
Entah apa yg di rasakan aeris sekarang. Saat jam pulang tadi, dirinya lagi-lagi di kejutkan dengan bosnya yg memaksa untuk mengantar pulang.
Fine, Aeris menerima tawaran bos nya itu walau tadi sempat menolak dan berakhir menjadi tontonan karyawan lain.
Tapi sepertinya menerima tawaran biyan untuk mengantarnya pulang adalah suatu kesalah besar yg dia perbuat.
mendekati waktu makan malam biyan masih setia duduk di ruang tengahnya sambil memeriksa email yg masuk di laptop pra itu, Mengapa biyan tidak pulang?.
Jawabanya adalah di luar hujan deras dan biyan tidak bisa menyetir sendirian dalam keadaan hujan yg sangat lebat di luar sana. Tidak ingin mengambil resiko jika di tengah jalan pria itu mengalami kecelakaan.
Dari pada hanya menonton bosnya itu yg sibuk dengan pekerjaanya, aeris berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam untuk dirinya dan juga biyan, hitung-hitung balas budi karena telah menjadikanya sekertaris dadakan sampai mengantarnya pulang.
Menu malam ini hanya Ayam kecap, Tumis kangkung, Ikan goreng, dan sambal terasi. Mumpung stok makananya masih bisa di bilang banyak. Dia bisa memasak juga walaupun hanya makanan sederhana.
Setelah satu jam setengah berkutat di dapur, aeris menyajikan masakanya di atas meja dan juga menata alat makan di sana.
Semua gerak gerik aeris tidak luput dari perhatian biyan yg sejak tadi sudah selesai dengan urusanya saat mencium aroma masakan yg membuat nya tiba-tiba lapar.
"Pak, makan malam dulu." Panggil aeris setelah di rasanya semua makanan sudah tersaji di atas meja.
Biyan mengangguk kemudian mengikuti aeris ke meja makan. Setelah duduk, aeris langsung mengambil piring dan melayani biyan.
"Silahkan di makan pak, maaf hanya ini yg bisa saya masak, Soalnya saya gak tau makanan orang kaya itu seperti apa, kalo gak cocok sama lidah bapak, bapak bisa Delivery. Ujar aeris panjang lebar kemudian memakan makananya tanpa ingin melihat respon biyan.
Biyan menggeleng kemudian mulai menyanyao makananya. Tanoa sepengetahuan aeris, mata pria itu berbinar setelah merasakan rasa masakan aeris yg sangat enak. Padahal masakan itu tampak biasa saja, Tapi rasanya benar-benar mengunggah selera.
"Masakan mu sangat enak." Puji biyan.
Aeris menghentikan kunyahanya, Gadis itu mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum manis. Senyum yg pertama kali biyan liat. "Makasih, Pak."
Tidak ingin terus terusan melihat senyum gadis itu. Biyan kembali fokus menikmati makanan sampai tidak sadar dia tambah sebanyak tiga kali dan dalam porsi yg cukup banyak.
"Bapak, Maruk juga ya ternyata hahahah." Aeris masih tidak lupa dengan bosnya ini yg tambah tiga kali sampai nasi yg dia masak di perkirakan masih ada sampai besok pagi malah ludes di perut biyan.
Saat aeris sedang gencar mengejeknya. Biyan hanya diam dan tidak berkomentar. Pria itu kembali sibuk dengan laptop di pangkuanya tapi masih mendengarkan aeris yg terua mengoceh di sampingnya.
__ADS_1
HUjan malam ini bukan nya berhenti malah semakin deras sesekali di susul dengan petir dan kilat yg menyambar.
Keheningan melanda dua manusia di ruang tengah dengan backsoun hujan dan petir karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Biyan berkutat dengan laptop nya dan aeris gadis itu sedang membaca sebuah buku novel .
Sudah dua jam mereka saling berdiam diri tanpa pembahas dan sekarang sudah menunjukan pukul 21.3.
Aeris yg mulai mengantuk menatap buyan yg fokus dengan laptop nya, lantas gadia itu bertanaya. "Pak, bapak gak pulang?" tanyanya.
Fiokus biyan teralihkan dengan pertanyaan aeris. Dia melirik arloji di tanganya, ternyata sudah jam setengah sepuluh malam.
