
Ai menatap bunda nya sendu, mencari kebohongan di sana. "bunda gak bohong kan?"
Aeris menggeleng. "ngapain bunda bohong?"
"tapi daddy masih tetep salah, kan dia duluan yg ngejahilin Ai." lagi, si bungsu tetap ingin menang
"apa ai gak ngerasa bersalah udah gigit daddy hingga daddy gak bisa berangkat ke kantor?" aeris tidak kehabisan akal untuk memutar balikkan kata
Ai menunduk, tangan kecil Ai memilin baju yg dia kenakan
"Ai salah udah gigit tangan daddy. Ai mau minta maaf, tapi daddy harus minta maaf karna udah dorong Ai kemarin."
Senyum aeris mengembang, dia mengangkat wajah mungil itu untuk menatap tepat ke arahnya. "ini baru anak bunda. Nanti ai minta maaf ya sama daddy?"
Ai juga tentu mengembangkan senyumnya. "oke. Bun, sayang bunda banyak banyaakk!" gadis kecil itu memeluk aeris. Akhirnya si bungsu keluarga millan kembali riang, meluapkan rasa sakit di punggung dan kepalanya.
"bunda lebih sayang Ai!"
****
Masih di tempat yg sama, biyan tersenyum tipis. sangat mudah bagi aeris untuk mengambil hati dan perhatian anak anak nya bahkan membujuk Ai pun langsung luluh sedang kan dia harus membeli yg dia mau dulu baru mau memaafkan
"eh"
"bang?"
Saat akan membuka pintu kamarnya. Biyan di kejutkan dengan keberadaan adik nya didepan kamar.
"ngapain?" nada bicara biyan dan ekspresi nya berubah seketika
"aku mau minta maaf tentang kejadian semalem" cicit quenzel . Gadis itu menunduk saat mendengar suara biyan menguar
Biyan tertawa sinis. "gitu cara lo minta maaf? Gue gak sependek itu samapai lo nunduk untuk bicara"
Quenzel refleks mendongak. Menatap abang nya yg tengah
Memasang wajah datar tak minat untuk melihatnya. "abannngg.."
"hm?"
"queen minta maaf, janji gak bakalan ungkit masalah itu lagi, quen nyesel bang." tinggal satu kedipan mata lagi. Bulir kecil yg tertampung di kelopak mata quenzel akan tumpah
Biyan menghela nafas pelan, kedua tangannya menghapus air mata yg sudah jatuh di wajah mulus adiknya. "gak usah nangis, udah gede juga"
Biyan membawa quenzel masuk ke dalam pelukanya. Kemudian membawa tubuh mereka masuk kembali ke dalam kamar nya, selain anak anak nya, biyan juga paling lemah jika menyangkut adik satu satunya ini. Quenzel castova millan
"udah abang maafin. Lain kali gak usah si ungkit ya. Ada saat nya abang speak up, tapi enggak sekarang, timingnya belum pas." biyan memberi pengertian sambil mengelua rambut adiknya
Quenzel mengangguk dalam pelukan biyan, kejadian semalam membuat dia selalu berfikir berulang kali hanya untuk menghampiri abangnya untuk minta maaf, sejak kecil biyan yg paling mengerti dirinya dan marah hanya sebatas menegur tidak seperti semalam. Biyan meluapkan emosinya hingga tidak sadar hampir melukainya jika saja tidak di tahan oleh lionel dan aro.
"gak usah nangis, masa mantan danton paskibra gini cengeng sih." biyan mengejek, berusaha mengubah mood sedih adiknya.
Berhasil!.
__ADS_1
Quenzel yg tadi menangis sekarang sudah misuh misuh di tempat. "gak usah diingetin lagi napa. Pokoknya gua ngambek." ujarnya saat sang abang selalu meledek nya danton paskibra karna suara unik nya.
"sekarang mau apa?" tanya biyan to the point
"tiket liburan full ke maldives selama seminggu." ucap quenzel dengan mata berbinar
"oke, sebelum itu " biyan menunjuk pipinya. "give me a kiss"
Cup!
Satu kecupan biyan dapatkan di pipi kananya
"abang yg terbaikk!" quenzel berseru senang kemudian keluar dari kamar biyan
"dasar, masih aja kayak anak kecil."
