
Setelah beberapa menit menikmati pemandangan manis disana, Biyan akhirnya menutup pintu kamar aeris dengan pelan kemudian pergi menuju dapur untuk menuntaskan rasa hausnya yg sedari tadi menyiksa.
Selepas minum, dia kembali kekamar tidak lupa membawa segelas air untuk berjaga-jaga jika dia terbangun kembali.
Aeris Ghafishan Nara.
Tiba-tiba nama itu terlintas begitu saja di kepalanya. Kemudian wajah manis gadis itu saat tersenyum dan kejadian waktu pertama kali mereka bertemu hingga sekarang gadis itu tidak bisa lepas dari anak-anaknya.
pertama kali dia menatap wajah Aeris, gadis itu berhasil membuatnya diam terpaku, Entah apa yg dia pikirkan waktu itu langsung sehingga menyeret gadis itu keruanganya dan menjadikan gadis itu sekertarisnya sekarang.
Tidak bisa dia tampik jika bertemu dengan aeris adalah sebuah takdir yg patut di syukur. karena gadis itu, banyak hak yg berubah dari dirinya. Termasuk anak-anaknya walau gadis itu pendatang baru di lingkup keluarga mereka.
Gadis itu dengan sabar menasehati anak-anaknya yg berbuat salah hingga mencarikan jalan keluar, benar-benar ibu idaman.
Biyan berharao Aeris yg mereka kenal adalah sosok gadis yg benar-benar sosok malaikat yg selama ini mereka impikan. Tak ayal jika biyan selalu berdoa untuk anak-anaknya mendapatkan sosok ibu yg mereka idam-idamkan.
Biyan sudah nyaman dengan Aeris di hidupnya.
****
Jam enam pagi ini Rumah Aeris yg biasanya tenang adem ayem kini berubah menjadi rusuh dan ribut. Pelakunya tidak lain Aro, Arsen dan ai.
Niat awal mereka bertiga ingin membantu Aeris membuat sarapan tapi sepertinya mereka malah mengacaukan dapur dan berakhir dengan Aeris mwnguruh mereka untuk duduk
Diam di meja makan sementara Aeris menyelesaikan membuat sarapann yg tertunda.
Karena keributan di pagi hari inilah mengudang para tetangga di rumahnya. Bahkan bu asih sempat berkunjung bersama putranya untuk melihat apa yg terjadi.
Bu asih yg melihat ada dua tambahan anak shock tiba-tiba tapi setelah di jelaskan bu asih tersenyum mengerti. Setelah bu asih dan putranya sempat bermain bersama si kembar akhirnya di seret pulang sang mama untuk bersiap kesekolah.
Sarapan sudah jadi, Aeris menghidangkan omlete, nasi goreng, roti bakar dan susu. Semua masakan Aeris tampak menggiurkan membuat dia tertawa pelan melihat wajah anak-anaknya yg tidak sabar untuk segera menyantap makanan di atas meja.
"Daddy kalian dimana?" Aeris berhenti makan saat menyadari sosok biyan tidak di antara mereka.
"Paling, masih molor bun" jawab aro dengan mulut oenuh makanan.
"telen dulu makananya baru bicara ya" Aro mengangguk "yaudah kalian habisin sarapan kalian, bunda mau cek daddy kalian dulu."
selepas kepergian bunda mereka Aro, Arsen dan Ai daling tatap seolah berbicara melalui tatapan mata.
"Tumben Daddy gak bangun pagi, Biasanya dia yg bangun awal." Ucap Ai heran.
Sedangkan di dalam kamar,Aeris menggeleng pelan melihat satu manusia yg masih tertidur dengan pulas dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Aeris mengguncang pelan bahu Biyan agar pria itu bangun. Bukanya bangun, biyan malah menggeliat dan menyamankan posisi tidurnya masih dengan selimut yg membungkus seluruh tubhnya.
"pak bangun, Udah pagi." Aeris hendak menyibak selimut yg di paakai biyan tetapi dengan cepat pria itu menarik tanganya hingga dia limbung dan terjatuh di samping pria itu.
__ADS_1
"sshh..pak.. Bang-" Belum selesai dia selesai berbicara, matanya membola saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya membuat dia di pelukoleh biyan.
"pak lepas." Ucao aeris tegas sambil berusaha meleoas pelukan biyan yg sudah berbuat mesum di pagi hari.
" Benar benar duda satu ini" batinya.
"Saya lemas ." dua kata itu berhasil keluar dari mulutnya.
Aeris diam, sepertinya ada yg tidak beres dengan duda mesum satu ini, tanganya mengangkat untuk menyentuh kening dan leher pria itu dan kaget saat suhu tubuh biyan benar-benar tinggi.
"Pusing." Biyan berucap parau. Bahkan berbicara pun tidak bisa.
