
"siapa lo ngomong kasar gitu ke tunangan gue?" itu bukan suara biyan melainkan Aletha yg sudah berdiri menampakan senyum sombongnya.
Anneth tersenyum miring "gue sepupu biyan, cowok yg lo gelendotin tadi, mau apa lo?" sentaknya
"yang" yakin dia sepupu kamu?kok jelek" tanya Aletha pada biyan sambil melirik Anneth dengan tatapan merendahkan.
Emosi anneth sudah berada di ubun ubun. Aeris sedari tadi menarik tubuh wanita itu untuk keluar dari ruangan biyan tanpa melihat pria itu yg menatapnya panik. Mengabaikan aletha yg sudah kembali gelendotan di lenganya.
"mbak, udah ya. gak usah di ladenin" Aeris berbisik pelan
"gak bisa ae, harga diri gue di injak sama tuh si nenek sekop" seru anneth
Aletha melotot kesal. "siapa yg lo sebut nenek sekop hah?"
"ngerasa lo? Tersindir, Alhamdulillah" sahut Anneth tajam. "gak papa deh gue jelek, tapi lo cantik kok murahan. Berapa lo di bayar per malam? Lima puluh? Seratus? Gak berkelas banget lo jadi ******"
"gue bukan ******!" wajah aletha sudah memerah menahan marah dan rahasianya terbongkar. "sayang...hiks..aku bukan ******." adunya pada biyan
"halaahh! Pintar juga lo ya ngedrama? Yakin lo tunangan biya ? Mimpi lo tinggi banget sampe luar galaksi" cibirnya merendahkan lalu dia menatap tajam biyan. "selesaiin dulu masalah lo tuh sama anak anjing, kalau belum clear, Aeris gue tahan, jadi cowok kok letoy banget." setelah keluar sumpah serapahnya. Dia kelùar dari ruangan biyan dengan membawa aeris bersamanya.
Saat berada di ambang pintu, Anneth berhenti menatap penuh permusuhan ****** berkedok model itu yg menampilkan senyum penuh kemenangan ke arahnya. "and you" tunjuk nyanpada Aletha "**** you *****"
Sreettt...
Bughh
"aaarkkhh"
Satu lemparan high heels berhasil head shoot mengenai kening aletha hingga mengeluarkan darah. "gue harap jidat lu bocor asu!"
"Bye *****!"
Sepanjang jalan menuju kafe depan perusahaan, selama itu pula lah mulut Anneth menyumpah serapahi Aletha dan Biyan.
"istighfar, mbak" peringat aeris sambil tangan gadis itu mengelus pundak Anneth.
"gue kristen ae" kata Anneth tertawa pelan.
"eh, lupa hehe"
Setelahnya tidak ada percakapan lagi, seorang waiters datang menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan. Aeris dan anneth memilih beberapa menu terbaru kafe ini.
"sepuluh menit di tunggu ya kak pesananya" kata waiters itu
"iya, makasih mas"
Sekitar lima menit mereka sibuk dengan benda pipih di tangan masing masing hingga anneth kembali bersuara.
"ae?"
__ADS_1
"iya mbak?"
"gue mau nanya, tapi agak privasilo dikit sih, boleh gak?" tanya Anneth
Aeris menganggik. "boleh aja, mau tanya apa mbak?"
"si biyan udah pernah nyatain perasaanya belum ke lo? Secara kan hampir empat bulan ini tuh kalian deket banget. Sampe tuh duda berubah jadi tolol tuh gue liatny." pertanyaan Anneth menundang tawa dari sosok yg di tanyainya.
"udah pernah kok mbak" Aeris menjawab santai
Tapi sekarang Anneth yg tidak santai. "kok lo sesantai itu si sama si cabe keriting?"
Aeris mengernyit. "maksudnya mbak?"
"lo gak cemburu? secara tuh si cabe kriting meluk biyan." Anneth bertanya dengan nada menggebu gebu saat mengingat wajah songon Aletha tadi.
Aeris menggeleng santai. "ngapain cemburu?"
"kan biyan udah nyatain perasaanya sama lo, atau emang lo belum ada perasaan gitu sama tuh duda?" pertanyaan Ammeth kian membludak
Aeris memilih diam sebentar memilih kata yg tepat untuk menjelaskan oada Anneth. "mas biyan emang udah nyatain perasaan nya ke aku tapi kan aku gak pernah ngomong apa apa setiap dia bilang suka dan juga perasaan aku ke mas biyan hanya sebatas sayang mbak." dia menjelaskan dengan full senyum.
"soal perempuan tadi yg tiba tiba meluk mas biyan. Aku gak ada hak buat larang dia karena apa? Pertama. Aku gak oernah balas perasaan mas biyan.kedua, aku anggep perlakuan mas biyan ke aku tuh mungkin karena efek dia menduda lama kali ya. Ke tiga, pantang cemburu buat aku, selama gak ada status apapun" jelasnya panjang lebar.
