
Sesaat sesudah Ulong berteriak, semua yang ada disitu kaget, lalu sebagian bertiarap.
Sedangkan sebagian lagi berlari menuju bangunan-bangunan rusak, berlindung disana.
Peluru berdesingan di antara mereka hampir bersamaan dengan meletusnya rentetan tembakan.
Beberapa peluru yang mengenai tanah kering di sekitar markas menimbulkan debu putih dan kepingan tanah yang berhamburan.
Beberapa peluru mengenai mayat para laskar didekat Awang, Arman, dan Mat Kecik bertiarap.
Segar udara pagi segera di warnai aroma asap mesiu.
Setelah suara tembakan reda, menyusul teriakan banyak orang dari sesemakan sekitar dua puluh meter tempat asal tembakan.
"SERBUUUU!!!".
"SERAAANG!!!"
Lebih selusin serdadu kompeni pribumi menyerbu dengan pedang dan bayonet terhunus.
Rombongan Awang bukan laskar biasa melainkan para pentolan laskar, para ahli bela diri yang telah lama terlibat peperangan.
Tidak satu butir peluru pun yang mengenai mereka yang dengan sigap telah terlebih dahulu berlindung begitu mendengar aba-aba Ulong.
Awang menyeringai buas, "kalian bodoh menyerang di saat kami sedang marah, kalian akan menjadi sasaran amarah kami", ujarnya lalu bangkit dari tiarapnya.
Ulong singkapkan jubah luar yang tadi dikenakan saat menyamar untuk menutupi belati di pinggang.
"**SERAAANG!!!",
"Wussh!!".
"AHK..UGH**..!!!
Dua dari penyerang langsung tewas di terjang belati Ulong. Disusul tiga lainnya meregang nyawa di tembus anak panah Laksmi, Mardiani dan Salhah.
Mat Kecik dan Arman kaget melihat lima orang musuh roboh begitu saja.
"Kalau begini kami bakalan tidak mendapat bagian", pikir mereka.
Tak mau ketinggalan Arman dan Awang lemparkan tombak ditangan, dua orang lagi penyerang terjatuh dengan tombak menembus punggung lalu menancap di tanah.
"Hah, mati kalian!!!", ujar Arman.
Teriakan perang segera memenuhi lokasi disitu, di selingi dentingan senjata beradu.
"Laksmi, Mardiani, Salhah, habisi kompeni yang masih bersembunyi sebelum mereka menembak lagi!!!", seru Ulong. Dia melihat ada lima orang lagi bersembunyi di rimbun pepohonan dan semak sedang mengisi mesiu.
Seorang musuh tebaskan pedang bergerak dari atas ke bawah menuju kepala Mat Kecik.
Mat Kecik menangkisnya dengan golok di tangan, bunga api memercik.
Begitu kuatnya tangkisan Mat Kecik, tangan musuh sampai terpental ke belakang.
Lalu dengan sekuat tenaga Mat Kecik yang bertubuh raksasa tendang perut lawan hingga terdorong dan terbungkuk kesakitan, "ITU UNTUK RUSLAN!!!" ujarnya menggelegar.
Setelah lawan terbungkuk, Mat Kecik dengan buas maju berlari menabrak kepala lawan yang terbungkuk dengan lututnya, "Prak!!", lawan terjengkang ke belakang dengan tengkorak retak "ITU UNTUK NILAM!!!" sambungnya.
Seorang lagi tusukkan ujung senapan yang ada bayonet ke perutnya, Mat Kecik tangkap senapan dengan tangan kiri lalu secepatnya putar sekuat tenaga.
Musuh tidak sanggup mengimbangi kecepatan dan kekuatan putaran tangan Mat Kecik hingga terpaksa melepas senjatanya.
Setelah senapan berhasil direbut dengan tangan kirinya, Mat Kecik sodokkan popor senapan ke leher lawan "krek!!!", musuh jatuh lalu berkelojotan sambil memegangi tenggorokannya yang remuk "ITU UNTUK TEMAN-TEMANKU YANG LAIN!!!" teriak Mat Kecik.
__ADS_1
Mengikuti arahan Ulong, Laksmi, Mardiani dan Salhah melepaskan anak panah, namun dari tiga anak panah yang dilesatkan hanya satu yang mengena. Dua lainnya mengenai dahan-dahan karena musuh bersembunyi di antara rimbun pepohonan yang tumbuh rendah.
Ulong melihat itu, dia lalu maju melompat kearah seorang penyerang, di elakkannya serangan bayonet lawan dengan bergerak kekiri, dia maju melewati lawan tersebut lalu dia raih dari belakang kerah baju lawan.