Aeris menatap sendu wajah biyan yg terlihat pucat. Tanganya bergerak memijit pelan kepala pria itu guna meredakan sediit rasa pusing di kepalanya.
"pak, minum dulu ya." tawar aeris namun di jawab gelengan kepala pria itu.
Biyan merasa sangat nyaman dengan pijitan lembut aeris di kepalanya. Wajahnya maju menyembunyikan di cekuk leher aeris. Membuat gadis itu geli dengan hembusan nafas panas biyan.
"Jangan pergi." Gumam biyan dan mengeratkan pelukanya. Sepertinya pria itu ngelantur karena demam.
"Bun, Astaghfirullah.." Aro terkejut melihat pemandangan di depanya.
"Kalian ngapain?" itu bukan suara Aro, melainkan suara Arsen dengan wajah datar khasnya dan jangan lupa nada dingin pemuda itu.
"Bundaa.."
"Bunda kok lama sih?" Sudah hampir sepuluh menit mereka menyantap makanan tapi sang bunda belum juga keluar dari kamar daddy nya.
"Gak biasanya" Gumam Aro. Karena sarapanya udah selesai,dia berinisiatif untuk mengecek dua orang dewasa itu di dalam kamar.
Ceklekkk...
Pintu terbuka pelan dan kepala aro menyembul dari balik pintu. "bun-Astaghfirullah." Aro terkejut melihat pemandangan di depanya.
"kalian ngapain?" itu bukan suara Aro, melain Arsen dengan wajah datar khasnya dan jangan lupa nada dingin pemuda itu.
Arsen segera menyusul kembaranya, saat melihat Aro malah bengong di depan pintu sambil nyebut.
Aeris yg tertangkap basah tengah di peluk biyan berusaha melepaskan pelukan pria itu. Bukanya melepas saat melihat wajah panik Aeris, dia malah mengeratkan pelukanya dan mendusel di ceruk leher aeris.
__ADS_1
"Bunda bisa jelasin?" Aeris yg kepalang panik sudah tidak memperhatikan si kembar berusaha menahan tawa melihat betapa panik bercampur gemas bunda mereka ini.
"Bun, ***calm down okey***, gak usah panik daddy kalo sakit emang gitu." ucao Aro menenangkan.
Untung sekarang udah ada bunda. Jadi bukan gue lagi yg jadi boysitter nya daddy kalo sakit. Sambungnya dalam hati.
Arsen duduk di tepi kasur tepat di samping aeris. Pemuda itu terkekeh melihat masih ada raut wajah panik di bundanya. "Bunda tenang aja, Arsen gak marah kok bunda di gelendotin daddy hehe."
Pemuda itu langsung menurut. "Daddy kalau kecaoean pasti gini bun." bisik Aro "Biasanya kalo sakit paling cepet sembuh tuh semingguan padahal cuma demam biasa." tambahnya.
Aeris tidak habis pikir mendengar penuturan Aro tidak dapat di pungkiri jika Biyan itu ***Workaholic*** hingga terlalu memforsir pekerjaanya. Di liriknya biyan yg masih memeluknya, pria itu kembali tidur, apa semalam pria ini tidak tidur?
Arsen datang bersama Ai membawa nampan berisi nasi hangat dan lauknay juga air outih dan obat penurun panas.
"Euungghhh.."
"Dad, lepasin dulu bundanya."
Ujar Ai saat melihat Daddy nya enggan melepas belitan tangannya pada aeris.
Perlahan biyan mengerjap merasa pelukanya pada perut aeris terlepas. Pria itu menatap satu persatu anaknya.. "bunda kalian mana?" tanyanya kemudian bersandar di headbord.
"kenapa pak?" tanya Aeris gadis itu tengah mengambil piring berisi makanan di atas nakas, padahal dirinya masih berada di samping biyan.
Biyan menoleh mendapati sosok yg di carinya. Tanpa banyak kata pria itu kembali melingkarkan kedua tanganya pada pinggang aeris, menumpukan dagu nya pada bahu aeris membuat ketiga anaknya menatap jengah.
Ini daddy bukan sih? Batin Ai sambil menatap julid sang daddy.
Udah kepala tiga tapi kelakuan naudzubillah. Batin Aro pemuda itu menatao geli Daddy nya yg tengah gelendotan pada bundanya.
"Daddy kaya bocah!" Hanya Arsen yg menyatakan kejulidanya pada biyan.
Biyan mendelik pada putra pertamanya itu. Saat hendak membalas ucapan Arsen, mulutnya tersumbat sesendok nasi yg hampir membuatnya tersedak.
"Gak usah berantem dulu pak. Bapak lagi sakit." omel aeris, gadis itu mode ibu-ibu sekarang.
\*\*\*\*
__ADS_1