
"nona Ai di tampar sedangkan den lio di siram dengan kopi panas sama wanita itu." hasri menjawab seadanya, namun mata tajam gadis dua puluh lima tahun itu menyiratkan dendam pada naomi yg masih duduk mendrama di sana
Bisa di bipang mba hasri adalah salah satu pelayan yg sangat membenci naomi secara terang terangan.
Seakan mengerti apa yg telah terjadi, biyan dengan tergesa mengjampiri naomi
"biyan..tolongg.." satu tangan wanita itu terulur meminta pertolongan
Plak
Bukanya di tolong, naomi malah mendapatkan tamparan keras pada biyan. "jika terjadi apa apa pada ai dan lionel, aku tidak akan segan segan untuk membalas nya tiga kali lipat dari yg mereka rasakan" ancamnya
"jangan ada yg membantu nya" biyan berkata tegas pada seluruh pelayan dan body guardr yg ada di sana sebelum dia melangkah menuju tempat aeris dan kedua anak nya berada.
"arsen.. Tolongin mommy" naomi memelas pada salah satu putra nya namun di abaikan
"itu belum seberapa di banding perlakuan mu pada kami dulu" arsen berdecih menatap naomi yg kembali terisak
Dia tidak peduli wanita itu sangat pandai berakting. Pikirnya
Gazebo, taman belakang mansion
Aeris mencoba menenangkan Ai yg masih saja menangis, sedangkan lionel duduk di samping mereka sambil mba hasri dan bi ijah mengobati punggung nya yg melepuh dengan salep
"sshhhh... Pelan pelan mba perih.." suara lionel teredam karena dia menyembunyikan wajah nya di ceruk leher aeris
"hiks.. Tante tadi..hikss...jahat..hiks..ai benci" racau gadis kecil yg ada di dalam pelukan nya bayang bayang kejadian tadi terus berputar di kepala nya.
"sstt... Udah ya sayang.. Sada bunda di sini.." Aeris mengelus punggung Ai juga mengecup kepala putri nya dengan sayang
Rasanya aeris ingin menangis melihat kedua anak nya tidak baik baik saja.
"dasar wanita gila" makian nya di tunjukan pada naomi
( Flash back off )
"punggung lo sekarang gimana..aman?" tanya arsen, dia ngeri ngeri sedep melihat punggung lio semalam
"udah baikan darinpada semalam.. Tapi belum bisa pakai baju" jawab lionel, cowok itu tidak bisa bersandar di sofa jadi sebagai ganti nya dia tengkurap saja di bawah dengan bantal lembut yg melapisi lantai marmer.
"mau daddy panggilin dokter?" tawar biyan. Dia cukup khawatir dengan kondisi punggung lionel
__ADS_1
"gak usah dad!" lionel menolak tegas. "nanti di suntik" sambung nya
"dih..leader Agler takut di suntik ternyata" aro meledek, cowo itu tertawa puas setelah melihat wajah pias lionel saat ingin dibpanggil kan dokter
UHUK...UHUKK
Aeris menghentikan langkah nya saat mendengar suara batuk dari dalam kamar yg di tempati naomi
Uhukkk
Lagi suara batuk yg cukup keras terdengar
Naomi si pulu pul baik baik saja kan?
Rasa penasaran dan rasa khawatir mulai bermunculan pada diri aeris namun dia ragu untuk masuk ke dalam mengingat wanita itu sangat membencinya
"kalo di cek ntar kenapa kenapa, kalo di cek takut nya dia ngereog, duh serba salh kan jadinya" batin eris sambil memukul pelan kepala nya
"terobos aja lah"
dia menekan handle pintu kamar yg di tempati naomi, menyembul kan kepala nya dari balik pintu, mencari sosok naomi di ruangan luas itu.
Aeris berlari menghampiri naomi yg bersandar di headboard kasur, wanita itu terlihat sudah setengah sadar dengan wajah yg super pucet
"Aeris" naomi memaksa kan membuka mata nya, menatap sayu gadis yg duduk didepan nya dengan tatapan khawatir yg kentara.
"tolong..am..bilin..uhuk..semua obat..uhuk..di..laci.nakas...itu..uhuk" dengan susah payah naomi meminta tolong pada aeris, napasnya tinggal satu satu di tambah lagi cairan merah kental kembali keluar dari kedua lubang hidung nya.
