
Saat ini, Aeris sedang berada di dalam ruangan yg cukup luas bersama dengan pria bermuka datar tadi. Setelah di seret paksa, tetnyata dia di bawa ke sini hanya untuk mengobati luka pria itu akibat terkena minuman panas akibat OG tadi.
"Ssttttt.... Pelan-pelan!" Entah sudah berapa kali pria itu mengatakan kata yg sama di sertai dengan ringisan yg sama pula.
"Ini udah pelan banget." Aeris gregetan sendiri.
lagi-lagi dia hanya bisa pasrah dan dengan hati-hati mengoleskan salep di sekitar dada pria itu.
"Nah, Sudah." Aeris tersenyum melihat luka pria itu sudah di beri salep. "Kalau begitu, Saya permisi,pak. Mau interview." Pamitnya.
tapi sebelum aeris mencapai pintu, lagi-lagi suara dengan nada datar menyebalkan itu menghentikan langkahnya.
"Siapa yg menyuruh kamu keluar dari ruangan saya?" tanya pria itu.
Aeris memutar bola mata nya kesal. "gak,ada pak. Tapi saya mau interview ini. Lima menit lagi mulai." Ucapnya.
"Memangnya kamu yakin akan diterima?" pernyataan dengan nada remeh itu berhasil menyulut sedikit emosi Aeris.
Sabar-sabar, janagan emosi, nanti cepat tua. Batinya.
"Enam puluh persen yakin, selebihnya bodo amat mau keterima atau enggak, yg penting saya sudah berusaha dan mencoba. Urusan di terima atau tidaknya itu urusan belakang. Saya juga tidak terlalu berharap dengan mudahnya lolos dari seleksi ketat perusahaan besar ini." Jawabnya kesal.
Pria itu menegakan tubuhnya. Tersenyum kecil mendengar jawaban gadis yg tak jauh duduk darinya duduk. Mengambil map yg lupa di bawa oleh gadis itu dan membacanya.
"Aeris Ghafishan Nara. Silahkan duduk." pria itu menunjuk set sofa di sebelahnya.
Aeris hendak protes tapi di sela lagi oleh pria itu. "silahkan duduk jika kamu mau keterima di perusahaan ini."
Aeris duduk dengan perasaan dongkol dan memaki dalam hati pria itu dengan sumpah serapahnya. Orang yg pertama dia salahkan jika tidak ikut interview adalah pria yg di sampingnya, yg sok sibuk membaca halaman demi halaman isi map yg dibawanya.
Sekarang pukul 09,56 empat menit lagi interview akan di mulai dan dia tertahan di ruangan luas bersama pria yg menyebalkan di sampingnya ini.
"Batalkan interview hari ini, Saya sudah mendapatkan sekertaris."
"....."
"Saya tidak peduli, katakan saja pada mereka jika saya sudah mendapatkan sekertaris."
"......"
"Itu urusan kalian."
Tut
Dengan seenak jidat nya pria itu memutuskan sambungan telepon dan kini menatap intens Aeris dari samping yg terlihat terkejut.
"Loh, Gimana sih pa, masa saya belum interview udah udah dibatalin aja?" seloroh aeris tak terima.
Pria itu mengangkat satu alisnya. "Terus kamu maunya bagaimana?" saya sudah mendapatkan sekertaris, jadi apa gunanya mereka interview , Buang-buang watu."
Ingin rasanya aeris mencakar wajah songong pria di sampingnya ini.
"Kami sendiri yg bilang kan, kalau tidak terlalu berharap dapat di terima di perusahaan ini. Jadi tidak ada salahnya saya membatalkan ***Intervew*** hari ini." lagi, suara dengan nada datar itu benar-benar menguji kesabaran aeris.
Aeris yg sudah kesal setengah mampus lantas berdiri dan berjalan ke arah pintu,hendak keluar. tidak ingin berlama-lama dengan pria menyebalkan itu sebelum kesabaran aeris habis.
"Siapa yg menyuruh kamu keluar?"
__ADS_1
Aeris berhenti dan berbalik. "Bukanya bapak membatalkan intervew nya. Jadi apa guna nya saya disini? Buang-buang waktu saja." Aeris membalikan perkataan pria itu dengan wajah yg sudah memerah padam akibat marah.
Aeris semakin kesal saja saat pria itu tertawa pelan. Memangnya dia sedang melucu apa?.
"Selain pelupa, kamu juga kurang tanggap menangkap maksud dari perkataan saya tadi." Ujar pria itu.
