Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
217. Dalam Perburuan


__ADS_3

"Apa yang terjadi?." semua terkejut dan menghentikan gerakan nya, saat tiba tiba kristal yang sebelumnya bersinar dan bergerak kini berhenti di kehampaan.


"Mengapa sinyal nya meredup dan menghilang?, apakah berandalan itu pergi begitu cepat hingga jaraknya tak terjangkau alat ini..?."


Pria tua dan rombongannya terperanjat saat kristal yang bersinar dan menjadi petunjuk arah perburuan itu, cahaya nya meredup dan menghilang lalu kristal itu berhenti bergerak di udara.


Pria tua itu mengintip kristal penunjuk jalan tersebut dari balik tirai yang ada di tandu nya.


"Aneh mengapa bisa begini?, apa pergerakan bocah berandalan begitu cepatnya? Sehingga menjauh dan tak terdeteksi lagi?."


"Tapi jika demikian berarti pergerakannya sangat sangat cepat, dan itu tidak mungkin."


Menurut pria tua itu demikian, tapi memang nyatanya juga demikian, tak mungkin seseorang bisa bergerak super cepat menempuh beberapa puluh mil atau bahkan beberapa ratus mil dalam sekejap bukan?


Padahal Yuang Fengying mampu melakukan itu, tapi dengan artefak pendukung yakni Gelang Cahaya, namun kali ini tidak demikian..


Yuang Fengying tak terdeteksi lagi karena remaja itu memasuki alam Pagoda Dewa dan memasuki bangunan Pagoda itu, sehingga raga nya seperti lenyap dari alam ini.


**


"Ini sudah cukup," Yuang Fengying tertawa puas, mengamati tubuhnya dimana kini terasa ada lautan energi sejati berputar dan meluap luap dari sana.


Meski kultivasi nya masih sama di tingkatan Kuasa Sejati puncak, namun energi nya kini terpadat kan, dan dengan kekuatannya itu dia mampu mengalahkan Ping Chu dan pria kurus dalam sekali tebas.


Saat ini Yuang Fengying sudah keluar dari alam jiwa, alam pagoda dewa dan ruang Pagoda Dewa.


Remaja itu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah selatan dari benua itu.


Sebenarnya mungkin bisa saja remaja itu memanfaatkan Gelang Cahaya, namun kemunculannya yang masih acak membuat remaja itu masih meragu untuk menggunakannya, selain itu menggunakan artefak itu juga membutuhkan asupan banyak tenaga spiritual nya.


Lebih baik seperti ini bagi remaja itu, sambil melihat dan mempelajari bentang alam juga untuk mengetahui peristiwa apa saja yang telah terjadi selama ini.


Bergerak hampir lima puluhan kilometer, saat ini remaja itu tiba di sebuah wilayah yang mendekati perkotaan.


Itu salah satu kota besar dan masih berada di wilayah perbatasan antara bagian tengah dan bagian Utara, tepatnya wilayah perbatasan kerajaan Bumi Mulia dan Salju Abadi.


Berbeda dengan beberapa perguruan atau kelompok bela diri yang di hancurkan oleh Aliansi Penyerang, kota ini terlihat tak mengalami gangguan.


Kotanya masih ramai dan semua bangunan masih utuh.

__ADS_1


"Kenapa dahulu rombongan kami tak melewati jalur ini?." Yuang Fengying terheran-heran dengan apa yang di temui, pasalnya kota itu benar benar ramai dan tak tersentuh imbas peperangan.


Saat itu memang tetua Luang Yuang ternyata memang memilih jalur yang jauh dari keramaian.


"Berhenti..!, jika ingin memasuki kota ini harus membayar..!." beberapa penjaga yang semula tak terlihat dari arah luar kini sudah mendekati Yuang Fengying, dan itu mengagetkan remaja itu tentu nya.


"Berapa..?."


Para penjaga mengamati Yuang Fengying, "Apakah kau sendirian? Tak bersama orang yang lebih dewasa?."


"Ya, aku sendirian."


"O.ho..jika kau hanya sendiri maka cukup membayar lima koin perak saja." salah satu penjaga menatap dengan sedikit kasihan terhadap Yuang Fengying.


