
"Bapak nangis?"
------
Aeris terkejut, tentu saja. Kesadaranya kembali saat pelukan di oerutnya semakin mengencang.
Amazing guys, ini pertama kali dia mendapati bosnya menangis.
"bapak kenapa nangis?" aeris mengangkat kepala biyan agar menatapnya. Sudut bibirnya berkedut berusaha menahan tawa melihat wajah bosnya, sungguh menggemaskan melihat mata dan hidungnya yg memerah juga air mata terus mengalir di pipi pria itu.
melihat aeris yg hendak menertawainya, biyan kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Entah kenapa dia tiba tiba saja kenangis harga dirinya di pertaruhkan.
karena tidak mendapat jawaban. Aeris mengelus rambut tebal dan halus rambut biyan. Berharap pria itu tenang dan berhenti menangis.
hampir sepuluh menit posisi mereka tidak berubah dengan tangan aeris tidak pernah berhenti mengelus rambut biyan. Tangis pria itu berhenti kini hanya meninggalkan sesenggukan pria itu saja.
"jangan pergi." cicit biyan. Pria itu melihat wajah gadis yg memwluknya dengan kepala bersandar di bahu aeris tanpa melepas pelukan mereka.
aeris masih diam. "saya tidak suka tubuh kamu menjadi tontonan banyak pria di luaran sana. Dan maaf juga untuk membentak kamu. Maaf" biyan mengucap pelan sungguh dia sangat menyesal dengan perlakuanya terhadap aeris tadi.
"Aeris masih juga diam. "saya tidak suka milik saya menjadi tontonan pria mata keranjang." ucap biyan kali ini membuat aeris mengernyit dan berpikir. "sejak kapan saya jadi milik bapak?"
"sejak kamu menjadi sekertaris saya."
"ck. Kita lagi gak di kantor pak"
biyan tertawa pelan. Aeris menahan napasnya mendengar suara serak biyan sehabis nangis. Benar benar arghhh
"Ralat. Sejak kamu menjadi bunda bunda anak anak saya" biyan tersenyum manis, aeris terpaku melihat senyumanya.
"bapak" Aeris menjeris saat tubuhnya melayang di angkat oleh biyan hingga duduk di pangkuan pria itu. Seiarang keadaan berbalik.
biyan memeluk tubuh mungil aeris di pangkuanya, rasanya sangat nyaman dan hangat.
__ADS_1
"pak. Lepasin saya!" pinta aeris
"begini dulu sebentar." lima menit berlaku, masih dengan posisi yg sama. "saya suka sama kamu"
"hah?" maksudnya apa ini? Mendadak aeris menjadi lola
biyan merubah raut wajahnya menjadi serius. Menatao lekat tepat di mata coklat muda aeris. "selama hamoir tiga bulan ini saya memperhatikan kamu, bagaimana kamu memperlakukan anak anak saya. Sabar menghadaoi sikap mereka. Dan tidak jarang kamu di repotkan dengan segala permintaan mereka, saya...saya jatuh cinta sama kamu aeris."
"saya juga minta maaf dengan segala kelakuan saya dari pertama bertemu dan sampai sekarang ini. Kamu mungkin kesal dan jengah dengan sikap saya yg terlalu berlebihan terhadap kamu, itu karena saya sudah terlanjur nyaman sama kamu. Kamu perempuan pertama yg langsung di klaim oleh anak anak saya untuk menjadi ibu mereka, dan hati saya juga meng klaim jika kamu milik saya saat itu juga."
"kamu tidak perlu membalas perasaan saya, saya tau kamu pasti terkejut dengan ungkapan saya yg tiba tiba ini. Tapi saya mohon, setelah ini jangan berubah. Anak anak membutuhkan kamu sebagai bundanya. Dan jangan menghindari saya setelah ini. Sekali lagi, saya jatuh cinta dengan segala sifat yg ada di diri kamu."