Biyan menghela nafas pelan kemudian menatap gadis di sampingnya yg terlihat sudah mengantuk. Hujan di luar semakin deras dan tidak mungkin dirinya pulang di tengah kondisi cuaca seperti ini.
Dia tidak mau mengulangi kejadian beberapa tahun lalu yg hampir menyandang gelar 'Almarhum' di depan namanya karena nekat mengendarai mobil di tengah hujan deras dan berakhir terjun kedalam jurang.
"Apa saya bisa menginap semalam?" Tanya nya lebuh seperti memohon pada gadis di sampingnya.
Mata aeris semulanya tinggal sepuluh watt kini langsung terisi penuh saat mendengar pertanyaan biyan. "A-apa?" Telinganya tidak bermasalah kan.
Aeris terdiam kemudian mengangguk. Beruntung rumah nya punya dua kamar. " Yaudah, Bapak boleh bermalam. Kamarnya yg itu." Tunjuknya pada kamar bercat putih. "Kalau begitu saya tidur duluan pak." Pamitnya.
"Tunggu." biyan menahan tangan aeris yg hendak melangkah pergi. "Bisa kamu buatkan saya kopi."
Aeris mengangguk tanpa protes kemudian pergi ke dapur membuatkan kopi untuk bosnya itu.
"Pak, Pake gula apa enggak?" tanya aeris setelah menuangkan air panas pada kopi yg dia buat.
"Tidak."
setelah selesai aeris membawa secangkir kopi dan meletakanya di atas meja teoat di depan biyan. "jangan begadang, pak besok meeting pagi jam setengah delapan dengan klien penting." pesan nya kemudian berlalu ke kamarnya.
sedangkan biyan,pria itu menatap punggung kecil aeris yg hilang di balik pintu kamar. Apa tadi gadis iti memberikanya perhatian secara tidak langsung?
__ADS_1
senyum tipis terukir di bibirnya, mengaoa saat gadis itu memperhatikanya dia merasa begitu senang? Apa dia menyukai sekertarisnya itu?.
Biyan menggeleng, Ada apa dengan pikiranya. Dia tidak mungkin menyukai gadis yg notaben adalah sekertarisnya. Tidak mungkin di menyukai seseorang di saat mereka baru sehari bertemu dan berkenalan.
Diraih ny segelas kopi buatan aeris dan meminumnya sedikit-dikit. Lagi, buatan kopi slgadis itu sangat oas di lidahnya.
"Sangat Enak."
\*\*\*\*
Sedangkan di sebuah mansion megah, dua orang remaja dengan wajah yg nyaras sama duduk di balkon sebuah kamar setelah berhasil menidurkan adik mereka Ai.
Sejak tadi gadis kecil itu menangis ketakutan karena suara petir dan kilat yg terus menyambar. Belum lagi hujan di sertai angin kencang yg membuat susana semakin terasa horor di tengah mansion.
"Hahhhhhh... Gue rindu bunda." Monog Aro sambil memperhatikan pohon-pohon di sekitar mansion yg terus bergerak di terpa angin kencang.
Arsen mengernyit heran. Bunda siaoa yg di maksud kembaranya.
"Bunda siapa yg lu maksud?" tanya arsen penasaran.
Aro lantas menoleh. "Bunda gue lah. Siapa lagi." balasnya.
"Maksud lo perempuan yg nolongin lo waktu kecelakaan itu?" Tebak arsen . Kemudian aro mengangguk
"Jangan mudah percaya sama orang Ro." Arsen mengubah nada bicaranya. "gue tau kita gak pernah ngerasain kasih sayang seorang ibu, tapi jangan mudah percaya juga sama kebaikan seseorang, lo pasti ngerti maksud gue." Lanjutnya
Aro terdiam kemudian memikirkan sesuatu. "Gue tau maksud lo bang. Tapi, kalo orang yg selama ini lo cari adalah bunda gue, Apa lo gak percaya?" cowok itu beranjak dari duduk nya. Meninggalkan kembaranya yg diam mematung dengan tatapan kosong.
"Apapun yg lo sembunyiin gue tau, termasuk kejadian empat tahun lalu, lo pasti ngerti maksud gue." kemudian Aro menepuk bahu arsen dan berlalu dari sana.
kali ini arsen yg tetdiam. Tatapanya kosong tapi kepala nya memikirkan banyak pertanyaan yg ingin di lanyangkan pada kembaranya.
__ADS_1
\*\*\*\*