
 Selepas kepergian biyan. Aeris kembali di monopoli oleh kedua putra kembarnya. Mereka tetusn mendusel di ceruk leher aeris membuat gadis itu geli.
"Bunda, gak akan ninggalin kita seperti wanita itu kan?" cicit arsen menatap penuh harap bundanya.
Aeris mengelus lembut rambut arsen. Dia paham dengan ketakutan putranya yg satu ini, begitu pula dengan aro setelah tidak sengaja menguping pembicaraan mereka tadi.
"bunda akan pergi, jika kalian sendiri yg meminta bu da pergi." kalimat aeris barusan menimbulkan rasa lega sekaligus takut pada aro dan arsen.
Keduanya sontak memeluk aeris dengan erat. "bunda gak boleh pergi!" seru aro dan arsen.
"iya, iya, bunda gak bakal pergi. Sekarang kita turun ya, kasian daddy kalian sendiri ngurus alat buat barbequ an."
Aeris menarik pelan tangan keduanya yg kembali lesu. Ayolah, mereka masih mau bermanja manja dengan aeris.
"iya bun" keduanya pasrah
****
Acara barbequean mereka akhirnya terlaksana kini, biyan dan Aeris beralih profesi menjadi koki dan tukang panggang daging. Sesangkan Quenzel, Aro, Arsen dan Ai menyiapkan piring dan yg lainya.
"pak, itu daging nya udah mateng" kata aeris tanpa melihat biyan yg sibul melamun, entah apa yg pria itu lamunkan hingga tidak sadar hampir membakar tangan nya karena terkesip kaget.
Aeris menggeleng melihat bos nya itu. Setelah meletakan jus di meja yg tidak jauh dari tempat biyan memanggang daging, dia akhirnya menghampiri pria itu yg tampak sedikit kesusahan.
"biar saya aja pak." tanpa menunggu persetujuan biyan, aeris beralih mengambil jepitan daging di tangan pria itu dan menggeser tempatnya. Menjadilah sekarang aeris berada di depan biyan.
Melihat betapa cekatan nya aeris memanggang daging. Tanpa sadar tangan biyan sudah bertengger di perut aeris.
"Eh" aeris terkejut merasakan pelukan seseorang di belakangnya. Ternyata biyan yg memeluknya dan menumpukan dagu nya di puncuk kepala aeris.
Jika di lihat dari belakang, tubuh aeris tidak kelihatan karena tertutup tubuh besar biyan. Belum lagi tinggi gadis itu hanya sebatas dada biyan membuktikan betapa mungil tubuhnya.
"pak. Lepasin, saya gak bisa gerak ini" protes aeris, bukanya melepas pelukanya biyan seakan tutup telinga dan mendusel di ceruk leher aeris.
Menyerah, dengan berat hati aeris mengangkat daging dari panggangan dengan hati hati karena biyan yg terus mendusel di belakangnya.
__ADS_1
Semua daging sudah selesai di panggang tapi pelukan biyan belum juga terlepas. Bahkan dia merasa pria di belakangnya ini tidak bergerak sejak lima menit yg lalu tapi pelukanya tidak terlepas juga.
"pak?" satu tangan aeris menepuk tangan biyan. "hm" lagi, biyan kembali mendusel
"dagingnya udah mateng semua, lepasin gih!" sahut aeris.
Biyan melepas pelukanya. Tapi itu hanya sebentar.
Setelah melihat aeris meletakan daging di atas meja. Di kembali memeluk pemilik tubuh mungil itu. Rasanya sangat nyaman hingga membuat dia mengantuk.
Arsen, Aro, Ai dan Quenzel sudah berkumpul dan mengambil tempat. Mereka menatap jengah biyan yg terus menempeli aeris seperti cicak di dinding.
"daddy udh besar tapi masih aja minta di suapin" cibir Ai sambil menatap julid daddy nya.
Biyan mendelik menatap putrinya. Memang dia meminta aeris untuk menyuapinya dan gadis itu pun tidak menolak. "bilang aja kamu iri."
"sudah, sudah, gak usah berantem kalo makan. Liat tuh Quenzel, Aro sama Arsen anteng makanya." oke, sering ngomel mode on.
