Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
218. Aliansi Pertengahan


__ADS_3

Yuang Fengying kini sudah berada di lantai dua bangunan restoran itu.


Berbeda di lantai satu yang penuh sesak, lantai dua terlihat lengang hanya beberapa saja meja dan kursi yang terisi.


Yuang Fengying melirik ke lantai atas nya, tepatnya lantai tiga restoran itu yang terlihat sedikit berbeda, ada semacam simbol atau umbul umbul dengan corak tertentu.


Sayup sayup dari lantai paling atas itu terdengar alat musik di mainkan, itu berarti jika di lantai tersebut ada pengunjung nya dan terlihat ada acara.


Pasti harga sewa tempat nya lebih mahal, karena itu ruangan paling bagus di tempat itu.


Saat Yuang Fengying sudah duduk di lantai dua itu, beberapa rombongan terlihat melewati lantai dua dan naik ke lantai tiga, sebagian dari mereka di tinggal di lantai dua, jika menilik dari pakaiannya mereka terdiri dari beberapa kelompok.


"Ayo kita naik ke lantai tiga, itu tempat yang sudah di sewa aliansi ini, biarkan para pengikut di lantai ini."


"Baik."


Yuang Fengying menatap orang orang itu, namun tak ada dari rombongan itu yang memakai pakaian serupa dengan orang orang dari benua lain.


"Dari aliansi apa mereka?, kayaknya bukan aliansi dari benua lain jika melihat pakaiannya, apa mungkin aliansi tandingan?."


"Jika mereka dari aliansi Pelindung benua ini, kenapa tidak ada bendera yang menyatakan itu.?." Yuang Fengying masih ingat simbol yang di beritahukan oleh para petinggi dari perguruan Bukit Bayangan di mana remaja itu mempelajari semua pengetahuan.


Memang benar, mereka bukan berasal dari aliansi Pelindung maupun aliansi Penyerang dari benua lain, tapi merupakan kelompok tersendiri yang menanamkan Aliansi Pertengahan.


Aliansi Pertengahan adalah kelompok yang tak memihak para patriot pelindung benua atau yang biasa di sebut aliansi Pelindung.


Tapi juga tak bergabung dengan para penyerang dari benua lain atau biasa di sebut orang Aliansi Penyerang.


Kelompok ini bergerak demi kepentingan golongan nya sendiri tanpa mengindahkan kelompok lainnya, dan mereka menyebut dirinya Aliansi Pertengahan.


Aliansi Pertengahan di pelopori oleh beberapa kelompok dan keluarga kaya termasuk keluarga Xue.


**


Di lantai tiga.

__ADS_1


Terlihat beberapa rombongan sudah berdatangan di sana, bahkan tuan kota yang baru saja bepergian juga sudah ada di sana, untuk memimpin pertemuan tersebut.


Tuan kota yang bernama Xue Joliang Jian sudah duduk di meja yang di sediakan.


Duduk melingkar di kanan dan kiri tuan kota, beberapa pria dan wanita yang merupakan pemimpin dari berbagai kelompok yang menjadi anggota aliansi itu.


Selain ras manusia di sana juga ada dari ras lain, nampak nya aliansi ini juga berisi aneka ragam ras yang ada di Benua Tanah Tengah.


Ternyata sama halnya para manusia, ras non manusia juga saling berbeda pendapat dan kepentingan, mereka juga menyebar menuju ke kelompok yang menguntungkan pribadi masing masing.


Namun meski demikian tak ada satupun ras iblis di kelompok Pertengahan yang mengadakan pertemuan di tempat tersebut.


Hanya ada ras manusia kerdil dan ras raksasa yang ikut dalam kelompok itu.


**


"Aku akan naik ke tiga kalian tunggu di sini..!," sebuah rombongan kembali datang dan beberapa pemimpin nya terlihat naik ke lantai tiga, sementara anggota rombongan yang lain berada di lantai dua sehingga kini lantai dua pun mulai penuh.


Semua meja kini bahkan sudah terisi karena banyaknya orang yang terus berdatangan.


Kelompok yang baru datang itu mulai memasang wajah kecut nya.


Seorang pelayan datang dengan sedikit ketakutan wajahnya, kelompok yang sedang mencari meja adalah kelompok yang cukup di kenal di wilayah itu, bernama Paviliun Badai Abadi.


Paviliun Badai Abadi adalah kelompok menengah yang cukup memiliki nama, namun anehnya kelompok itu tak di usik oleh Aliansi Penyerang saat itu.


"Maaf tuan, kebetulan mejanya sudah habis, semua sudah terpakai oleh pelanggan yang lain." dengan gemetaran pelayan itu menyampaikan keadaan nya.


"Apa habis..?!," pria berbaju merah merah itu terlihat mengedarkan pandangannya.


Saat matanya melirik ke arah Yuang Fengying, senyum nya langsung mengembang.


"Bukankah di sana masih ada meja?." tunjuk pria itu ke arah Yuang Fengying yang masih tenang menikmati makanan nya.


"Eeh," pelayan itu tercekat, pasalnya Yuang Fengying tadi sudah membayar lebih dari yang seharusnya, dan itu pula yang di ketahui oleh pengelola restoran itu.

__ADS_1


"M..m-maaf...t.tuan, meja itu bahkan sudah di bayar beserta makanan nya." pelayan itu tergagap.


Pria berbaju merah merah itu mendengus, "Jika begitu aku akan ganti, berapa sepuluh koin emas bukan?."


Memang harga yang sebenarnya adalah sepuluh koin emas untuk sewa meja dan itu belum makanan nya.


Semula pelayan hanya menggertak Yuang Fengying namun ternyata remaja itu malah melemparkan uang lebih dari seratus koin emas.


Tanpa menunggu jawaban dari pelayan pria berbaju merah merah itu langsung menuju ke arah Yuang Fengying.


"Hei nak pergi lah, aku membutuh kan meja ini.., karena aku orang baik maka meja mu aku ganti lima koin emas, bagaimana?." pria itu menatap Yuang Fengying sambil menyeringai.


Yuang Fengying tak menggubris nya, masih terdiam dan masih terus menikmati makanannya.


"Dasar berandalan..!, cepat pergi, kami membutuhkan meja mu..!." pria lain di belakang pria berbaju merah merah berteriak marah.


"Aku ganti delapan koin emas..!," pria baju merah kembali menawarkan.


"Aku tak tertarik dengan koin penukar mu," dengan masih acuh tak acuh Yuang Fengying menyahut pria baju merah itu, dan kini beberapa orang yang sudah mengitari mejanya.


"Keparaat..!," teriak pria yang tadi di belakang pria berbaju merah.


Pria yang memanggul pedang besar itu kini sudah melepas bebaskan Aura Kekuatan nya, mencoba menekan remaja yang masih tetap makan dan tak menghiraukan orang orang yang mengerumuni nya.


"Nyari mati..!," Pria itu mengayunkan tangan kiri nya, karena tangan kanannya memanggul pedang besar.


SIUU...


Hempasan angin menerpa Yuang Fengying, orang orang mengira pasti remaja itu akan terlempar dari kursinya.


Namun semua terkejut saat menyadari remaja tersebut masih duduk tenang di kursinya, seakan kursi itu terpaku di tempat nya dan Lesatan angin itu menghilang entah kemana.


"Berandalan Kepa.." Belum selesai pria dengan pedang besar itu mengumpat, tubuhnya tiba tiba terlempar dengan kuat bahkan hingga keluar dari lantai dua bangunan itu.


"Apa yang terjadi..?!." semua terkejut.

__ADS_1


____________


Jangan lupa dukungannya..


__ADS_2