Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
63. Sungai di daerah Larangan


__ADS_3

Yuang Fengying berdiri makin ke tepi sungai, masih berfikir bagaimana caranya untuk menyeberangi sungai itu.


"Apa harus ku buat rakit?."


Yuang Fengying berfikir demikian, karena saat ini dia belum bisa terbang, hanya orang orang yang berada di ranah Awal Tinggi yang mulai bisa terbang itupun, hanya beberapa saat saja dan tak mungkin untuk menyebrangi lebar sungai.


Apalagi di atas permukaan sungai tersebut ada sebuah kekuatan yang menyapu selaras seiring dengan aliran sungai.


Kekuatan yang menyapu tersebut mampu melukai kulit orang orang yang memiliki fisik lemah.


Byaaar...!


Seekor Buaya iblis sisik pedang mencoba menyambar Yuang Fengying yang masih mengamati tempat tersebut.


Weeeng...!


Kecepatan sambaran yang mampu menyergap lawan terasa sangat menakutkan, angin serangan tersebut berpadu dengan mulut buaya yang di sana ada gigi gigi setajam pisau.


Yuang Fengying hanya tersenyum sinis, selama ini dirinya sangat waspada meski terkesan acuh tak acuh.


BRAAKK...!


Tinju Yuang Fengying menghantam rahang Buaya iblis sisik pedang.


Krasak...!


Rahang yang sangat kuat itu, patah terhantam pukulan Yuang Fengying, membuat binatang itu meraung kesakitan.


"GRoooaaarr..!."


Darah mengucur dari sela sela patahan rahang tersebut.


Buaya iblis sisik pedang makin marah, meski kini rahang nya terluka parah, namun dia masih menyerang dengan cakar cakarnya.


Bintang buas itu meloncat dari air dengan bantuan kibasan ekor nya, mencakar dengan dua kaki depannya, dengan kuku kuku tajamnya.


Serangan tersebut sangatlah kuat, bahkan lebih kuat dari serangan Nuang Ning kala itu.


Yuang Fengying mundur selangkah, menarik tangan kanannya lalu menghantam dengan kekuatan yang di tingkat kan.


"Tebasan Awan...!.'

__ADS_1


CRAASS..


Hantaman tersebut beradu dengan serangan Buaya iblis sisik pedang, dan kekuatan serangan Yuang Fengying mesin terus berlanjut saat kekuatan nya berhasil menerabas dua cakar lawan, kini serangan Yuang Fengying berhasil membelah dada Buaya tersebut.


Dada Buaya terkoyak cukup lebar, menampakan sebuah jantung yang terlihat berdegup, sebelum jantung itu juga terpotong oleh sisa aliran serangan Yuang Fengying.


Serangan Yuang Fengying sangat menakutkan, dengan level kultivasi di ranah Menengah 7, membuat serangan tangan kosong itu seperti bilah senjata mematikan.


Kekuatan kultivasi Yuang Fengying memang di ranah Menengah 7, namun sesungguhnya kekuatan aslinya setara dengan tingkatan ranah Awal Tinggi puncak.


Hal ini di karenakan terbagi nya seluruh kekuatan di tujuh ruang di Alam Jiwanya, sehingga yang terpancar adalah tingkatan tertinggi dari beberapa ruang tersebut.


Seandainya seluruh kekuatan yang terbagi di pusatkan maka akan tercipta sebuah kekuatan ranah Awal Tinggi puncak.


Yuang Fengying tersenyum, kini di wilayah tersebut ada banyak Binatang di tingkat Raja, ternyata untuk menjadi pemasok toko Pundi Emas tak sesulit yang di bayangkan.


"He..he... aku bisa memanen inti jiwa binatang di tempat ini."


Yuang Fengying menarik bangkai buaya, lalu menyimpan di dalam cincin penyimpanan.


Meski terlihat mudah bagi Yuang Fengying namun membunuh buaya iblis sisik pedang bukan pekerjaan gampang, bahkan seorang tetua di perguruan Bukit Bayangan belum tentu bisa melakukan hal itu tanpa terluka.


Kali ini Yuang Fengying sengaja menjentikkan jari nya di air, memancing binatang sungai tersebut mendekati nya, tujuannya tentu saja untuk menangkap dan membunuhnya.


