
"Sean satu botol lagi!" teriak biyan pada seorang bar tender club
Sean bartender itu menggeleng. "gak ya lo hampir gak sadar!" balasnya, menolak mentah mentah pesanan sahabatnya itu
Pasalnya biyan sudah menenggak habis enam botol beer dan kesadaran pria itu tinggal 30 persen, kalau di biarkan bisa melayang nyawa sahabat gilanya itu.
"satublagi seaaannn... Hiks" pinta biyan. Kini pria itu memohon sambil menangis
"dih, sakit nih anak" batin sean julid.
"zel, urus tuh bos lu. Jangan diem bae lu!" suruh sean pada tangan kanan biyan yg merupakan sahabat nya juga.
Denzep? Cowok itu menggeleng sembari menatap biyan yg sudah seperti orang gila, memukul kepalanya, menangis hingga meracau tidak jelas.
"nanti aja. Tinggal gue seret entar." Denzel membalas santai
"Brad. Gantiin bentar gue ada urusan!" sahut sean pada salah satu temanya
Sean menghampiri meja di pojok ruangan, tempat biyan dan Denzel berada. "ngapa nih anak jadi begini, sawan?"
Denzel melirik biyan sekilas. "Quenzel ngungkit masalah itu lagi" jawabnya
Mata sean membulat. Pantas saja biyan seperti orang gila saat ini. "kasian"
"Aeris...hikss..." biyan meracau dan menangis kembali
Denzel dan sean serempak menatak biyan saat pria itu menyebut nama seseorang berulang kali
"Aeris siapa?" tanya sean penasaran
"sekertarisnya" jawab denzel. Pria itu mendekati biyan. Menepuk pipi pria itu cukup keras. "heh. Ayo pulang!"
Biyan menggeleng. "Aeris hiks.. Hikss..ma..rah..sama gue..hiks hiks"
Denzel berdecak. "makanya ayo pulang!" pria itu mencoba membantu biyan untuk berdiri namun kembali jatuh karena tidak kuat menahan berat badanya
Biyan membuka matanya sedikit. "Aeris ma..na..hiks"
"dia udah meninggal" ucap sean asal
Mendengar ucapan sean, seketika mata biyan membulat dan langsung duduk tegak di tempatnya. Kesadaranya meningkat menjadi 50 persen. "bercanda kan..hiks..lu"
"ngapain gue bercanda! pulang sana lu, mayat nya udah mau di makamkan" sean memasang wajah sesedih mungkin.
__ADS_1
Mata biyan yg memerah akibat alkohol semakin memerah karena pria itu menangis. "Aeris" tatapan pria itu menjadi kosong
"ayo! Ntar aeris marah lo pulang telat!" dengan tidak berperasaan, denzel menarik kerah kemeja biyan hingga pria itu terseret seret mengikuti langkah denzel yg besar sedangkan dia berjalan dengan sempoyongan
Sampai di parkiran, denzel menduduki tubuh biyan di kursi samping pengemudi tidak lupa memasangkan seat belt bos nya itu.
Saat denzel sudah berada di kursi kemudi. Pria itu belum menjalankan mobilnya. Dia bersandar pada kursi menoleh pada biyan yg sudah terlelap
Setelah perceraian biyan dan mantan istrinya empat tahun lalu, denzel kembali melihat biyan memasuki bar dan menengguk alkohol. Padahal pria itu paling anti dengan minuman penghilang kesadaran dan dunia malam seperti ini.
"ck. Lemah, mau sampai kapan lo tutupin masalah itu? Cepat atau lambat bakalan terbongkar juga." ujar denzel pada sahabat nya itu
"pantesan hubungan lo sama aeris gitu gitu aja, gak ada kemajuan." lagi denzel tidak segan segan menghina biyan yg tidak sadar
"lo pengecut yan, cowok paling dongo yg pernah gue temuain!" setelah puas memaki sahabatnya. Denzel pun menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang. Pasti orang rumah mengkhawatirkan pria bodoh yg ada di sampingnya ini. Terutama aeris.
***
MANSION KELUARGA MILLAN PUKUL 02.10
Mata aeris masih terjaga. Gadis itu duduk sendirian di ruang tamu di temani dengan dentingan jam besar di pojok ruangan. Sebenarnya quenzel juga menemani dirinya tadi, tapi dia menyuruh gadis itu untuk tidur satu jam yg lalu setelah melihat betapa kacau penampilan quenzel.
