Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
part 17


__ADS_3

    Biyan menatap datar dua pria di depanya yg sial adalah sahabatnya. Dua sosok gila yg menurut biyan, mereka jugalah dalang di balik pemaksaan anak-anaknya untuk mencari ibu baru untuk mereka.


     Alael dan Haran bebas menggoda biyan setelah gadis yg merupakan sekertaris pria itu ijin membawa Ai ke kamar pribadi biyan. Setelah kepergian Aeris, semakin menjadilah tingkah pria itu.


    "kalau kalian disini hanya untuk menggangguku lebih baik pergi dari pada kuseret sekarang juga." Ancam biyan


   Apa pria itu takut dengan ancaman biyan? Jawabanya tentu saja tidak. Setiap ancaman biyan menurut mereka hanya seperti bualan anak kecil.


    saking tidak pedulinya dengan biyan yg mulai naik tanduk, dua pria itu menyusul sekertaris biyan masuk ke dalam kamar khusus di ruangan biyan .


    Alael yg hendak membuka pintu terdorong kebelakan karena sebuah tarikan di kerah belakang jasnya hingga tetseret keluar dari ruang kerja milik pria itu, begitupun dengan nasib haran. Pria itu sudah seperti anak kucing yg di seret induknya.


    "janagn merecoki sesuatu yg ku anggap privasi atau hanya kepala kalian saja yg sampai ke rumah." ancam biyan lagi sebelum menutup pintu dengan kencang.


     BRAAKKK


   Alael dan Haran saling tatap. Seakan berbicara melalui telepati, keduanya terkekeh geli melihat tingkah sahabat mereka tadi.


   "Mau taruhan" Tantanh Alael


  Haran mengangkat satu alisnya. "Siapa takut."


   ****


      Suasana di mansion keluarga millan tampak riuh dengan ocehan tuan dan nona muda didalam nya aeris di buat bungkam. Dengan tingkah di luar nalar mereka bertiga. Seperti berseluncur menuruni tangga dari peganganya, membantu aeris menanam bunga di taman belakang mansion yg ketiganya malah berakhir main lempar tanah, menggoreng ikan kesayangan biyan hingga pria itu murka bukan main tapi ketiganya hanya menganggap angin lalu kemurkaan daddy mereka. Dan masih banyak lagi tingkah ke tiganya yg membuat aeris depresot bahkan para maid dan bodyguard di sana pun ikut merasakan apa yg di rasakan aeris.


    "Biar bunda dan oara bibi yg masak, kalian tinggal duduk atau cari kesibukan lain. Kalau gak nurut bunda pulang." ancam aeris sambil memegang spatula di tanganya.


    Kejadian bermula setelah Aro, Arsen dan Ai yg baru selseai di ceramahi oleh biyan selama dua jam karena kasus menggoreng ikan kesayangan biyan. Kemudian ketiganya hendak membantu aeris memasak tetapi di tolak mentah-mentah olehnya, takut mereka berbuat semakin parah. Membakar dapur semisalnya.

__ADS_1


   Dengan langkah lesu dan gontai, ketiganya pun menuruti perkataan aeris, bejalan ke ruang tengah dimana ruang tengah berada.


   Aeris terswnyum riang dan mulai bergabung dengan para maid yg bertugas memasak. "Ayo bi, kita mulai. Mereka udah pergi hehe."


   Bi anah, selaku kepala maid menggeleng pelan melihat tingkah aeris. Benar benar gadis yg periang, berbeda dengan mantan nyonya mereka yg kerjanya hanya marah marah setiap hari.


    Bi anah pun mulai menjelaskan apa saja yg akan mereka masak untuk menu makan malam mereka malam ini. Setelah menentukan beberapa menu manakanan. Mereka mulai membagi pekerjaan dan aeris mendapatkan bagian meracik bumbu masakan.


    "Rasanya enak banget non." puji salah satu maid setelah menyicipi beberapa masakan yg telah tersaji.


   Aeris tersenyum lembut. "Syukurlah, kalau gitu tinggal di hidangkan." para maid yg ada di sana mengangguk.


     Mereja yg nelihat betapa cekatan nya aeris dalam melakukan sesuatu berhasil memukau mereka di hari pertama di mansion untuk pertama kali.


