Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
193. Tuan Penguasa


__ADS_3

"Warisan Dewa nya para Dewa?." Yuang Fengying mengulang perkataan Ying Zhi Dao atau tuan Ying ke sembilan belas.


Pria paruh baya itu mengangguk.


"Itu selentingan yang aku dengar dari orang orang di kelompok ku, mereka juga berasal dari benua lain, selain aku dan Wen Nie."


Yuang Fengying kembali mengangguk mencerna semua berita yang di dapatkan nya.


"Apakah warisan itu berupa sebuah senjata paman?."


"Bisa jadi, tapi aku sendiri tidak tahu."


Dua orang itu berbincang bincang lagi, makin lama perbincangan itu kian melebar kemana mana.


"Bagaimana dengan keluarga Ying paman?."


"Kita masih aman hingga saat ini, keluarga kita termasuk keluarga yang di segani, mereka orang orang dari benua lain masih memandang kita."


Yuang Fengying terlihat termenung dan sedikit terpaku.


"Apakah kau memikirkan keluarga asli mu nak?."


Yuang Fengying terperangah, tebakan Ying Zhi Dao memang tepat.


"Benar paman, aku memikirkan mereka, aku memikirkan semua yang ada di desa ku."


Ying Zhi Dao tersenyum, " Tenang saja, aku rasa orang orang ini tak akan menyentuh orang orang yang ada di desa mu, karena mereka pasti bukan sasaran yang tepat."


Yuang Fengying juga berfikir demikian, jika benar orang orang dari benua lain datang pasti sasaran nya kekuatan kekuatan bela diri yang di mungkinkan menyimpan sebuah senjata warisan para dewa, bukan?, jadi rakyat jelata pastinya aman.


"Baiklah.., karena kita bertemu disini, kita kembali ke rumah keluarga Ying, aku juga ingin melaporkan pengamatan ku selama di melanglang buana."


Yuang Fengying mengangguk setuju, keduanya kemudian melesat terbang menuju ke arah tertentu.


**


Pria dari benua lain yang aslinya bernama Li Chung sudah tiba di sebuah wilayah.


Tenaganya hampir habis terkuras, membakar inti tenaga sejati untuk terbang melarikan diri hampir ribuan kilometer jauhnya, memang butuh banyak energi.


Saat ini pria itu sudah tiba di sebuah wilayah, tepatnya di sebuah Pulau yang terpencil di tengah lautan yang sangat luas.

__ADS_1


"Aku Li Chung, kepala divisi di wilayah terpencil zona sembilan." pria itu mengangkat plakat jabatan yang di miliki nya.


Penjaga yang mengawasi gerbang di pulau itu memeriksa sesaat plakat itu, lalu menatap Li Chung dengan pandangan mencibir.


"Aku kehabisan tenaga, untuk bisa sampai ke tempat ini." Li Chung mendengus kesal merasa di sepelekan, karena saat ini kultivasi nya sudah menurun satu tingkatan dan aura kekuatan nya juga jelas menurun.


Penjaga tersebut mendengus dingin, "Masuk..!.'' teriaknya.


Li Chung kemudian masuk dengan sedikit kesal.


Pria itu terus masuk ke wilayah pulau tersebut, langkah nya langsung menuju ke arah bangunan yang mirip istana karena saking megahnya, mereka menyebutnya Istana Pengawas karena keberadaan wilayah tersebut adalah sebagai wilayah satelit yang mengawasi zona sembilan.


**


Saat ini Li Chung sudah berada di depan sebuah aula yang megah dari istana Pengawas.


Dia bersimpuh di depan kursi yang terlihat sangat megah dan besar.


Saat ini pemilik kursi tersebut belum hadir karena masih berada di suatu tempat.


Di lantai itu bukan hanya Li Chung yang bersimpuh, ada lebih dari lima orang yang berlaku demikian.


Mereka tak berani berbisik dan bercakap, meski saat ini kursi di depannya tak ada yang menduduki, hanya bekas tempat duduk nya saja sudah meninggalkan jejak aura yang mengerikan.


