
Sssshhhhhh.... Entah sudah ringisan keberapa yg keluar dari bibur aeris.
Gadis itu sedari tadi menahan rasa perih di ulu hati nya karena telat makan siang. Juga efek obat yg dia minum dua puluh menit yg lalu tidak bereaksi apa-apa seperti biasanya ditambah masih ada setengah tumpukan kertas tadi yg belum dia periksa dan itu membuat dua kali lipat tersiksa.
Sudah tidak tahan, Aeris menelungkupkan wajahnya di atas satu tanganya di atas meja sedangkan tangan yg satunya berada di perut, meremas keras agar sakitnya berkurang.
Keringat dingin juga sudah mengalir di pelipisnya dan tanganya bergetar karena lapar bercampur sakit yg kian menjadi. Sial, kenapa penyakit maag nya kambuh di saat yg tidak tepat seperti saat ini.
"Aeris." panggil biyan namun gadis itu bergeming, masih berkelut dengan rasa sakit di perutnya.
Biyan mengalihkan tatapanya dari layar laptop ke arah meja aeris. Dahinya mengernyit saat melihat gadis itu seperti tertidur di atas mejanya.
Dia berdecak kesal, baru hari pertama kerja gadus itu sudah tidak disiplin. Dengan langkah tegasnya, dia menghampiri meja sekertarisnya itu dan mengguncang pelan bahu aeria guna membangunkanya.
Aeris masih bergeming dengan posisi yg sama dan kembali meringis saat merasakan guncangan di bahunya.
"Aeris, bangun. Jangan tidur saat jam kerja!" suara tegas biyan membuat aeris perlahan mengangkat wajahnya dan menatap biyan dengan wajah sendu dan pucat.
Biyan terkejut melihat kondisi aeris saat ini. Ada apa dengan sekertarisnya ini?.
"Kamu... Kenapa?" tanya biyan sedikit ragu.
Aeris menggeleng kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di atas meja dan meringis membuat biyan mendadak khawatir.
Entah apa yg di pikirkan biyan yg tiba-tiba mengangkat tuh aeris kegendonganya menuju sebuah pintu yg berada di dalam ruanganya.
"Pak.. Bapak ngapain?" Tanya aeris panik dengan suara lemahnya. Ingin memberontak tapi tenaganya hilang entah kemana. Dia hanya bisa memejamkan mata dan menyandarkan wajahnya di dada bidang biyan.
Suara pintu terbuka membuat aeris membuka sedikit matanya. Ternyata bosnya itu membawanya ke dalam kamar khusus yg ada di ruanganya.
Dengan perlahan biyan menurunkan tubuh aeris ke atas kasur. Takut-takut membuat sakit gadis itu semakin parah.
Biyan memperhatikan aeris yg terlihat meremas perut bagian atasnya, apa gadis itu mempunyai penyakut maag?.
"Kamu punya penyakit maag?" Tanya biyan akhirnya setelah lama hening di antara mereka.
__ADS_1
Aeris mengangguk kecil, bahkan untuk mengeluarkan suara saja napasnya sudah tersengal duluan.
Biyan turun dari kasur dan keluar dari kamar mandi itu. mencari ponsel nya kemudian menghubungi seseorang. Kemudian kembali memasuki kamar menuju WC yg ada disna.
Aeris hanya mendengar suara sepatu biyan tanpa minat melihat apa yg sedang di lakukan oleh pria itu. Sekarang ini dia hanya fokus pada rasa sakit di perutnya yg perlahan mulai mereda.
kasur berderit tanda ada seseorang disampingnya. Matanya terbelalak kaget saat dia merasakan seseorang membuka kancing kemejanya. Dan yup, pelakunya adalah biyan.
"Bapak.. Mau apa?" tiba-tiba saja suara aeris kembali karena terkejut.
"Saya hanya membantu mengompres perut kamu. Saya tidak berniat macam-macam. Tenanglah." Ujar biyan dan dengan ajaibnya aeris membiarkan pria itu membuka kancing kemeja bagian bawahnya dan mengangkat sampai sebatas dada.
Dengan telaten, biyan mulai memeras kain kompres setelah mencelupkanya kedalam baskom berisi air hangat.
"kenapa tidak bilang kalau kamu punya penyakit maag? kan bisa saya ijinkan untuk istiranat tadi." kata biyan dengan nada datarnya.
