Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
bab 26


__ADS_3

Bu asih yg berada di sampinh aeris mendengar semua percakapan antara gadis itu dan biyan. Lucu juga dengan biyan yg irit bicara pada orang lain tapi jika dengan aeris, hilang sudah tembok oembatas yg dia pria itu buat


"pak biyan ternyata bisa ngomng panjang juga ya ris, kalau sama kamu." bu asih terkekeh sambil menyuapi aeris


Aeriw hanya tersenyum singkat menanggapi. "itu tandanya kamu spesial bagi dia, dari cara memperkakukan kamu beda banget sama cara dia memperlakukan orang lain." ucap bu asih


Aeris diam, apa dia benar benar istimewa bagi biyan? Dia kira perasaan suka dan ungkapan cinta pria itu hanya karena tidak lagi mendapatkan perhatian dari seorang perempuan setelah kegagalan rumah tangga nya.


Aeris sangat positif thinking bukan?


***


Markas eagle


Pukul 14.00


Bunyi pesan aro mengalihkan perhatian beberapa orang yg berada dalam salah satu ruangan di markas utama geng besar itu.


"ro hp lu tu.. Matiin gih, ganggu" kata cowo berambut sebahu yg tengah mengikat rambutnya. Memberitahukan pemilik hp agar segera mengangkat panggilan telponya.


Sedangkan pemilik hp berdecak kesal karena kegiatan bermain game nya terganggu. Setengah kesal, dia mengangkat panggilan itu tanpa melihat namasi penelpin terlebih dulu.


"ck..apa?" sentak nya kesal


"kamu bentak daddy?" suara dengan nada datar milik seseorang berhasil menekan emosi biyan.


Mampus! Terancam ooting uang jajan ini!


"ehhe..sorry dad kirain aro siapa. Kenapa? Tumben telpon " tanya nya


"bunda kamu sakit, kamu-"


"HAH..BUNDA SAKIT APA, UDAH DI BAWA KE RUMAH SAKIT BELUM?" Aro bertanya panik membuat seluruh atensi orang orang yg berada di ruangan itu tertuju padanya.


Arsen yg mendengar bundanya sakit pun berjalan menghampiri kembaranya dan mengambil alih ponsel yg di pegang aro.


"Halo, dad. Sekarang bunda dimana?"

__ADS_1


"masih di rumah nya, kalian udah pulang sekolahkan?"


Arsen mengangguk "sudah dad"


"baguslah, sekarang kalian ke rumah bunda kalian. dia sendiri, pulang kantor daddy langsung kesana." setelah itu biyan langsung memutuskan sambungan teleponya


"bunda sakit apa?" tanya aro penasaran


Arsen mengendikan bahu tanda tidak tahu. Lantas cowo itu langsung mengambil tasnya dan keluar dari sana.


"woii..tungguin!" teriak aro kemudian menyusul kembaranya itu.


Baru beberapa langkah aro berjalan. Kerah belakangnya di cekal oleh salah satu cowo di sana. "jelasin dulu ro, daddy lu nikah lagi, kapan?"


Aro mendengus kesal kemudian menepis tangan temanya itu agar melepas tarikanya. Dia tercekik ini. "enggak, kalo kalian oenasaran ikut aja nanti di jelasin." kemudian berjalan cepat pergi dari sana.


"arsen kampret. Gak inget apa gue mau nebeng.ck" aro semakin kesal saja saat keluar dari markas, dia tidak menemukan lgi arsen


Sedangkan di belakangnya tiga cowok menyusulnya, kemudian naik ke motor masing masing.


***


"bunda?" panggil arsen pelan.menyembulkan kepala nya di kamar aeris.


Di sana sosok yg di cari nya tengah terlelap dengan kompres penurun panas. Di dahi dan di wajah pucat nya yg sangat kentara.


Aersn berjalan pelan menghampiri sang bunda yg tidak terganggu sama sekali dengan keberadaanya, bahkan saat dia menggenggam lembut tangan aeris. Gadis itu tidak terbangun sama sekali.


