Ulong Belati

Ulong Belati
Awan Mendung di hati Ulong


__ADS_3

Serigala jadi-jadian itu akhirnya tewas karena kehabisan darah.


Anehnya setelah tewas perlahan bulu di tubuh serigala jadi-jadian itu pupus, lalu bentuk tubuhnya pun berubah secara perlahan.


Mereka kaget ketika akhirnya serigala jadi-jadian itu berubah bentuk menjadi seorang pria.


Mereka yang ada disitu serentak beristighfar melihatnya.


Wan Salman geleng-gelengkan kepala antara kaget dan sedih.


"Kemungkinan mereka adalah orang yang meminta kekuatan pada iblis, biasanya dengan perjanjian setelah mati mereka akan dihidupkan lagi sebagai budak untuk sesembahannya itu" ujarnya.


Purna melirik Jebat yang tadi menebas tangan serigala saat serigala itu sudah tak berdaya, Jebat menelan ludah lalu buru-buru palingkan wajah "manalah aku tahu kalau itu manusia" ujarnya pelan.


Paijo menatap para utusan kerajaan.


"Pakcik, terima kasih sebesar-sebesarnya atas bantuan kalian, menyelamatkan ku dan Siti" ujar Paijo.


Siti menghampiri lalu berdiri di samping Paijo.


"Saya juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya".


"Tidak tahu apa yang terjadi seandainya tidak ada Pakcik sekalian" ujar Siti.


Para pendekar anggukkan kepala tanpa berkata apa-apa.


Wan Salman tersenyum ramah lalu sedikit membungkuk hormat.


Wan Salman kembali memperhatikan jenazah manusia serigala.


Sebelum ada yang mulai berbicara


dia berkata, "sungguh tidak elok kita membiarkan ada jenazah terletak di tengah hutan seperti ini, bagaimana menurut kalian?"


"Harus kita kuburkan, itu haknya", ujar Bahar singkat.


Yang lain mengangguk mengiyakan.


Karena malam sudah makin larut maka Bahar dan ketiga temannya segera mencari tempat yang tanahnya tidak terlalu keras, lalu setelah menemukan tanah yang mereka rasa cukup gampang digali mereka pun mulai mengorek tanah tersebut dengan dibantu Paijo.


Wan Salman mendekati Siti dan bertanya,


"apa hal terjadi sehingga ananda berdua bisa bertemu makhluk-makhluk ini?"


Siti menatap wajah ramah Wan Salman lalu menceritakan awal pelarian mereka siang tadi, hingga akhirnya mereka dikejar dan Siti hampir diperkosa oleh Ki Bayu.


Sambil mengorek lubang mereka yang hadir disitu menyimak cerita Siti dengan serius.


Jebat menghentikan pekerjaannya sebentar lalu menimpali cerita Siti.


"Kalau tanpa sihir hitam dan peliharaannya sepertinya Ki Bayu bukan tandingan ananda".


Kedua temannya mengangguk mengiyakan.


Siti menatap Jebat dan tersipu malu lalu melanjutkan ceritanya.


Atas dasar kemanusiaan malam itu juga mereka menguburkan serigala yang telah berubah menjadi manusia tersebut pada lubang yang tak terlalu dalam, lalu diatasnya mereka meninggalkan nisan kayu dengan bertuliskan "pengikut Ki Bayu".


"Jadi begitulah Pakcik, tujuan kami hendak segera pulang ke perkampungan kami, untuk melihat apa para laskar sudah tiba disana dan melihat keadaan mereka", ujar Siti menutup ceritanya.


"Apabila tidak ada lagi sebab bagi kami untuk tetap disini, izinkan lah kami segera berlalu", ujarnya lalu membungkuk dengan sopan.


"Sebentar ananda" ujar Wan Salman.


Siti dan Paijo yang kini sudah berdiri di sampingnya selepas mengubur jenazah, mendengarkan apa yang hendak disampaikan Wan Salman.


"Tadinya kami selepas menemui laskar di Lam Nga hendak kembali menemui Sri Baginda" ujar Wan Salman lalu menengadah dan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan telunjuk, berpikir.


Dia menatap ketiga pengawalnya lalu melanjutkan,


"tapi kalau ternyata seperti itu ceritanya sepertinya lebih baik bagi kami mengikuti kalian kembali ke perkampungan, agar kami tahu situasi terakhir", ujar Wan Salman.


