Ulong Belati

Ulong Belati
Teror Ki Bayu


__ADS_3

"Siapa kalian?", bentak seorang lelaki yang membawa tombak bermata tiga.


Awang dan Ulong mengangkat kedua telapak tangan ke depan untuk menenangkan orang-orang yang baru datang tersebut.


Dari penampilan, cara mereka memegang senjata, dan kuda-kuda, Ulong bisa menilai kalau orang-orang ini bukan pendekar atau orang yang terbiasa bertarung.


Ulong tersenyum dan menjawab, "kami pengelana yang kebetulan sedang melintas tuan".


"Kalau saya boleh tahu tuan-tuan ini siapa?", Ulong balik bertanya.


Mereka para pria yang baru turun dari perahu itu saling bertatapan, lalu seorang yang agak tua diantara mereka berusia sekitar lima puluhan maju dan menjawab.


"Kami penduduk desa ini", ujar orang tua tersebut.


"Aah, maaf kami tidak tahu, ternyata tuan rumah yang datang, sekali lagi maafkan kami", ujar Ulong bersungguh-sungguh.


Orang-orang itu saling bertatapan kembali, melihat dari paras dan bahasa Ulong yang begitu bersahabat dan sopan, rasa curiga mereka berkurang.


Mereka memperhatikan orang-orang yang bersama Ulong, dari sikap dan penampilan, mereka jelas pendekar. Para wanita mereka yang bersiaga dengan busur dan anak panah juga tidak terlihat lemah.


Orang tua itu yang barusan berbicara dengan Ulong memberi aba-aba dengan menurunkan tangannya, memberi isyarat agar orang-orangnya menurunkan senjata.


"Jadi saudara-saudara ini siapa sebenarnya? Bolehlah sebutkan nama agar patik dapat mengingatnya", ujar si orang tua.


Ulong menatap Awang sesaat, Awang mengangguk.


"Aah maafkan ketidak sopanan kami Pakcik, perkenalkan Pakcik nama saya Ulong, dan ini bang Awang", ujar Ulong ramah.


Setelah itu Ulong memperkenalkan satu persatu orang yang bersamanya.


Terlihat pada ekspresinya orang-orang disitu kaget begitu mendengar ucapan Ulong.


Para pria itu berbisik-bisik.


"Benarkah dia Ulong?", bisik salah seorang dari mereka.


"Yang itu Awang ya?", bisik satunya.


"Laksmi yang mana?"


"Mereka masih muda-muda".


Lalu tanpa di perintah mereka maju dan bergantian menyalami Ulong dan rombongan, kecuali para wanita.


Mereka tidak berani kurang ajar menyentuh tangan para pejuang wanita ini, apalagi Laksmi yang begitu terkenal ada di antara mereka.


Para pria itu cuma menyalam dengan merapatkan jemari di depan dada pada para gadis.


Para gadis membalas dengan mengangguk dan merapatkan kedua tangan di atas dada.


"Bisakah kita duduk bersama untuk bersilaturahmi, juga agar kami dapat mengetahui apa musabab kalian meninggalkan desa ini?" ujar Ulong dengan nada bersahabat.


Dengan gugup orang tua itu mengangguk, "Aah.. iya benar sekali, maafkan kelancangan kami tidak segera mempersilahkan tamu untuk mampir dan duduk di gubuk kami", ujarnya.


Setelah memperkenalkan diri sebagai Rustam orang tua tersebut mengajak Ulong dan teman-teman untuk mengikutinya.


"Ayo ikuti saya tuan dan puan sekalian, tidak elok kita berdiri-diri disini bercerita", ujar Rustam.


Seorang pria rombongan Rustam memanggil seorang wanita yang berdiri tak jauh dari situ sedang menatap ke arah mereka.


Pria itu membisikkan pada wanita tersebut yang datang menghampiri begitu dipanggil.


Walau berbisik tapi mereka semua yang ada disitu mendengarnya, "sediakan kopi dan ubi goreng untuk tamu-tamu kita ini, cepat ya!!".


Wanita yang dibisiki itu mengangguk dan bergegas mengajak beberapa wanita lain yang baru turun dari perahu.


Ulong dan rombongan beserta beberapa penduduk desa berjalan mengikuti Rustam menuju rumah paling besar yang tadi malam dalam keadaan terkunci.

__ADS_1


Sementara itu beberapa pria yang lain meninggalkan rombongan lalu sebagian membantu menurunkan para penumpang yang belum turun dari perahu dan sebagian yang lain menarik perahu-perahu ke daratan.


"Eemm.. maaf Pakcik, kami tadi mengambil ikan asap dari rumah disana", ujar Mat Kecik menunjuk sebuah rumah lalu garuk-garuk kepala.


Rustam tersenyum kecut dan mengangguk.


Itu adalah ikan kesukaannya.


