Wanita Kesayangan Keluarga Millan

Wanita Kesayangan Keluarga Millan
part 11


__ADS_3

          "Gue kira lo di amuk si bos tadi. Biasanya kalau ada rapat yg gak berjalan dengan lancar apalagi kalaau banyaak masalah, biasanya sekertarisnya yg kena sasaran amukan dia. Tapi syukur dwh kalo gak di marahin tadi."


       Aeris tersenyum, satu lagi yg dia tahu tentang biyan yg sepertinya tempramen. Semoga saja dia tidak merasakan dalam konteks "diamuk' biyan. Cukup dia merasakan bagaimana aura menyeramkan bosnya itu saat di ruang rapat tadi.


      Sibuk ngobror hingga keduanya tidak sdar waktu istirahat akan berakhir sepuluh menit. Lantas keduanya bergegas membayar pesanan mereka tidak lupa pesanan Denzel dan Biyan.


       "Mbak, bisa pegang dulu, kayaknya tali sepatu aku lepas deh." Aeris memberikan satu cup espreso pada anneth kemudian jongkok untuk mengikat tali sepatunya.


      Aeris memang menggunakan sepatu sneacker di bandingkan flat shoes atau heels karena menurutnya sangat ribet dan dia tidak terbiasa menggunakan kedua jenis sepatu itu. Dan beruntungnya tidak ada peraturan mengenai sepatu yg dia gunakan karyawan selain pakaian mereka.


     setelah selesai, Aeris hendak mengambil kembali pesananya di tangan anneth tapi matanya tidak sengaja menangkap sosok anak kecilyg tidak jauh darinya hendak menyebrang jalan.


     Matanya membulat sempurna saat dari belakang gadis kecil itu sosok pria dengan pakaian serba hitam mendorong keras tubuh gadis kecil itu hingga jatuh tersungkur ke tengah jalan. Sedangkan pria itu langsung kabur setelah mendorong gadis kecil itu.


      "Awaasssss..!"


     Aeris langsung berlari menuju anak kecil itu dan memeluknya hingga terguling di jalan menghindari sebuah mobil truk yg hendak menabrak mereka.


     kejadian begitu cepat hingga tak sadar mereka menjadi pusat perhatian dan orang-orang mulai menggrumuni mereka.


     Aeris berusaha mengatur nafasnya yg tersengal. Dia masih memeluk erat tubuh gadis kecil itu hingga terdengar suara tangis menyadarkan dia dari lamunanya.


    "Hey, Are you oke?" tanya nya pelan sembari mengangkat wajah gadis kecil itu dan menghapus air mata yg mengalir deras disna.


    "Huuuaaaaa mamaaaa" Bukanya menjawab pertanyaan aeris, gadis kecil itu malah berteriak histeris sambil memeluknya dengan erat. Aeris berusaha menenangkan.


      "Permisi-permisi." Anneth datang dan membelah kerumunan, hendak memastikan aeris dan anak kecil itu baik-baik saja.


      "Ai"


      Suara itu berhasil mengalihkan fokus aeris dari gadis kecil di pangkuanya ke arah pemuda yg menatap mereka khawatir. Tepatnya pada gadis kecil di pangkuanya.


   "Aro"


    Degg


   Mata pemuda itu membulat saat mengetahui sosok yg menyelamatkan adiknya.


   Mamaa....


  ****


Arsen tidak dapat membendung air matanya saat dia melihat gadis yg dia cari selama empat tahun ini berada di depanya tengah berusaha menenangkan adiknya yg masih nangis sesenggukan.



Matanya membulat tatkala melihat darah segar mengalir dari pelipis gadis itu karena sempat terantuk trotoar dengan keras.



Arsen menghampiri gadis itu dan adiknya tapi kalah cepat dengan seorang wanita tiba-tiba menyodorkan sebotol air pada gadis itu dan juga oada adiknya.



"Aro?" gadis itu mengangkat kepalanya. Menatap tepat pada arsen yg masih diam mematung karena shock sekaligus kaget.



Arsen bingung hendak bereaksi seperti apa. Di tengah kebingunganya seseorang menepuk pundaknya, ternyata Aro.

__ADS_1



"kenapa?" Tanya aro. Cowok itu tadi dari toilet meninggalkan Arsen dan Ai di salah satu meja kafe. Namun saat keluar dari toilet, dia tidak mendapati kedua saudaranya itu tapi mendengar suara kegaduhan dari luar kafe.



"Ai.." Arsen tidak bisa melanjutkan ucapanya namun menoleh pada seorang gadis yg masih sibuk menenangkan adiknya itu.



Aro mengikuti arah pau ndang Arsen dan terkejut saat mendapati dua orang yg di kenalnya "BUNDA..AI" .



