Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
bab 21


__ADS_3

   Aeris yg di bawa Ai dan Queenzel hanya pasrah mengikuti putri kecilnya menuju belakang villa.


   Saat sampai di sana. "woaahh indahnya" aeris berdecak kagum. Gadis itu menatao takjub pemandangan di belakang villa.


   semilir angin sore menerpa wajahnya. Pemandangan alam yg masih terjaga. Kebun teh dan hamparan padang bunga menyejukan mata.


   "bunda suka?" aeris mengangguk. "suka banget"


   sedangkan di dalam villa. Biyan menatap kesal dua bujangnya. Dia benar benar tidak bisa lepas dari mereka setelah dia menyimpan barang bawaanya tadi.


Saat ini, mereka sedang berada di salah satu kamar villa. Tayapan dingin nan tajam Aro dan Arsen di layangkan untuk daddy mereka.


"kenapa bisa bunda nangis, daddy apain bunda?" to the point Arsen tidak suka bertele tele.


Biyan sudah menduga ini sebelumnya. Melihat tatapan tajam kedua putra kembarnya membuat dia tidak bisa berbohong pada mereka. Pilihanya hanya satu berkata jujur atau masalah akan semakin runyam.


"Daddy bentak bunda kalian." pernyataan biyan mampu membuat mata outranya membola.


Asu! Batin aro. Dia hanya bisa mengumpat dalam hati.


Lain lagi dengan arsen, pemuda itu berdecih menatap remeh pada pria yg berstatus ayahnya. "sifat buruk daddy yg satu ini gak pernah hilang rupanya." jeda sejenak. "Arsen pernah peringatin daddy bukan. Daddy boleh bentak atau kasarin semua perempuan kecuali bunda. Daddy udah pikun kayanya." sarkas arsen.


"tapi daddy udah minta maaf pada daddy kalian." biyan membela diri. Mana mungkin dia lupa ultimatum putra gilanya yg satu ini.


"emng bunda salah apa sampe daddy bisa bentak bunda kaya gitu? Mata nya sampe bengkak gitu." sekarang Aro yg bertanya.


mendengar pertanyaan aro, emosi biyan sedikit tersulut mengingat pakaian aeris gunakan siang tadi. Benda yg menjadi sumber masalah mereka. "kalian tidak sadar dengan pakaian bunda kalian pakai? Itu sumber masalahnya." biyan mendengus kesal.


Aro dan Arsen terdiam sejenak. Berusaha mengingat ingat pakaian yg aeris gunakan sampai di villa.


Bagai terkoneksi Aro dan Arsen bersamaan sadar setelah mengingat jenis pakaian yg di kenakan bunda mereka. "pantas daddy marah" gumam aro.


"tapi gak sampai bentakin bunda." tambah arsen


"iya kamu benar, tapi kalau kalian yg ada di posisi daddy. Kalian juga akan melakkukan yg sama seperti daddy." alis si kembar mengkerut "maksudnya?"

__ADS_1


mereka semakin di buat bingung oleh biyan yg tiba tiba berdiri kemudian duduk di tengah tengah mereka. "dady tidak ingin tubuh bunda kalian di nikmati oleh mata keranjang di luaran sana"


"to the point dad" seloroh arsen


biyan tertawa melihat raut wajah berpikir kedua putranya. "daddy mencintai bunda kalian"


"Bullshit"


"Anjeer bukan daddu gue."


Sontak saja kedua nya terkejut dan tidak percaya dengan pernyataan biyan ini. Ini terlalu mendadak buat mereka.


Di tengah keterkejutan kedua putranya. Biyan menatap mereka dengan raut serius. Tentu Aro dan Arsen tidak percaya, setelah melihat daddy mereka dengan mantan istri nya dulu. Sungguh mengerikan bila mengingat kembali.


"Daddy sama bunda beda dua belas tahun loh." celetuk aro. Menyadarkan daddynya itu dengan perbedaan usia bundanya yg terpaut jauh.


"Daddy tau aro." gemas juga jika di tampar kenyataan bahwa umurnya terpaut jauh dengan aeris. Secara tidak langsunh aro mengatainya tua.


