Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
bab 42


__ADS_3

Teriakan Aletha menggema ke seluruh ruangan biyan. Wanita itu sudah dalam kondisi terduduk dengan rambut nya yg di jambak kasar oleh pria itu.


"aku tidak akan melepaskan beigutu saja pelaku di balik kecelakaan putriku" biyan kembali berbisik tepat di samping telinga Aletha. Mata wanita itu membulat kaget.


Kejadian tiga bulan lalu, dimana Aeris menyelamatkan Ai dari mobil yg hendak menabrak tubuh gadis kecil itu setelah di dorong oleh seseorang hingga tersungkur ke tengah jalan.


Pelakunya adalah suruhan Aletha


Sedangkan pria yg mendorong putrinya sudah menyandang gelar Almarhun setelah berakhir menjadi santapan buaya peliharaan Aro.


"dan dengan bodoh nya kamu datang dengan suka rela ke neraka. Selamat menikmati hadiah mu ******!"


Lagi, biyan bermain dengan Aletha hingga gadis itu berteriak kesakitan meminta ampun namun biyan seakan tuli dengan permintaan wanita itu.


Beruntung tadi ada Anneth yg membawa Aeris keluar dari ruanganya agar rencana nya bisa berjalan lancar. Dia tidak mungkin memberikan hadiah pada ****** ini tepat di depan mata gadis kesayanganya itu.


Sebenarnya biyan sudah tau kalau Aletha akan datang ke perusahaanya hari ini. Demi melancarkan rencana nya. Dia harus rela menahan kesal mati matian dan menjadi orang bodoh saat Aletha menempelinya.


Dia melampiaskan seluruh amarahnya pada Aletha yg sekarang sudah sekarat karena mendapatkan siksaan darinya


Cekelk


Suara pintu terbuka tidak mengalihkan fokus biyan untuk terus menghancurkan tubuh menjijikan Aletha.


"dia sudah sekarat, yan," suara itu milik Denzel


Pria yg mengenakan setelan formal berwarna biru navy itu dengan santai duduk di atas meja kerja biyan. Menonton pria itu menghabisi Aletha


"Buruan, si Anneth sama Aeris sepuluh menit lagi bakal balik" peringat Denzel, jika tidak diingatkan bisa bisa Aeris shock dengan apa yg bos gila nya itu lakukan.


"sebentar la-"


Ceklek..


Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok gadis yg memegang kantong berisi pesanan biyan


"pak, espress-"


Sepertinya dewi fortuna sedang tidak memihak pada biyan. Di sana, tepatnya di pintu ruang CEO, Aeris berdiri mematung melihat biyan yg juga menatapnya tidak kalah terkejut.


Mata Aeris bergerak sedikit. Melihat Aletha yg sudah lemas dengan pakaian yg sudah sangat berantakan. Seketika kepala nya pusing dan makanan yg ada di perutnya ingin berontak ingin keluar.


Bruk!


"Aeris!" Aeris pingsan saat itu juga, dia tidak tahan melihat pemandangan mengerikan tepat di depan matanya.


"stop!" itu suara Anneth. Gadis itu tiba tiba saja sudah berada di belakang aeris. Menahan agar tubuh mungil gadis itu tidka jatuh begitu saja membentur lantai


Sedangkan biyan dia tidak memperdulikan peringatan Anneth agar tidak mendekat menghampiri gadis nya.

__ADS_1


Plak


Satu tamparam nyaring berhenti di pipi kanan biyan. "udah gue peringatin jangan deket deketaeris"


"gue gak perduli!" kembali biyan hendak meraih tubuh gadisnya namun kembali mundur karena dorongan tangan Anneth dan tarikan di kerah belakang kemejanya.


"bersihin dulu badan lo, bau anyir. Aeris bakal pingsan lagi kalo liat keadaan lo kaya gini. Abis mutilasi orang!" denzel tanpa perasaa menyeret biyan untuk masuk ke kamar pribadi pria itu lebih tepat nya menuju kamar mandi.


Selesai dengan biyan, denzel menghampiri adiknya yg tengah mencoba menyadarlan Aeris.


"bang" Anneth menatap Denzel dengan mata berkaca kaca


"sssttt.. Dia gak apa apa, dia cuma shock doang" Denzel mencoba menenangkan Anneth kemudian mengangkat tubuh Aeris dengan posisi bridal style menuju ke kamar vripat biyan.


