Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
part 14


__ADS_3

        Aeris menatap biyan, meminta pria itu menjelaskan pada Aro dan Arsen. Tapi pria itu sepertinya tidak ada niatan sedikitpun untuk menjelaskan pada kedua putranya.


     "pak?" panggil Aeris


     "hmm"


    "jelasin sam mereka" Tunjuk Aeris pada si kembar.


    Biyan menatap dua kloningnya kemudian menatap aeris, "Saya sudah jelaskan tadi tapi seoertinya mereka tidak percaya" balasnya.


     Aeris menatap sebal pada biyan yg dengan santai menonton TV tanpa memperdulikan mereka. Lantas dia menatap si kembar yg nampak menuntut penjelasan.


     "kan tadi udah di jelasin Daddy kalian "


    "percuma bun, Daddy tuh tukang bohong soalnya sesat kalau di percaya." bukan Aro dan Arsen yg menjawab, melainkan Ai yg menjawab.


     Ai sedari tadi duduk di samping Aeris sambil bersandar memakan kerupuk pada lengan bundanya itu. Walau gadis kecil itu tampak tidak peduli dengan pembahasan mereka dan memilih untuk makan, namun percayalah, Ai itu penyimak yg berbahaya.


    Buktinya, saat seperti ini mendapat kesempatan untuk menyela, tanpa perduli membongkar keburukan sang daddy dengan membeberkan fakta dalam keluarga jika biyan tukang bohong.


    "Sayang gak boleh ngomng kaya gitu." Tegur aeris lembut kemudian menjawel hidung mancung Ai.


Bukanya menyesal apa yg dia ucapkan tadi. Dia malah menatap tajam sang Daddy yg seperti menahan diri dan amarah untuh memakanya hidup-hidup. "itu fakta. Bun, Daddy itu tukang bohong. Dulu waktu Ai mau ambil rapor daddy janji bakal ngambilin. Tetapi nyatanya dia malah pergi ke luar negri dan baru pulang tiga bulan kemudian. Waktu ai juga sakit, ini yg paling sering. Ai lagi butuh Daddy tapi dia malah sibuk sama tumpukan kerts di meja kerjanya." dia ngambil napas dalam. Belum selesai ternyata.



Lanjut, "setiap ada kejadian atau hal penting yg seharusnya daddy ada, tapi daddy malah gak ada bahkan gak peduli. Sangking gak pedulinya sama anak-anaknya, waktu bang Aro kecelakaan dan gak pulang-pulang selama tiga hari bukanya khawatir anaknya kenapa-napa tapi dia malah sibuk dengan lembaran-lembaran kertas. Kadang ai mikir, Daddy itu Daddy-nya Ai sama abang apa bukan sih? Soalnya lebih mentingin kertas-kertasnya di banding kita." keluar sudah unek-unek gadis kecil itu yg di simpan selama bertahun-tahun.



Hening. Semua terdiam setelah mendengar unek-unek Ai. Si kembar yg masih tidak percaya jika adiknya yg masih umur enam tahun itu sudah bisa berfikir dan berbicara sedewasa itu. Biyan? Diam dengan tatapan kosong menatap layar TV.



Aeris mengelus surai panjang Ai dengan lembut kemudian mengangkat tubuh kecil itu untuk duduk di pangkuanya.



"Ai hebat." bukanya menegur Ai karna telah membeberkan keburukan sang ayah, gadis itu malah tersenyum bangga. "tapi perlu Ai ingat, Daddy enggak seburuk yg Ai lihat." Aeris menatap biyan yg betah dengan lamunanya, tapi dia yakin dengan pendengaranya pria itu sedari tadi menyimak sura-suara yg masuk.


__ADS_1


"Tapi perlu Ai ingat. Ai juga harus mengerti posisi daddy sekarang ya, sayang. Daddy itu pemimpin di tempat bunda kerja. Banyak orang yg bergantung sama daddy, banyak irang yg harus daddy hidupi. bahkan daddy pernah gak tidur semaleman karna pekerjaan itu. Tolong dimengerti ya cantik. Bunda juga mengerti perasaan Ai, kalau tentang daddy yg kurang ada waktu untuk Ai dan abang. Kalian bisa diskusikan supaya daddy punya waktu luang buat kalian, jangan seperti tadi ya sayang. Tadi itu perbuatan kurang baik dengan membeberkan kekurangan dan keburukan orang. Daddy itu sayang banget sama anak-anaknya, dia sampai gak pulang ke rumah untuk menghidupi anak-anaknya. Sampai sini paham kan?"



Ai mengangguk, bukan hanya gadis kecil itu. Aro dan Arsen juga ikut mengangguk, lantas Aeris mengecup pelipis Ai dengan sayang membuat gadis kecil itu tersenyum cerah.



