
SD BINTANG PELITA
kedatangan bugati veyron yg di kendarai biyan berhasil menarik perhatian orang orang yg ada di sana.
Saat pintu mobil terbuka, mereka terkejut karena yg keluar dari dalam mobil adalah si Ai, murid pendiam langganan di bully teman sekelas bahkan kakak kelasnya di sekolah itu.
Mereka semakin terkejut saat biyan keluar dari pintu kemudi dan aeris dari pintu sebelahnya. Para orang tua siswa yg masih ada di sana tentu tau siapa sosok biyan, pria kejam dan licik dalam dunia bisnis.
Banyak pertanyaan di kepala mereka, termasuk para siswa yg mengetahui Ai. Nama gadis itu terkenal seantero sekolah karena kejadian tiga minggu lalu saat dia menjatuhkan dirinya dari lantai di sekolah yg cukup tinggi.
Bengabaikan segala bisik bisik orang yg mereka lewati. Ai bersama aeris dan biyan berjalan menuju kelasnya yg ada di lantai dua.
"Ai yg serius ya belajarnya, bekalnya juga di habisin ya cantik oke?" aeris berjongkok tepat di depan Ai saat mereka sudah berada di depan kelas gadis kecil itu.
Ai mengangguk riang. "siap bun!" Ai kemudian berbisik pelan "terimakasih udah kabulin permintaan Ai ya bunda, Ai seneng banget" ujar nya tulus
Aeris yg mendengar bisikan Ai pun melepaskan pelukan mereka. Menatap lekat pada mata abu abu indah itu. Dia tersenyum hangat dan mengelus pelan kepala Ai. "Anything for my sweey daughter"
Cup
Satu kecupan manis dan hangai Ai dapatkan di dahinya.
Setelah mendapatkan kecupan dan pelukan hangat dari bumda nya, Ai menoleh ke samping menatap daddy nya.
Biyam yg mengerti menunduk. Mensejajarkan wajah nya pada wajah putrinya. "kalau ada yg macam macam lagi sama Ai, langsung lapor ke daddy oke"
Dengan gaya hormat gadis kecil itu tersenyum manis. "siap! Dad!"
"masuk gih, bentar lagi jam bertama di mulai." kata biyan setelah mengecup pucul kepala Ai dan mengelusnya pelan.
Ai mengangguk. Dengan santai kaki nya melangkah masuk ke dalam kelas yg hening. Mengabaikan tatapan seluruh penghuni kelas, Ai pun duduk di kursinya yg ada di pojok belakang.
Menata barangnya. Ai tertarik mengintip bekal yg aeris buatkan. Setelah di buka, senyum manisnya mengembang
melihat isi bekal nya.
Ada susu hangat kesukaanya dan sandwich dan salad buah.
"Bunda yg terbaik!" gumamnya
"itu tadi mama kamu?"
Ai mendongak menatap gadis berambut sepinggang yg teman sekelasnya. "iya" raut yg tadi nya senang berubah datar.
"oh. Oke"
__ADS_1
Gadis yg ber name tag laluna alara pun segera pergi dari meja Ai saat merasa aura Ai menolak kehadiranya.
HELION CORP PUKUL 07.45
aeris langsung berkutat dwngan kertas saat sampai di mejanya, biyan pun begitu
"pak" aeris sudah berada di depan biyan dengan memegang sebuah map berwarna hitam.
Meskipun aeris dan biyan dekat, tapi saat di kantor, panggilan aeris pada pria itu kembali seperti semula. Kalau bekerja harus profesional bukan?
"hm?" tidak menatap aeris biyan tetap fokus pada layar laptopnya.
Aeris memutar bola matanya kesal. "pak bisa minta perhatianya sebentar"
Mendwngar nada serius aeris, biyan langsung mengalihkan perhatianya pada gadis di depanya. "ada apa sayang?"
"serius! Ini di kantor!" Aeris menatap sengit bosnya. Selalh saja duda mesum ini tidak bisa fokus jika dia sedang serius
Biyan terkekeh pelan kemudian dia merubah raut wajahnya menjadi datar dan tegas. Seperti atasan pada umumnya.