Selepas kepergian biyan. Quenzel hanya bisa menangis dan merutuki mulutnya yg asal ceplos mengungkit hal paling sensitif bagi biyan hingga pria itu mengamuk.
aeris kembali melihat jam, sudah jam dua lebih namun biyan belum pulang
TOK TOK TOK
Suara pintu utama di ketuk keras membuat buyar lamunan aeris, gadis itu terkejut saat denzel terlihat kesusahan memapah seorang pria menuju ke arahnya.
Brukk!
Dengan tidak berperasaan, denzel langsung saja melepas tanganya dari tubuh biyan hingga pria itu terduduk dengan tidak estetik.
"Astaga! Apa yg terjadi?" aeris menghampiri denzel dan biyan yg sudah tergeletak tak berdaya di sofa seberang.
"dia mabuk, minum sampai enam botol." denzel memberi tahu saat melihat aeris mengernyit dahi. Mencium aroma khas kuat alkohol dari mereka berdua.
"Aeris.." lagi. Biyan meracau, kedua tanganya terangkat seperti hendak menggapai seseorang. "pelukk.."
Aeris dan denzel saling tatap. "tolong ya ae, si biyan dati tadi manggil manggil nama lo terus."
Aeria mengangkat satu alis nya, seakan berkata. "terus"
__ADS_1
"Tenangin si duda ubnormal itu, cuman sama lo dia jinak kaya anak tikus." Kata denzel tidak lupa dia menjelekkan nama sahabatnya di depan aeris.
"jinakin ya, gue pulang dulu, dia gak ganas kok." setelahnya sosok denzel pergi dari sana meninggalkan aeris yg bingung mau membantu biyan seperti apa.
"mas" panggil aeris sambil menepuk pelan pipi biyan
Perlahan, biyan membuka paksa matanya, tanganya kembali terulur kala melihat sosok yg berdiri di sampingnya
"Aeris..hiks..." lagi pria itu menangis. "mau peluk hiks.."
Aeris yg tidak tau cara menenangkan orang mabuk pun hanya mengiya kan saja saat dirinya di tarik hingga duduk di samping biyan
"sssttt... Berhenti nangis ya." bisiknya sembari menghapus air mata pria itu
Bukanya berhenti pria itu semakin kejer dan mngeratkan pelukanya. "aku pelakunya..hiks..aku pantas di humum..hiks" racaunya
"tenang ya..gak ada yg di hukum mas" aeris menepuk pelan punggung lebar biyan. Sedikit kasian deng pria yg ada di pelukanya ini meracau sampai ketakutan.
Pasti biyan kembali memikirkan ucapan sesuatu di masa lalu yg membuatnya trauma seperti ini.
Biyan mendongak mata merahnya menatap sayu pada aeris. "aku...hiks....ha..rus..di..hukum..hiks"
merasa biyan semakin tidaak beres, aeris dengan susah payah memapah tubuh besat biyan menuju kamar tamu yg berada di lantai satu. Tidak mungkin kan dia yg mungil ini memapah tubuh biyan yg sebesar beruang ke kamarnya.
Brukkk
"maaf mas!" cicir aeris saat biyan jatuh ke kasur dengan tidak etis
Memperbaiki posisi tidur biyan butuh waktu sedikit lama untuk aeris karena tidak sekali saja biyan berontak tidak ingin berganti posisi dari tidur tidak estetiknya.
"saya gak tau masalah besar mas apa, tapi semoga cepat selesai." bisiknya
Aeris memperbaiki letak selimut pria itu, mengelus lembut rambut biyan sebelum keluar dari sana.
"jangan pegi...hikss..gii"
****
MAAF YAH UP NYA LAGI GAK NENTU MAKLUM SIBUK NGURUSIN ANAK JADI KEGANGGU KALO LAGI MAU NULIS..
MOHON TINGGALIN JEJAK NYA YAH BIAR AUTHOR NYA JUGA SEMANGAT BUAT NULIS NYA DAN MAAF KALO MASIH BANYAK SALAH DI TYPO NYA
HAYOO SEMANGATIN OTHOR NYA DONG HARI INI OTHOR UDAH UP 3 BAB
__ADS_1
see you