
Kok muka nya comel sih! Ingin rasanya aeris mencubit kedua pipi biyan saking gemesnya dia dengan pria ini.
Lagi! Biyan mendusel di ceruk leher aeris membuat gadis itu merasa geli
"ishh.. Mas berat tau. Sana gih bersih bersih dulu terus istirahat!" namun pria itu memekuknya tidak bergeming.
Kembali senyuman terbit di wajahnya mendengar panggilan manis itu kembali di ucapkan oleh aeris
"tidur bareng tapi? di kamar yg satu nya kan udah penuh" nada biyan begitu antusius dengan mata berbinar, padahal tadi sudah lima watt karena lelah dan mengantuk
PLUKK
"akhh" sontak pelukan biyan terlepas dan meringis sakit setelah mendapatkan hantaman bola kasti tepat di belakang kepala nya
saat berbalik, di sana terdapat tiga anak bujang aeris menatap datar ke arah biyan, sedangkan aeris, gadis itu terdiam karena terkejut mendapati tiga anak bujangnya itu masih belum tidur
"milimal nikahin dulu lah baru tidur bareng, udah tua malah makin banyak tingkah.ckckc!" itu suara arsen. Jiwa judinya muncul ke permukaan melihat kelakuan sang daddy yg di luar nalar
Sedangkan yg melemoar biyan dengan bola kasti adalah lionel . Cowok itu menatap datar biyan
Arsen berjalan menghampiri sang bunda kemudian membawanya menuju dua saudaranya yg lain
"sen, bawa mama ke kamar, daddy tidur sendiri, kami yg bakal tidur sama mama malam ini." setelah lionel memberi titah, cowok delapan belas tahun itu menyusul aeris dan twins menyusul ke kamar mereka
Biyan hanya diam sambil mengelus belakang kepalanya,
Menatap jengkel dan datar kepergian tiga curut kampret itu yg kini memonopoli aeris
"sial!"
Dengan langkah gontai. Biyan memasuki kamar milik aeris dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu, tidak peduli lagi pesan aeris yg menyuruhnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur, dia terlanjur kesal sekarang
***
Pukul 06.10 pagi
Kesiaman aeris sejak subuh tadi sudah mulai ramai karena perdebatan para anak bujang aeris yg tengah menyidang daddy mereka perihal kejadian semalam
Sedangkan aeris berkutat dengan alat alat dapur bersama Quenzel dan si bungsu Ai. Mereka berdua datang jam setengah enam tadi karena Ai sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bundanya
Memang kemarin aeris sempat memberi tahu biyan jika Ai tidak boleh datang menjenguknya karena takut gadis kecil itu tertular sakitnya karena daya tahan tubuh Ai masih belum pulih.
Setelah mendengar bunda nya mulai sembuh, gadis itu terus memaksa Quenzel untuk mengantarnya ke rumah aeris
__ADS_1
"Ai ke ruang tengah aja ya, sayang. Panggil daddy sama abang abang kamu." suruh aeris setelah sarapan yg mereka buat sudah selesai
"oke. Bun"
Gadis kecil itu melangkahkan kaki kecil nya menuju empat orang laki laki yg masih berdebat beradu argumen
"abang, di panggil bunda buat sarapan," tangan kecil ai menarik ujung kaos yg di gunakan lionel membuat cowok itu mengaluhkan atensinya
Mendengar perkataan Ai, lionel tersenyum tipis lalu mengangkat tubuh kecil Ai kegendonganya. "ayok!" mereka pergi menuju dapur meninggalkan daddy dan twins yg masih sibuk debat di sana.
