
Sesampainya aeris si ruangan biyan, Dia mengernyit bingung saat mendapati bosnya itu tengah merebahkan tubuhnya di sofa sembari meletakan satu tangannya menutupi mata.
"Pak" Panggil aeris
Biyan langsumg duduk saat mendengar suara sekertarisnya, pria itu memberi kode agar aeris duduk di sofa tepat di sampingnya.
"Ada apa pak?" Tanya aeris bingung karena biyan hanya menatapnya tanpa mau berbicara.
Tidak mau menjawab pertanyaan aeris, Biyan kembali merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepala berbantalkan paha aeris.
Tentu saja perlakuan biyan membuat aeris terkejut dengan kelakuan bosnya yg tidak bisa di tebak. Bahkan saat ini pria itu berbaring menghadap perut dan mendusel di sana.
"Pak, bangun! Kalo mau istirahat jangan disini, saya masih banyak kerjaan. Bagaimana kalo tiba-tiba ada orang masuk?" Tentu aeris khawatir dengan keadaan saat ini, dia tidak mau di tuduh yg tidak-tidak dengan bosnya karena posisi mereka.
"Tidak ada yg bisa masuk ke ruangan saya tanpa saya persilahkan." Biyan menjawan dengan enteng kemudian kembali memeluk pinggang aeris. Rasanya ia sangat mengantuk sekarang.
Lain hal nya dengan aeris, setelah dia mendapatkan jawaban gila dari bosnya. Tidak sadarkah biyan selalu membuatnya kesal, was-was dan ingin menangis menghadapi sikap tak terduganya?
Masih diam dengan posisi nya, Aeris menatap wajah dengan ukiran sempurna biyan yg tertidur lelap di pangkuanya. Meski sesempurna apapun biyan di mata orang-orang, tetapi aeris selalu bisa melihat kekurangan bosnya itu. Contoh nya saja biyam nyaris mempunyai segala yg orang-orang inginkan. Tapi pria itu gagal dalam rumah tangganya, Miris pikir aeris.
"Seharusnya bapak cari istri lagi, kalau mau manja-manjaan kaya gini jangan ke saya." Gerutunya pelan. Aaeris hanya ingin menghindari pikiran negatif orang-orang tentang kedekatan dirinya dan bosnya.
Dia datang ke perusahaan ini bukan untuk menggoda atasanya, dia datang ke perusahaan ini dengan modal hoki dan seratus persen dia ingin bekerja secara profesional, tidak ada pikiran lain untuk berbuat sesuatu yg merusak nama baiknya.
Menurut aeris, hidup nya sudah terlaku susah dan banyak beban, di tambah jika dia harus mencari muka pada orang lain bahkan atasanya untuk mendapatkan posisi tinggi di perusahaan membuang-buang waktu saja. Biarkan skill dan kemampuanya dan membuktikan dia sebenarnya berada di posisi mana.
Biyan yg hendak terlelap pun tidak jadi setelah mendengar gumaman aeris. Walau mata nya terpejam pria itu ingin mendengar apa saja yg di ucapkan sekertaris nya. Perkataan aeris tadi menyadarkanya akan sesuatu.
"Saya gak mau di cap buruk sama orang-orang yg bertemu dengan saya di perusahaan ini maupun di luar perusahaan. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang." Gumam aeris lagi.
Biyan membuka matanya perlahan, baru kali ini dia mendapati gadis yg tidak ingin berdekatan denganya. Tidak seperti banyak gadis dan wanita di luar sana yg mencoba mendekatinya hingga rela melempar diri padanya tanpa peduli harga dirinya lagi.
__ADS_1
Tapi aeris berbeda membuat dia merasakan perasaan yg berbeda setiap berdekatan denganya. Aeris menghidari dirinya untuk menjaga nama baiknya dan nama baiknya serta perusahaan. Aeris tidak mempunyai pikiran seperti banyak karyawan yg rela menggoda atasanya hanya untuk mendapat posisi khusus yg mereka inginkan di perusahaan.
Bidang aeris sebenarnya bagian keuangan. Tapi biyan dengan seenak jidat menempatkan gadis itu jadi sekertarisnya. Selama dua hari ini gadis itu bekerja. Dia selalu berusaha melakukan nya dengan baik dan profesional. Bahkan saat gadis itu sakit kemarin, dia tidak ingin pulan sebelum tugas yg di berikan padanya selesai.