"kalau daddy beneran cinta sama bunda buktiin. Daddy juga perlu fillter oerasaan daddy sendiri. Apa beneran cinta atau hanya sekedar suka atau obsesi melihat bunda yg perhatian melihat kami bertiga yg tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Arsen gak bakal biarin daddy nikah sama bunda kalau hanya sekedar menjadikan sosok figur seorang ibu yg kami impikan sejak dulu. Arsen tolak mentah mentah kalau itu pikiran daddy." jelas Arsen


"Arsen gak butuh kalau hanya sekedar figur seorang ibu tanpa melakukan tugasnya seperti wanita itu." dia kembali di paksa mengingat wanita yg melahirkanya dan dua saudaranya. "Arsen lebih nyaman seperti ini, bunda juga berhak bahagia. Dad, Arsen udah bersyukur banget dengan kehadiran bunda, Arsen bisa merasakan kasih sayang seorang ibu walau bukan dari ibu kandung. Arsen gak mau kejadian empat tahun lalu kembali terulang walau dalam konteks yg berbeda." tanpa di sadari air mata pemuda itu keluar membasahi pipinya.


Biyan merenung dia sangat paham apa yg di rasakan arsen. "Daddy paham dengan ketakutan kamu arsen." putranya yg satu ini sangat takut dengan 'perceraian' yg membuatnya trauma.


Aro pun juga diam. Kata pernikahan adalah sesuatu yg membuatnya trauma. Karena hubungan itulah yg membuat mereka renggang sebelum kedatangan bundanya. Aeris sangat berpengaruh terhadap hubungan antara ayah dan anak di keluarga millan.


Di balik senyim dan tawa kedua putranya biyan. Ada trawma berat yg membekas sampai sekarang. hubungan pernikahan dan perceraian membuay mereka takut kembali dalam lingkup keluarga utuh.


Tanpa mereka sadari. Aeris sedari tadi berada di depan pintu kamar yg di tempati mereka bertiga. Gadis itu hendak mengajaki ketiganya untuk mempersiapkan bahan bahan untuk acara barbequean malam nanti. Saat hendak mengetuk pintu, dia tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.


Dari dalam sana aeris tersentuh mendengar isak tangis arsen yg terdengar pilu. Untuk kedua kalinya dia mendapati arsen menangis tapi tangis arsen kali ini menyimpan banyak luka di masa lalu.


Setelah berperang dengan hati dan pikiranya, dia memberanikan diri membuka pintu kamar dia tersenyum manis saat perhatian tertuju padanya. "maaf bunda gak sengaja denger percakapan kalian." ujarnya


Mereka masih diam, seperti terkejut dengan kehadiran aeris yg tiba tiba datang.

__ADS_1


Setelah menutup pintu aeris berjalan menuju sofa yg ketiganya tempati dan dia duduk di samping arsen yg menunduk sambil sesenggukan. Tangan halus aeris mengangkat kepala arsen hingga wajah dengan penuh air mata itu menatapnya.


"Bunda" Arsen langsung memeluk erat aeris dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher bundanya. Malu juga dia ketahuan nangis.


Iri dengan kembaranya, Aro dengan tidak berperasaan menggeser biyan untuk bisa memeluk bundanya. "Daddy duduk di single sofa aja sana. Sempit ini" protesnya.


Aeris terkekeh pelan melihat biyan dengan raut tak sukanya berpindah temoat untuk memeberi ruang kedua anak bujangnya memeluk bunda mereka.


Biyan menatao dengki kedua anaknya. "ck..udah besar masih cengeng" cibirnya


sontak saja Aro dan Arsen memberi tatapan tajam mereka pada sang daddy. "bilang aja daddy iri karena gak bisa meluk bunda. wlee " balas aro sambil memeletkan lidah nya pada biyan.


"udah tua kok iri" skak mat! Arsen kalau jiwa julid nya sudah on berhasio menyakiti perasaan orang hingga usus dua belas jari.


"sudah sudaj gak usah bertengkar. Pak, bapak siapin panggangan gih" suruh aeris pada biyan


"kamu nyuruh saya?" tanya biyan


Aeris mwngangguk "iya" jawab polosnya


"Mereka kerjanya apa?" si duda iri lagi ckk..


"gal liat mereka masih nangis? Yg usul mau barbeque an tadi siapa? Bapak kan? Keluar sudah sisi mengomel aeris.


"ckk.. Iya iya" balas biyan sebelum beranjak pergi. Dia mendekati aeris membuat gadis itu mengernyit. "bapak mau apa-"


CUP


"for my energy" ucapnya kemudian melenggang pergi dari sana


"ckk.. Daddy lu jorok ar" kemudian mengelap ciuman daddy nya di pipi aeris. "belum halal udah sosor aja si duda"


"dihh dady lo ya" ucap arsen tak terima


"daddy kalian" celetuk aeris

__ADS_1


"Bundaaa" aeris di buay tertawa saat dua anak bujangnya ini kembali menunjukan sisi manjanya.


****


__ADS_2