Mata arsen merah berkaca kaca. "pasti bunda sakit karena kecapean ngutusin kami bertiga ya?. Maaf bunda, Aro, Arsen dan Ai ngereotin bunda sampai sakit gini." lirihnya sesal


Ingatan arsen kembali pada seminggu yg lalu, dimana aeris yg begitu sibuk namun cekatan mengurus mereka. Bahkan pernah sekali dia mendapati aeris tertidur


Lelap namun terganggu oleh Ai yg lapar dan ingin di buatkan makanan. Bukanya menolak, gadis itu membuatkan makanan untuk si bungsu keluarga millan tanpa mengeluh atau protes.


Aeris hanya berkaya, "tunggu sebentar ya cantik" hanya itu yg aeris katakan tidak lupa dengan nada lembutnya padahal saat itu wajah gadis itu terlihat sangat lelah dan pucat.


Bukan hanya itu,aeris menyanggupi permintaanya dan aro untuk selalu di buatkan makanan. Melupakan kalau aeris sudah lelah, padahal bisa saja mereka membuat sarapan sendiri. Namun raut menenangkan dan senyum tulus gadis itu berhasil menyembunyikan keadaanya yg sebenarnya kurang baik.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara ribut dari luar, tak lama derap langkah kaki beberapa orang mulai mendekati dan tertahan di pintu kamar milik aeris.


"bunda" aro berjalan pelan dan duduk di samping kembaranya


CUP!


Mengecup pelan sudut mata aeris. Perlahan aeris terbangun dan menatap dua orang remaja yg juga menatapnya dengan tatapan sendu.


"loh, Arsen Aro." suara serak tapi terkesan lembut menyapa gendang telinga mereka. Bahkan ketiga cowok yg masih setia berdiri di muka pintu kamar aeris tertegun mendengar suara gadis itu.


"bunda" tidka tahan lagi Aro dan Arsen langsung memeluk aeris sedikit erat, menumpahkan tangis dan rasa bersalah mereka. "maaf"


aeris tentu mengernyit. "kenapa minta maaf?"


Arsen maupun Aro sedikit mendongak dengan wajah memerah terutama mata dan hidung mereka sangat menggemaskan. "karena kita, bunda sakit." kata aro parau


Aeris mengerti sekarang. Dia terkekeh pelan kemudian menghapus air mata kedua bujangnya yg tiba tiba menjadi seperti anak kecil.


"bukan karena kalian bunda sakit, karen emang udah waktunya aja bunda sakit. Gak mungkin kan bunda sehat terus hm."


"tapi ga-gara ga-gara kam-"


"sstt..gak ada yg salah disini, oke. Gak perlu menyalahkan diri sendiri terus, bunda gak suka." ujar aeris sambil mengelus kepala mereka berdua


Sedangkan di ambang pintu, tiga orang dengan ekspresi berbeda beda menatap tepat pada aro dan arsen yg tengah merengek bahkan sesenggukan.


"shock gua." bisik cowo berambut panjang itu


Cowok dengan kaca mata yg terbingkai di wajah tampan nan manisnya itu mengangguk. "kaya anak kucing anjeer mereka." balasnya sambil bergidik pelan


Sedangkan satu cowok lagi dengan pakaian bernatakan dan bandana yg berada kepalanya menatap datar kedua temanya yg sednag berbicara pada gadis yg di panggil dengan sebutan "bunda" kemudian berubah senduh saat melihat perhatian dan wajah teduh gadis itu. Aura tulus dan keibuan benar benar terpancar.


Dari ekor matanya, aeris menatap siluet orang orang yg berdiri di ambang pintu. Dia menoleh dan tersenyum melihat tiga orang remaja seumuran kedua putranya berdiri mematung di sana.


"eh kalian ngapain di sana? Sini masuk." ucap lembut aeris.


"Mama"

__ADS_1


****


__ADS_2