
Aro dan Arsen menatap takut takut pada aeris yg kini menampilkan wajah datar nya.
Lionel tersenyum licik, dikiranya dia tidak memegang segala keusilann si kembar saat di sekolah yg membuat para guru guru ingin menendang mereka karena saking usil nya.
"satu sama"
"bagus ya." aeris bersandar di kursi kemudian menyilangkan kedua tanganya. Menatap tiga anak bujangnya yg ternyata sangat bandal di belakangnya.
"coba jujur sama bunda. Twins, apa lagi keusilan kalian di sekolah." aeris menatap tajam Aro dan Arsen. Jika aeris sudah memanggil mereka dengan kata "twins" maka gadis itu sudah masul dalam mode serius.
Lionel tersenyum senang melihat kedua bocah kembar tapi tidak botak itu menunduk takut saat aeris menatap mereka menuntuy jawaban.
"lio juga, mama juga mau denger kamu nakalnya apa di sekolah?"
Lionel memudarkan senyumnya dan menunduk sama seperti Aro dan Arsen. Dia bergidik takut saat mamanya itu menatapnya dengan tatapan datar tapi mengintimidasi.
"kenapa gak di jawab? Gak mau jujur sama bunda? Atau mau di pecat jadi anak bunda?"
"BUNDAAAA.."
"MAMAA.."
Aeris mengankat satu alisnya. "mau jujur apa ngk? Bunda gak suka sama anak nakal dan suka bohong."
Aro, Arsen dan Lionel menatap takut takut pada aeris. Jujur, aeris jika sedang serius atau marah, aura tak biasanya menguar. Membuat lawan bicara nya tak berkutik.
Buktinya biyan selalu kalah debat dengan aeris.
Aeris menghembuskan nafas pelan, raut wajah nya yg tadi serius berubah lembut dan tersenyum tipis. "kalian ke ruang tengah gih nanti bunda nyusul" gadis itu lalu membereskan alat makan mereka kemudian membawa ke wastafel untuk di cuci.
Mengangguk serempak. Ketiga bujang aeris berjalan patuh menuju ruang tengah, menunggu aeris selesai cuci piring.
"makanya jangan cepu jadi orang, di sidang kan kita sama mama." lionel menatap sengit si kembar tapi tak botak yg duduk di samping nya
Aro dan Arsen tentu membalas menatap tajam lionel. "mama, mama, sejak kapan bunda jadi mama lo." ucap Aro. Sisi julid nya mulai kumat
"lo tuh gak di ajak" sekarang arsen yg menyahut
Lionel diam. Raut wajah nya yg tadi kesal berubah menjadi datar juga tatapan matanya yg semula sengit kini berubah sendu.
__ADS_1
"salah ya kalau gue mau ngerasain kasih sayang seorang ibu?" lionel menatap twins yg kini bungkam.
"gue juga mau ngerasan rasanya punya ibu. Walau perempuan itu bukan ibu kandung gue. Gimana rasanya di peluk, di perhatiin, walau sebentar." senyum tipis terpatri di wajah rupawan lionel.
"lio-"
"gak usah pasang muka kaya gitu, btw makasih udah pinjamin bunda kalian. Gue udah tau rasanya punya ibu walau sebentar." lionel beranjak dari sana.
Baru berapa langkah lionel berjalan. Kerah bajunya di tarik oleh arsen, memaksa cowo itu kembali duduk hingga tubuhnya terasa sesak karena pelukan dari Arsen dan Aro dari kiri dan kananya.
"sorry" cicit Aro dan Arsen bersamaan. menyesal dengan perkataan mereka tadi.
Dia baru sadar lionel lebih menderita dari mereka. Jika mereka masih punya daddy yg memperhatikan mereka, lain lagi dengan lionel yg baru berada dalam kandungan saja sudah tidak di harapkan oleh kedua orang tuanya.
Sejak kecil lionel tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Karena saat dia lahir ke dunia, dia langsung di asuh oleh kakek nenek nya. Karena orang tuanya berpisah dan hidup dengan keluarga baru mereka masing masing tanpa peduli dengan lionel yg merupakan hasil dari kesalahan mereka.
