Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
part 12


__ADS_3

         Puk!


     "Tenang. Mereka bakalan baik-baik aja." ujar aro menenangkan. arsen hanya mengangguk menanggapinya.


Hening mendera ketiganya. Mereka diam dengan pemikiran masing-masing. " Ada yg bisa jelaskan pada daddy apa yg terjadi?" tanya biyan tegas.



Aro nelirik pada kembaranya, menyuruh arsen agar menjelaskan karena dia tidak ada di TKP saat kejadian tadi.



Arsen menjelaskan saat mereka bertida datang ke kafe hingga aro ijin ke toilet sebentar, saat dia da Ai tengah menikmati makanan, ada teman arsen yg tiba-tiba saja bergabung dan mereka mengobrol hingga dia tidak menyadari Ai sudah tidak ada di tempatnya. saat sadar, dia sudah melihat adiknya di kuar kafe, hendak keluar menghampiri adiknya tapu dia di kagetkan dengan seseorang yg mendorong Ai hingga tersungkur ketengah jalan. Kejadian begutu cepat hingga seorang gadis berlari kencang mendahuluinya menyelamatkan Ai tepat waktu sebelum tubuh keduanya di hantam truk yg melaju kencang.



"maaf, Arsen lalai jagain adek dad" ujarnya penuh penyesalah.



Biyan menghela napas pelan. Dia juga tidak bisa menyalahkan arsen sepenuhnya setelah kejadian ini. Beruntunh aeris berhasil menyelamatkan putrinya tepat waktu, dia sangat berhutang budi pada sekertarisnya itu.



"Nanti kita bicarakan lagi, daddy mau urus administrasi sama ruangan mereka." biyan menepuk pundak arsen dua kali sebelum pergi dari sana.



"Bukan salah lo sepenuhnya bang"



Sedangkan di dalam ruang UGD, tangis Ai kembali terdengar saat salah seorang perawat mulai mengobati luka di siku dan di lututnya, gadis kecil itu bahkan berontak saat luka nya hendak di bersihkan.



Aeris yg tidak tega meminta pada perawat yg hendak mengobati lukanya agar menindahkan Ai ke brangkar yg sama dengan gadis yg menolongnya.



"mama...sakit" adunya pada aeris.



Aeris tersenyum manis mampu membius Ai. Dia mengelus pelan surai panjang gadis kecim itu, menenangkan. "Tenang. Ya sayang, nanti kalau sudah sembuh lukanya tante traktir Ai deh sepuasnya." bujuk aeris. Namun raut wajah Ai semakin mendung dan merajuk.


"Bukan tante, tapi mama! You my mom now!" klaim Ai kemudian kembali memeluk gadis yg teoah menyelamatkanya.


Aeris menghela napas pasrah, apa lagi ini? Tapu demi mengobati luka Ai mau tidak mau. Rela tidak rela dia harus menjadi sosok mama seperti yg diinginkan oleh Ai.



"Iya sayang, anak mama yg cantik ini jangan nangis lagi ya, kan sudah sama mama." bujuknya.



mata air tampak berbinar saat dia akhirnya punya seorang mama yg dia impikan sejak lama. Sosok amma yg penyayang, lembut, cantik yg rela mengorbankan dirinya yg untuk menolongnya.



Aeris mengkodee pada perawat untuk memulai mengobati luka Ai sementara dia sibuk mengalihkan perhatian gadis kecil itu.



Selepas luka Ai di obati, kini gilirai Aeris yg di obati. Perawat yg melihat luka di pelipis aeris cukup parah dan akhirnya mereka memutuskan menjahitnya. Aeris iya iya saja asalkan lukanya di obati.


__ADS_1


selam penanganan pada aeris, tubuh ai perlahan memberat sehingga dia di obati dalam posisi berbaring. Pada saat luka di pelipisnya mulai di jahit. Perlahan mata aeris mulai memberat dan berakhir tertidur bersama Ai.



"mereka seperti ibu dan anak, padahal bukan" ucap salah seorang perawat setelah mereka menyelesaikan tugasnya.



Mereka gemas dan terharu dengan aeris yg dengan sabar menenangkan Ai yg sudah di obati. Mereka berharap semoga gadis kecil itu cept sembuh.



\*\*\*\*



Aeris mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yg memaksa masuk ke indera pengelihatanya.



Matanya mengerjap pelan kemudian mengedarkan pengelihatanya di ruangan yg luas yg dia tempati. Merasa kram di tangan kirinya. Dia menoleh dan sedikit menunduk saat mendapati Ai, gadis kecil yg di tolongnya masih terlelap dengan memeluknya erat, seperti tidak ingin di tinggal.



Lalu dia menatap sisi lain ruangan luas yg di tempati, disana, tepatnya dipojok satu set sofa. Diisi oleh tiga orang laki-laki yg tengah tertidur dengan posisi duduk.



Aeris meringis pelan, dia pastikan saat mereka bangun nanti, dari kepala hingga punggung mereka akan pegal.



