Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
part 19


__ADS_3

    Merasa penampilanya sudah bagus. Aeris keluar dari kamar, bertepatan dengan dia membuka pintu, pintu sebelah kamarnya juga terbuka. Kamar milik biyan, ya kamar mereka bersebelahan.


   Biyan menatap kaget melihat penampilan aeris kemudian mendatarkan wajahnya. Dia tidak suka melihat perut gadis itu terekspos jelas karena hanya menggunakan crop top sebatas dada.


   "Pak"


   biyan tidak menjawab.pria itu berjalan tergesa menuju aeris dan mendorong gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


    Aeris terkejut sekaligus takut melihat tatapan biyan sekarang. Pria itu memojokanya di pintu membuat jarak antara mereka menipis. Aura pria itu juga tampak berbeda. Seperti saat rapat dua bulan lalu.


    "pak" Aeris tidak berani menatap wajah biyan pasti menyeramkan.


Biyan menumpukan kepalanya di bahu aeris yg sedikit terbuka. Ck. Rasanya dia ingin membakar saja baju sialan ini karena berhasil membangunkan sesuatu yg sudah lama tidur. Tangan nya melingkar di pinggang aeris, membuat gadis itu meremang.



"kenapa pakai baju seperti ini hm?" lagi, Aersi merinding mendengar suara berat biyan di dekat telinganya.



"pak, jangan kaya gini. Jauhan napa." bukanya menjawab pertanyaan biyan. Aeris malah berusaha melepaskan diri dari pria itu. Sungguh dia benar benar takut.



"kamu belum menjawab pertanyaan saya?" biyan menggeram dan semakin mengeratkan pelukanya membuat aeris sesak nafas.



"memang kenapa saya memakai pakaian seperti ini? Tidak ada yg salah" ucap aeris



Biyan melepas pelukanya, mencengkram dagu aeris memaksa gadis itu menatap nya. "tidak ada yg salah hm.."



"ssshh.. Pak sakit" Aeris menyentak biyan dari dagunya. Matanya memerah pertanda dia marah, takut dan ingin menangis, dia takut.



"Saya tidak suka kamu berpakaian seperti itu." ucap biyan. Pria itu masih menatap lekat wajah aeris, sedikit rasa bersalah melihat wajah takut aeris.



Aeris mengernyit, sejak kapan pria itu menperhatikan pakaianya. "bukan urusan bapak"


__ADS_1


"TAPI SAYA TIDAK SUKA." bentak biyan


Tes..Tes..Tes


bukan suara mic, itu air mata aeris yg mengalir karena bentakan biyan. Dia paling tidak bisa di bentak di tambah hari ini datang tamu bulananya membuat dia lebih sensitif.



"Ada hak apa bapak melarang saya berpakaian seperti ini?" Aeris bertanya dengan nada datar tapi bibirnya tersenyum manis. Membuat rasa bersalah biyan melihat senyumnya .


"Anda bukan siapa siapa saya selain atasan saya pak."aeris mengingatkan "permisi" kemudian melenggang pergi meninggalkan biyan yg diam mematung memikirkan perkataan aeris.



Tidak jadi hang out, aeris lebih memilih mengunjungi kedua orang tuanya di pemakaman. Dia duduk di antara makan ayah dan ibunya sambil mengusap nisan kedua makam itu.



Sudah lama dia tidak berkunjung. Terakhir dia datang ke sini tiga bulan lalu saat pemakaman ayahnya.


"Bun, apa kabar? Udah ada temanya ya di sana?" dia menatap sendu makam ibunya. "Ayah udah gak sedih lagi kan sekarang? Kan udah ketemu bunda." Aeris beralih pada makam di sebelahnya.


"ta gak yah, masa ae di usir dari rumah ae sendiri sama mak lampir. Mana anaknya bikin darah tinggi mulu. untung bi asih ngasih kotak peninggalan bunda jadi ae ada tempat tinggal."




"Yah, bun, doain ae yah supaya jadi manusia berguna terus.." dan mengalirlah curhatan aeris pada nisan pada kedua orang tuanya.



Tanpa gadis itu sadari, biyan berdiri tidak jauh dari tempat aeris berada. Pria itu mencari aeris kemana mana hingga menyuruh orang suruhanya itu mencari gadis itu.



Saat mengetahui gadis itu berada di pemakaman, dia langsung saja tancap gas menuju kesana. Saat samapai disana, pria itu tertegun saat mendapati fakta bahwa aeris anak yatim piatu. Selama ini dia kira gadis yg menjabat sebagai sekertarisnya itu adalah anak rantau.tapi ternyata ahh sudahlah. Rasa bersalahnya semakin besar.



Ingin menghampiri gadis itu tapi takut dapat penolakan. Tapi perasanya semakin tidak tenang sebwlum mendapatkan maaf dari gadis itu.



"Aeris"


__ADS_1


Aeris tersentak kaget saat dia hendak pulang setelah sesi curhatnya selesai malah ada yg memanggil namanya. Malah tempatnya mendukung lagi.



***Setan bukan sih tapi kok suaranya gak asih sih***. Batinya



dia berbalik pelan dan mendapati biyan berdiri menjulang tinggi di depan nya. Rasa parno dan takutnya tergantikan dengan rasa kesal dan wajah datarnya.



"ngapain bapak kesini? Ngintilin saya ya?" raut sinis aeris tunjukkan pada biyan. Bodo amat biyan ini atasanya lagi pula saat ini mereka di luar kantor.



Biyan tidak menjawab. pria itu dengan lembut meraih tangan aeris dan membawa gadis itu keluar pemakaman. Aeris tidak berontak, tidak etis jika dia mengamuk di tengah pemakaman. Tandanya dia tidak menghormati mereka yg telah pergi lebih dulu. Dia masih tau tempat kok, tapi kalau di pinggir jalan mau ribut. Gass!



Aeris menurut hingga saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil milik biyan. Gadis itu diam menatap kedepan menunggu biyan untuk berbicara.



Tapi sudah hamoir lima menit tidak ada suara dari pria di sampingnya. Aeris mendelik. "kalau bapak gak ngomong apa apa saya keluat."


Grepp


"jangan pergi"


belum sempat aeris membuka pintu mobil, tubuhnya di buat tidak bisa bergerak oleh pelukan biyan.



"terus maunya apa?" tanya aeris jengah. Biyan semakin mengeratkan pelukanya pada pinggang aeris dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher gadis itu.



Tidak ada suara selama dua menit. Tapi di menit selanjutnya mata aeris membola saat merasakan tubuh di belakangnya bergetat juga bahunya basah.


"bapak nangis.."



Semoga kalian suka dengan cerita nya .. Dan maaf kalau masih banyak kurangnya . Kasih like sama komen nya ya biar othor tamabh semangat updete nya.


Insyaallah selalu di usahakan updete dua bab dalam sehari ya...

__ADS_1


__ADS_2