Biyan, Ada perasaan hangat pada pria itu kala mendengar aeris dwngan sabar menegur putrinya. Rasanya sangat senang, tanpa sengaja aeris membelanya di depan anak-anaknya.



"Sekarang minta maaf gih sama Daddy, bilang aja apa yg mau Ai bilang tapi harus minta maaf dulu ya." Ai lagi-lagi mengangguk.



Biyan mengangkat satu alisnya melihat si bungsu tanpa permisi langsung duduk di pangkuanya. "***i'm sorry daddy***, " Ai memeluk erat leher sang daddy.



Biyan tersenyum. Mengusap punggung putri nya pelan. Dia mengangguk. "***no problem, Sweety***. Daddy juga minta maaf sama Ai dan juga Aro dan Arsen jika selama ini daddy kurang tampak di setiap hari kalian. Kalian sumber semangat daddy kalau bekerja, mulai sekarang, daddy akan meluangkan waktu daddy buat kalain." ujarnya.




Hati Aeris menghangat melihat keempatnya saling berpelukan dan menyalurkan kasih sayang, dan berharap semoga hubungan antara bos dan anak-anaknya mulai membaik.



"Eh?" Aeris terkejut saat sebuah tangan menariknya untuk ikut bergabung bersama mereka. Tidak ada topik apapun, hanya saling tatap satu sama lain berhasil menciptakan gelak tawa di antara mereka.



Di tengah asyiknya mereka berpelukan, Ai berhasil membuat mereka terdiam dengan oemikiran masing-masing. "Ai senang, keluarga lengkap impian Ai akhirnya terwujud."



\*\*\*\*


__ADS_1


Tengah malam biyan, terbangun dari tidurnya. Tenggorokanya terasa kering. Mencari sesuatu di atas nakas, Dahinya mengkerut saat tidak mendapatkangelas air yg biasa dia simpan di atas nakas. Jaga-jaga kalau dia kehausan tengah malam.



"Bodoh ini bukan kamarnya." gumamnya setelah sadar jika dia dan anak-anaknya menginap di rumah Aeris.



Niat awal mereka akan langsung pulang setelah makan malam di rumah gadis itu, tapi saat mereka hendak pamit Ai menangis dan memeluk aeris dalam gendongan gadis itu. Putrinya ingin terus bersama Aeris hingga arsen memberi saran jika mereka menginap saja malam ini.



Karena jumlah kamar hanya ada dua, jadi Aeris dan Ai tidur sekamar sedangkan dia dan dua putra kembarnya itu tidur sekamar. Berutung ukuran kasur di kamar yg mereka tempati terbilang cukup besar menampung tubuh mereka yg besar.



Tapi sepertinya ada yg aneh, dia berbalik ke kanan dan tidak


Mendapati si kembar di tempatnya, kemana lagi dua bujang nya itu?.


dengan langkah gontai dia bangun menuju dapur untuk mengambil minum, namum saat dia melewati kamar di sebelahnya entah dorongan darimana dia membuka pintu kamar milik aeris dan tetkejut saat melihat si kembar yg dia cari malah mengungsi di kamar aeris.



"Dasar mereka." biyan berdecak kesal tapi tak urung senyumnya terbit melihat posisi empat orang yg sedang tidur di sana.



Di tengah ranjang, Ada Aeris dan Ai yg tertidur dengan putrinya memeluk erat tubuh gadis itu. Sesangkan di belakang Aeris ada Arsen yg memmeluk tubuh Aeris dan menyembunyikan wajah nya di leher gadis itu. Sedangkan Aro dia tidur di belakang Ai tapi tanganya menggapain tangan Aeris yg memeluk tubuh adiknya untuk di genggam. Benar benar posisi tidur yg sangat manis.



Pemandangan seperti ini baru oertama kali biyan dapati. Di mana anak-anaknya sangat dekat dengan seorang gadis yg dia tidak pernah sangka sebelumnya. Anak-anaknya menganggap sosok Aeris sebagai ibu mereka.



mengingat tentang ibu. Dia kembali teringat pada rangkaian kejadian empat tahun lalu. Dimana sosok ibu kandung yg seharusnya menjadi sosok pelindung dan sumber kasih sayang untuk anak-anaknya malah berubah menjadi wanita


Yg tidak ingin dia kenal lagi.


Dia heran, mengapa bisa dia tergila-gila kepada mantan istrinya dulu hingga tidak pernah menyadari bahwa dia sedang di tusuk dari belakang oleh orang yg sangat dia cintai.

__ADS_1


Ckck wanita itu sangat licik dan pandai bermain peran, semoga saja wanita itu sudah mati.


\*\*\*\*


__ADS_2