
"Kalau Mau nge prank Aunty yg berbobot dikit napa? Dia sahabat Aunty loh, masa sih mau sama daddy kalian?" Quenzel menunjuk aeris yg berada di sampingnya, masih tidak percaya dengan perkataan Ai yg kadang kadang suka bohong.
"Ck.. Bunda Aeris emng bundanya kami. Aunty aja yg ketinggalan berita, makanya kalo sibuk sepatin buka Hp." Aro berjalan mendekati sang bunda kemudian menarik pelan lengan Aeris Agar menjauh dari auntynya yg rada rada itu.
Quenzel berdecak kesal. Dia menatap tajam aeris yg kini sudah di kelilingi keponakanya. "Ae. Lu utang penjelasan ke gue pokoknya!"
"iya. Nanti gue jelasin." jawabnya. "udah selesai makanya?" kemudian dia beralih pada ketiga anaknya yg menggeleng.
"Denger ribut ribut tadi jadi kita pending dulu makanya." jawab arsen mewakili dua saudaranya.
"ya udah, kalian lanjut makan lagi gih. Zel gak mau join? Lo belum sarapan pasti?" Quenzel mengangguk lalu menyusul aeris dan ketiga ponakanya menuju meja makan.
Quenzel makandengan lahap menikmati masakan aeris yg tidak pernah berubah setelah sekian kali dia memakan masakan sahabatnya itu. Malah sekarang tambah enak masakanya.
"lo masak gak pernah gagal. Ae, mau gue bukain restoran gak? Lo punya skill masak yg Imvressive tau gak" tawar Quenzel.
Aeris menggeleng. Sudah sering sekali sahabatnya menawarinya untuk membuka restoran atau kafe setiap gadis itu memakan masakanya. Padahal masakanya biasa aja menurutnya. "gue menolak untuk kesekian kali nya."
"Kesekian kalianya" monolog arsen. "jadi aunty udah sering nawarin bunda dong?" Quenzel mengangguk.
"Setiap kali aunty makan masakan bunda kalian tuh selalu aunty tawarin tapi dia nya aja selalu nolak. Pas aunty tanya alasan dia bilang gak ada alasanya. Aneh kan? Padahala kalau bunda kalian buka restoran atau kafe pasti laku keras."
Aeris menggeleng mendengar ucapan Quenzel. Dia memang tidak punya alasan juga tidak berniat untuk membuka resto atau kafe.
"Bunda bangunin Daddy kalian dulu." Ujarnya. Selain tertunda membangunkan bosnya itu. Aeris juga menjadikan alasan untuk membangunkan biyan untuk menghindari berbagai pertanyaan yg akan dilayangkan oleh Quenzel padanya.
"Lah, emng bunda belum bangunin?" tanya Ai. Di jawab gelengan singkat dari aeris.
Quenzel menghentikan makanya.melihat sahabat satu satunya itu berjalan keluar dari ruang makan. Membangunkan abangnya? Jadi masuk ke kamar abangnya dong? Wah, sudah sejauh mana hubungan abangnya itu dengan aeris. Setahunya, ada ruangan privasi milik biyan di mansionya, pertama ruang kerja, keduan kamar pria itu. bahkan Quenzel yg merupakan adik kandung biyan baru sekali mask kamar abangnya. Itu pun darurat.
"Bunda kalian sering bangunin daddy kalian?" tingkat penasaranya meningkatkan. Ok, dia berubah menjadi detektif dadakan sekarang.
Ketiganya mengangguk. "gak sering sih, kalau daddy minta di bangunin atau telat sarapan kaya gini bunda bangunin." jawab arsen.
Quenzel manggut manggut. "udah berapa lama kalian deket dengan sahabat aunty?"
"dua bulan mungkin. Maybe" sekarang ai yg jawab di sela mengunyah makananya. Jika di lihat aeris dia pasti di tegur dengan lembut.
__ADS_1
"udah lama berarti." jeda sebentar. Quenzel kembali memasukan sesuap nasi goreng ke mulutnya. "cerita nya kalian ketemu sama bunda kalian gimana sampai bisa manggil bunda gitu?"
Sambil makan. Aro mulai menceritakan awal dia bertemu kemudian di sambung arsen dan ai yg ikut menyela. Quenzel manggut manggut mengerti. Dia tersenyum kecil setelah ketiga ponakanya bercerita. Tidak salah biyan dan buntut buntut nya sangat menempel bak prangko pada sahabatnya itu, emang sejak pertama kali berkenalan, aeris adalah pribadi yg lembut dan keibuan. bahkan di umurnya yg masih muda gadis itu sudah berpikir dewasa tidak sesuai umurnya.
