Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
bab 24


__ADS_3

Pukul 17.30


 Aeris baru saja sampai di rumahnya setelah menemani anneth belanja. Beruntung biyan mengijinkanya untuk pergi bersama anneth dengan syarat harus pulang sebelum jam enam sore.


 perlu kesabaran ekstra untuk mendapatkan ijin biyan. Belum lagi saat mereka sudah sampai di mall yg mereka tuju tiba tiba dua orang pria bertubuh kekar dengan jas dan pakaian serba hitam menghampiri mereka. Katanya perintah dari biyan untuk menjaga mereka.


 Sangat berlebihan bukan?


Bahkan mereka juga lah yg mengantar aeris ke rumahnya, ingat, rumahnya bukan mansion millan


Aeris langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Berapa hari dia tidak pulang ke rumahnya ini karena tidak di ijinkan pulang oleh biyan dan ketiga buntut pria itu.


Aeris sih seneng seneng aja berada di mansion itu, tapi dia juga sadar diri, dia bukan siapa siapa. Hanya orang asing yg di klaim sebagai ibu dari anak anak bos nya yg kekurangan kasih sayang seorang ibu.


Baru saja dia hendak terlelap. Matanya kembali dipaksa untuk terbuka saat mendengar dering telepon di ponselnya.


Aeris mengernyit, tidak biasanya Aro menelpon di saat seperti ini.


"halo..ada ap-"


"bun..bun..ai..ai..masuk rumah sa..sakit. Dia jatuh da..dari lantai dua sekolahnya..hiks.." suara dengan nada bergetar aro membuat mata aeris membola


"jangan bohong kamu." semtak aeris. Rasa panik langsung menghujam dirinya


Rasa panik itu semakin besar saat mendengar isakan dengan nada lemah aro dari sebrang sana.


"halo..halo..aro kamu masih denger bunda? Sayang?" aeris panik


"bun..ke rumah sakit pelita harapan sekarang, ruang ICU" bukan aro yg menjawab tapi arsen dengan suara tenang nya tapi dia tebak pasti berakhir seperti aro.


"bunda ke sana sekarang"


Setelah memutuskan sambungan teleponya, aeris langsung menyambar tasnya dan meraih kunci motor yg ada di atas nakas. Tidak peduli dengan rasa lelahnya yg kini tergantikan dengan rasa perasaan khawatir yg mendominasi.


Setelah menutup gerbang rumah, aeris langsung tancap gas menuju rumah sakit yg di sebutkan aro tadi. Ada gunanya juga dia membeli motor sebulan yg lalu walau dia jarang memakainya. Tapi sekarang dia bisa memaikainya dalam keadaan genting seperti sekarang ini.


Lima belas menit kemudian, aeris sampai di rumah sakit setelah terjebak macet dan hampir kecelakaan karena menerobos lampu merah


Saat sampai di deoan ruang ICU, mata nya memanas melihat tiga laki laki di sana sudah kacau dengan wajah sembab yg tidak bisa di tutupi.

__ADS_1


Terlebih biyan, dia menunduk menatap lantai rumah sakit, membiarkan air mata nya mengalir begitu saja. Biyan paling lemah jika menyangkut putrinya.


Aeris melangkahkan kaki nya menuju ketiga laki laki di sana, bahkan suara sepatunya bergema di lorong ruang ICU tidak menyadarkan mereka saking kalutnya.


Biyan mengangkat kepala nya saat merasakan elusan di pundaknya. dan aroma parfum yg sangat dia kenal, dia mendongk, menatap aeris tidak lebih dari tiga detik kemudian menghambur memeluk gadis yg dia cintai nya itu.


"aeris..ai..ai ada di dalam..di..dia" biyan mulai meracau.


Aeris membalas memeluk pria di depanya. Untuk kedua kalinya dia mendapati biyan menangis walau dengan sebab yg berbeda. pria di pelukanya ini sangat rapuh dan hancur. "ai kuat , dia pasti selamat."


Rasanya aeris juga ingin menangis sekarang. "tenang ya, pak. Ai pasti akan baik baik aja." ujarnya menenangkan.


Aro dan Arsen yg melihat betapa kacau nya ayah mereka kembali menangis dalam diam. Terlebih aro, pemuda itu masih shock sampai sekarang. Karena aro lah yg menjemput sang adik di sekolahnya tapi malah mendapatkan kabar jika sang adik terjatuh dari lantai dua tepat di depan mata nya sendiri.


Mengingat kejadian tadi membuat mental aro terguncang. Sungguh, niat ingin membuat kejutan sang adik dengan menjemputnya, malah dia yg mendapat kejutan di luar nalar dari sang adik.


Ceklekk..