"ada jadwal anda yg bertabrakan ini, pada pukul dua siang. Anda harus mengikuti rapat triwulan, tapi klien dari amerika hanya punya waktu meeting siang hari ini karena akan pupang malam nanti" ujar aeris panjang lebar
Biyan diam netra abu abunya melirik jam dinding di ruangan luas itu, pukul 08.00 . "siapkan ruanganya tiga puluh menit lagi rapatnya kita mulai. Saya tidak ingin ada yg terlambat setengah menit pun." nada otoriter itu keluar begitu saja
Aeris yg paham pun langsung keluar dari ruangan menghampiri Denzel. "bang den!"
"di suruh sama pak biyan siapin ruang rapat sama seluruh devisi. Tiga puluh menit lagi rapat, gak bileh telat" ucap aeris
"Lah kok?"
"jadwal hari ini ada yg benturan, jadi rapat triwulan nya di majuin," kelas aeris kemudian kembali masuk ke dalam ruanganya.
"mbak an, istitahat ke kafe depan yok!" ajak aeris pada Anneth yg tengaj fokus pada laptop nya.
"Gas!" seru Anneth. Sudah laam juga mereka tidak kesana.
---
Pukul 12.05
Rapat baru saja selesai. Semua berjalan lancar. tidak seprti tiga bulan lalu yg di tutup dengan kemurkaan biyan.
Di dalam lift khusus petinggi. Ada Aeris, Annet, Denzel dan Biyan. Para wanita sibuk dengan obrolan mereka tentang menu makan siang mereka di kafe depan. Sedangkan oara pria hanya diam menatap layar ponsel masing masing namun telinga keduanya menguping pembicaraan mereka.
"katanya ada menu baru di sana gak sabar pengen nyobain." ujar Aeris dengan mata berbinar
__ADS_1
"penasaran gue, apa aja menunya" Anneth bergumam
Ting
Pintu lift terbuka. Mereka semua keluar dari ruangan kecil berbentuk kotak itu menuju ruangan masing masing.
"tunggu bentat ya mba, aku ambil dompet dulu." aeris berlalu bersama biyan menuju ke ruangan mereka.
"mas gak mau nitip?" tanyanya. Siapa tau kan biyan mau merakan menu baru kafe depan kantor.
"seperti biasa, Espresso" jawab biyan seraya membuka pintu.
Ceklekk
"Sayang!"
Deg
Aeris? Menatap horor wanita yg memeluk bosnya. Gelendotan di lengan biyan seperti monyet kurang di garuk.
Biyan? Masih shock dengan pelukan tiba tiba wanita ini. "lepas!" ujarnya dingin
Wanita yg memeluk biyan menggeleng sembari mendusel di dada pria itu. "kamu gak rindu sama aku?" wanita itu tersenyum manis namun terkesan horor dan menjijikan di mata biyan.
"Aletha, lepaskan pelukan mu sekarang juga!" suara biyan naik dua oktaf
"ishh.. Aku bilang gak mau ya gak mau! Aku masih kangen tau." wanita yg bernama Aletha itu pun mengerucutkan bibirnya. Menatap kesal pada biyan.
Aeris di mejanya menatap dua orang yg bermesraan tepat di depanya dengan raut datar. Biyan yg melihat ekspresi aeris tentu gelagapan dan memaksa pelukan Aletha
Brughh
"biyan kamu kasar sama perempuan?" Aletha meringis pelan setelah jatuh karena dorongan biyam yg tidak main main.
"say-" saat biyan ingin menghampiri aeris di mejanya, langkah nya terhenti saat pintu ruangan terbuka kasar.
Brakk
"Ae, udah ambil dompetnya?" Anneth masuk ke ruangan sepupunya setelah mendengar sedikit keributan. Takut Aeris kenapa kenapa.
"Lah, lo pelihata lontai lagi bang?" Anneth menatap tajam wanitan yg masih betah duduk di lantai.
"Shuut up jerk!" Anneth mengintrupsi saat biyan hendak berbicara.
"selesaiiin urusan sam apeliharaan lo dulu baru boleh ngomong smaa aeris" tambahnya.
__ADS_1
Biyan menggeram kesal.
****