Ketiga pengawal Wan Salman serentak mengangguk mengiyakan.


"Kami telah berhasil menemui beberapa pimpinan laskar seperti yang di amanahkan Sri Baginda, jadi saat ini tugas kami sudah selesai, kami boleh saja ikut membantu kalian," ujar Bahar menambahkan.


Wan Salman menatap Siti dan Paijo bergantian, berdiri berdekatan seperti itu tanpa sadar jemari Siti memegang lengan Paijo.


"Usah ananda berdua khawatirkan, kami tidak terlahir langsung menjadi orang setua ini, kami akan berjalan di depan, kalian boleh mengikuti kami dari kejauhan" sambung Wan Salman.

__ADS_1


Siti tersadar melepas pegangannya di lengan Paijo lalu tersipu malu mendengar ucapan Wan Salman, Paijo cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala.


⚜️⚜️⚜️


Karena kuda Paijo sudah mati diterkam serigala raksasa, maka Paijo berkuda berdua dengan Siti.


Wan Salman dan para pengawalnya berjalan menunggang di depan dengan kuda-kuda yang tadi mereka sembunyikan saat bertarung, sedangkan Siti dan Paijo menyusul di belakang.


"Maaf neng gara-gara kuda ku dibunuh, terpaksa kita harus berkuda berdua" ujar Paijo.


"Maaf, maaf, usahlah abang berkata seperti itu, kan kuda Abang mati juga bukan kemauan abang", jawab Siti pelan.


Paijo mengangguk membenarkan.


"Lagi pula tadi kita sama-sama sudah paham kalau kita sama rela mengorbankan diri untuk saling melindungi, begitu kan? atau mungkin abang lebih senang aku duduk berdua dengan Ki Bayu?" goda Siti.


"Aah ya jangan lah neng, nggak rela saya" ujar Paijo nyengir.


Di langit bulan terlihat besar hampir purnama, sekelompok kecil gumpalan awan menutupinya berkumpul menyerupai bentuk ❤️


⚜️⚜️⚜️


Sementara itu di tempat lain beberapa jam sebelumnya.


Ulong, Laksmi, dan sepuluh orang laskar yang lain mengikuti Awang dan teman-teman berhasil melarikan diri ke arah Binjai.


Karena sebagian besar laskar berasal dari Binjai dan sekitarnya maka mereka tinggal berjalan lurus melanjutkan perjalanan meninggalkan Awang, Ulong dan teman-teman.


Selain Ulong dan teman-teman, ada tiga orang laskar tersisa yang mengikuti Awang yaitu utusan dari Tanjung Morawa, seorang pria yang akrab dipanggil Angku Razak bersama anak dan keponakan perempuannya Mardiani, dan Salhah yang keduanya pernah dididik Laksmi dan Siti.


Tadinya dia membawa lima orang pengawal selain anak gadis dan keponakan perempuannya itu.


Sayangnya saat pengepungan hanya mereka bertiga yang selamat, sementara lima pengawalnya tetap bertarung di lapangan melindungi agar mereka bertiga dapat melarikan diri.


Untuk saat ini hampir tidak mungkin bagi rombongan Angku Razak untuk kembali ke Tanjung Morawa mengingat banyaknya serdadu kompeni yang harus mereka lewati, sehingga mengharuskan mereka mengikuti Awang dan teman-temannya melarikan diri ke Utara.


Rombongan mereka berkuda hingga tiba di satu tempat yang berair, dimana mereka berhenti untuk mengistirahatkan dan memberi minum kuda-kuda. Sembari menunggu siapa tahu ada laskar lain yang menyusul.


Di tempat itu, diantara kumpulan pohon pohon besar mereka bergantian berjaga sementara yang lain sholat karena waktu itu sudah lewat ashar.


Tak lama Arman dan Putra datang menghampiri dengan berkuda, mereka belakangan menyusul untuk memastikan tidak ada pengejar dan memastikan tidak ada laskar yang tertinggal di belakang.


"Sejauh ini aman, tidak ada lagi pengejar", ujar Arman.


"Makasih man", ujar Awang.


Putra begitu turun dari kuda langsung duduk di samping Ulong.