Satu jam sudah berlalu, tak ada yang berani bersuara meski sudah menunggu sekian lama, saat mereka mau masuk memang para penjaga sudah mengingatkan jika 'Tuan Penguasa' masih ada di tempat lain, dan mereka sanggup menunggu.


Satu jam..


Dua jam...


Tiga jam....


Saat orang orang mulai sedikit lelah menunggu, sebuah aura yang terlihat menakutkan bergerak dengan cepat ke arah tempat itu, aura ini mampu membuat udara serasa bergemerincing.


"Tuan Penguasa telah tiba...!." sebuah teriakan dari para penjaga mulai bersahut sahutan menyambut sang Pemimpin.


Dari jarak yang masih sangat jauh, sekitar tiga empat kilometer jauhnya terlihat sebuah tandu warna merah menyala dengan tirai putih yang memancarkan aura menakutkan terlihat bergerak tanpa adanya orang orang yang mendukung nya.


Jika biasanya sebuah tandu pasti di dukung atau di panggul beberapa orang, tidak dengan tandu ini.


Tandu ini melayang di kehampaan dengan aura Kekuatan yang menakutkan.

__ADS_1


"Tandu Abadi tuan Penguasa..!."


"Ya... itu memang tandu Abadi tuan Penguasa, berarti tuan ada di sana."


Di belakang tandu tersebut melayang beberapa armada terbang yang berbentuk seperti semacam perahu kecil dengan kapasitas beberapa orang saja.


Nampaknya perahu terbang itu berisi para pengawal dari tandu Abadi tuan Penguasa.


Meski jaraknya masih beberapa kilometer, namun aura yang terpancar dari sosok tersebut sudah sangat menakutkan.


Li Chung dan empat orang lainnya makin merunduk dan gemetaran.


"Tuan Penguasa sudah dalam jarak tiga kilometer..!." pengawal yang menatap kristal bening monitor terlihat memantau armada terbang selayaknya petugas bandara.


Tandu dan beberapa armada terbang melesat sangat cepat, bahkan hanya dalam beberapa tarikan nafas saja rombongan itu sudah tiba di atas gerbang pulau.


Setelah armada terbang para pengawal berhenti di sekitar gerbang, Tandu itu tetap melesat membelah keramaian dan menuju ke pusat wilayah tersebut diikuti beberapa bayangan yang terbang di sampingnya, salah satu yang terbang adalah pria tua dengan baju katun bersih yang pernah ke benua Tanah Tengah.


Saat ini tandu merah darah dengan aura yang mengerikan itu, tengah menuju ke aula istana Pengawas.


Saat tandu itu masih di udara, sebuah bayangan keluar dari dalamnya, langsung meloncat dari udara menuju ke aula istana Pengawas diikuti sosok sosok penjaga nya.


Tak berapa lama tandu semerah darah itu melesat menjadi seberkas cahaya dan masuk ke dalam tas penyimpanan laki laki yang di panggil tuan Penguasa.


Tap...


Tap...


Alam seperti bergetar saat laki laki yang di panggil Tuan Penguasa itu melangkahkan kakinya memasuki aula istana Pengawas diikuti empat sosok lainnya.


"Tuan Penguasa telah tiba..!," kembali penjaga pintu aula mengumumkan agar semua orang bersiap siap.


Li Chung dan empat orang lainnya langsung menundukkan kepalanya sedalam dalamnya.


Di tambah dengan aura kekuatan yang tersebar dari sosok itu, maka Li Chung dan yang lainnya makin merunduk dan tertekan.


Laki laki yang di sebut tuan Penguasa kemudian duduk di singgasana nya, aura kewibawaan langsung terpancar dari tubuh laki laki tersebut.


Semua merasa terintimidasi, aura kekuatan nya sungguh menakutkan.


Li Chung dan empat orang lainnya masih merunduk dengan badan gemetaran.

__ADS_1


____________


Jangan lupa dukungannya


__ADS_2