Pintu ruang ICU terbuka, seorang pria dengan snell putihnya berdiri memegang sebuah kertas


"dengan keluarga pasiem. Atas nama aeris" ucap dokter tersebut


Aeris menoleh "ya, dok. Saya sendiri." lalu berdiri dari duduknya setelah pelukan biyan terlepas.


Aeris menatap biyan meninta ijin. Setelah pria itu mengangguk, aeris lalu masuk meninggalkan dokter tadi yg tengah berbincang bincang dengan biyan.


Air mata aeris keluar tanpa bisa di bendung melihat kondisi puntrinya sekarang. Hampir seluruh tubuh ai de penuhi dengan berbagai alat yg entah apa fungsinya. Kaki kanan dan tangan kiri di gips juga kepala dan beberapa bagian tubuhnya di perban.


"sayang, ini bunda" lirihnua setelah menggenggam lembut tangan ai yg tidak di infus. Bahkan di tangan itu terdapat beberapa luka goresan yg masih mengeluar darah luka nya cukup dalam.


"bunda"


"iya sayang, ini bunda" ujar aeris lagi


Ai yg sudah sadar dari pengaruh bius nya pun membuka matanya dan menoleh pada sosok yg duduk di sampingnya


"bunda..hiks..hiks..sakit" perlahan ai mulai menangis dan merintih kesakitan


Aeris mengangguk. "iya sayang. Sabar ya, bunda di sini"

__ADS_1


Ceklekk


Suara pintu terbuka, menampakan biyan yg berdiri mematung di sana. Berusaha menetralkan raut wajahnya yg terkejyt melihat keadaan putrinya saat ini.


"Daddy.." lirih ai saat melihat sosok daddy nya


Biyan berjalan menghampiri putrinya dan aeris di sana. Dengan pelan. Sambil mengecup singkat pelipis ai yg terlilit perban.


Melihay kondisi putrinya saat ini. Tanpa sadar biyan mengepalkan kedua tanganya hingga buku buku jarinya terlihat memutih menahan amarah, dia bersumpah akan memberi hadiah bagi orang orang yg mencelakai putrinya.


-------


Saat ini ai sudah di pindahkan ke ruang inap VIP setelah melihat perkembangan kesehatam gadis kecil itu. Mereka sedikit lega melihat berbagai alat dan selang yg melekat pada tubuh mungil ai sudah terlepas menyisakan selang infus yg di tanganya di gips.


Sedari tadi ai tidak ingin lepas dari aeris barang sebentar saja. bahkan untuk ke WC saja aeris menunggu lama untuk gadis kecil itu tertidur pulas baru bisa meninggalkanya sebentar.


"bunda gak bakal ninggalin ai kan?" entah sudah pertanyaan ke berapa dengan kalimat yg sama keluar dari mulut mungil ai dan di jawab dengan jawaban yg sama pula oleh aeris. "enggak sayang"


"sekarang ai tidur ya, udah malam" bujuk aeris, sekarang sudah pukul sembilan malam. Memang sudah jadwal tidur ai


Tangan ai yg di gips perlaha terangkat untuk memeluk pingganh aeris. Memang gadis itu tengah ikut berbaring bersama ai guna menidurkan gadis kecil itu. tentu karena paksaan dari ai yg takut bundanya akan pergi meninggalkanya jika tidak tidur di sampingnya.


Perlahan mata ai terasa berat dan mulai tertutup menikmati elusan lembut di punggung nya, berasal dari tangan aeris.


Lima belas menit berlalu, aeris menghentikan elusan tanganya saat ai sudar terlelap. Dengan pelan dia menggeser tubuhnya untuk turun dari bad hospital yg di tempati oleh ai.


Dia menghampiri Aro dan Arsen yg tengah sibuk dengan laptop mereka masing masing. Entah mengerjakan apa dengan benda pipih itu. Aeris tidak peduli.


"Bun" panggil arsen


Aeris menoleh. "hem, ada apa?"


"kalau menurut bunda, apa bunda percaya kalau ai jatuh dari lantai dua gedung sekolahnya bukan karena di dorong. Melainkan ada yg menyuruhnya."


Aeris mngernyit. "maksudnya?"


Aro memberikan laptop nya pada aeris. Menyuruh untuk wanita itu melihat rekaman CCTV sekolah ai yg berhasil ai retas.


Awalnua aeris biasa saja melihat tayangan rekaman cctv itu. Tapi perlahan raut wajahnya berubah mengernyit dan terkejut setelah melihay ai membuang dirinya sendiri dari lantai dua gedung sekolahnya.

__ADS_1


Fyi. Sekolah ai bertaraf international sistem full day. Itu lah mengaoa aro menjemout adiknya pada sore hari.


****


__ADS_2