Biyan sadar, Aeris berbeda.
"Maaf jika beberapa hari ini membuat kamu merasa kurang nyaman bekerja dengan saya." Celetuk biyan. Pria itu mengubah posisi nya tapi masih berbaring, kini menghadap ke atas, menatap wajah terkeju aeris dari bawah.
Senyim biyan tersungging, terkekeh geli melihat wajah terkejut gadis itu. "saya juga tidak tau kenapa bisa seperti ini. Tapi tenang saja, saya janji ini yg terakhir kali dan kamu bisa bekerja dengan tenang." Ujarnya menatap lekat manik coklat hazel aeris.
Aeris mengangguk kaku. Otaknya Tiba-tiba blank mengetahu biyan mendengar semua apa yg di gumamkan tadi.
"Bapak bisa bangun dulu? Sekarang jam istirahat, saya mau cari makan, bapak mau nitip?" tanya aeris setelah melihat jam sudah menunjukan pukul 12.15, tanda istirahat hingga satu jam kedepan. Sekaligus menghilangkan kecanggungan yg mulai tercipta di antara mereka.
Biyan melirik arloji yg melingkar di pergelangan tanganya yg benar kata aeris, sekarang waktunya istirahat, sedikit tidak rela. Biyan bangun dari posisi baringnya.
"Kamu mau ke kantin?" Tanya biyan
"Saya mau ke kafe depan, yg baru buka kemarin, pak. beli kopi, mau nitip?"
"Jalan kaki?"
Aeris mengangguk "Iya pak."
"Kenapa tidak di kantin saja?" Bukanya apa kafe yg aeris maksud sedikit jauh jika aeris jalan kaki.
"Penasan aja pak, biasanya kan kafe yg baru buka harga yg mereka berikan masih murah dan banyak gratisan." biyan menggeleng mendengar jawaban sekertarisnya itu.
"Yaudah saya nitip Espreso" pria itu mengeluarkan dompetnya dan me nyodorkan sebuah kartu. Aeris menatao datar bosnya. "gak ada uang cash?" Biyan menggangguk polos.
"Bapak simoan saja kartunya, biar saya yg beli."
__ADS_1
"tap-."
"Ck. Nurut gak?" entah keberanian dari mana aeris menyela ucapan bosnya dan melotot tajam membuat biyan diam tak berkutik.
Pria itu masih diam di tempat bahkan setelah aeris keluar dari ruangan. Senyum tipis menyiratkan sesuatu terpatri di bibir biyan. Aeris, Gadis selain mamanya yg beraninya membuat dia diam tak berkutik hanya dengan tatapan tajam.
Diluar ruangan biyan. Aeris menyapa Anneth yg tengah meregangkan tubuhnya. "Hai, mbak."
"Oh, hai ris. Mau kemana?"
"Ke kafe depan kantor, yg baru buka itu. Mau nyari gratisan hehe." Jawabnya
Seketika Anneth berdiri dari duduk nya dan merogih tas mencari dompetnya. "Gue ikut, akhirnya dapet teman kesana." gadis itu tersenyum senang hingga menarik tangan aeris menuju lift dengan tida sabaran.
"Mau kemana lu dek?" tanya Denzel saat mereka sudah memasuki lift
"Kafe baru depan kantor bang." jawab Anneth sebelum lift tertutup.
"titip Americano." teriak Denzel di balas acungan jempol oleh adiknya.
\*\*\*\*
Saat ini aeris dan anneth tengah duduk di pojok kafe menikmati pesanan mereka. Sedari tadi mata aeris mengedar mengamati para pengunjung kade yg tampak ramai. Dengan intetior yg instragamable membuat kafe ini banyak yg diminati orang-orang karena banyak spot poto juga harga menu yg terjangkau.
"Lo tadi di panggil si bos gak di amukkan?" tanya anneth dengan raut khawatir yg kentara.
Bukan tanpa alasan anneth tanya sedemikian, pasalnya sekertaris biyan sebelum-belumnya selalu dapat bagian khusus dari bosnya untuk meledakkan amarahnya yg belum tuntas.
Gelengan aeris membuat Anneth lega sekaligus heran. "memangnya kenapa mbak?" Tanya aeris penasaran.
\*\*\*\*
__ADS_1