   Aeris yg ramah, murah senyum dan ahli di hampir semua bidang membuat mereka takjub. Tetapi yg menjadi nilai plus gadis itu di mata mereka ketulusan dan kerendahan hati gadis itu saat berbaur dengan mereka.


   seperti kejadian seminggu yg lalu saat buah mangga di taman belakang mansion sudah banyak yg masak. Mereka sama sama memanen manga mangga itu dan menyantap nya bersama-sama di taman belakang sore itu. Dan berkat hadirnya aeris di mansion keluarga Millan, jarak antara majikan dan pekerja sangat kental kini berubah seperti mereka keluarga besar. Aeris berhasil menghilangkan stigma majikan yg semena-mena dan pekerja yg tertindas di mansion itu.


   Berbeda dengan si kembar yg tidak terlalu menampakan keantusiasanya, tetapi di dalam hati mereka bersirak senang karena bukan hanya makanan kesukaan Ai yg ada di atas meja tetapi makanan kesukaan mereka juga ada.


    Seperti biasa, Aeris melayani ketiga anaknya itu dengan mengambilkan makanan dan minuman kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


   Merasa ada yg hilang, Aeris tanoa sadar menepuk dahinya mengaluhkan perhatian ketiga anaknyayg sedang makan.


   "Kenapa bun?"


   "Daddy kalian mana?" Lagi, kejadian seperti ini kembali terjadi dimana biyan tidak ikut makan malam bersama.


   "Masih berduka kali bun, ikanya wafat di goreng abang." kata Ai tidak lupa menyindir para abangnya.

__ADS_1


   Aeris tidak habis pikir dengan kelakuan keluarga ini. Aeris beranjak menuju lantai tiga, letak kamar si pemilik rumah berada. Beruntung dia belum sempat makan tadi.


   Namun baru beberapa langkah berjalan. Suara teriakan berhasil mengejutkan aeris dan orang orang yg berada di sekitar dapur.


    "kamu siapa?"


Aeris terkesip saat sudah berada di anak tangga pertama, seorang gadis berteriakndan berhasil mengejutkanya.


"Eh" gadis itu terkejut saat aeris berbalik.


Sama hal nya dengan aeris, gadis itu terkejut saat melihat sosok gadis yg meneriakinya tadi. "Quenzel?" gumamnya.


Gadis yg berdiri tidak jauh dari aeris berada kembali berteriak dan kini gadis itu berlari ke arahnya aaaa...Aeris! Lu kemana aja setahun ini anjeer setelah lulus Los contac heh" cerocos nya.


Aeris masih terdiam mencerna apa yg terjadi. Dia diam saja saat di peluk Quenzel. Sahabatnya sejak SMP sampai kuliah.


"Heh, denger gue ngomong gak sih?" sentak Quenzel sambil melepaskan pelukanya. Dia mengeryit heran melihat sahabatnya bengong seperti orang kesurupan. "Ae, napa lu?" dia menepuk bahu gadis itu.


Aeris tersentak kemudian menggeleng. Shock saja kenapa sahabatnya bisa berada di rumah biyan. "lo kenapa bisa ada disini?"


Quenzel mengernyit, Seharusnya dia yg bertanya seperti itu kepada aeris. "mau ketemu ponakan ponakan gue. Lah lu ngapain bisa ada di sini? Pertanyaan gua yg tadu juga belum lu jawab."


Aeris bingung. Keponakan? Keponakan siapa? Jangan bilang keponakan yg Quenzel maksud adalah Aro, Arsen dan Ai. Mampus dia!.


"Heh, napa bengong lagi sih lu?" Lagi, Quenzel menepuk bahu sahabatnya itu tetapi sedikit lebih kencang.


"Gue.." Aeris bingung mau menjawab apa. Dari mana dulu dia menjelaskan pada sahabat nya ini?


"Dia, Bunda kami aunty." ucap Ai. Gadis kecil itu berada di pintu ruang makan bersama kedua abangnya.

__ADS_1


"Hah?" Quenzel menganga tak percaya. Sejak kaoan abang kulkasnya menikah? Dekat dengan perempuan saja tidak pernah selepas berceraianya dengan si Ex wife. Saking tidak pernahnya dia melihat biyan dekat dengan perempuan hingga dia meragukan orientasi seksual abangnya itu.


****


__ADS_2