Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
part 5


__ADS_3

     Pagi ini, pukul 05,50


     Aeri sudah berkumpul bersama para ibu-ibu di sebuah gerobak pedagang sayur. Selain membeli sayur, Tentunya tidak pernah lepas dari berbagai topik pembicaraan yg menarik alias ghibah. Kalau orang indonesia mah bilang nya gosip.


        "Aeris, Nak aro nya mana? Kok gak keliatan dari tadi?" Tanya seorang wanita paruh baya berdaster merah maroon. nama nya bu isna.


       "Udah pulang ke rumahnya, Bu, Kemarin." Jawab Aeris dan berhasil membuat para ibu-ibu disana terkejut.


       "Lah, Pulang kok gak bilang-bilang itu anak. padahal belum ketemu anak saya." Ujar bu isna sedikit kecewa.


          "Ya ampun, Bu, si Aro masih kecil, gak usah di comblangi segala." Celetuk penjual sayur, pak Tatang.


        "Ya harus itu pak, Siapa tau mereka jodoh, kan Aeris?" Balas bu isna meminta pembelaan pada aeris yg sedari tadi diam menyimak.


      "Ah, kalau Soal begituan saya No coment lah bu, yg janin kan Aro, saya gak ada hak untuk ngatur dia." Ujar aeris tak enak hati. Memang pada dasarnya ia tak ada hak atas aro bukan?


       "Ya, Tapi kan kamu bundanya,"


 Rupanya bu isna masih ingin melanjutkan perdebatan.


       "Sudah-sudah." Bu asih menyela, Aeris terselamatkan. "Gak usah kalau anaknya gak mau, ganti topik aja." Saranya.


       "Eh, Kalian tau gak?" lagi seorang ibu-ibu di samping bu asih menyeletuk, namanya bu husna. Katanya anaknya tetangga yg selalu ribut di ujung lorong sana hamil di luar nikah."


         Semua ibu-ibu itu membelalakan tak percaya. "Yg bener?" Tanya mereka serempak. Bahkan kini aeris tengah menajamkan pendengaranya sambil memilih-milih sayur.


        "Iya, Sumpah. Setelah lama gak keliatan ternyata dia hamil. Udah empat bulan. Mana perutnya udh besar lagi."


        "Wajar pergaulan bebas itu." ucap bu asih.


        " Amit-amit deh kalau anak saya begitu." Tambah bu husna.


       "Haduuuuuuhhhhh, Anak-anak jaman sekarang udah gak malu ya hamil di luar nikah. Enak nya pas bikin nya doang, pas udah jadi malah di buang." Nah ada lagi nih bu isna.


         "Udah-udah, Telinga saya udah panas denger gosipan kalian, ini jadi gak nih beli sayurnya? Saya masih mau jalan ini ke komplek sebelah." sela pak tatang sudah mulai jengah. Jika tidak di hentikan, Bisa-bisanya sampai siang daganganya tidak laku-laku mendengar ghibahan para ibu-ibu itu.


       "Pak, Semuanya berapa ya?"

__ADS_1


Tanya aeris setelah memasukan semua belanjaanya di kresek hitam.


       "Semuanya, Tiga puluh ribu,Ris." Jawab pak tatang.


      Setelah membayar belanjaanya, Aeris lantas pamit pada ibu-ibu tadi yg kembali bergosip ria.


       "Ris, Bilang-bilang ya kalau si aro dateng lagi, katanya si aran nyariin." Ujar bu asih yg di angguki oleh aeris. "Siap, Bu."


         Bu asih memang punya seorang putra yg seumuran dengan Aro. Mereka juga terbilang akrab, tak heran jika Aran tiba-tiba mencari Aro yg tidak datang main dan ngerusuh di rumahnya.


       Karena kelamaan mendengar gosip ibu-ibu tadi Aeris hampir terlambat bersiap untuk interview hari ini.


       Yup, Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya ada juga satu perusahaan yg menerima dirinya. Jadwal interviewnya pukul sepuluh nanti, dan sekarang sudah pukul sembilan. Berarti satu jam lagi dia harus udah ada di sana.


       Setelah menyiapkan segala keperluanya, Aeris segera mengunci pintu rumahnya bersamaan dengan taxi yg di pesan tadi datang.


