
Aro bangun dan menghampiri brangkar dua perempuan kesayanganya. Mengelus surai adiknya dengan sayang kemudian mengecup pipi tembem itu. Begitu pun dengan aeris , gadis itu mendapat dua kecupan di pipinya.
"Bunda apa nya yg sakit? Ai juga? Biar aro panggilkan dokter." tanyanya mengabaikan adanya arsen.
Refleks aeris dan Ai menggeleng membuat aro gemas dengan keduanya. "gak, usah bang. Ai udah sehat kalau peluk mama." ujar gadis kecil itu kemudian memeluk aeris dengan erat.
"mama? Ini bunda abang." kata Aro kemudian memeluk aeris dari samping membuat aeris di peluk dari kiri dan kanan oleh kedua bersaudara ini.
"iiihhh abang gak boleh peluk mamanya Ai. Abang cari mama lain aja sana. Ini mamanya Ai." ucap kesal gadis kecil itu tanpa takut menjambak kasar rambut aro.
Aro meringis pelan berusaha melepas kan jambakan ai di bantu aeris. Jujur jambakan ai tidak main-main rasanya.
"sayang, udah ya. Gak boleh jambak rambut abang kaya lagi." Aeris berusaha melepaskan tangan mungil itu dari rambut aro.
Aro yg di bela bunda nya tersenyum songong pada Ai. "tuh, dengerin kata bunda." bukanya melepas jambakanya, Ai semakin kencang tarikanya lagi karena kelewat kesal dengan abanya yg satu ini. Aeris yg melihat itu semakin gelagapan.
Bukanya membantu, Arsen malah tertawa terbahak-bahak melihat kembaranya yg di jambak. "jambak yg kenceng dek, bang aro emang ngeselin orangnya." arsen memanas-manasi keadaan membuat aeris menatap tajam padanya.
"Arsen." mendapat teguran dari bundanya, arsen oun memilih diam.
mendengar kerusuhan dalam ruangan inap aeris dan ai, lantas membangunkan biyan. Matanya langsung membulat tatkala melihata Ai mengamuk dengan menjambak Aro sementara Aeris berusaha untuk melerai.
"Astaga, apa yg mereka lakukan." biyan langsung saja menghampiri brankar dan meleoas paksa tangan putrinya dari rambut Aro. Terlihat banyak helai rambut pemuda itu rontok membuktikan jambakan Ai tidak main-main.
"huaa mama... Bang hiks Aro nakal." Adunya pada aeris sambil memeluk mamanya itu.
"mama.." beo biyan.
Aeris menggaruk tengkuk ny yg tidak gatal sembari melirik aro dan arsen. Meminta bantuan si kembar yg peka langsung duduk di pinggir brankar bersamaan mengecup kilat pipi aeris.
Mata aeris seketika membulat. Dia menatao tajam keduanya, dia butuh bantuan untuk menjelaskan pada biyan bukan malah menciumnya.
"hehe.. Peace bunda."
"bunda?" lagi, biyan menatap aeris bingung tapi dari sorot mata meminta penjelasanya.
Saat aeris ingin menjelaskan, aro lebih dulu menyela membuat biyan kembali bingung. "bunda aeris itu bundanya aro sama mamanya Ai"
"heh bunda gue juga!" seru arsen tak terima.
Aro mengangkat satu alisnya. "sejak kapan?"
"empat tahun lalu." jawab arsen. Aro mengangguk mengerti.
"maksud kalian?" ayolah. Biyan butuh penjelasan disini. Bukn melihat ketiganya mengklaim aeris ibu mereka.
Aro menghela nafas pelan. Susah menjelaskan pada daddy nya yg tiba-tiba lola. Sedangkan aeris, gadis itu tengah fokus menenangkan Ai yg masih menangis sesenggukan.
"Dia, wanita yg bantu aro waktu kecelakaan sampai gak pulang ke mansion tiga hari karena aro lebih memilih di rawat sma bunda aeris. Dia orangnya baik, Aro bisa langsung liat waktu pertama kali nolingin aro." pemuda itu menatap Aeris sejenak.
"Bunda juga yg selametin arsen saat arsen di ambil paksa oleh wanita gila itu setelah daddy sama dia bercerai. Dan, bunda juga yg udah selametin Ai dari kecelakaan siang tadi." jawab aro.
Biyan memijat pangkal hidungnya yg tiba-tiba berdenyut kejutan macam apa lagi ini.
"Daddy" panggil si bungsu tiba-tiba.
