
Walau terpental dan menabrak tiang layar, Ulong segera jatuh diatas kedua kakinya.
Namun lawan tidak memberi kesempatan untuknya bernapas dan kembali menyerang.
Tinju kanan dipukulkan ke kepala Ulong, tapi Ulong kembali merunduk sambil berputar, berkelit ke arah kiri lawan. Begitu lawan bergerak limbung ke depan karena tinjunya mengenai tempat kosong, Ulong injakkan kakinya ke sambungan betis hingga lawan terpaksa turunkan lutut ke lantai setengah bersimpuh. Dari situ Ulong putar kedua belati di tangan sehingga bagian runcing mengarah keatas dan tikamkan ke sisi kiri dan kanan leher lawan.
Musuh menggunakan kedua tangannya untuk meraih ke belakang tapi Ulong menarik kedua belatinya sambil melompat mundur, menorehkan sayatan luka sangat dalam.
Kini terlihat lawan berdiri berusaha menggapai kesana kemari karena kepalanya terkulai hampir putus.
Tama yang juga sedang berada di dek melemparkan tali melintasi kaki lawan. Ulong meraih ujung tali yang dilemparkan lalu tarik dengan kuat, musuh yang kesulitan melihat tak bisa menghindari tali yang menghalangi langkahnya dan terjatuh, Bruggh!!
Begitu musuh terjatuh Ulong injak punggungnya, sementara yang lain mengikatkan tali ke kaki.
Seorang penduduk desa anggota Rustam dengan cekatan menaiki sebuah tiang layar. "Lempar tali kesini", pintanya. Tama melemparkan ujung tali yang dipegangnya, anggota Rustam itu menangkap ujung tali lalu lewatkan ke palang penahan layar.
Tali yang di lempar melewati palang ditangkap oleh Ulong, lalu beramai-ramai mereka menarik tali tersebut hingga tubuh pengawal Ni Gaok terangkat dengan kaki diatas. Begitupun lawan masih meronta-ronta dengan sangat kuat.
Tak habis akal, Ulong mengambil lentera yang tergantung di dinding lalu lemparkan ke tubuh musuh hingga pecah dan minyaknya melumuri pakaian.
Tama menyalakan pemantik dan lemparkan ke arah musuh. Musuh yang tergantung terbalik terbakar, dalam kobaran api kedua tangannya masih mencoba meraih kesana kemari.
Sementara itu Angku Razak dibantu beberapa penduduk desa menurunkan sebuah sekoci untuk membantu Awang menyelamatkan anak dan ponakannya.
Setelah sekoci di turunkan, Angku Razak dengan gesit berpegang pada sebuah tali lalu turun ke atas sekoci. Disitu dia menerima tubuh anak dan keponakannya dan meletakkan mereka ke atas sekoci.
__ADS_1
Awang naik ke atas sekoci dengan ekspresi cemas. Dengan cepat dia naik ke atas sekoci lalu berdiri sambil memanggul tubuh Mardiani di bahunya pada bagian perut. Angku Razak melakukan hal yang sama pada Salhah mengikuti Awang. Mereka agak kesulitan melakukan itu terutama Angku Razak, karena perahu bergoyang-goyang saat mereka mencoba berdiri di atasnya. Ketika akhirnya mereka berhasil, air segera keluar dari mulut dan hidung kedua gadis dengan derasnya.
Setelah itu mereka baringkan tubuh Mardiani dan Salhah di perahu. Untungnya mereka belum lama terbenam. Kedua gadis langsung terbatuk dan tersadar. Awang bersimpuh sambil menatap keduanya, "syukurlah adinda berdua selamat", ujarnya dengan mata berkaca-kaca, sekejap tadi dia benar-benar panik, seolah jantungnya di tarik lepas dari dada memikirkan kemungkinan kehilangan kedua gadis ini. Angku Razak menepuk-nepuk pundak Awang.
Sementara itu di geladak.
Mat Kecik pada dasarnya memang buas, begitu lawan terlempar hingga tubuhnya menghantam dan menjebol dinding kapal, kini dia menarik kaki lawan sekuat tenaga hingga jatuh kelantai, Brugh!!
Setelah lawan jatuh Mat Kecik tebaskan golok, mengarah kaki.
