
Entah baigaimana cara nya aeris sudah duudk di pangkuan biyan. Menghadap pria itu, ada secuil rasa bersalah meluhat wajah sendu biyan.
"jujur saya gak terlalu respec dengan ucapan cinta seseorang mas."kata aeris, mata biyan mulai berkaca kaca. "saya menganggap perlakuan mas ke saya itu sekedas mas butuh tempat atau teman untuk berbagi keluh kesah. Dan saya siap untuk itu, dan maaf kalau ini menyakitkan hati dan perasaan mas"
tanpa perlu di komando air mata biyan keluar dari sarangnya.
Satu tangan aeris mengusap lembut air mata biyan. "saya menghargai perasaan mas pada saya. Tapi saya tidak akan bereaksi berlebihan sesuai keinginan mas jika saya masih berada di dalam hubungan tidak jelas."
Biyan terdiam mencerna ucapan aeris.
Hubungan yg tidak jelas?
Detik berikut nya biyan sadar. Dia menggantung perasaanya sendiri dan berharap terlalu tinggi sedangkan hubungan mereka saja masih abu abu.
Biyan mulai sadar. aeris berusaha menghindari perasaan sepihak tanpa hubungan yg jelas karena takut tersakiti.
Bodoh! Tolol! Dongo!
Biyan bener bener bodoh, dia paling bodoh jika berurusan dengan yg namanya percintaan padahal dia sudah memyandang status duda. Seharusnya dia berpengalaman dengan yg satu ini bukan.
Hubungan yg jelas
Biyan kembali mengingat perkataan gadis nya ini.
Apa sudah saatnya.?
Tapi dia masih bimbang.
Tapi semua perlakuan aeris padanya. Dan pada seluruh anak anaknya
Tapi-
Ah bodo amat
"mas" aeris menepuk pelan pipi biyan yg sedari tadi bengong sendiri. "bapak gak kesurupan kan?" tanya nya memastikan
Biyan menggeleng, tanpa aba aba, dia langsung menarik aeris kembali ke dalam pelukanya.
"temikasih" katanya tulus sembari mengecup puncuk kepala aeris.
"maksud-"
CUP
Bukan nya menjawab, dia langsung menyambar bibir pink cherry milik aeris, ******* benda lembut itu namun terkesan menuntut. Sedangkan satu tanganya sudah bergerak meraih sesuatu di bawah sana.
"mas!"
Biyan melepas tautan bibirnya. Mengatur napas pelan dan terkekeh melihat bibir mungil yg tadi di sesapnya memerah bengkak sedangkan tanganya masih bergerak disana. Mencari sesuatu hingga...
"mas hmppmm..."
__ADS_1
Aeris memekik tatkala biyan kembali menariknya dan bibir mereka kembali bertemu.
Dua menit berlalu. Biyan masih menggerakan bibirnya menyecap benda kenyal itu. Mengabaikan pukulan di bahunya karena aeris sudah kehabisan napas.
Entah bagai mana cara nya biyan sudah berada di atas tubuh aeris. Menangkap kedua tangan gadis itu dan menaruhnya di atas kepala aeris.
Saat biyan akan kembali menyatukan bibir mereka. Aeris refleks menoleh hingga bukan bibir nya yg di cium oleh biyan, melainkan pipinya.
"mas!" aeris memperingati dengan nada lirih. Sial, dia terbawa suasana.
Sedangkan biyan yg mulai sadar pun menenggelamkan wajah nya di ceruk leher aeris. Matanya masih berkabut gairah. Dia hampir kelepasan
"you're mine baby" bisik nya serak, berhasil membuat tubuh aeris meremang.
"mas, minggir berat." aeris mendorong sekuat tenaga tubuh besar biyan tapi nihil. Biyan tidak bergerak sama sekali.
"mas!"
"iya, sayang" masih berusaha mengatur hormon sialnya, biyan mulai bergerak ke samping lalu memeluk aeris dengan erat
Tanganya mengangkat dagu aeris. Membuat gadis itu menatapnya. "menikahlah denganku."
Aeris langsung termenung, gimana gimana? Dia di lamar nih ceritanya?
"ta-"
"mas tidak menerima penolakan!" kata biyan tegas. Kemudian memgambil satu tangan aeris dan mengecup tepat pada jari manis yg sudah di lingkari oleh cincin yg indah.