"Tidak ada tanda-tanda kak Siti dan bang Paijo", ujarnya, wajah nya yang ganteng terlihat muram.


Ulong terdiam mendengarkan, tidak tahu harus berkata apa.


Laksmi menatap Putra, "tadi mereka di belakang kita, tapi setelah muncul pasukan berkuda kompeni menembaki, tak lagi mereka terlihatku karena kuda ku pun terjatuh menabrak kuda lain saat itu", ujarnya pada Putra yang menunduk merenung.


Laksmi memegang bahu putra lalu melanjutkan berbicara, "besarkan hatimu dik, kami sudah bertualang bersama sejak lama, dan Siti selalu berhasil meloloskan diri dari bahaya".


"Aku yakin kali ini pun dia berhasil menyelamatkan diri" ujar Laksmi.


"Iya kak", ujar Putra menoleh ke arah Laksmi dan berusaha tersenyum.


Awang menatap wajah Putra, "yang penting saat ini adalah dirimu selamat, nanti sama-sama kita cari mereka", ujarnya menenangkan.


"Iya bang, terimakasih" angguk Putra.


Wajah Ulong tak beda jauh muramnya seperti wajah Putra.


Banyak hal yang jadi beban pikirannya saat ini, keselamatan kedua temannya Siti dan Paijo yang tak tahu kemana raibnya, para laskar yang tewas, belum lagi hal yang tak bisa lepas dari ingatannya saat Datuk Indra Sakti di gorok pengawalnya sendiri.


Dia menatap berkeliling, inilah kami orang-orang yang baru saja kehilangan teman-teman dekat dan sanak saudara.


Ulong menarik napas dalam-dalam.


"Kita harus lebih jeli ke depannya, kita harus tahu betul siapa teman-teman kita", ujar Ulong memecah keheningan.


Mereka yang ada disitu menatap Ulong.


"Jadikan ini pengalaman, hal seperti ini tidak akan terjadi kalau tidak ada yang berkhianat. Lalu sampaikan juga ke laskar yang lain, mereka harus tahu bahwa Datuk Indra Sakti dibunuh pengawalnya sendiri yang bernama Suma", sambung Ulong.


"Oh yang membunuhnya tadi itu pengawalnya sendiri?" tanya Awang kaget, dia tadi terlambat hadir sehingga tidak tahu Datuk Indra Sakti datang bersama siapa.

__ADS_1


"Iya bang, Selain Suma ada seorang lagi pengawal Datuk Indra, Anwar namanya. Tapi tadi saat Suma membunuh Datuk Indra kulihat si Anwar sudah lebih dulu tertelungkup di samping Datuk Indra berdiri", jawab Ulong.


"Padahal tadi aku duduk disamping si Suma itu, seandainya tahu sedari awal sudah ku tebas lehernya", ujar Mat Kecik geram.


"Kita mana lah tahu bakalan terjadi seperti itu bang" ujar Laksmi menimpali.


Arman dari belakang berlagak mencekik Mat Kecik karena gemas dengan ucapan temannya itu.


Angku Razak angkat bicara, "teringat ku Wang, Ki Bayu itu seperti apa, bisa kau ceritakan dengan lebih terperinci?" tanyanya.


Awang menatap Angku Razak, ekspresi Awang berubah kelam ketika dia menceritakan pengalaman pahit mereka melawan Ki Bayu dan peliharaannya.


Dia juga menceritakan saat kembali di pagi harinya mereka menemukan Pakcik Leman menggambar sesuatu di tanah sebelum meninggal.


"Benar-benar mengerikan", ujar Angku Razak mendengar cerita awang.


"Gambar? gambar seperti apa yang dilukis oleh Pakcik Leman?" tanya Ulong penasaran.


Arman mengambil sebongkah batu sebesar kepalan tangan yang berada di dekatnya lalu dengan ujung belati di gambarnya lidah api seperti yang di gambarkan Pakcik Leman sebelum meninggal.


Arman menyerahkan batu itu pada Awang dan Awang menunjukkan pada mereka yang hadir, "seperti ini lah kira-kira gambarnya", ujar Awang.


Mat Kecik menyikut bahu Arman "tak kusangka kau bisa menggambar man", ujarnya berbisik.


Arman cuma senyum mendengar ucapan Mat Kecik.