Tubuhnya yang tinggi dan kekar sangatlah kuat, dia menarik kerah baju musuh sambil bergerak maju lalu lemparkan ke depan.
Musuh terhuyung mundur, dan berusaha tikamkan bayonet kembali. Kali ini Ulong miringkan tubuh dan menghindar ke kanan, lalu setelah bayonet lewat di samping tubuh, dia kepit senapan dengan tangan kiri dan cengkeram leher musuh.
Dia bergerak maju sambil mencengkram leher musuh.
Setelah cukup jauh lawan terdorong mundur, di genggamnya senapan lawan lalu tendang perut lawan hingga kini tersuruk ke belakang, sehingga senapan yang ada bayonetnya terlepas dan kini di pegang Ulong.
Ulong bergerak maju sambil sodokkan bayonet di senapan ke arah lawan yang belum bersiap.
"Crep!!", bayonet menusuk tepat di ulu hati lawan. Musuh terbelalak menahan sakit.
Ulong dorong sekuat tenaga hingga lawan terdorong mundur dan bayonet tembus ke punggungnya.
Ulong menyeringai, kini jaraknya dengan musuh yang bersembunyi mengisi senapan tinggal beberapa meter, mereka lah target sebenarnya.
Diraihnya dua belati lagi dari pinggang, lalu lemparkan ke arah kedua musuh di depan.
Dua orang lagi roboh, tinggal dua orang musuh lagi tersisa disana. Menyadari tak ada waktu mengisi mesiu, mereka gunakan bayonet di senapan dan berdiri untuk menyerang.
"Kena kalian", ujar Ulong dalam hati.
Begitu kedua musuh berdiri hendak menyerang, anak panah Laksmi dan dua gadis lainnya yang sudah membidik sedari tadi dilepaskan.
"Siutt..siutt.. crep!!!"
Kedua orang serdadu musuh tewas terpanah, seorang dari mereka bahkan mendapat dua anak panah sekaligus.
Sementara itu, Putra yang bertubuh tinggi langsing dengan kelincahan luar biasa berkelebat memutar golok dan menebas ke kanan dan ke kiri.
Setelah menangkis tebasan pedang dari kiri dia bergerak menyamping mengelakkan tusukan bayonet. Dalam pada itu sehabis menangkis tebasan dari kiri dia sabetkan goloknya kebawah, menyayat paha lawan yang memegang senapan dengan bayonet, "crashh!!!". Musuh langsung berdiri miring karena luka di paha kanan.
Putra berputar mundur lalu di saat lawan di kanan kembali hendak bacokkan pedang, dia maju dan tusukkan goloknya terlebih dahulu menghunjam perut lawan "Jrebb!!".
Putra mencabut golok yang bersarang di perut lawan. Lalu dia bergerak maju menuju musuh yang terluka di paha sambil menggeser kedua kaki menyibak tanah yang kering menimbulkan debu berkepul.
Musuh yang terluka bingung, sakit karena luka ditambah melihat debu yang beterbangan menyamarkan lawan hingga tak lagi bisa menghindar begitu putra melompat dan bacokkan golok dari atas. Dia coba menangkis, mengangkat senapan dengan kedua tangan. Tapi diluar dugaan putra bukan membacok melainkan luncurkan golok lepas dari tangan.
"Craapp!!!", golok putra menancap di kepala lawan.
Tinggal tiga orang lagi musuh, yang seorang memilih menyerang Angku Razak dengan pedang.
Disabetkannya pedang ke leher orang tua berumur tujuh puluhan tersebut.
Angku Razak walau sudah tua tapi adalah ahli silat, dengan sangat tenang dia membungkuk sambil miringkan leher ke kanan menghindari tebasan dari kiri, pedang musuh berkelebat hanya sejengkal dari kepalanya.
Lalu dia condongkan tubuh ke depan sehingga bahunya menghantam rusuk lawan.
Lawan terdorong mundur, langsung disambar siku kiri Mat Kecik yang berada di dekatnya, "Bletak".
"Maaf Angku, aku geram sekali pada mereka", ujar Mat Kecik.
Angku Razak yang sedang pasang kuda-kuda hanya terdiam bengong, "ya sudahlah", pikirnya lalu berdiri menonton.
Setelah musuh hilang keseimbangan terkena siku di bagian telinga, Mat Kecik melanjutkan dengan menusukkan goloknya hingga tembus ke dada kiri.
"Jangan kau ganggu kami!!!", perintah Awang pada Mat Kecik, dia kesal karena baru membunuh satu musuh.