Tinggalkan Aunty dan keponakan di meja makan yg sedang bergosip ria, kita beralih pada aeris yg jengah pada biyan yg terus memeluknya bahkan kembali tertidur setelah di bangunkan.
"Pak bangun napa? Udah mau jam tujuh." Aeris menepuk pelan pipi biyan, biasanya cara ini cukup ampuh untuk membangunkan pria itu tapi sepertinya gagal karna biyan tidak tetbangun.
"Weekend saya mau tidur lagi. Saya baru tidur pukul empat tadi." biyan bergumam di dekat telinga aeris membuat gadis itu geli.
"Ya udah kalau bapak mau tidur lagi, tapi lepasin dulu pelukanya." pinta aeris.
Pria itu menggeleng dan semakin mengeratkan pelukanya. "saya susah tidur, kalau peluk kamu jadi ngantuk."
Aeris berdecak kesal. Katanya susah tidur tapi kok di bangunin gak bangun bangun? Itu namanya susah tidur? Susah bangun namanya!
"pak lepasin gak, di bawah ada sahabat saya. Gak enak ninggalin anak anak."
Biyan membuaka paksa matanya yg tinggal satu watt. "saya tidak pernah mengijinkan orag lain masuk ke dalam mansion ini kecuali keluarga saya." geram rendah biyan.
biyan mengernyit "siapa?"
"Quenzel" jawab aeris
Sekarang giliran biyan yg berdecak. Mau apa lagi adiknya itu datang ke mansionya?
"pak, lepas ya, saya belum sarapan loh ini." Aeris terpaksa menunjukan wajah melasnya. Dia tidak berbohong, cacing di dalam perut nya berdemo meminta makan.
"nanti saja, saya juga belum sarapan, sekalian aja kali kan saya sudah bangun." lagi, biyam memejam kan matanya dan menenggelamkan wajahnya di leher aeris. Menghirup aroma menenangkan aeris.
Ingin rasanya aeris ceburkan bosnya ini di kolam ikan hiu. Kalau begini caranya dia hanya bisa pasrah, mengancam pun tidak mempan, dia sudah mencoba berbagai macak ancaman tapi bukan biyan takut, pria itu malah mengancam balik. Asem emang.
Tanpa sadar aeris menguap dirinya tiba tiba mengantuk padahal semalam dia tidur lebih awal. Sebelum benar bemar terlelap, Aeris harap ketiga anaknya ataupun sahabatnya tidak nyelonong masuk ke kamar biyan.
\*\*\*\*
__ADS_1
Aeris sungguh tertrkan saat ini. Bukan karena ketiga buntut biyan tetapi si bapak lah yg sekarang ini tengah menguji kesabaranya.
Setelah sarapan menuju siang bersama biyan tadi. Pria itu terus saja nemplok padanya, tidak ingin lepas seperti lintah.
Quenzel dan ketiga buntut biyan meninggalkanya untuk hang out dadakan karena tidak keluar keluar dari kamar biyan. Mumpunh Weekend ya kan? Aeris merutuki dirinya sendiri. Bisa bisanya dia ikut tertidur juga. Malah seranjang lagi dengan biyan.
Aeris ingin menangis saja rasanya. ***Firt time*** masalahnya untungnya tidak di \*\*\*\*\* \*\*\*\*\* sama si duda.
"pak, saya mau *H**ang* out juga." rengek aeris, siapa tau kan dia bisa hang out juga.
Satu alis biyan terangkat. Menatap wajah memelas gadis itu dari bawah karena dia tiduran di pangkuan aeris.
"Pak, masa saya cuma ndekem di mansion aja." sekarang gadis itu mengeluarkan jurus anadalanya, ***Puppy eyes*** nya.
Biyan meenutup mata dengan satu lenganya. Tidak tahan dengan wajah menggemaskan aeris. Sebenarnya biyam tidak mau kemana mana sekarang. Dia Mager.
Jujur, biyan hanya ingin diam di mansion bersama aeris, tidak ingin kemana mana. Dia hanya ingin bermanja manja pada gadis itu tanoa gangguan ke tig buntut ny.
Tapi dia harus keluar dari Zona mager nya setelah mendengar decakan kesal dari aeris."Mau banget" Aeris mengangguk.
"Huftt.." biyan mengalah dia bangun dari baringnya dan duduk di samping aeris. "siap siap sana, kita hang out juga." suruhnya.
Mata aeris berbinar. "beneran pak?" biyan mengangguk malas. "cepetan, sebelum saya berubah pikiran."
Aeris langsung ngacir menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Gadis itu tidak melunturkan senyumanya sejak tadi saking senangnya.
Aeris memilih beberapa baju yg di lemari. Matanya tertuju pada Louis pants crem dan crop top dengan warna senada. Setelah itu dia memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis agar tidak tetlihat pucat.
\*\*\*\*
__ADS_1