***
Pukul 16.30
Masalah dengan quenzel sudah selesai, kinu tinggal satu lagi. Biyan akan minta maaf lebih dulu pada putri kesayangan nya itu.
Ceklek
Senyum biyan terbit saat melihat putrinya yg sedang tidur di sana. Berjalan mendekati ranjang Ai. Pria itu duduk di pinggir kasur tepat di samping putrinya.
"sayang, bangun" percayalah, ini pertama kali biyan membangunkan putrinya setelah dua tahun lamanya
Tidak mendapat respon. Dia mengguncang pelan tubuh kecil putrinya. Agar sepasang mata sebiru lautan itu terbuka.
Satu mata ai terbuka sedikit. Mengintip siapa sosok yg mengganggu tidur siangnya.
"daddy?" kesadaran gadis itu kasih di bawah lima puluh persen
"week up, sweet, hari sudah sore." ujar biyan sembari mengelus kepala putrinya
Ai bangun dan mengucek pelan matanya
"jangan di kucek," biyan menarik pelan tangan ai, lalu menggendong pelan tubuh mungil itu menuju kamar mandi.
Dengan telaten biyan membasuh wajah Ai dan mengeringkanya dengan tisu yg tersedia di sana.
"Ai masih marah ya sama daddy?" gadis itu menatap tajam daddy nya setepah biyan mendudukanya kembali di ranjang.
Biyan tersenyum tipis. Menatap putri nya dengan tatapan sendu.
"daddy minta maaf sayang."
Ai masih diam, tandanya biyan harus lebih berusaha untuk membujuk lagi.
"kesayangan daddy mau apa? Biar daddy beliin." bujuknya lagi, sejauh ini Ai akan luluh jika sudah di tawari akan di belikan apapun asalkan memaafkan daddy nya itu.
Ai menggeleng pelan tapi matanya berkaca kaca. "enggak mau barang apa apa. Ai cuma mau daddy luangin waktu buat Ai sama abang aja."
__ADS_1
permintaan yg sulit
Tapi apa sih yg tidak untuk si bontot millan?
Biyan mengangguk pelan. "daddy usahain ya sayang." dia membawa ai ke dalam pelukanya
"sayang daddy banyak banyaak."
Biyan tertawa. "daddy udah di maafin nih ceritanya?" Ai mengangguk
"daddy lebih sayang Ai"
Mereka melepas pelukanya. Tidak sengaja Ai melihat bekas gigitan di lengan kiri daddy nya
"woaahhh.. Karya Ai keren juga" gadis tengil itu berdecak kagum melihat bekas gigitan yg dia buat sebelum terlempar karena dorongan biyan kemarin
Biyan hanya memutar matanya malas dengan putrinya ini.
Woaahhh
****
"BUNDAA DADDY GAK MAU BANGUN" itu suara Ai berasal dari lantai dua tepatnya di kamar biyan
"AI BOHONG YANG AKU UDAH BANGUN" sekarang si duda kampret yg teriak
"JANGAN TERIAK TERIAK" Balas aeris dari arah dapur
"BUNDA JUGA TERIAK"
"KAMU JUGA TERIAK SAYANG"
Seperti itulah kehebohan mansion keluarga millan pagi ini.
semua bermula saat mereka akan melaksanakan sarapan namun biyan belum bangun padahal jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
Cup!
"gak usah teriak bun, nanti tenggorokanya sakit." peringat arsen saat melihat bundanya hendak teriak lagi
Aeris terkekeh pelan. Gadis itu menyodorkan nampan berisi empat gelas susu dan segelas teh pada arsen, "tolong bawa ke meja makan ya." pintanya
"siap bun"
Sedangkan aeris mengangkat satu mangkuk besar berisi nasi goreng buatanya.
Di meja makan sudah ada Aro dan Ai yg mengoles roti di piring mereka masing masing. Mencari lionel? Sejak kemarin anak bujang aeris satu itu kembali ke mansion keluarga nya Tanubrata.
*****
Hai para readers jangan lupa tinggalin jejak nya ya.. Like komen dan gift nya heheh
Semoga kalian selalu semangat buat nungguin up dari othor ya hihihi
__ADS_1
See you
.