"Iya, kami juga sedang marah", sambung Arman.
__ADS_1
Mereka berdua saat itu sedang melawan musuh dengan golok.
Mat Kecik menyeringai lalu mundur ke dekat Angku Razak dan berdiri dekapkan tangan diatas dada, ikut menonton.
Musuh membacok Awang dengan pedang, dan Awang menangkis dengan goloknya sehingga menimbulkan percikan bunga api.
Tidak berhasil membacok dari atas musuh tusukkan pedang ke perut Awang.
Awang miringkan tubuh sehingga tusukan lewat di samping perutnya, lalu dia membacok gagang pedang musuh sekaligus jemarinya yang memegang pedang.
"Cress!!!", lawannya mengaduh kesakitan, pedangnya langsung terjatuh berdentingan ke tanah. Sehabis membacok jemari musuh, Awang berputar ke arah belakang musuh lalu bacokkan golok ke leher musuh.
"Grrraaaaahhh!!!", Awang menggeram buas, berdiri membelakangi lawan. Serdadu kompeni ini tumbang dengan kepala terlepas dari leher.
Hampir pada waktu bersamaan, Arman dengan lincah mengelakkan tusukan bayonet musuh dan bergerak melompat kesamping kiri, lalu dengan cepat dia melompat kembali dan berputar di udara dengan indahnya sambil sabetkan golok.
Lawan cukup gesit menangkis dengan badan senapan, "tring".
Bacokan Arman berhasil di tangkis, tapi dalam keadaan diudara seperti itu Arman tendangkan kaki kiri ke kepala lawan, "plak!!!", lawan terdorong kesamping ke arah Awang.
Sekilas Awang tergoda untuk menebas musuh yang terdorong hampir mengenainya.
"Sedikit gak apa lah", batinnya, lalu dia tolakkan lawan dengan kakinya, "sana kau jauh-jauh" ujarnya.
Arman hampir berteriak melarang Awang, tapi begitu melihat Awang cuma mendorong musuh dengan kaki, dia bergerak maju.
Musuh tusukkan bayonet di ujung senapan, Arman melompat dan menepis tusukan dengan kaki kiri.
Lalu dari atas dia sabetkan golok dari kanan miring ke kiri.
"Crappp!!!", golok di tangannya masuk ke tubuh musuh dari leher membelah hingga ke jantung.
Sementara itu disesemakan tak jauh dari situ.
Seorang prajurit kompeni pribumi lain mengamati di antara rimbun pohon dan semak.
Melihat keadaan tak menguntungkan lagi dia bergegas menaiki kudanya dan memacunya meninggalkan tempat tersebut.
"Settt, Seeettt.. Seeettt..", tiga batang anak panah melesat kearahnya.
Laksmi begitu menyadari ada musuh yang berkuda menjauh segera memberi isyarat pada Mardiani dan Salhah. Bertiga mereka memanahnya, sayangnya musuh terlalu jauh dan terlalu banyak pepohonan menghalangi.
"Ss..ssi all" ujar prajurit kompeni yang berkuda menjauh dengan kecut. Ketiga panah tersebut menancap di batang pohon yang berada disampingnya, dia memacu kudanya secepat mungkin tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Dia memacu kuda bagai dikejar setan hingga hampir sekitar satu kilometer, meninggalkan rumput dan tanah beterbangan di belakang.
Di sebuah tikungan yang banyak pepohonan, Suma terlihat duduk di atas kuda menunggu.
Bersamanya ada enam orang lagi berpakaian serba hitam, satu orang wanita berambut tergerai sebahu, sedang selebihnya pria dengan wajah dingin, pucat seperti tanpa darah dan tatapan menyeramkan.
"Komandan, semua prajurit yang memeriksa persembunyian Awang telah tewas", ujar prajurit yang barusan datang begitu Suma sudah berada di hadapannya.
"Para laskar pejuang yang membunuh mereka semua tanpa ampun", ujarnya sambil bernapas tersengal.
Suma menjalankan kudanya mendekat ke si prajurit hingga kuda mereka berdampingan.
"Bukan para laskar yang membunuh mereka, tapi Ki Bayu", ujar Suma.
Prajurit itu terbelalak kaget mendengar ucapan Suma, apalagi sambil berkata Suma tusukkan sebuah pisau ke perut prajuritnya tersebut.
Prajurit tersebut jatuh dari kuda tunggangannya.
"Sasaranku bukan para laskar, bukan begitu?", tanya Suma menyeringai.
__ADS_1
"Hihihi, para laskar bisa kapan pun kami selesaikan dengan cepat", ujar perempuan yang bersamanya terkikik.