi orang-orang ini, sepertinya memang benar ada yang mereka ketahui tentang pembantaian pasukan Suma.
Diapun lalu bercerita bahwa Suma melaporkan padanya, bahwa dia mendapat informasi tentang markas persembunyian Awang dan telah mengirimkan pasukannya kesana untuk memastikan hal tersebut. Tapi tibanya pasukannya disana bersamaan dengan hadirnya Ki Bayu, terjadi salah paham antara mereka dan Ki Bayu membantai belasan prajurit Suma.
Ulong menatap Heidrich, dia kini mulai jelas melihat apa yang terjadi.
"Bukan Ki Bayu yang membantai pasukan kompeni pribumi disana, tapi kami", ujar Ulong.
"Kami tiba disana dalam keadaan persembunyian laskar telah porak poranda, Ki Bayu sama sekali tidak ada disana saat itu. Tak lama kami tiba, pasukan kompeni pribumi muncul dan kami bertarung dengan mereka hingga mereka semua tewas", sambungnya.
Heidrich kaget, dan baru sadar ternyata Ki Bayu di jebak oleh Suma. Bahkan bukan cuma Ki Bayu melainkan dirinya dan seratus pasukannya di jebak oleh Suma untuk saling membunuh.
"Baiklah sepertinya informasi yang kami dapatkan sudah cukup", ujar Ulong
"Lantas, apakah aku dibebaskan?", tanya Heidrich.
Ulong tidak memperdulikan pertanyaan Heidrich.
__ADS_1
"Bawa kembali letnan ini ke ruangannya", ujarnya.
Mat Kecik dan Arman menggiring Heidrich menuju ke geladak.