Bahkan beberapa ikan tersebut sudah berhasil mengigit jari tangan Yuang Fengying yang terlambat menghindar karena asyik menggoda ikan tersebut.


Krataaak...!!


Gigi ikan setajam belati itu rompol saat mengigit jari tangan Yuang Fengying, jangan lupa anak tersebut memiliki kekuatan tubuh 'Manusia Penguasa' tubuh nya sekuat baja, bahkan dengan tubuh fisiknya saja Yuang Fengying mampu menghajar seseorang yang berada di tingkatan ranah Awal Tinggi.


"He..he..he...kalian terjebak dengan pancingan ku..!."


Crass..!.


Craash..! jleeb ...! jleeeb...!.


Yuang Fengying menusuk dengan jarinya yang memancarkan gelombang serangan seukuran jari, membelah dan menembus badan ikan piranha raksasa.


"He..he...he..aku panen.."


Yuang Fengying tertawa senang, sikapnya seperti seorang pemancing yang umpan kail-nya di tangkap banyak mangsa.

__ADS_1


Dua pasang mata menatap apa yang di lakukan oleh Yuang Fengying dengan sinis.


**


"Sialan..., kita sudah berputar putar di wilayah ini, namun belum berhasil juga mendapat kan petunjuk."


"Benar apa kata nona bulu emas, padahal aku berharap saat di pelelangan akan mendapatkan setitik harapan." Tuan Ji menyahut perkataan wanita cantik tersebut.


"Bagaimana jika kita datangi tiap perguruan yang ada di sini?." pria mata satu berkata dengan acuh tak acuh, seakan dia tak perduli dengan misi tugas yang di embannya.


"Cis, sudah gila kau..!, apa kau pikir jika di sini tak ada perguruan hebat?, kau tak tahu perguruan Petir Langit?."


"Bagaimana jika ternyata anak itu anggota kelompok tersebut?." wanita cantik itu menghardik.


"Ha..ha... sebagai anggota Bunga Kematian, aku tak memusingkan hal itu." pria mata satu masih tertawa penuh kesombongan.


Nona bulu emas melirik ke arah pria mata satu, " Kau belum tahu banyak wilayah ini, jangan bertingkah seolah kau yang terhebat, ingat perkataan ku ini, sebelum kepala mu terpisah dari badan mu."


Nampaknya pria mata satu memang bukan orang asli penduduk Benua Tanah Tengah, dia hanya pendatang yang berasal dari benua lain.


"Sudah.. sudah kita jangan ribut antar sesama, kita telusuri lagi pelan pelan target kita, siapa tahu kita beruntung dan menemukannya." tuan Ji menengahi pertengkaran tersebut.


Ketiga anggota Bunga Kematian memang menghadiri pelelangan di Pundi Emas, dan Nona bulu emas adalah wanita yang membeli inti jiwa binatang Raja Elang Bulu Api, karena wanita cantik tersebut memang memiliki unsur elemen api.


"Dengarkan perkataan tuan Ji, agar otak mu yang sekecil kacang bisa lebih cerdas lagi." Nona bulu emas mengakhiri perdebatan dengan kalimat yang menusuk.


Pria mata satu hanya mendengus tak menanggapi lagi, bagaimana pun dia menghormati tuan Ji yang merupakan pemimpin kelompok tersebut, meski tuan Ji tak pernah menyatakan itu.


Kali ini tiga orang itu berjalan menuju ke pusat kota Yinying, mereka masih mengamati semua yang ada, gambaran wajah di petunjuk yang dia pegang, masih tercetak dalam ingatan ketiga nya.


"Bagaimana jika kita ke rumah toko untuk kultivator, mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk dari sana."


Kelompok Bunga Kematian memang terkesan hati hati dalam melakukan misi, apalagi misi kali terlalu berbeda.


Jika pada misi sebelum sebelum nya, dia langsung membunuh targetnya tanpa perlu pertimbangan apapun, tapi di misi kali ini dia harus menangkap buruan jika bisa, dan itu jauh lebih susah di banding dengan membunuh dan membawa mayatnya.


Saat ini ketiganya sudah berada di depan toko Pundi Emas, dari arah berbeda datang seorang remaja dengan tampilan menawan juga tampak mendatangi tempat tersebut.


Sesaat ketiga orang itu tertegun, kemudian saling lirik antar sesama mereka, seakan memberikan isyarat tertentu.


__________

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya....


__ADS_2