Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
141. Matinya pria bertopeng separuh


__ADS_3

Alam benar benar terdistorsi, langit seperti di putar balikan dan udara seperti di aduk aduk saat pria bertopeng separuh dan pasukannya melakukan gerakan penyerangan.


Keserakahan ingin memiliki senjata yang saat ini di genggam Yuang Fengying membuat pria bertopeng separuh itu bersemangat untuk aktif menyerang.


"Gelombang Kegelapan.."


Aura gelap kini bergerak memadat hingga kini hanya beberapa ratus meter saja, mencoba menjebak Yuang Fengying di dalamnya.


Tongkat dengan ujung cakar juga menebas ke depan, menciptakan riakan gelombang serangan yang melesat menyasar tubuh Yuang Fengying.


Beberapa mayat hidup yang masih mampu menyerang juga melesat maju seiring dengan sang tuan menyerang.


Dari jauh master Xingguang terlihat gelisah namun tak ada yang bisa di lakukan nya, saat ini kondisi nya masih dalam proses pemulihan saat tadi menelan pil pemulih raga yang di berikan oleh Yuang Fengying.


Melihat serangan lawan yang berlapis lapis Yuang Fengying hanya tersenyum sinis, Sabit Dewa yang ada di genggaman nya kini di lempar ke arah samping, membuat pria bertopeng separuh sedikit terkejut dengan gerakan tersebut.


WEEENG... Ngiing ..ngiiing...


"Apa yang dilakukan berandalan kecil ini.."


Setelah melempar senjata nya Yuang Fengying melesat maju menyongsong lawan dengan Pukulan nya.


"Tebasan Awan...!."


Tangan kanan Yuang Fengying bersinar membentuk angin yang berputar putar dengan kekuatan elemen petir bercampur dengan elemen logam dan elemen api.


Gambaran gabungan kekuatan itu menciptakan sebuah pemandangan yang menakjubkan sekaligus mengerikan.


Weeeng...


Begitu tangan itu di kibaskan Lesatan kekuatan yang penuh warna itu menerjang ke depan memotong dan membakar apapun di jalurnya.


Lesatan serangan Yuang Fengying bertemu dengan gelombang kekuatan gelap yang makin memadat dan menyerbu ke arah nya.


BAAAMMM....


Dua momentum kekuatan bertemu menciptakan ledakan yang mampu menghancurkan gedung bertingkat.


Beberapa sosok mayat hidup yang tadi menyerang terlempar kemana mana, bahkan pria bertopeng separuh juga terdorong beberapa langkah kebelakang.

__ADS_1


Pria bertopeng itu terkejut dengan hasil benturan kedua serangan itu, dia tak menyangka ranah Bumi Sejati yang di miliki anak remaja itu mampu membuatnya terdorong ke belakang.


Belum hilang terkejut pria bertopeng itu, tiba tiba.


Ngiiing... ngiiing....


Sabit Dewa melesat ke arah pria bertopeng separuh tersebut dari arah samping yang tak di duga nya, seakan lemparan Yuang Fengying tadi sudah di ukur dengan akurat, baik diagonal dan ketepatan sasaran nya.


Craaass...


Sabit Dewa menembus pinggang pria bertopeng separuh, masuk ke dalam tubuh nya dan merusak apapun yang ada di dalamnya hingga pria bertopeng separuh mengembuskan napas terakhir nya.


Begitu sosok pengendali mayat hidup itu mati, mayat mayat itu langsung berhenti bergerak dan tumbang ke tanah, karena jiwanya sudah kosong.


Master Xingguang terkejut namun dia sudah bisa memahami kekuatan Yuang Fengying, muridnya tersebut sudah jauh lebih kuat di banding dirinya.


"Fengying kau sungguh luar biasa.." Xingguang menghampiri murid nya.


Yuang Fengying menjura menghormat ke arah sang guru, remaja itu tersenyum setelah menyimpan senjata sabit dewa di ruang penyimpanan nya.


**


Pertempuran di perguruan tersebut masih berlangsung dengan seru.


Terlihat sesepuh Chun masih bertarung seru dengan dua lawannya.


Pria sepuh itu masih di keroyok oleh dua lawan yang berasal dari dua kelompok berbeda.


Ledakan ledakan serangan dari pertarungan itu bahkan ikut menghancurkan tempat tersebut.


Perguruan Bukit Bayangan kini terlihat porak poranda, markas perguruan itu di jadikan ajang pertarungan karena para penyerang seperti sengaja melakukan hal itu.