      "Bu Aeris?" Tanya supir taxi itu memastikan.


      "Iya pak." Aeris mengangguk. "ke Heleon corp, Tau kan?" Tanya nya balik.


      supir taxi itu mengangguk. "Tau, Neng."


        "Ini pak, Makasih tumpanganya." Ucap Aeris tulus.


       Supir taxi itu menganggik. "Makasih neng, Semoga keterim ya." balas supir taxi itu dan di aminkan oleh Aeris.


      Aeris menatap gedung pencakar langit dihadapanya. Sungguh megah dan mewah, sebelum benar-benar melangkah masuk, dia mengontrol pelas napasnya yg terasa cepat saat dia merasakan gugup seperti sekarang ini.


      "Loh bisa Ris, Pasti bisa. kalau gak keterima gak boleh nyerah." Monolognya.


       ****


        Di loby kantor,


      Terjadi sedikit keributan yg mengundang banyaknya pasang mata memperhatikan, tidak terkecuali Aeris.


      Saat memasuki loby perusahaan besar itu, dia di kagetkan dengan suara gelas jatuh dan makian kasar seorang pria.

__ADS_1


      Di sana, Seorang office girl sedang menunduk menerim bemtakkan dan makian dari atasanya karena tidak sengaja menabrak dan penumpahkan segelas kopi panas pada kemeja atasanya itu.


       Sedangkan pria yg sebelumnya suasana hati nya sedang buruk dan kini mendapat kesialan di pagi hari membuat amarahnya kian memuncak. Tanpa sadar tanganya sudah terangkat hendak menampar OG yg masih menunduk takut itu tetapu gagal karena cekalan seseorang di lenganya.


        "Jangan bermain tangan sama perempuan tuan!".


        Pria itu menatap datar seorang gadis bertubuh mungil yg dengan berani menghentikan aksinya hendak menapar OG tak becus itu.


        Sedangkan para karyawan yg sedari tadi menyaksikan kemarahan bos mereka kembali terkejut saat seorang gadis dengan berani menghentikan perlakuan kasar bos mereka.


      Mereka hanya berharap, Semoga nasib gadis itu tidak berakhir buruk seperti OG yg kini berdiri dengan tubuh bergetar takut.


         ****


       Entah keberanian dari mana Aeris dapatkan tiba-tiba saja dia sudah berada di hadapan pria yg hendak melayangkan tamparan pada gadis yg kini di belakanynya.


       Bahkan pria itu terdiam dan menatapnya dengan tatapan datar setelah dia meleapas cekalan tanganya.


       "Bapak boleh memarahi gadis ini tapi tidak boleh menampar apa lagi berbuat kasar. Dia tidak sengaja menumpahkan minuman tadi pada bapak, it's okey kalo bapak marah, Tapi jangan sampai main tangan sama perempuan." lagi-lagi Aeris mengomeli pria di depanya ini tanpa perduli orang sekitar yg menatapnya dengan berbagai tatapan.


       Aeris berdecak kesal saat pria di depanya hanya menatap nya tanpa niat membalas perkataanya. Pria itu tidak bisu kan?Pikirnya.


      Tidak peduli dengan pria itu, fokus Aeria beralih pada gadis yg merupakan OG tadi. Membantu menenangkan gadis itu yg syok akibat mendapat bentakan.


      Saat hendak menanyai gadis itu sudah tenang apa belum, Tanganya Tiba-tiba di tarik membuatnya hampir terhuyung dan pelakunya adalah pria tadi.


         "Eh,eh, Saya mau di bawa kemana?" Tanyanya berusaha melepas cengkraman tangan besar itu tapi tenaganya tidak sebanding dengan pria itu.


        "Kamu ikut saya." Suara Bass dengan nada datar itu semakin membuat Aeris kesal. Beruntung pria itu tidak bisu seperti yg ada di pikiranya.


      "Tapi, Saya mau interview ini. Pak lep-"


       "Diam." Suara pria itu naik beberapa oktaf membuat aeris dan orang-orang yg melihatnya berlonjak kaget.


       Aeris pasrah, Alamat dapat pekerjaan, dia malah dapat masalah malah belum interview lagi.


      Sudah lah, Aeris pasrah saja.

__ADS_1


       ****


__ADS_2