Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
bab 43


__ADS_3

Berusaha menahan pusing yg masih mendera, aeris bangun untuk dudul setelah menyingkirkan tubuh biyan yg menindihnya.


Mereka duduk saling berhadapan. Aeris masih diam sedangkan biyan menatap melasnpada aeris pria itu bahkan masih sesenggukan namun aeris tidak peduli.


Lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli. Padahal tanoa biyan tau kalau sebenarnya dia berusaha menekan rasa takutnya pada biyan. Rasa terkejut, takut dan shock masih mendominasi


Siapa yg tidak takut dengan biyan jika kalian berada di posisi aeris saat ini yg beberapa saat lalu melihat biyan membunuh seseorang dengan brutal dan sekarang sudah nerubah menjadi anak kecil dengan cover tubuh pria dewasa


Melihat aeris yg terus diam dan tidak nyaman dengan tatapan gadis itu terhadapnya. Biyan pun menggapai tangan gadis itu yg terasa dingin. Apa aeris takut padanya?


"maaf?" entah sudah yg ke berapa kali biyan mengatakan kata yg sama


Masih tidak ada tanggapan dari aeris


"aku membunuh nya karena dia dalang kecelakaan Ai tiga bulan yg lalu" biyan kembali berbicara namun kali ini pria itu menunduk, enggan menatap wajah aeris. Tangan gadis imut itu lebih menarik sekarang.


Aeris masih diam


"aku menyesal membunuhnya, tapi dia memang pantas untuk mati" ucap biyan lagi.


Aeris menarik tangan nya, sontak biyan langsung bersitatap dengan gadis di hadapanya.


"menyesal?" entah itu pernyataan atau pertanyaan untuk biyan


biyan menganggik. "sangat.." padahal dalam hati nya tidak puas karena nyawa Aletha tidak berakhir di tanganya.


"bohong.." Suara aeris naik satu oktaf


"Saya tidak menyangka bahwa anda bisa membunuh seseorang, dengam gadis seperi" aeris menatap manik manjb hitam


Biyan menggeleng, air mata nya kembali terjatuh, sial mengapa jika berurusan dengan aeris air matanya selalu baperan seperti saat ini? Sangat tidak lakik.


"sayang ak-"


"diem!" lagi, aeris menyela perkataan biyan. "bapak bilang menyesal telah membunuh aletha tapi bapak mengatakan jika wanita itu pantas mendapatkanya. Secara tidak langsung bapak tidak menyesal melakukan hal keji seperti tadi."


Biyan diam, dia menunduk saat aeris mulai berbicara panjang. Bahkan gadis itu memanggil nya dengan sebutan "bapak" dak aksen formal gadis itu membuatny takut. Aeris benar benar marah padanya.


"kapau benar Aletha dalang di balik kecelakaan Ai, kenapa anda tidak melaporkanya saja ke polisi, dia akan mendapatkan hukumanya." kata aeris lagi.


Namun sperti nya biyan tidak menerima dengan perkataan gadis itu barusan. Dengan melaporkan aletha ke polisi dan di adili menurutnya itu sangat tidak adil.


"tidak ada gunanya melaporkan wanita seperti dia kep polisi, yg ada dia akan mudah bebas dari sana, hanya menjajakan tubuh menjijikanya pada polisi yg menhanya dia bisa keluar dengan mudah." biyan mengeratkan rahangnya, emosinya sedikit tersulut.


Aeris diam, saat biyan melemparkanya dengan tatapan tajam. "tapi cara itu lebih baik dari pada anda mengotori tangan anda dengan membunuhnua."


Biyan tertawa pelan, berhasil membuat aeris sedikit ciut. Tawa pria itu . Sangat berbeda dengan tawa yg biasa dia dengar.


"cara lebih biak hm? Lebih baik saya mengotori tangan saya daripada ****** siapan utu bebas berkeliaran di dunia ini." biyan menghela nafas kasar, berusaha meredam emosi yg menguasai dirinya

__ADS_1


"sekarang polisi sudah tidak dapat di percaya aeris, terkadang memakai hukum rimba adalah jalan yg tepat daripada melihat ****** itu mendapat hukuman yg tidak setimpal dengan perbutanya."


"tap-"


"BERHENTI MEMBELA ****** SIALAN ITU" sial, biyan kelepasan


Sisi tempramentalnya kembali


Dengan cepat dia meraih tubuh aeris untuk masuk ke dalam pelukanya walau gadis itu memberontak.


"maaf" bisiknya


Sedangkan aeris mulai menangis dalam pelukan biyan, gadis itu paling lemah jika di bentak. "cara saya memang salah, tapi itu lebih baik dari pada melihat ****** itu mengganggu kita sayang."