"si biyan ko dongo banget si, gak bisa apa nahan buat bunuh tuh cabe kriting di ruang eksekusi aja? Kan jadi gini" Anneth tidak habis fikir dengan sepupu gilanya itu. Bisa bisa nya menghabisi nyawa orang di saat yg tidak tepat.


"mau bagaimana lagi, udah terlanjur juga" ucap Denzel . Tangan pria itu senantiasa mengelus rambut aeris pelan setelah memijit pelipis gadis itu.


"tapi kenapa gak lu cegat bego? Lu kan gak kemana kemana bego!" Anneth kembali mengomeli abangnya itu.


"gue ngapelin ayang di divisi marketing tadi" balas denzel dengan wajah yg minta di taboknya


Ya tidak bis adi pungkiri jika sekarang pria jangkung itu tengah tertarik dengan salah satu anggota divisi marketing yg terkenal judes dan bermuka tembok.


"selera lu mba mba ya ternyata" ledek Anneth, pasalnya Denzel menyukai wanita yg umur nya dua tahun lebih tua dari pria itu.


"gak papa, dari pada lo jomblo" balas denzel membuat wajah adik nya merah menahan kesal.


"puji tuhan" refleks Anneth menutup kedua matanya saat melihat pemandangan yg menggiurkan mata. Wajah nya yg tadi memerah semakin merah karena malu.


Denzel yg melihat tingkah adiknya itu menggeleng pelan. Padahal jika gadis itu menonton drama korea favoritnya. Matanya tak selebar itu saat menatap lapar tubuh biyan.


"kalian keluar!" suara biyan menggema di ruangan itu.


Anneth sontak menyingkirkan tangan nya dan melotot ke arah biyan. "lu yg keluar"


"ini kamar gue" balas biyan


"tap-"


"gak usah tapi tapian, biyan mau pake baju, emang lu mau liat nutnut nya?" tanya Denzel sembari menggeret adik nya keluar dari kamar privat biyan


Anneth melepas bekapan tangan denzel dari mulutnya. "palingan punya nya kecil" ujar julidnya


Blam!


Pintu tertutup setelah anneth menyelesaikan ucapanya.


Biyan yg mendengar Aejekan anneth refleks menunduk menatap aset berharganya. "emang nya dua puluh centi kecil ya?"

__ADS_1


Tidak tahu saja Anneth jika benda yg di sebut kecil olehnya


Berhasil mencetak tuga orang anak yg visual yg tidak main main


Sudah tiga puluh menit aeris memejamkan matanya, selama itu pula biyan terus berbaring memeluk tubuh mungil gadis itu dan mengumamkan kata maaf dan menyesal.


"sayang...hiks...bangun"


"maaf aku gak bisa nahan buat bunuh ****** itu sayang"lirih nya tanganya kembali mengepal mengingat Aletha tidak sampai melayang nyawanya karena keburu aeris datang tadi.


Tapi tidak apa apa, sudah ada denzel yg mengurus wanita gila itu yg sebentar lagi menyandang gelar Almarhumah.


CUP


CUP


Biyan mengecup kedua pipi Aeris dan kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, seperti itu terus kerjaan nya selama tiga puluh menit.


"Eunghhh..."


Yg di tunggu tunggu biyan akhirnya terkabul. Suara lenguhan aeris berhasil menjauhkan biyann pria itu langsung terduduk di samping aeris.


"sayang.." ucap biyan


Aerjs yg baru sadar dari pingsan nya dan terserang pusing menjadi menegang saat mendengar suara pria yg di hindarinya.


Aeris sontak menoleh, mendapati biyan yg menatap nya dengan mata berkaca kaca


"kamu..".


GREP


"hikss... Huaaa" meledak sudah tangis biyan yg sedari tadi dia cicil cicil lewat sesenggukan.


"eh.."


Aeris yg mulanya takut berubah menjadi terkejut saat mendapati beban berat secara tiba tiba saat biyan langsung saja menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk aeris.


"jangan..hiks..jauhin..hiks..aku" racau biyan seakan mengerti apa yg ada di pikirkan aeris.


Tentu hal pertama yg ada di benaknya adalah gadis itu takut padanya. Mengingay betapa ganasnya dia tadi dalam menyiksa ****** menjijikan seperti Aletha


Biyan swmakin terisak saat merasakan aeris tidak membalas pelukanya atau sekedar menenangkanya dengan kata kata penenang seperti yg biass gadis itu lakukan


"sayanh..hiks..aku.."


"ssttt..." jari telunjuk aeris tepat berada di bibir biyan. Tatapan gadis itu dingin namun terkesan mengintimidasi.


.

__ADS_1


****


__ADS_2