"Kami juga minta maaf telah memasuki rumah kalian tanpa izin", ujar Laksmi diikuti anggukan kedua gadis lainnya.


Rustam kembali mengangguk, "tidak apa-apa puan", ujarnya. Kini sikapnya jauh lebih ramah, begitu juga beberapa orang pria disitu mereka terlihat malu-malu dan segan menatap Ulong dan kawan-kawan.


Sambil menaiki tangga rumah panggung Rustam melanjutkan pembicaraan, "kami telah mendengar banyak kisah tentang kalian para pejuang yang tersohor, dan kami dengar kalian beraksi tak terlalu jauh dari wilayah ini".


Mardiani, Laksmi, dan Salhah tersipu-sipu mendengar kalimat "pejuang tersohor" yang diucapkan Rustam.


"Cerita seperti apa Pakcik?", tanya Awang.


"Cerita yang baik-baik lah, segan aku bercerita di hadapan kalian orang-orang sakti", ujar Rustam malu.


Mardiani, Laksmi, dan Salhah kembali tersipu-sipu, mereka menunduk menyembunyikan senyum geli.


Mereka pun menaiki teras rumah panggung lalu duduk berkeliling membentuk lingkaran berhadapan wajah.


Ulong dan teman-teman diam menatap Rustam, menunggu tuan rumah membuka percakapan.


Rustam sendiri saat itu tampak berbicara kepada laki-laki di kanan dan kirinya dengan suara pelan.


Mat Kecik menatap Awang, dia tidak sabaran duduk menunggu seperti itu tanpa berbicara apa-apa.


Awang menyelentik lutut Mat Kecik menyuruhnya bersabar.


Tak lama beberapa wanita menyusul menaiki rumah panggung, mereka menghidangkan kopi dengan uap berkepul-kepul di atas nampan dan beberapa piring ubi goreng.


Mat Kecik menatap itu dengan semangat, Awang mengetuk-ngetuk lutut Mat Kecik.


"Aah ini dia yang ditunggu sedari tadi, tidak baik kita mengobrol tanpa ditemani segelas kopi", ujar Rustam.


"Jadi begini tuan dan puan sekalian, mendengar bahwa kalian bergerilya di wilayah sekitar sini, kami lantas mengirimkan orang-orang seminggu lalu untuk mencari tahu keberadaan dan menemui kalian, tapi tidak seorangpun yang kami kirim kembali membawa hasil", ujar Rustam.


"Mencari kami untuk apa, Pakcik?", tanya Arman penasaran.


"Kami benar-benar membutuhkan pertolongan kalian", ujar Rustam dengan nada memelas.


"Kampung kami dan beberapa kampung di pesisir ini hampir sebulan ini di teror manusia serigala dan serigala raksasa", ujar orang tua ini sedih.


Kini giliran Ulong dan rombongan yang kaget, Mat Kecik yang sedang menyeruput kopi sampai tersedak.


"Ki Bayu!!!", ujar Awang dan Arman bersamaan.


"Siapa Ki Bayu itu?", tanya orang tua ini heran.


"Begini Pakcik, setahu kami serigala raksasa dan serigala jadi-jadian itu pemiliknya adalah Ki Bayu", ujar Awang menjelaskan.


"Aah begitu ya, berarti orang tua itu. Hanya beberapa dari kami yang pernah melihatnya, orang tua tersebut sudah menculik tiga orang gadis dari beberapa perkampungan di sekitar sini", ujar Rustam.


"Aku pernah melihatnya, dia menculik anak gadis Ncik Rahmat, dan membunuh para pria yang mencoba menghalangi" ujar seorang pria.


"Aku bahkan pernah melemparkan batu pada pria berkaki satu tersebut, tapi aku tidak tahu kena atau tidak karena sehabis melempar aku lari menjauh", sambungnya.


"Berkaki satu ya?", tanya Awang heran.


"Seperti apa tampang Ki Bayu yang menyerang kalian itu?", tanyanya lagi ingin tahu.


"Orangnya kurus, berpakaian hitam, hidungnya kurus dan ada bekas cakaran di wajah. Dia mengenakan mantel kulit harimau putih berbelang hitam disampirkan ke bahu" ujar si pria.


"Iya itu benar dia, tapi dulu sewaktu berhadapan dengan kami kedua kakinya masih utuh, berarti ada yang berhasil melukainya", ujar Awang.

__ADS_1


Ini benar-benar berita baru bagi Awang, membuatnya benar-benar penasaran.


Lalu Awang menceritakan bahwa mereka pernah berhadapan dengan orang tersebut. Hanya saja mereka belum tahu cara mengalahkannya.


Dia juga menceritakan kalau Ki Bayu itu bekerja untuk kompeni.


"Memang kompeni itu benar-benar biadab", ujar Mat Kecik sambil mencomot ubi goreng dari piring.