Ai dan biyan tentu langsung diam. Sedangkan tiga orang tadi yg di puji oleh aeris tersenyum bangga.
Mereka makan dengan khidmat dan di selingi canda tawa. Tidak ada lagi aksi saling julid menjuliti. Hanya ada percakapan dengan pembahasan yg menggelitik humor.
****
Tapi sepertinya di malam menuju jam dua pagi ini biyan tidak tidur sendiri. Saat dia hendak mengambil air minum di dapur, ternyata di sana ada aeris yg sedang menikmati mi kuah racikanya sendiri. gadis itu bangun karena tiba tiba lapar
Di tengah malam.
Saking menikmatinya, dia tidak sadar jika dia tidak sendiri di dapur yg sunyi ini.
"Dor!" sura biyan terdengar berbisik tapi mampu membuat aeris hampir tersedak.
"ck..bapak" Aeris menggerutu kesal sedangkan si pelaku hanya cengengesan kemudian duduk di samping aeris.
"ngapain bangun tengah malam?" tanya biyan. Memecahkan keheningan di antara mereka.
__ADS_1
Aeris melirik biyan dari ekor mtanya. "laper" cicitnya
Biyan mengangguk sedang kan aeris melanjutkan acara makanya. "Aaaa" biyan membuaka mulutnya, memberi kode agar di suapi.
Tidak protes, aeris pun menyuapi biyan dengan telaten. Mereka makan dalam diam hingga tidak sadar mi di dalam mangkok besar itu sudah habis.
"bapak gak tidur?" tanya aeris saat dia melihat biyan masih duduk sambil melihatnya mencuci mangkok dan oeralatan masak tadi.
Biyaan menggeleng. " tunggu kamu"
"gak usah nungguin saya, saya masih lama ini." usir aeris secara halus. Tapi ya namanya biyan tetep biyan, pria itu lebih dari pada batu. Dia tetrp keukeh menunggu aeris hingga menyelesaikan mencuci piringnya.
"bapak balik ke kamar gih. Udah mau jam tiga pagi ini, nanti kesiangan bangunya." peringat aeris. Gadis itu akhirnya meninggalkan dapur hendak menuju kamarnya namun tanganya di cekal oleh biyan.
"Kenapa lagi pak, saya ngantuk" aeris menatap biyan dengan mata sayunya.
Tanpa bebicara biyan mengangkat tubuh mungil aeris membuat gadis itu hampir saja berteriak karena tindakan tiba tiba biyan. "bapak mau bawa saya kemana?" tanyanya panik.
Biyan tidak menjawab hingga mereka sampai di depan kamar biyan. Pria itu menurunkan aeris di ranjang kemudian membuka kaos yg melekat di tubuhnya membuat aeris panik.
"bapak ngapain?" Aeris beringsut mundur
"buka baju, saya gerah" jawab biyan tanpa perdulu dengan ketakutan gadis yg berada di atas ranjangnya.
setelah melepas bajunya, biyan ikut bergabung di ranjang dan merebahkan tubuhnya.
"Eh" aeris tersentak kaget saat tubuhnya di paksa berbaring hingga berakhir dalam dekapan biyan.
Belum sampai di situ keterkejutanya. Biyan mengambil satu tangan aeris dan meletakanya di atas kepala. "elusin ya, jangan di jambak" pintanya
Awalnya aeris ragu, tapi saat biyan menurunkan tubuhnya hingga kepala pria itu kembali menduseldi ceruk lehernya, tangan aeris spontan bergerak mengelus rambut biyan.
"saya gak akan berbuat macam macam sebelum kita punya hubungan yg sah. Jangan khawatit." ucap biyan yg melihat kekhawatiran aeris
biyan mengeratkan pelukanya saat tangan aeris sudah bergerak mengelus rambut. "I LOVE YOU, dear" bisiknya sebelum terjun ke alam mimpi.
__ADS_1
Aeris yg mendengar ucapan cinta dari biyan tersenyum tipis. "saya sayang bapak juga" balasnya. Dan menyusul ke dalam mimpi.
****