Anneth menganga tak percaya. "lo serius kan sama ucap lo barusan? Sadar kan lo ngomng apa tadi?"
"iya mbak, aku sadar, astaga aku bukan tipe cewek yg di baperi sedikit langsung luluh. Baru kena omongan manis laki laki langsung klaim cowok itu suka sama dia terus kalo ada cewek yg deketin cewek itu malah marah marah karena cemburu gak jelas, padahal mereka gak ada hubungan apa apa."
"lu langka ae!" Anneth refleks memuji aeris karena pemikiran gadis itu yg terlampaui positif.
"kalau misalkan nih ya, misalkan, tuh cabe kriting jadi istrinya biyan, reaksi lu gimana?" pancing Anneth
"gak kenapa kenapa, emang nya aku harus kasih reaksi gimana?" Aeris menjawab polos
Sangat positif thingking bener nih anak!!
"kayaknya mbak punya dendam pribadi ya sama Aletha?" kata aeris terkikik geli dan berhasil menyulut kembali emosi Anneth
"banget! Bisa bisa nya tuh cabe kriting lupa sama gue, sebelum lo ketemu sama biyan, tuh duda sama cabe kriting menjalin hubungan semacam pacaran lah karena sifat nya kaya orang baik baik. Tapi setengah tahun mereka pacaran, biyan langsung putusin tuh cabe karena ke gep selingkuh di apartemenya. Lontay bener" Anneth bersungut sungut menceritakan sosok Aletha si cabe kriting itu pada Aeris.
"terus masalah nya mbak apa?" aeris masih tidak mengerti, yg dia tangkap dari cerocosan Anneth hanyalah Aletha mantan pacar biyan.
"yg ngasih tau biyan tuh cabe keriting selingkuh tuh gue, malah pas ketahuan mau buat anak lagi ckk."
"ooohhh"
"tapi Aletha cantik loh mbak, tinggi, kayak model lagi" entah ada angin apa aeris memuji sosok seperti Aletha
"lo gak sakiy kan ae, malah muji tuh cabe?" Anneth menempelkan punggung tangan nya pada dahi Aeris
__ADS_1
"enggak mba, tapi ada yg kurang sama Aletha"
Anneth mengangkat satu alisnya. "apa?"
"dia kayanya salah milih warna bedak deh, soalnya. Muka sama leher nya gak sama warnanya. Kaya zebra" kata aeris polos. Jangan lupakan wajah watados nya saat gadis itu meroasting Aletha.
Sedangkan Anneth? gadis itu sudah terbahal di tempatnya.
HELION CORP, RUANGAN CEO
Setelah kepergian Anneth dan Aeris, biyan melepas paksa tangan Aletha dari lenganya.
"keluar!" nada dingin pria itu berhasil membuat Aletha ciut. Tidak seperti tadi yg bebas menyunggingkan senyum sombongnya pada Aeris dan Anneth.
"biyan aku mau-"
Satu tangan biyan terangkat untuk memotong perkataan Aletha
"sudah saya bilang bukan, saya tidak suka dengan wanita yg suka berselingkuh" biyan menatap tajam Aletha dengan nada dingin penuh intimidasi.
"apa seluruh selingkuhan kamu sudah bangkrut sehingga berani datang kesini?" biyan tertawa pelan saat menangkap wajah terkejut Aletha.
Biyan tidak sebodoh itu membiarkan wanita ****** seperti Aletha memasuki hidupnya yg sudah tenang bersama aeris.
"iya, aku menyesal" nada lirih itu berasal dari Aletha wanita itu menampilkan wajah sendu dan menyesal.
"menyesal hm?"
Aletha mengangguk. "kita bisa ulang semuanya dari awal aku janji akan lebih baik."
Biyanbyg mendengar perkataan Aletha tersenyum smirik. Diam diam membuka salah satu laci meja kerjanya mengambil sebuah benda dan di masukan ke kantong celananya.
"tapi saya tidak sebodoh itu untuk kembali memungut sampah yg tidak ada nilainya." biyan mendekati Aletha terus maju hingga wanita itu mundur.
Sampai Aletha terpojok di tembok, pria itu terus maju hingga jarak mereka tersisa 30 senti. "apa jaminanya jika kau berbohong?" bisiknya.
"tubuhku" Aletha menatap tepat di mata biyan. Tangan nya bergerak mengelus bahu biyan hingga naik ke leher pria di depanya.
Suara geraman rendah biyan menantang Aletha berbuat lebih jauh, di elusnya rahan pria itu saat merasakan satu tangan biyan meremas pinggangnya.
Saat wajah mereka berjarak hanya lima centi, Aletha mulai memiringkan wajahnya sambil menutup mata.
"your is fucking ***** honey" bisik biyan dengan suara deep voice nya tepat di depan bibir merak Aletha
Stethhh...
Crashhh..
__ADS_1
"Arkhhh.."
****