Aro berlari menghampiri aeris dan Ai hingga mendorong Anneth yg berada di samping aeris "kenapa bisa begini, dannapa yg terjadi?" tanyanya khawatir.



"Tadi hampir aja adek ini tertabrak karena di dorong sama orang yg tidak di kenal." jawab aeris. Sambil menenangkan gadis kecil yg kini sesenggukan di pangkuanya.



Anneth yg menyadari bahwa Aro lah yg mendorongnya seketika matanya membulat. Dia menatap gadis yg berada di pangkuan aeris. Mampus! Gadis kecil itu adalah anak bosnya, Biyan.



"Ai" panggil aro oada adiknya yg tampak masih shock.



Ai gadis kecil itu menoleh masih memeluk aeris.. "Abang"




"Udah, ya. Jangan nangis, nanti cantiknya ilang." bujuk aeris. Gadis itu terus membujuk ai tanpa perduli kondisinya seperti apa. Yg ada dipikiranya saat ini adalah menenangkan Ai.



"Ada apa ini" Suara bass itu milik Biyan. Pria itu berjalan mendekati anaknya dan seorang gadis yg berada di kerumunan.



Dia datang tergesa-gesa saat mendapati telpon dari Anneth bahwa aeris mengalami kecelakaan bersama putrinya. Biyan yg panik lantas berjalan menuju kafe depan kantornya mengabaikan tatapan bingung seluruh karyawan yg di lewatinya.



"Aeris" Tubuh biyan membantu saat melihat darah segar mengalir dari oelipis gadis itu dan beberapa luka lecet yg mengeluarkan darah.



Dengan segera dia menghampiri Aeris dan Ai dengan rau khawatir yg kentara. "Astaga, Apa yg terjadi sama kalian?"



"Arsen siapkan mobilmu" sentak biyan panik pada putra pertamanya itu yg hanya diam melihat tanpa melakukan apa-apa. "Aro, Ambil adikmu dan bawa ke mobil!" perintahnya.


__ADS_1


Aro mengangguk kemudian mengambil adiknya dari pangkuan aeris walau gadis kecil itu memberontak ingin di lepaskan. Sedangkan biyan mengangkat tubuh aeris menuju mobil putranya mengabaikan kalimat protes gadis itu.



Seteoah semua masuk, Arsen langsung tancap gas menuju rumah sakit.



Sedangkan di tempat kerumunan tadi yg MAYORITAS karyawan perusahaan biyan menatap kepergian mobil mewah itu dengan bisikan-bisikan mulai mengganggu telinga Anneth.



"KEMBALI KE KANTOR ATAU KALIAN DI PECAT" Suara tegas dan nada datar milik Anneth berhasil membubarkan kerumunan. Satu hal yg perlu kalian tau, Anneth punya kuasa untuk mengatur karyawan hingga memecat mereka sesuai dengan perintah ataupun tanpe perintah biyan. Begitupun dengan Denzel .



Di mobil, Aeris baru merasakan efek dari kecelakaan tadi. Lutut,lengan, kaki, punggung dan kepalanya nyeri. Bahkan bergerak sedikit saja terasa sakit.



Biyan meraih tisu yg di sodorkan Aro padanya kemudian mengelap darah yg terus mengalir dari pelipis aeris membuat aeris meringis.



"Maaf" kata biyan kini lebih lembut mengelap darah yg tetus mengalir itu.



Aeris menatap Ai yg kini duduk di pangkuan Aro yg berada di kursi depan sedangkan dia dan biyan di kursi belakanh. "Aro Ai nya gimana ?" tanyanya.



Aro mengintip sesikit pada adiknya yg menunduk "tidur bun."



Biyan mengernyit, bun? Bunda maksudnya? Batinya kemudian menatap aeris dan aro mergantian.



Sedangkan di kursi kemudi Arsen mencekram keras stir mobil. Perasaan dan pikiranya berkecamuk tapi dia di paksa fokus untuk melihat jalanan agar tidak terjadi sesuatu yg tidak diinginkan.



\*\*\*\*



Sesampainya di rumah sakit, biyan berteriak memanggil dokter atau pun perawat hingga aeris menegurnya karena mengundang perhatian. Teriakan biyan juga berhasil membangunkan Ai dari tidurnya karena terkejut dengan suara besar Daddy nya.



Dokter daan perawat dengan cekatan membawa dua brangkar, Biyan dan aro langsung saja meletakan aeris dan ai di atasnya kemudian membawa mereka ke UGD untuk mendapat penanganan.



Aro menoleh pada kembaranya, sedari tadi arsen tidak bicara. Dia tau apa yg membuat kembaran nya itu melamun.


__ADS_1


***Puk***!


****


__ADS_2