Aeris membuka matanya,dan menatap sengit penuh permusuhan pada biyan. "Saya sudah mau bilang tadi, tapi bapaknya yg gak mau mendengar penjelasan mana main potong aja tadi." jawabnya sengit.
Biyan bungkam, dia tidak membantah setelah mendengar jawaban aeris. Entah kenapa saat gadis itu berbicara dan menjawab semua ucapanya tidak bisa dia membantah sedikitpun.
"Maaf." Satu kata yg paling anti yg biyan ucapkan kepada orang lain malah dengan mulus dia ucapkan di hadapan aeris ditambah dengan raut wajah sesalnya.
"Saya minta maaf." lagi, Suara bass bernada sesal itu kembali mengganggu pendengaran aeris.
Merasa tak tega dengan bos nya yg memelas, akhirnya aeris mengangguk. "saya maafin. Lain kali, kalau orang bicara itu jangan di sela. Ya pak, kalau bapak yg di gituin pasti gak enak rasanya." Nasehat aeris.
"Iya, sekali lagi maaf."
Aeris terkekeh pelan. "iya pak, Astaga. Bapak gak cocok kaya gini. Ucapnya
Biyan mengangkat kepalanya,terpaku melihat gadis itu tertawa untuk pertama kalinya. Astaga, sangat manis.
Biyan berdehem pelan, menetralkan rasa canggungnya saat terang-terangan terpaku memperhatikan sekertarisnya.
Tok....tok...tok
__ADS_1
suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya, biyan beranjak dari kasur. Sepertinya pesananya sudah datang.
"Makan dulu." suruh biyan sambil menyodorkan semangkok bubur ayam.
Biyan membantu aeris untuk bangun dan duduk bersandar di Heardboard . Saat biyan hendak menyuapinya aeris lebih dulu mengambil mangkok bubur itu dari tangan biyan.
"Saya bisa sendiri pak." Ujarnya kemudian memakan bubur di tanganya dengan pelan. Menghiraukan biyan yg hendak protes.
Suasana kembali hening, tanpa aeris sadari. Sedari tadi biyan terus memperhatikanya saat makan.
"Bapak gak lanjut kerja?" Tanya aeris tanpa menoleh ke arah biyan. Gadis itu terlalu fokus pada bubur ayam di tanganya.
Biyan menggeleng kemudian merebahkan tubuhnya di samping aeris membuat gadis itu tersentak kaget karna sedetik kemudian sepasang lengan melingkar di perutnya.
"Pak." Aeris reflexs memukul tangan biyan yg seenak dengkul nya memeluknya.
Sedangkan biyan semakin mempererat pelukanya dan menyembunyikan kepalanya di pinggang aeris. "Biarkan seperti ini sebentar, saya lelah."
Perasaan aeris sekarang ini tuh terkejut, bingung dan kesal. Tetkejut dengan bosnya yg tiba-tiba baik. Bingung dengan keadaan sendiridan kesal juga si bosnya maen peluk seperti ini. "pak, kalau mau niat selingkuh jangan sama saya, ingat istri di rumah."
"Tidak akan." Jawab biyan enteng.
Wahh, Sepertinya bosnya ini tukang selingkuh yg sudah pro. Buktinya, hanya berduaan dengan seorang gadis di dalam sebuah kamar spertinya sudah sanagat biasa biyan lakukan.
"Pak. Saya serius." Desis aeris. Gadis itu berusaha melepas pelukan biyan tapi sepertinya tenaganya kalah banyak. Buktinya, biyan semakin memeprerat pelukanya.
" Saya juga serius aeris." biyan mendongak menatap gemas wajah kesal aeris dari bawah. Rasanya biyan ingin menculik sekertarisnya ini dan mengurungnya untuk dirinya sendiri. Bener-bener gila.
Tidak terpengaruh dengan amarah aeris yg semakin memuncak, biyan dengan enteng mengambil satu tangan aeris dan meletakanya di kepala. "tolong elusin,Jangan di jambak tapi." pintanya.
Aeris mendengus lelah. Kalau begini caranya bukan dia yg sakit tapi biyan, lihatlah sekarang itu, pria itu dengan tenang mulai tertidur tanpa memperdulikan dia yg masih sakit.
"Kamu tenang saja saya duda."
"Hahh.."
__ADS_1
Ucapan biyan berhasil membuat aeris kembali terkejut. Sialan, Dasar duda genit kurang belaian!.
****