__ADS_1
"ya sayang?" sahut biyan kemudian menghampiri brankar yg di isi oleh sekertaris dan putrinya "Ai udah dapet mama yg Ai cari selama ini." ujar gadis kecil itu.
"dad" kini suara Arsen yg memanggil nya "kayanya kami udah nemuin ibu yg sesuai kriteria selama ini kami cari."
"kami mau bunda aeris jadi bunda kami!" ucap arsen dan aro bersamaan.
Biyan dan aeris saling tatap. Apa lagi ini tuhan?
****
RUMAH SAKIT PUKUL 16.50
"Bunda sama abang aja!"
"no..no..no.. Bunda sama Ai ya!"
"siapa bilang bunda sama kalian.. Bunda sama aku"
Aeris di buat pusing melihata ketiga anak bosnya berdebat memperebutkan dirinya untuk pulang. Sedangkan di bapak yg punya anak malah santai-santai duduk di sampingnya menikmati perdebatan mereka. Benar-benar bapak satu ini.
"pak gak ada nitan gitu buat berentiin mereka" bisik aeris berharap agar biyan menghentikan perdebatan ketiganya. Sungguh, dia ingin pulang sekarang juga!.
Tanpa menoleh si lawan bicara, biyan menggeleng dengan santainya. Aeris mendelik kesal, ingin rasanya dia jejali biyan sesuatu.
"kalian masih lama debatnya? Bunda mau udah pulang." tak ingin berlama-lama di rumah sakit akhirnya dia turun tangan mengintrupsi ketiganya.
"Kalaj masih mau lanjut debatnya silahkan, bunda mau pulang dulu. Dadaahhh" setelah aeris dan biyan keluar dari ruang rawat inap itu meninggalkan mereka bertiga yg terdiam cengo.
"***Gaswaattt***, bunda gak boleh pulang bareng Daddy." Celetuk aro tak terima.
Arsen dan Ai serwmpak mengangguk "kita harus pulang bareng binda, gak boleh tau." kemudian berlari menyusul bunda dan daddy mereka.
"Aaaa... Bunda pokok nya harus pulang sama kita." Aersi terkejut saat tiba-tiba saja Ai muncul dan memeluknya dari belakang membuat mereka hamlir jatuh karena terhuyung.
Belum sempat Aeris menormalkan keterkejutanya. Dia lagi-lagi di kagetkan dengan aro dan arsen yg tiba-tiba memeluknya.
Seakan tidak ingin memberikan kesempatan untuk daddy nya untuk berdekatan dengan bunda mereka. Mereka menggiring aeris yg masih di landa shock menuju mobil mereka.
__ADS_1
Biyan? Geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak mereka. Tanpa sadar dia tersenyum tipis melihat kedekatan putra putrinya dengan aeris . Gadis cerewet, blak-blakan dan keibuan yg baru pertama kali dia dapati.
Gadis yg langka.
"Dasar mereka itu."
\*\*\*\*
Setelah sampai di rumah, Aeris kira biyan dan buntut-buntutnya akan pulang, tapi ekspetasinya salah. Kini keempatnya malah bersamtai di ruang tengah sambil makan cemilan yg ada di atas meja.
Melihat tidak ada minuman untuk mereka, Aeris berlalu menuju dapur untuk membuat minuman.
"Eh.." dia terkesiap saat hendak menuangkan teh ke cangkir tiba-tiba Ai muncul si sampingnya.
"Bun, Ai bantu boleh?" Tawar gadis kecil itu. Ahh, Aeris gemas di buatnya.
Aeris menggeleng. "gak usah sayang, ini udah mau selesai kok." jawabnya. Ai mengangguk.
Setelah teh yg Aeris buat jadi, mereka berdua menuju ruang tengah bergabung dengan tiga laki-laki berbeda generasi.
"kalian kenapa?" Aeris menatap ketiganya bingung saat Aro dan Arsen menatap biyan dengan tatapan permusuhan sedangkan si tersangka hanya menatap datar keduanya.
"Bun, semalam daddy gak pulang ke rumah. Dia kemana semalam?" tanya aersen. Tatapanya melembut saat bertanya pada aeris, Namun saat menatap daddy nya, wajah datar dan tatapan permusuhan terpancar disana.
Aeris mengernyit, semalam ya? "Daddy kalian nginap disini." jawabnya enteng.
Sontak mata si kembar membola. ***Kok isoo***?
__ADS_1
\*\*\*\*