
"uang mas gak akan habis buat beliin kamu puluhan barang disini" kan kumat lagi penyakin songong dan sombong nya biyan.
"gak usah mas, takut gak kepake. Mending uang nya buat di tabung aja" kata aeris kemudian tersenyum canggung pada pegawai yg senantiasa ada si sampingnya. "yg di ambil itu aja mba"
Pegawai itu tersenyum ramah. "silahkan ke kasir untuk melakukan pembayaran pak, bu"
Pegawai itu berjalan lebih dulu, saat sampai di kasir. Biyan mengeluarkan salah satu kartu yg ada di dompetnya. "tidak perlu sebutkan nominal nya"
Setelah sesi pembayaran selesai dan barang sudah ada di tangan, mereka pun segera keluar dan kembali ke timezone, ke tempat anak anak bermain tadi.
"mas?" panggil aeris. Gadis itu sedari tadi terus menatap di wajahnya di layar hp miliknya.
"hm?" biyan menoleh. Mengangkat satu alisnya, "muka aku tua banget ya" aeris memegang pipinya bergantian.
Biyan menggeleng. "enggak" jawabnya jujur, bahkan wajah aeris jika di lihat dari pistur tubuh nya terlihat masih seoerti remaja SMA. Sangat baby face.
Air muka aeris tiba tiba berubah keruh. "kenapa hm?" tanya biyan yg menyadri perubahan hal tersebut.
Dengan wajah kesalnya. Aeris menatap biyan sambil menunjuk wajahnya sendiri. "masa mbak yg di store tadi manggil aku ibu si? Aku setua itu emang ya?"
Biyan terkekeh pelan mengetahui sebab gadis nya menjadi kesal. "kamu terlihat masih muda sayang. Gak usah dengerin omongan mba tadi" dia mengelus pelan kepala aeris.
Orang orang yg melewati mereka tentu tertarik. Melihat interaksi keduanya. Namun ketertarikan itu berhasil membuat biyan tertampar realita kembali saat mendengar celetukan dua orang ibu ibu yg berdiri di belakang memperhatikan mereka saat keduanya berada di eskalator.
"liat mba. Om nya sayang banget sama ponakanya ya"
Aeris melirik biyan melihat wajahnya berubah datar. Ingin tertawa tapi kasihan.
Tidak bisa di pungkiri jarak umur mereka yg terpaut dua belas tahun dan wajah aeris yg baby face mendukung biyan yg di cap om hadis itu.
***
Mansion keluarga millan pukul 16 45
Mereka sudah kembali dengan wajah senang dan ouas setengah hari bermain. Terutama Ai gadis kecil itu saking lelahnya bermain sekarang sudah tidur di gendongan arsen
Mereka terus bercerita hingga memasuki mansion. Tidak sadar dwngan seseorang yg duduk di sofa ruang tamu menatap mereka dengan tatapan tajam.
"jam segini baru pulang!"
Deg
__ADS_1
Suara itu, suara yg paling di benci oleh penerus millan
Mereka menatap wanita itu dengan pakaian seksi yg menempel di tubuhnya yg duduk di sofa ruang tamu. Wajah biyan dan outra nya yg tadi senang berseri berubah menjadi datar tak berekspresi
"naomi"
Aeris berdiri di antara putranya menatap bingung siapa wanita itu terlebih lagi saat biyan menggumamkan nama
Wanita itu, naomi.
"ternyata anda tidak punya malu untuk menampakan diri lagi di hadapan kami" perkataan arsen begutu tajamnamun tidak membuat senyum wanita itu luntur.
"apa begitu cara mu berbicara dengan ibumu arsen," naomi, wanita itu membalas ucapan tajam putranya.
Aeris mengerti sekarang, wanita yg berdiri tidak jauh dari mereka adalah ibu kandung Aro, Arsen dan Ai
"sejak kapan gue punya ibu? Gue cuma punya bunda." sarkas arsen kemudian pergi dari sana membawa Ai di gendonganya jangan sampai Ai terbangun dan melihat wanita jadi jadian itu.
Setelah kepergian Arsen dan Ai, suasana mansion mulai berubah karena kedatangan naomi. Mantan istri biyan
Sedangkan naomi yg di bentak tersenyum miring sembari bersedakap dada. "kau semakin tempramen saja, apa karena wanita ****** itu kau berubah biyan?" wanita itu melemoarkan tatapan tidak suka pada aeris.