Aeris yg panik langsung saja mengambil semua botol kecil berisi obat milik naomi. "ini mbak"
Di bantu aeris, naomi membuka botol obat obatan miliknya, ada enam butir obat yg dengan ukuran dan betukan yg beragam, sekali teguk. Obat yg di tangan naomi sudah meluncur masuk ke lambung nya.
Aeris mengambil kotak tisu yg ada di nakas, membantu naomi untuk menyeka darah yg terus keluar dari hidung wanita itu.
"terima kasih" naomi tersenyum tulus, aeris tertegun
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, wanita itu akhir nya menunjukan senyum tulus , tidak seperti sebelum sebelum nya hanya tampang julid, sinis dan senyum meremehkan nya yg terpatri di wajah naomi.
Lagi, aeris tersadar dari lamunan nya saat naomi memegang tangan nya, dia menatap wanita di depan nya takut takut, siapa tau kesurupan.
__ADS_1
"saya menyerah, maaf atas perlakuan saya selama ini kamu lebih pantas menjadi ibu anak anak dari pada saya" senyum naomi perlahan memudar bersamaan dengan mata nya yg mulai tertutup.
Aeris panik, tentu saja, "mbak, mbak naomi, bangun mbak" dia menepuk pelan pipi naomi namun tidak ada respon dari wanita itu.
Jantung aeris semakin berdegup kencang saat kulit tangan nya merasa tidak ada lagi hembusan napas dari hidung naomi yg terus mengeluarkan darah.
Dia berlari keluar kamar, berteriak sekencang mungkin agar penghuni mansion mendengar suaranya. "MBA HASRI! BIBI! TOLONGIN AERIS"
Di sore menjelang malam itu suasana mansion jadi ricuh dan panik karena teriakan aeris
Dan di waktj yg bersamaan pula biyan dan apra buntut nya tidak ada di mansion, mereka sedang keluar ke taman kota karena permintaan Ai
Aeris tidak di ajah? Tentu di ajak, bahkan dia di paksa untuk ikut, namun gadis itu entah kenapa menolak ajakan mereka. Perasaanya juga tidak temang sejak tadi
Perasaan tidak tenang nya tadi berasal dari naomi, wanita itu kini di gerubungi oleh beberapa maid dan bodyguard
PUKUL 18.05
Sudah setengah jam aeris menunggu di depan ruang ICU, menunggu dokter yg menangani naomi
Sedari tadi dia tidak bisa tenang, bayang bayang wajah pucat naomi yg tersenyum hangat malah tampak menyeramkan di kepalanya.
"keluarga naomi baskara?"
Lamunan aeris buyar seketika saat suara dokter terdengar di lorong sepi itu.
"saya keluarga nya dok" aeris meringis dalam hati, tidak apa apa kan dia berbohong kali ini.
Sebelum berbicara dokter yg di perkirakan aeris sudah berumur setengah abad itu menghela nafas sejenak. "dari hasip pemeriksaan pasien mempunyai riwayat kanker otak dan sudah memasuki stadium akhir. Pasien juga sempat menjelaskan jika dia sudah tidak melakukan kemo lagi sejak empat bulan lalu. Keadaanya cukup memprikatinkan, setelah saya periksa, banyak luka lebam hampir seluruh tubuh nya, apa apsien mendapat kekerasan fisik"
Mendengar penjelasan dokter di depanya,aeris tentu sangat terkejut dia masih tidak percaya jika naomi punya penyakit penantang maut.
"dokter bercanda kan?" setetes dua tetes air mata aeris mulai turun, dia masih tidak terima dengan dengan kenyataam yg di dengar nya.
Dokter itu menggeleng tegas, "saya tidak berbohong nona kebetulan pasien itu salah satu pasien kemoterapi di rumah sakit ini, teman saya yg menanganinya.".
Aeris mengangguk. "boleh saya masuo dok?"
"silahkan" dikter itu memberikan jalan untuk aeris sebelum kembali ke ruangan nya.
"mbak" aeris menatap sendu naomi yg terbaring lemas di atas brangkat, tubuh wanita itu tidak seperti kemaren kemaren yg tahan banting. Malah sekarang banyak alat penunjang kehidupan melekat di tubuh nya.
__ADS_1
****