Wanita paruh baya yang berasal dari kelompok Bulan Kegelapan itu belum mengeluarkan senjata andalannya, namun serangan serangan tangan kosong nya sudah mampu menghancurkan apapun di lintasan nya.


Sementara pria paruh baya dari klan Kabut Hitam Pekat menyerang dengan pedang besar dan panjang nya. Pedang yang panjangnya dua meter dengan lebar beberapa jengkal itu menebas dan merusak apapun yang di sentuhnya.


"Lihatlah tempat ini, tak lebih dari tempat sampah..!," wanita paruh baya dengan baju hitam bergambar bintang sabit di dadanya itu mencibir dan mencoba merusak konsentrasi sesepuh Chun.


Dengan perkataanya itu diharapkan emosi sang sesepuh akan terkikis oleh amarah sehingga merusak permainan jurus jurus nya.

__ADS_1


"Benar, tempat sampah yang berisi para sampah..ha..ha..," pria paruh baya yang menjadi rekannya dalam mengeroyok sesepuh Chun juga mengeluarkan ejekan yang memancing emosi.


Sesepuh Chun hanya tersenyum kecut, meski sesungguhnya sangat sedih namun pria tua itu mencoba tetap tenang.


"Roda selalu berputar, mungkin hari ini kalian yang menghancurkan tempat ini, tapi di lain waktu pasti ada yang akan menghancurkan tempat asal kalian." Sesepuh Chun hanya menjawab dengan enteng.


Dua lawannya kembali bergerak, saat ini wanita dari kelompok Bulan Kegelapan itu sudah bersiap dengan struktur segel penjebakan di wilayah sekitar pertarungannya dengan sesepuh Chun, wanita itu sudah memegang bendera hitam yang menjadi salah satu senjata andalannya.


"Jebakan Kematian - Segel Kegelapan..!."


Empat bendera kini sudah di lepas di empat titik sudut arena pertarungan mereka.


Alam seperti teriris dan terpisah setelah segel formasi penjebakan itu terpasang , terisolasi dari wilayah lainnya begitu segel penjebakan tersebut di aktifkan.


Menjebak dan mengurung sesepuh Chun di dalamnya bersama dua lawanya itu.


Area tersebut kini seperti dalam kuasa sang wanita berbaju hitam dari kelompok Bulan Kegelapan.


Hukum alam dari wilayah itu dalam Kuasa wanita itu.


"Mainkan..!." wanita paruh baya itu memutar tangannya, dengan gerakan itu alam sekitarnya seperti memadat, membuat tubuh sesepuh Chun makin terasa berat dengan tekanan kuat dari langit dan bumi.


Empat bendera yang ada di empat sudut seperti menyerap kekuatan alam sekitar nya untuk kemudian menyalurkan kekuatan itu kepada wanita tersebut, jadi wanita itu seperti mendapatkan kekuatan tambahan.


"Bahaya..!, kekuatan segel ini bisa membuatku terjebak dalam kekuatan lawan." sesepuh Chun mulai muram ketika menyadari itu.


Pria rekan dari wanita yang berasal kelompok Bulan Kegelapan sudah memutar pedang besarnya, angin serangan dari putaran itu mulai melesat lesat ke arah sesepuh Chun.


"Matilah kau dengan tenang..!." pria dengan badan penuh bulu dan rambut di kucir kuda itu menyeringai, merasakan kini lawan sudah sedikit lambat dan lemah terjebak dalam struktur segel rekannya.


"Jika aku mati, kalian juga harus mati di sini.." sesepuh Chun tersenyum miring, pria tua itu akhirnya mengaktifkan garis darah keturunan nya dan membakar inti tenaga sejati nya.


Dua tindakan yang mampu meningkatkan kekuatan nya menjadi berkali lipat, namun juga bisa membahayakan dirinya saat nanti masa aktif dan tenaga nya terkuras habis.


Saat ini badan sesepuh Chun terlihat bersinar dengan kekuatan yang meluap luap dari nya.


"Ayo kita lakukan..!," pria tua itu melesat maju menghantamkan tongkat kuning nya, menebas kearah dua lawan yang berdiri di hadapan nya.


Segel formasi Jebakan yang di pasang wanita dari kelompok Bulan Kegelapan kini sudah berkurang fungsi nya, tak lagi mempengaruhi nya, bahkan sambaran angin serangan ciptaan pria dengan rambut di kucir ekor kuda juga berkurang efeknya, semua berhasil di tepis oleh kekuatan yang di pancarkan dari sesepuh Chun.

__ADS_1


__________


Jangan lupa dukungannya


__ADS_2