Aeris menggenggam tangan aro. Menggeleng tak suka saat aro berkata buruk pada ibunya. "aro" dia meremas tangan putranya memberi peringatan.
"enggak bun, Aro berkata fakta." tatapan nya masih sama. Malah semakin tajam saat naomi mulau berjalan ke arah mereka
Naomi berdiri tepat di deoan aeris, menatap rendah gadis itu. "apa selera mu terhadap wanita anjlok seketika setelah kita bercerai. Biyan?" lagi, dia menatap remeh aeris.
Plak
"mas!"
Aeris memekik saat naomi mundur dua langkah nyaris terhuyung karena tamparan biyan yg tidak main main. Sudut bibit nya langsung berdarah membuktikan betapa kerasnya tamparan biyan.
Bukanya meringis sakit, naomi malah tertawa. Lionel yg sedari tadi diam bergidil ngeri melihat nya. "wanita gila"
"jangan kasar sama perempuan" peringat aeris dia menahan biyan saat pria itu hendak maju mendekati naomi.
"minggir aeris, ini bukan urusan mu" bukan hanya naomi yg mendapat bentakan, aeris pun sama.
"lio, bawa mama mu dari sini!" perintah mutlak biyan langsung di patuhi oleh lionel.
__ADS_1
"ma, ayo!" lionel menarik pelan tangan aeris aagar pergi dari ruang tamu
"tapi-"
"pergi!" lagi, biyan kembali berteriak marah, mau tidak mau aeris pasrah di bawa menuju ke lantai atas mengikuti lionel.
"tenang aja ma, daddy bisa ngontrol emosinya, dia enggak akan sekalap itu buat bunuh mantan istrinya, percaya sama lio" dia menenangkan sang mama yg sedari tadi panik.
Sepeninggalan aeris dan lionel, tersisa Aro, biyan dan naomi di sana. Para maid yg berlalu lalang sudah tidak menampakan diri lagi setelah kedatangan biyan dan yg lainya tadi.
"apa mau mu?" tanya biyan to the point setelah dia berhasil menekan emosinya.
senyum naomi terbit. "aku mau tinggal di sini selama sebulan" jawabnya
"no" sentak Aro . Tentu saja cowok itu tidak setuju. Sangat sangat sangat tidak setuju
"tidak!" sekaramg biyan yg berkata
"hanya sebulan, setelahnya aku tidak akan mengganggu kalian lagi"
"bullshit" lagi, biyan membentak.
Naomi mendekat biyan lalu memeluk tubuh mantan suami nya itu. "aku memegang kartu mu sayang" bisiknya pelan
Biyan mendorong tubuh naomi, "jangan mengancam ku"
"aku tidak mengancam mu" entah apa yg lucu, naomi tertawa
"tujuan lo apa sih kesini, sana lo balik sama selingkuhan lo, gak usah rusak keluarga ini lagi!" melupakan tata bicara dengan orang yg lebih tua, seakan segala nasehat yg aeris tanamkan pada aro tidak berguna saat dia berbicara dengan ibu kandungnya. Rasa sakit dan takut lebih mendominasi pikiranya saat melihat naomi.
Seorang naomi Baskara di mata Aro tidak lebih dari sumber trauma masa lalu yg seharusnya tidak muncul kembali, dia sangat membenci wanita itu.
"Zafaro!" naomi berteriak, setelah mendengar penghinaan putranya. "begitu bicara kamu sama mommy?"
Bukanya marah Aro malah menantang naomi. "mommy? Gua gak oernah punya mommy, dia sudah mati lebih baik lo pergi dari sini" sentaknya
"saya yg melahirkan kamu sialan, hormatlah pada say!"
Aro tertawa sumbang. "hanya sekedar ngelahirin gue sama arsen gak usah ngemis minta di hormatin. Selama ini lo gak pernah ngajarin gue buat hormat sama yg lebih tua enggak? Setidak nya lo sadar peran lo di mata gue yg lain cuma orang yg selalu nyiksa dan norehin luka sampai gua trauma sama yg namanya keluarga sadar diri! Apa lo berhak di swbut ibu yg gak pernah sadar yg selalu nyiksa mental sama fisik anaknya sendiri.
***
__ADS_1