Meski wilayah tersebut masih aman tentram, namun berita tentang peperangan di benua Tanah Tengah sudah di ketahui banyak orang, dan mungkin para penjaga mengira Yuang Fengying korban peperangan dari wilayah lain.


"Baiklah," Yuang Fengying tersenyum, mengambil kantung uang dari tas penyimpanan nya lalu menyerahkan lima koin perak kepada para penjaga.


Hampir berbarengan dengan Yuang Fengying memasuki kota itu terlihat beberapa orang juga memasuki kota tersebut.


"Rombongan tuan kota datang, semua harap minggir..!." sebuah teriakan terdengar menggema dari para pengawal rombongan tersebut.


Sebuah kereta yang sangat mewah terlihat mulai melintasi gerbang kota itu.


Simbol kepala harimau adalah simbol dari keluarga Xue, satu dari tiga keluarga terbesar dan terkuat di benua itu.


(Note : di benua itu selain kekuatan kerajaan, perguruan dan kelompok hebat ada juga kekuatan hebat lain yakni dari tiga keluarga besar, mereka adalah keluarga Ying, Ming dan Xue.


Jika keluarga Ying kuat dalam bidang usaha dan ekonomi, keluarga Xue lebih kuat di bidang kemiliteran dan kekuasaan.


Keluarga Xue ini banyak yang berkecimpung di bidang kemiliteran dan Penguasa wilayah.)


"Minggir...minggir beri jalan kepada tuan kota." beberapa prajurit yang berlari di samping kiri dan kanannya kereta mengedarkan aura kekuatan spiritual nya, menekan orang orang yang masih berada di jalur kereta itu.


**


Kristal yang memancarkan cahaya kini kembali bersinar, menandakan seseorang yang di buru kembali terdeteksi.


"Aneh, apa yang terjadi tadi? Mengapa bisa tiba-tiba jejak jiwa tadi tak terdeteksi?."

__ADS_1


"Ya benar, seakan buruan kita lenyap karena bisa berpindah ke tempat lain." para pengikut pria tua berbaju katun bersih saling berbincang.


Saat ini rombongan itu kembali meneruskan perjalanan karena sinyal dari buruan sudah terlihat kembali.


"Percepat gerakan kalian, jangan sampai kita tertinggal jauh." pria tua baju katun terdengar memberikan perintah nya.


"Baik tuan."


Rombongan itu melesat cepat mengikuti artefak pendeteksi menuju arah yang di tuju oleh kristal yang bercahaya itu.


**


Yuang Fengying berjalan menuju ke arah tempat makan yang ada di kota itu.


Beberapa hari perjalanan remaja itu nampaknya merindukan masakan enak.


Restoran itu terlihat sangat penuh, nampak nya kota itu sungguh makmur, sehingga semua orang memiliki banyak uang untuk bersenang senang.


Melihat kedatangan Yuang Fengying seorang pelayan langsung menghampiri nya.


"Maaf, tempatnya sudah penuh," pelayan itu melihat Yuang Fengying dengan acuh tak acuh.


Yuang Fengying menatap restoran itu dan memang di lantai bawah itu sudah penuh.


"Apakah lantai atas juga penuh?.'' Remaja itu menatap ke lantai berikutnya.


"Memang nya kau sanggup membayar jika naik ke lantai atas?," pria pelayan itu terlihat tersenyum miring ke arah remaja itu.


Yuang Fengying menatap pelayan itu dan mulai terpancing amarah nya, "Bahkan membayar nyawa mu pun aku sanggup."


Pelayan itu juga mulai marah, "Memang nya kau memiliki uang seratus koin emas?." laki laki itu melipat kedua tangannya di dada.


"Apakah itu harga untuk nyawa mu?."


Pria itu berdecak, "Tentu saja bukan bodoh..!, itu biaya makan dan sewa di lantai dua." sahut nya kesal.


Yuang Fengying melempar sekantung koin emas, dan jumlah nya lebih dari seratus koin, itu membuat pelayan tersebut mengatupkan mulutnya.


"A..ah..kau memiliki uang juga rupanya," kata pelayan itu dengan wajah merah padam dan malu.

__ADS_1


__________


Jangan lupa dukungannya...


__ADS_2