Aeris tertegun. Apa barusan bosnya itu menyatakan cinta padanya? Dia tidak pernah menduga sebelumnya.
selama ini, dia tidak pernah melibatkan perasaan dengan kedekatanya pada biyan walau dia sadar perlakuan pria ini cukup berlebihan untuk ukuran bos dan sekertaris. Mungkin perlakuan biyan padanya karena selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari perempuan manapun selepas bercerai dengan mantan istrinya. Ya,itu yg ada di pikiran aeris, sangat positif sekali bukan?
"Bapak nembak saya nih ceritanya?" biyan mengangguk polos. Aeris kembali diam.
"kamu tidak perlu membalasnya sekarang, karena saya sadar diri dengan status saya dan perbedaan umur kita. Tapi ijinkan saya untuk mengambil hati kamu, karena jika saya sudah menyukai seseorang, saya tidak akan pernah melepaskanya dengan mudah."
Mengelus rambut biyan, dia lalu tersenyum lembut. Entah keberanian dari mana dia dapatkan hingga berani mencium pipi biyan. "saya ijinkan." kemudian menyembunyikan wajahnya di dada biyan saat menyadari perbuatanya.
Lagi, senyum biyan kembali merekah saat mendapati sebuah ciuman dari gadisnya. Gadisnya, ya dia mengklaim aeris sebagai gadisnya. Setekah dia mendapatkan ijin untuk mendekati gadis itu. Ya walaupun hubungan mereka sekarang tanpa status.
"sudah berani hmm?" goda biyan. Pria itu teryawa melihat semburat merah muda muncul di pipi aeris.
"tadi gak sengaja." cicit aeris. Dia berubah kesal saat biyan mengejek dirinya.
Biyan meredakan tawanya saat mendapati tatapan tajam aeris. Menormalkan ekspresinya, dia lantas mendaratkan kecupan di dahi gadis itu. "soal yg tasi, sudah di maafkan kan?"
Aeris berfikir sejenak kemudian mengangguk, "jangan di ulangi" peringatnya. biyan mengiyakan.
__ADS_1
"mau lanjut hang out? Mumpung besok masih haru libur." tawar biyan. Ya, memang di perusahaan nya hari libur itu sabtu dan minggu. Hari hari lainya full kerja dan full lembur.
mata aeris berbinar "beneran?"
"iya, saya punya tempat bagus untuk weekend kali ini." biyan mendudukan kembali aeris ke kursinya dan memasangkan seat belt pada gadis itu.
"kita mau kemana pak?"
biyan menatap aeris sebentar kemudian menjalankan mobilnya. "kepoo"
Aeris mendelik kesal, kembali sudah sifat menjengkelkan pria itu.
Seteoah perjalanan selama tiga jam, akhirnya biyan dan aeris sampai di villa milik biyan didaerah puncak. Aeris terkejut saat mereka sampai Aro, Arsen, Ai dan Queenzel menyambut mereka.
"kejutan" ucap serempak
Ai berlari menghampiri aeris meminta untuk di gendong, "bunda lama banget sampainya, dari mana aja?"
Aeris bingung mau menjawab apa. Tapi setelah biyan mengeluarkan beberpa kantong belanjaan pun menjawab pertanyaan ai. "maaf sayang bunda lama, karna tadi mampir dulu beli bahan makanan untuk barbequean nanti malam." mereka memang singgah ke supermarket tadi.
Ai yg masih polos langsung percaya saja. Gadis kecil itu meminta di turunkan kemudian menarik tangan bundanya untuk segera masuk ke dalam villa bergabung bersama auntynya.
Aro dan arsen mengernyit saat melihat mata sembab aeris. Merasa sudah bunda mereka masuk, mereka menghampiri biyan untuk mengintrogasi daddy mereka. Ada yg tidak beres dengan bunda, pikir keduanya.
"Bunda habis nangis, daddy apain sebelum kesini?" tanya arsen to the point.
Biyan yg hendak masuk tapi terhalang oleh kedua putranya mendengus kasar. Bisakah mereka bertanya setelah dia menyimpan kantong berat di tanganya ini.
"minggir. Nanti daddy beri tau, tunggu di kamar daddy." setelah itu biyan segera masuk.
Aro dan arsen saling berpandangan, ada yg tidak beres dengan daddy mereka.
__ADS_1
\*\*\*\*