Crak!! Lawan segera mengangkangkan kaki hingga golok Mat Kecik hanya menancap di lantai di antara kedua kakinya.
Musuh dorongkan dua tangan ke lantai dek lalu lambungkan tubuh, dan memukul dengan tangan kanan ke kepala Mat Kecik.
Mat Kecik merunduk hingga kedua tangan menyentuh lantai lalu serudukkan bahu ke dada lawan. Musuh terpental kembali menabrak dinding. Tanpa perdulikan diri, begitu mental terpantul dinding, lawan pukulkan lagi tangan kanan ke arah Mat Kecik.
Lengan tersebut putus, potongannya jatuh tapi masih bergerak dan meraih kaki Mat Kecik. Arman menendangnya hingga terpental. Bret!!, jemari berbalut besi menarik celana Mat Kecik terkoyak lepas.
"Kurang ajar, kau tarik pula celanaku!!", bentak Mat Kecik marah.
Tubuh lawan limbung setelah pukulan dielak dan lengan yang memukul di tebas, Mat Kecik yang hanya bercelana kolor majukan lutut, hantam rusuk lawan sekuat tenaga. Krakk!!! terdengar suara tulang patah dihantam rusuk.
Tubuh musuh tersentak lalu terhuyung mundur.
Anehnya musuh malah menyeringai ke arah para penyerangnya.
__ADS_1
"Kalian lawan lah dulu, aku biar berpakaian", ujar Mat Kecik.
Mendengar ucapan Mat Kecik Putra maju ke arah musuh. Lawan langsung menyambutnya dengan pukulan tangan kiri. Putra bergerak sangat cepat membungkuk lalu letakkan telapak tangan kiri pada gagang golok ditangan kanan dan dorongkan ke arah dagu lawan sekuat tenaga, Crashh!! golok menembus dagu hingga kekepala lawan.
Setelah golok tertancap dia putar tubuh membelakangi lawan sambil ikut memutar golok, golok yang tertancap ikut berputar memperluas kerusakan. Setelah itu dalam posisi membelakangi lawan setelah berputar, Putra tendangkan kaki kanan sekuat dan sejauh mungkin ke belakang. Musuh terpental mundur dan golok yang menancap di dagunya tertarik keluar.
Musuh masih bisa berdiri tapi kepalanya hancur tak karu-karuan.Tangan yang tinggal sebelah berusaha menggapai kesana kemari, karena tak lagi bisa melihat. Mat Kecik yang sudah menarik sarung dipinggang untuk menutupi hingga ke betis langsung melompat tendangkan kedua kaki ke dada lawan, Bugh!! Krak!! Tubuh musuh terlempar menjebol dinding kapal dan tercebur ke laut diluar.
Mat Kecik menatap hasil kerjanya lalu nyengir, "Waduh nggak sengaja aku", ujarnya melihat dinding kapal yang jebol.
Setelah musuh terlempar keluar dari kapal, mereka bergegas naik ke dek untuk melihat apa yang terjadi.
Mereka melihat musuh yang sedang di bakar oleh Ulong dan yang lain diatas dek.
Ulong menatap Mat Kecik dengan geli hanya mengenakan sarung.
"Musuh di geladak, eh geladak namanya kan?", tanyanya pada Putra, putra hanya mengangkat bahu.
"Iya pokoknya itulah, musuh yang disitu tadi sudah kami campakkan kelaut", ujar Mat Kecik lagi.
"Makasih bang", ujar Ulong.
Tak lama Awang, Angku Razak, Mardiani, dan Salhah naik ke dek, mereka sama-sama menyaksikan musuh yang menggeliat-geliat terbakar.
⚜️⚜️⚜️
__ADS_1
Dalam pada itu, Ni Gaok tiba-tiba kehilangan penglihatan pada dua pengawalnya, yaitu yang dibakar Ulong dan yang wajahnya hancur oleh golok Putra. Sedang yang satu lagi penglihatannya berayun kesana kemari di dalam air, dia tidak tahu bahwa pengawalnya itu telah terpenggal dan kini kepalanya terbawa arus, jauh meninggalkan tubuh.
Ni Gaok kepalkan tangan dengan marah sekali, "kurang ajar, siapa sebenarnya orang-orang di kapal tersebut", pikirnya.