Mereka menatap gambar di batu tersebut, "artinya apa itu bang?" tanya Mardiani, Salhah yang duduk dibelakangnya melongok melihat batu tersebut lalu menatap serius kearah Awang menunggu jawabannya.


"Aku nggak tahu, cuma Pakcik Leman lah yang tahu maksudnya, sayangnya dia sudah meninggal pula", ujar Awang grogi ditanyai dua gadis tersebut.


Kedua gadis kernyitkan alis mendengar jawaban ngawur Awang.


Mardiani dan Salhah keduanya berusia sembilan belas tahun, sebaya Putra.


Paras keduanya lumayan elok walaupun belum bisa menandingi kecantikan bunganya para laskar yaitu Laksmi dan Siti.


Tak terasa sekitar satu jam mereka berada disitu.


Tetap tak ada tanda-tanda Siti dan Paijo ataupun laskar yang lain datang.


Awang berdiri dari duduknya,


"Long kita bergerak lebih dulu untuk memastikan situasi aman, sedangkan yang lain tunggu saja disini" ujar Awang pada Ulong dan laskar yang lain.


"Tadi pagi sewaktu kami berangkat, kami melihat ada beberapa tambahan tentara kompeni di pos-pos di jalan dan jembatan penyebrangan, sepertinya selain menyiapkan pengepungan, kali ini mereka sudah menyiapkan banyak hal untuk memusnahkan kita, dan kita harus mewaspadainya jika ingin selamat" sambungnya lagi.


⚜️⚜️⚜️


Ulong mengikuti Awang menunggang menyusuri semak belukar dan pepohonan hingga mereka mencapai jalanan umum.


Jalan tanah itu hanya sekitar tiga meter lebarnya, memanjang dari Medan dan bisa mencapai kota Binjai, lalu Stabat, Tanjung Pura, hingga Aceh bila berjalan ke arah barat, atau bila berbelok ke Utara bisa mencapai Hamparan Perak juga ke Belawan.


Tujuan mereka adalah ke Utara, tapi di beberapa tempat di jalan ini ada beberapa sungai dengan jembatan yang di jaga pasukan kompeni.


Maka mereka harus melewati sungai-sungai tersebut tanpa melintas di jembatan dan memastikan tempat dangkal yang bisa mereka lalui di sungai tidak dijaga pihak kompeni.


Ulong dan Awang turun dari kudanya sekitar seratus meter dari jalan tersebut. Mereka mengikat kuda-kuda di balik pepohonan, lalu mereka berjalan mengendap-endap di semak semak menuju jalanan.


Mereka melihat jalan tanah yang kering berdebu, memang hingga saat ini belum ada turun hujan hampir dua Minggu.


Cuaca juga cukup panas sore ini, nampak di seberang jalan, padang ilalang setinggi dada menguning layu karena sudah tidak hujan berhari-hari, ada juga terlihat beberapa pohon besar dan kecil disitu.


Ulong dan Awang keluar dari semak tempat mereka bersembunyi untuk mencapai jalan.


Begitu mereka menyembulkan kepala, terlihat ada tiga orang perempuan setengah baya melintas dengan membawa cangkul dan arit.


Ulong dan Awang tidak jadi keluar dan kembali bersembunyi, mengintai dari balik ilalang.


Seorang perempuan yang memegang arit mendatangi tempat mereka, lalu memotong beberapa helai ilalang disitu.


Tanpa menoleh ke arah mereka ibu itu bertanya, "kalian laskar?".


"I.. iya makcik" jawab Awang kaget, ternyata para perempuan ini melihat mereka.


Dua orang perempuan yang lain terdengar bercerita dan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, sepertinya mereka juga tahu kalau Ulong dan Awang bersembunyi disitu.


"Jangan menyebrang, diseberang di padang ilalang itu ada puluhan tentara kompeni bersembunyi" ujar ibu yang di dekat mereka.


Lalu seolah olah tidak ada kejadian apa-apa dia kembali ke jalan menunjukkan ilalang di tangan kepada teman-temannya, "Arit ku sudah tidak tajam, untuk memotong ilalang saja sulit, sepertinya harus di asah lagi" ujarnya.

__ADS_1


Mereka lalu pergi berjalan ke arah timur sambil meneruskan pura-pura saling bercerita.


__ADS_2