"Huuufft.."



Aeris melamun, entah apa yg akan terjadi padanya nanti melihat gadis kecil yg masih memeluknya men cap dirinya sebagai ibunya. Belum lagi kenyataan yg dia dapatkan bahwa Aro adalah anak dari biyan. Bosnya, juga saudara dari Ai dan pemuda yg sangat mirip dengan Aro.




Dia Arsen, pemuda yg terbangun karena merasa tidurnya tidak nyaman. Arsen langsung menatap aeris disna. Dia masih memperhatikan wajah datarnya tapi matanya mulai memerah menahat sesuatu yg akan keluar jika dia sekali berkedip.



ingin memeluk tubuh yg terbaring disna tetapi seakan ada yg menahanya. Lama berperang dengan hati dan pikiranya, pemuda itu berdiri dan menghampiri brangkar.



Arsen tersenyum saat dia sudah berdiri di samping brangkar tapi wanita itu masih belum menyadari kehadiranya. Bingung mau menyapa seperti apa akhirnya dia duduk di kursi yg di sediakan tepat di samping brangkar.



suara decitan kursi membuyarkan lamunan aeris. Gadis itu menoleh dan tersenyum hangat pada pemuda itu. Dia tau bahwa pemuda ini bukan Aro, walau wajah mereka nyaris tak ada bedanya "Hai." sapanya.



Bukan nya membalas sapaan wanita di depanya. Arsen malah bergerak memeluk tubuh aeris dan menumpahkan tangis nya disana. Melihat arsen yg menangis seperti ini membuat aeris bingung sekaligus khawatir dengan pemuda ini.



"kamu kenapa?" tanya aeris pelan sembari mengelus rambut tebal oemuda yg masih memeluknya.



"Akhirnya..." gumam arsen pelan. "arsen kira gak bakal ketemu lagi sama mba setelah kejadian itu.." pemuda itu menatap penuh rindu pada tubuh wanita yg masih dia peluk.

__ADS_1



"kita. pernah bertemu sebelumnya," tanya aeris.



Arsen yg mendengar pertanyaan wanita yg di peluknya oun terdiam dan mengusap kasar air mata nya dan terkekeh pelan menatap wanita itu. "mbak, lupa sama aku rupanya."



pemuda itu berdiri membiat aeris bingung. Namun kebingungan aeris terjawab setelah pemuda itu berbalik memunggunginya dan mengangkat kaos yg dia gunakan hingga terlihat banyak bekas luka gores disana.



"mbak, inget kejadian empat tahun lalu?" Arsen kembali duduk, melihat wajah shock wanita di depanya. "emoat tahun lalu aku di tolong sama wanita yg gak di kenal, setelah berhasil kabur dari rumah mamah. Perempuan itu rawat aku sampai aku benar-benar sembuh dan ngantar aku pulang ke rumah daddy. Tapi, setelah itu dia pindah rumah dan baru bertemu lagi sekarang." arsen menjelaskan dengan senyum yg tak pernah luntur.



sedangkan aeris termangu mendengarkan cerita pemuda di depanya. Arsen, kejadain empat tahun lalu. Bocah kecil yg sekarat di trotoar jalan tengah malam, luka parah di punggung anak kecil itu, semua memori yg terkubur selama empat tahun lalu kembali muncul bersama dengan air mata yg keluar tanpa di komando.



Arsen menghapus air mata itu. "kamu sudah besar sekarang." mendengar perkataan wanita itu, arsen kembali memeluk erat tubuh aeris, menyembunyikan wajahnya di cekuk leher wanita itu. Akhirnya aeris mengingatnya.



"Bunda kemana aja selama empat tahun ini" Arsen mengurai pelukanya.



Alis aeris hampir menyatu. "Bunda."



"maukan jadi bunda nya arsen? Masa aro doang yg punya bunda? Arsen juga mau!" ujar pemuda itu membuat aeris tertawa pelan.



gemas dengan pemuda di depanya, satu tanganya terbuka, mengisyaratkan agar arsen kembali memeluknya. "kamu anak bunda juga." Arsen tersenyum lebar tanpa aeris tau.



"Euuungghh....mama." merasa ada yg mengganggu. Ai yg tidur di pelukanya perlahan membuka mata. Mengerjap kemudian merintih sakit karena beberapa luka lecet di bagian tubuhnya.



setengah ikhlas arsen melepas pelukanya.



"sstttt jangan nangis ya. Mama disini."



"Haus.." Ai menatap mamanya memelas meminta air.



Beruntung,ada segelas air di sediakan di atas nakas tepat di samping brangkar mereka. Perlahan aeris bangun dan menggapai gelas di nakas namun di dahului oleh arsen.



"pelan-pelan minumnya." peringat aeris sembari membantu ai minum.



"Bunda.." Aro terbangun saat mendengar suara yg cukup berisik di kamar inap yg mereka tempati.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2