"bapak..hiks..psikopat.." cicit aeris


Biyan menyeringai, kedua tangan besar itu menyangkup wajah aeris agar melihatnya. "kamu benar, saya memang psikopat, kamu juga sudah melihat sisi lain saya, sosok biyan yg lain." dia memajukan wajahnya, dia mengecup pelan kedua mata merah aeris yg masih mengeluarkan bulir bening.


CUP


CUP


Bukanya berhenti menangis air mata aeris semakin banyak saja. "bapak mau bunuh saya juga nanti?" entah dari sudut mana pertanyaan bodoh itu berasal saking takutnya aeris pada biyan sekarang.


Tubuh nya kaku, seakan bergerak sedikit saja tangan nesar biyan sudah berpindah keleher nya untuk di cekik


Pertanyaan bodoh biyan tentu di tanggepi biyan. "iya" jawabnya.


"kenapa? Kamu mau merasakan bemda ini juga di kulit kamu?" biyan memperlihatkan pisau lipat miliknya yg tadi dia gunakan untuk menghabisi Aletha


tidak sanggup berbicara, aeris menggeleng lemar. Apalagi bemda tajam itu menyentuh kulit wjahnya. "mas" cicitnya


Sial!


Biyan melempar pisau di tanganya kemudian memeluk aeris dengan erat, sedangkan aeris. Gadis itu sudah menangis keras di pelukanya. "hahhah"


Biyan tidak bisa menhan tawanya saat melihat wajah aeris tampak pias. Niatnya mengerjai aeris berhasil!


"hua...hiks..jahat.."


"maaf sayang" berusaha menetralkan tawa, dia meminta maaf pada gadis nya aeris yg sekarang sangat berbeda. Sisi menggemaskan dam manjanya bercampur menjadi satu.


jika biasanya biyan yg selalu bersikap manja pada aeris, sekarang giliran aeris bersikap demikian.


"udah ya nangisnya.." kasihan juga melihat aeris menangis sampai sesenggukan seperti ini.


Bukanya berhenti menangis, aeris malah mengencangkan tangisanya. "gak..hks bisa..ber..hiks..henti..hiks"


Biyan mengelus surai panjang aeris juga menepuk pelan punggung gadis itu sambil menggumamkan kata maaf berulang kali.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu tangis aeris sudah mereda, hanya meninggalakan sesenggukan saja.


Lima menit


Spuluh menit


Limabelas menit


Tiga puluh menit berlalu, mereka masih saling diam


"maafkan mas ya" biyan menunduk, menatap wajah sembab aeris


tidak menjawab ataupun mengangguk, aeris malah menatap biyan. Aeris malah menatap biyan, lagi. Air matanya kembali tumpah membuat biyan gelagapan


"udah ya nangis nya." jika seperti ini jadinya biyan tidak akan menjahili aeris. Gadis nya sangat susah berhenti menangis.


"mas jangan lakuin hal itu lagi ya?" cicit aeris. Menatap penuh permohonan pada biyan


Biyan langsung mengiyakan. Dia tidak akan mengulangi kebodohan yg sama dengan membuat aeris jadi takut padanya. "mas janji" maksudnya janji untuk tidak terang terangan membunuh di depan aeris


"jadi di maafin kan?"


Aeris mengangguk. Sebegitu mudahnya gadis di pelukanya ini untuk memaafkan nya.


Lagi, kembali hening. Tidak ada lagi percapan di antara mereka. Hanya ada dentingan suara jarum jam di ruangan itu.


"kamu gak cemburu kalau saya di tempeli ****** itu tadi?" tanya biyan tiba tiba.


Aeris mengernyit. "cemburu?" biyan mengangguk


"untuk apa?"


Jawaban yg tidak sesuai ekspetasi biyan. "kamu gak cemburu ****** itu peluk mas tadi?" ulangnya


"gak boleh manggil nama aletha kaya gitu dia punya nama." peringat aeris, bukanya menjawab pertanyaan biyan dia malah menegur pria itu.


"what ever lah, sekaramg jawab pertanyaan mas tadi" sungguh biyan sudah greget untuk mengetahui jawaban gadisnya ini.


"ngapain saya cemburu? Kita punya hubungan?"


Skak!


Biyan diam


Apakah aeris tidak mempunyai perasaan yg sama seperti dirinya pada gadis ini? Kedua ginjal biyan terasa di cubit


Air mukanya menyedu. "saya cinta sama kamu, aeris. Apa kamu tidak mempunyai perasaan yg sama pada saya?" tanya biyan. Nada pria itu terdengar putus asa.


Apa selama ini aeris menganggap ungkapan cinta nya sebagai angin lalu? Bercandaan? Biyan terpelak realita.

__ADS_1


sangat negatif thinking duda ini


****


__ADS_2