Aeris lantas mengeryitkan dahi, perkataan bagian mana yg tidak dia mengerti. Bukanya pria itu membatalkan interview dan dia tidak jadi bekerja di perusahaan ini. Perasaan sedari tadi pria itu hanya mengulur waktu agar dia tetap berlama-lama di ruangan ini.
"Bicara jangan setengah-setengah makanya, pak. Bicara yg jelas!" Suara aeris naik dua oktaf membuat pria itu terkejut.
"Kamu saya terima menjadi sekertaris saya." Ucapan pria tadi berhasil membuat aeris terdiam.
"Hah, sejak kapan saya mendaftar menjadi sekertaris. Saya mendaftarkan di bagian keuangan, pak." Aeris ingin melabmmbaikan ke arah CCTV sekarang juga.
"Saya tidak peduli, kamu sekertaris saya mulai sekarang." kalimat dengan nada yg tak ingin di bantah itu membuat aeris menghela napas kasar beberapa kali.
Bukanya menjawab, pria itu menunjuk ke arah meja yg tidak jauh dari mereka. "Coba baca" disna terbapat sebuah papan nama dengan tulisan yg menjawab aeris.
***Biyan Aztara millan, Ceo of Helion Corp***.
Mampuss! Jadi dari setadi dia.....
Dengan kaku, Aeris menatap pria yg masih duduk dengan santainya sembari memberikan senyuman angkuhnya. " Bagaimana, Sudah terjawab nona?"
Kalau begini Aeris melempar dirinya kedalam masalah besar .
"Bagaimana, Apa kamu tidak mau menerima tawaran saya?" biyan berucao pongah. "Tapi saya tidak menerima penolakan,nona." Tambahnya.
Aeris mendelik kesal. "Kalau begitu kenapa harus menawari kalau ujung-ujungnya tidak menerima penolakan." Cibirnya dan berhasil membuat pria itu tertawa pelan.
__ADS_1
***Ceo gila***! Maki Aeris dalam hati.
\*\*\*\*
Biyan tidak pernah melepas tatapanya dari gadis yg dia ketahui bernama aeris itu. Di depan sana, Bisa-bisanya gadis itu mengomel sambil mengerjakan beberapa agenda yg dia berikan dan harus di selesaikan hari ini juga.
Biyan memang menempatkan meja aeris berada di dalam ruanganya, hanya di batasi sekat kaca yg masih bisa di lihat dengan jelas gadis itu sedang melakukan apa.
Banyak karyawan yg bingung dengan sikap biayn hari ini. Dari di mualai biyan menyeret aeris kedalam ruanganya, mengobati lukanya, Tidak marah saat gadis itu mengomel dan mencibirnya dan terparah adalah langsung mengambil keputusan sepihak menjadikan aeris sekertarisnya di tambah
Mereka satu ruangan pula.
Biyan juga tidak tau mengapa dia bisa sampai berbuat sedemikian rupa. Satu hal yg menjadi alasan pria itu menjadikan aeris sekertarisnya. Selain pintar dan menguasai berbagai bidang, dia juga suka melihat wajah dongkol dan merah padam saat gadis itu marah, benar-benar sangat menggemaskan.
"Pak, Agendanya nya sudah selesai." Perkataan aeris berhasil membuyarkan lamunan biyan dan terkejut saat gadis itu sudah berada di hadapanya.
Biyan berdehem oelan kemudian menerima beberapa lembar agenda yg aeris buat dan membacanya, sepertinya dia memang tidak salah memilih sekertaris, Agenda kegiatan yg di buat gadis itu sangat jelas dan terperinci.
"Bagus, Sekarang kamu kerjakan yg itu." Biyan menunjuk dengan dagunya setumpuk kertas di mejanya.
Aeris mendwngus kesal. "pak, ini sudah masuk jam makan siang, bukanya sekarang istirahat. saya-"
"Periksa dulu proposal itu baru kamu bisa istirahat." sela biyan dengan entengnya.
Aeris menatap bos nya itu dengan semena-mena terhadap bawahanya dengan tatapan sinis. Seandainya dia punya sharingan seperti punya sasuke, sudah di ameterasu bos nya ini.
Aeris berhasil mengumpati bos nya itu dan kembali kemejanya, memeriksa berkas-berkas yg menumpuk itu dengan teliti.
Tapi sebelum berkutat dengan pekerjaanya, dia mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Saat menemukan botol kecil berisi obat, dia langsung meminumnya. Dan semua itu tak luput dari pandangan biyan.
***Obat apa yg diminum gadis itu***? Batinya.
__ADS_1
\*\*\*\*