Lionel tertawa pelan melihat wajah memelas sahabat kembar nya itu. Cowok itu melepas paksa pelukan keduanya, dia susah bernapas karena pelukan keduanya sangat erat.
"nelangsa banget muka kalian..hahah" tawa langka lionel akhirnya menggema di ruang tengah itu. "gak usah peluk peluk gue ya, geli" peringatnya saat Aro dan arsen hendak jahil memeluknya lagi.
"sorry, gue gak bermaksud tadi." tetnyata aro masih membahas permasalahan tadi.
"bunda mama lo juga" ralat aro cepat
Lionel mengangkat satu alisnya. "beneran?"
Twins mengangguk. "ingat kita masih saudara nel" ucap arsen mengingatkan hubungan mereka
lionel kembali tertawa. "luoa gue kalo kita sepupu."
Saat Aro,Arsen dan Lionel sibuk satu sama lain. Tidak jauh dari mereka aeris berdiri dan menyaksikan semuanya. Juga sebuah fakta yg membuatnya menatap sendu pada lionel.
"udah selesai berantemnya?" aeris menghampiri mereka berhasil mencuri atensi ketiga putranya.
"mama.."
"bunda.."
Mereka bertiga langsung memeluk aeris setelah sampai di depan mereka.
__ADS_1
"udah siap main jujur jujuran" tanya aeris semangat
Sedangkan Aro, Arsen dan Lionel menatap melas pada aeris
"masa buka kartu sih bun" cicit aro
Tak di hiraukan oleh aeris
"mulai dari siapa dulu nih?" tanya aeris menatap ketiga anak bujangnya.
Arsen,Aro dan lionel saling tattap kemudian saling nunjuk menunjuk di ikuti bacsound decakan dan umpatan dari mereka bertiga.
"ekheemmm.."
Ketiganya terkekeh pelan membalas tatapan sengit aeris. "lio dulu lah bun, dia kan abang." aro memberi saran.
Lionel sontak melotot tidak terima. "enak aja. Seharus nya lu kan lu yg paling muda."
"dalam sejarahnyabtuh yg paling tua yg selalu ngalah." balas aro
"ngarng lo bocah!"
Melihat perdebatan aro dan lionel yg tidak ada ujungnya, lantas aeris menghentikan perdebatan unpaedah itu. "ssstttt... Udah malam, gak boleh terlalu ribut, nanti bu asih sama tetangga sebelah keganggu." peringat nya
"jadi siapa dulu nih mah?" tanya lionel
Aeris tersenyum tetapi mata nya bergulir dan berhenti pada arsen. Sednagkan cowok itu menatap was was bundanya
"arsen" tunjuk aeris.
Arsen yg di tunjuk mau tidak mau menghela nafas gusar kemudian mendekati bundanya, menumpangkan kepala nya di paha aeris dengan pisisi duduk. Memang hanya aeris yg duduk di sofa, ketiga nya duduk bersila.
"dari mana dulu nih bun?" tanya arsen
"malakin adek kelas sama jahilin guru." ucap aeris
Sebelum menceritakan semuanya arsen mengatur pernapasan nya terlebih dulu. "jadi gini bun"
"pak tatanh itu guru matematika yg ngajar di kelas Arsen,Aro sama Lio. orangnya nyebelin masuk kelas cuma ngasih tugas tanpa menjelaskan caranya. Terus keluar ngapelin guru guru muda. Gimana gak kesel coba, orang kita ke sekolah buat belajar, bayar mahal mahal tapi dapat guru yg modelan kaya gitu. Secara gak langsung pak tatang korup gaji dong, kan gak memenuhi kewajibanya sebagai guru. Karena kelakuanya semakin menjadi ya sekalian aja kita jahilin ya ga pa pa kan bun." Arsen menjelaskan terselip dendam pada guru botak wajah pas pasan itu, siapa lagi kalau bukan pa tatang.
__ADS_1
***