"kok mereka di tinggalin bang?" tanya Ai, menatap daddy dan dua abangnya yg masih sibul beradu argumen
lionel menatap sekilas tiga orang itu kemudian mendaratkan satu kecupan di pipi Ai. "biarin aja"
"loh Aro,Arsen sama daddy kalian mana dek?" tanya aeris saat melihat hanya ada lionel yg duduk di kursi meja makan
"masih sibuk debat mereka ma" jawab lionel sambil menyantao roti selai kacang kesukaanya
Aeris berdecak pelan kemudian pergi menuju ruang tengah. "ehem"
Ketiga nya masih sibuk debat, tidak mendengarkan suara deheman aeris yg sedikit keras. Mereka benar benar tidak menyadari keberadaanya
"ya daddy salah main peluk peluk bunda" itu suara aro
"tetep salah dad, belum ada label halal nya" arsen memutar matanya malas
"dih dikirain makanan apa" biyan melirik sinis salah satu putranya itu
"yg bilang bunda makanan siapa?" suara aeris naik dua oktaf, mereka yg henda melanjutkan perdebatan pun sontak berbalik dan mendapati aeris menatap sinis ke arah mereka dengan kedua tanganya bertengger di pinggang rampingnya
"sekarang jam berapa?" tanya aeris
Aro, Arsen dan biyan menoleh pada jam dinding di tengah ruang keluarga
"setengah tujuh"
"Setengah tujuh bun"
Jawab mereka kompak
Aeris menaikan satu alisnya, meneliti pakaian yg di kenakan mereka masih sama seperti semalam. "udah mandi?"
Aro, Arsen dan Biyan serempak menggeleng
__ADS_1
Aeris berdecak sebal "sekarang ke ruang makan, sarapan, sudah itu mandi. Jam 7.15 harus udah siap"
Mendengar ultimatum aeris ketiganya langsung beranjak menuju dapur. Saat melewati aeris, biyan sempat semoat nya mencuri satu kecupan di pipi gadis itu.
Twins yg melihat itu pun mencak mencak di belakang biyan. "dad, don't kiss my mom again"
"sudah sudah, gak usah ribut lagi masih pagi, malu sama tetangga" peringat aeris kemudian memberikat satu kecupan masing masing di pipi aro dan arsen.
"satu sama dad."
MINGGU SORE DI KEDIAMAN KELUARGA MILLAN
Tepatnya di taman belakang mansion, Aeris dan Ai duduk bersantai di salah satu gazebo setelah menyiram bunga dan beberapa sayuran yg di tanam oleh aeris satu bulan yg lalu
"bun" panggil Ai
Aeris menoleh kemudian menunduk menatap Ai. "kenapa sayang?"
Ai sejenak menatap bundanya diam diam takjub dengan mata coklat terang milik aeris lalu menunduk. "kan besok Ai mulai sekolah lagi bun, bunda bisa anter Ai gak?" tanyanya
Aeris tertawa pelan, gadis cantik itu lantas membawa ai ke dalam dekapanya. "tentu sayang"
Mata yg semula tampak sendu berubah menjadi berbinar membuat aeris gemas sendiri. "beneran bun? Gak bohong kan?" tanya ai lagi memastikan.
"bener sayng. Gak bohong. Apa sih yg enggak buat anak binda yg satu ini." kata aeris kemudian beberapa kali mencium pipi chubby Ai.
"hahaha.. Geli bun." gadis kecil itu tertawa riang. "sayang bunda banyak banyak." ai mencium pipi kiri dan kanan bundanya."
Aeris mengeratkan sedikit pelukanya "bunda lebih sayang Ai."
"oh gitu, daddy gak di sayang juga." tiba tiba saja biyan sudah berada di belakan mereka.
Aeris dan Ai kompak menoleh. "ai sayang daddy juga kok, tapi lebih sayang bunda sih sebenarnya." gadis kecil itu berucap jujur dan kembali mencium pipi aeris.
Biyan berdecak ada rasa kesal di hati nya saat mendengar ucapan putrinya yg terlampau jujur itu.
"kalau Ai gak terlalu sayang sama daddy, kalau gitu biar daddy aja yg sayang bunda." biyan duduk di samping aeris kemudian melingkarkan kedua tanganya di pinggang gadis itu
Tentu ai yg melihat daddy nya memeluk sang bunda menjadi kesal. "iih! Daddy lepasin gak pelukanya dari bunda! Bunda tuh cuma punya Ai sama abang aja."
Ai berusaha melepaskan lilitan tangan daddy nya yg terus memeluk aeris karena gagal, Ai menatap aeris dengan mata berkaca kaca. Meminta bantuan
"mas"
__ADS_1
****