Minggu, Mansion Keluarga Millan
Tepatnya di ruang tengah mansion keluarga millano, aeris dan keempat anaknya tengah bersantai sambil memakan cemilan dan menonton TV .
sudaah satu minggu sejak kejadian lamaran dadakan biyan yg tidak ada persiapanya, dalam seminggu itu pula lah para ketiga bujang aeris semakin protektif padanya. Jangan lupakan si bungsu millan yg selalu memonopoli dirinya saat biyan tengah bermain ria denganya.
Tidak ingin membiarkan, kesempatan biyan untuk dekat dengan aeris barang sebentar saja setelah mengetahu daddy mereka melamar bunda atau mama mereka dengan cara yg tidak ada estetik estetik nya.
"ma, gabut!" kata lionel, cowok bernetra abu abu itu tengah menumpangkan kepalanya di sang mamah, menikmati elusan lembut tangan aeris di kepalanya.
"aeris menunduk, melihat lionel yg menatapnya dengan tampang memelas. "mau apa hm?"
"keluar yuk ma..jalan jalan gitu" kata arsen, mendahului lionel
Aeris diam sejenak, menimbang saran arsen. Dia melihat jam di hp nya. Pukul 11.00 pagi menjelang siang
"boleh ya bun.?" sekarang Ai yg memulai membujuk dengan tampang memelas
"iya. Iya. Taoi ijin dulu ke daddy oke?" aeris mencubit pelan pipi chubby Ai
Ai mengangguk semangat, gadis kecil itu segera beranjak dari sana untuk pergi ke kamar nya setelah memberikan satu kecupan di pipi sang bunda.
"kaliam gak mau ikut?" tanya aeris saat melihat tiga anak bujangnya tidak ada yg bergerak.
__ADS_1
Aro mendekat, menatap aeris dengan tampang memelas. "gak usah ijin ke daddy ya bun" pintanya
Tentu alis aeris mengernyit. "kenapa?"
"pasti daddy bakalan ikut" lionel menjawab kebingungan aeris
"ini kan wa-"
Pletak
"adoh!" arsen mengaduh keras saat mendapatkan sentilan tidak main main di keningnya.
"oh gitu ya cara main kalian bertiga?" tiba tiba saja biyan sudah berdiri di belakang aeris setalah menyentil kening arsen.
"bun, liat tuh daddy" arsen mengadu
Aeris mengelus bekas sentilan di dahi arsen, namun matanya tidak luput melayangkan tatapan sengit pada biyan
"mas!" cicitnya memberi peringatan
Biyan mencibir. "gitu aja ngadu, biasanya tawuran sampai sekarat masuk rumah sakut gak ngeluh kamu "
Aeris tentu terkejut dengan penuturan biyan arsen tidak oernah cerita jika satu bujangnya itu pernah masuk ke rumah sakit gara gara tawuran.
"bun," arsen nyengir menatap takut takut pada bundanya yg malah diam
Siaga satu!
Bukan untu arsen saja tapi juga Aro dan Lionel
"kok pucat gitu muka nya bang?" biyan semakin terpacu untuk memanas manasi keadaan
Ketiga nya menatap biyan penuh permusuhan. Jangan sampai aeris membuka forum jujur jujuran part 2
Aeris mengelus pelan rambut arsen. "mau jujur sama bunda?" kalimat keramat itu akhirnya terucap juga
Aro, Arsen dan Lionel langsung gelisah di tempat.
"bunda nanya tuh bang!" biyan melirik aeris di sampingnya, pria itu sudah duduk di sofa yg sama dengan gadis nya itu.
Aeris di tempatnya menatap daddy nya oenuh dendam. Bisakah arsen menghilangkan biyan untuk sementara waktu? Setidak nya kalau tidak, bolehkah dia minta pada tuhan agar pria itu bisu dadakan sebentar? Hahah ada ada saja pikiran mereka itu
"gak mau jawab?" suara aeris sudah berubah, terdengar datar dan aura menyeramkanya menguar.
"loh kok itu gak ada yg siap siap?" itu suara Ai gadis kecil itu berada di undukan anak tangga terakhir dengan pakaian yg sudah berganti. Menatap keluarga nya yg masih menggunakan pakaian yg sama.
*****
MAAFIN AUTHOR YAH UP NYA CUMA BISA KASIH SATU KALO LAGI GAK SIBUK AUTHOR USAHAKAN UP DUA TERGANTUNG MATA YG MEMBERAT EFEK BANYAK KERJAAN..HEHHE
tinggalin jejak nya dong biar othor juga tambah tambah semangat heheh
__ADS_1
See you