Arman menyikut pinggang temannya tersebut.


Awang juga menuturkan karena mereka tidak berhasil mengalahkan Ki Bayu mereka terpaksa pergi, dan tidak menyadari bahwa Pakcik Leman tertinggal di belakang bertarung sendirian melawan Ki Bayu dan serigala-serigalanya.


"Paginya kami kembali kesana dan menemukan Pakcik Leman telah tewas", ujar Awang menunduk sedih.


Para penduduk desa terlihat bingung, padahal ekspresi mereka sebentar tadi terlihat gembira.


Mereka jadi bingung karena Awang yang mereka dengar begitu sakti saja tidak dapat mengalahkan Ki Bayu dan terpaksa melarikan diri.


Mereka saling tatap lagi, lalu satu orang buka suara,


"Aah bang Awang belum bisa mengalahkannya hanya karena belum tahu kelemahan Ki Bayu", ujarnya.


"Aah iya juga", ujar pria yang lain.


Mereka pun mengangguk-angguk membenarkan, dan kembali terlihat gembira.


"Tapi ada satu petunjuk yang ditinggalkan Pakcik Leman sebelum dia meninggal", ujar Awang.


"Man, giliranmu", ujar Mat Kecik sambil mengunyah sepotong ubi.


Arman menatap Mat Kecik, nyengir, lalu maju dari duduknya, keluarkan belati lalu gambarkan lidah api di lantai kayu.


"Seperti itu lah petunjuk yang ditinggalkan Pakcik Leman, atau paling tidak itulah tanda yang kami temukan di samping jenazahnya.


Ulong menatap gambar itu dengan seksama, "mungkin itu maksudnya memang api", ujarnya.


"Nah kami sendiri pernah bertarung melawannya. Aku, Mat Kecik, dan Arman. Kami sama-sama saksikan sendiri, aku tuangkan bara api ke wajahnya, dan dia tidak terluka", ujar Awang.


"Iya betul itu", ujar Mat Kecik, dia hendak mencomot sepotong ubi lagi dari piring, Arman iseng mengusili temannya itu, ditariknya piring berisi ubi menjauh.


"Aah kau ini Man, apa tak tahu kau melawan kompeni itu berat, harus makan yang banyak biar bertenaga", ujar Mat Kecik protes.


"Jadi begitu, abang telah tumpahkan bara api ke wajah Ki Bayu dan dia tidak terluka?", tanya Ulong memastikan.


"Iya, dua kali malah", ujar Arman menyambut pertanyaan Ulong.


"Apa ada saranmu Long?" tanya Awang.


"Aku berpikir bisa jadi api itu bukan untuk mengalahkan Ki Bayu, tapi petunjuk untuk mengalahkannya", ujar Ulong.


Mereka yang hadir disitu menatap Ulong dengan bingung.


"Maksudku kita harus memastikan apakah ada petunjuk yang bisa kita temukan dari api tersebut bila di hadapkan pada Ki Bayu, bukan digunakan untuk menyerangnya", ujar Ulong lagi.


"Ada dua petunjuk penting disini, pertama adalah gambar yang ditinggalkan Pakcik Leman, yang kedua adalah ternyata Ki Bayu bisa dilukai dan luka kaki yang putus itu sudah jelas dipotong bukan dibakar", jelas Ulong.


Mereka yang hadir terperangah mendengar ucapan Ulong dan mengangguk-angguk paham.


"Tapi itu nanti belakangan kita sama-sama cari tahu, sekarang adalah bagaimana menyikapi dulu seandainya terjadi lagi serangan kesini oleh Ki Bayu atau peliharaannya".


"Selama ini dia merasa tidak ada yang bisa mengalahkannya disini, itu akan membuatnya lengah dan kita harus manfaatkan kelengahan itu".


"Aku melihat banyak jaring nelayan disini, dan aku tahu cara kerja jaring itu, begitu melibat tubuh maka akan sulit untuk melepaskan diri darinya" ujar Ulong.


Mereka para nelayan yang ada disitu serentak mengangguk lagi membenarkan.


"Nah, aku ingin minta bantuan kalian mumpung ini masih pagi, pertama aku minta kalian untuk mengumpulkan para pria dari desa di sekitar pantai untuk berkumpul disini, sebagian dari mereka nanti akan membawa perahu dan sampan seperti yang sudah kalian lakukan selama ini membawa wanita dan anak-anak ke laut. Yang kedua, bantu kami memasang perangkap dengan jaring-jaring ikan disini", ujar Ulong.

__ADS_1


"Ide bagus itu Long", ujar Mat Kecik senang, karena piring ubi yang telah kosong dihadapannya digantikan dengan piring lain yang dibawa seorang perempuan muda.


"Dan kita harus mulai dari sekarang", ujar Ulong.


__ADS_2