Warisan Penguasa Alam

Warisan Penguasa Alam
234. Pertolongan sang Pemandu


__ADS_3

Sesungguhnya Yuang Fengying memang tidak bisa pergi dari Alam Peta Dimensi.


Saat ini Yuang Fengying sudah di tarik oleh sosok asap hitam berbentuk manusia ke dalam Pagoda Dewa.


Yuang Fengying memang belum menyadari jika saat dirinya memasuki gedung Pagoda Dewa, maka jiwa dan raganya akan bisa berpindah ke bangunan berlantai sembilan tersebut.


"Ck, dasar bocah bodoh.."Asap hitam yang kini telah berubah menjadi sosok bercahaya saat di dalam pagoda dewa itu bergumam sambil tersenyum. "Kau manusia terpilih, namun benar benar tak kau manfaat kan itu."


Yuang Fengying yang semula tenggelam dalam pemulihannya, kini membuka mata merasakan suasana yang berbeda, namun cukup familiar.


"Hah, aku berpindah ke dalam gedung pagoda?."


"Mengapa bisa demikian?."


Remaja itu masih bertanya tanya dengan kebingungan, namun saat itulah dirinya baru merasakan ada aura keberadaan sosok lain di dalam gedung tersebut.


Yakni sosok bercahaya yang terlihat melayang sedikit jauh darinya.


"Hah..?, s- siapa kamu?, mengapa kamu juga bisa berada di alam ini?." dengan sedikit gemetaran Yuang Fengying bertanya.


Sosok itu tertawa, "Ha..ha.. Tak usah keget begitu, kita sudah pernah bertemu beberapa kali meski aku tidak dalam wujud seperti ini."


"Bertemu?, kita..?."


"Ya.., kita adalah sosok sosok yang di pilih untuk saling melengkapi?."


Yuang Fengying semakin bingung dengan perkataan sosok bercahaya tersebut.


"Di pilih? di pilih siapa? dan untuk apa?, mengapa aku yang mesti di pilih?."


Sosok bercahaya itu tampak menggelengkan kepalanya, sedikit bingung untuk menjelaskan harus memulai darimana, namun kecerewetan remaja di depannya sungguh tak dia duga.


"Nanti perlahan kau akan tahu itu, tapi yang penting untuk saat ini, segeralah pulihkan dirimu."


Yuang Fengying tergagap menyadari itu, "Eh.. benar juga."


"Saat ini kau terjebak dalam artefak dimensi penjebakan lawan, jika kekuatan mu masih sama seperti ini mustahil kau akan bisa lolos."


"Tingkatkan dirimu setidaknya hingga beralih ke ranah Berdaulat, maka kau baru bisa bebas."


"Ranah Berdaulat?." Yuang Fengying kembali teringat jika 'Kuasa Sejati' bukanlah tingkatan tertinggi, masih ada tingkatan tingkatan lain dalam perjalanan kultivasi seseorang.

__ADS_1


Tapi menuju ke ranah Berdaulat adalah sesuatu yang sulit di capai, bahkan di benua ini tak pernah ada yang mengalami nya dalam peningkatan ini.


"Ya ranah Berdaulat, jika kau mampu meningkatkan dirimu ke ranah ini dan kau mampu membunuh pemilik dari peta Dimensi ini maka kau baru bisa bebas."


"Aah begitu rupanya." Yuang Fengying mulai sedikit memahami masalah yang dihadapi.


"Tapi aku belum pernah tahu bagaimana mencapai ranah itu, ini bukan sekedar naik tingkatan atau naik level."


Benar, apa yang di katakan remaja tersebut adalah kebenaran, naik golongan atau berpindah dari bagian ranah kultivasi, kesulitan nya jelas berkali lipat dari naik tingkatan atau level.


Jika seseorang yang gagal naik tingkatan saja bisa terluka dan bahkan akan mandek kultivasi nya, maka apa yang terjadi jika gagal dalam berpindah bagian ranah kultivasi?, tentu saja kematian.


Badan seseorang yang gagal berpindah kultivasi akan hancur bahkan jiwanya akan terluka dan tak bisa di pulihkan.


"Untuk itulah aku ada di sini, aku akan membimbingmu berpindah bagian ranah kultivasi." sosok cahaya tersebut berkata dengan tenang.


"Membimbing ku?."


"Ya.., kita memang di pilih untuk masing masing peran ini."


Yuang Fengying mengangguk angguk, entah mengerti apa tidak sesungguhnya.


Yuang Fengying masih gamang, remaja itu menatap sosok bercahaya dengan tak percaya.


"Sebelum semua di mulai, lebih baik kau keluarkan pohon suci dan juga kucing aneh dari ruang jiwa mu, karena mereka akan terkena imbas saat kau berlatih nanti."


Yuang Fengying terkejut dengan apa yang di ketahui sosok bercahaya itu.


"Ha.. ha.. Tak usah menatap ku begitu, aku tahu semua, bahkan apa yang ada dalam pikiran mu."


Remaja itu kini terdiam, banyak yang di pikirkan nya untuk saat ini, tentang peningkatan kekuatan, permasalahan yang harus di hadapi dan melawan pria tua, tentang lantai dua bangunan ini, dan banyak lainnya.


"Baik aku akan mengeluarkan pohon suci dan Boa Moo, semoga mereka bisa berkembang juga di alam ini."


Yuang Fengying lalu melempar keduanya keluar dari ruang jiwa nya, menempatkan keduanya di alam pagoda dewa.


**


"Kemana bajingan kecil itu..!, tak mungkin keluar dari Peta Dimensi, kan?." Pria itu merentangkan tangannya, seperti bersatu dengan lingkungan dan merasakan alam itu.


"Huh, auranya benar benar tak ada, bajingaan keparaat..!." laki laki itu mengumpat kesal, lalu berjalan menghampiri monster monsternya yang terluka.

__ADS_1


"Sialan dasar tak berguna..!," meski kesal pria itu tetap menghampiri Zou, Zing dan Zang untuk memberikan beberapa pil ke mulut mulut bawahannya tersebut.


Setelah pil masuk ke mulut para bawahan, wajah mereka mulai terlihat memerah, itu menandakan jika mereka sudah tertolong meski badannya masih lemah dan energi kehidupan nya tak lebih dari lima puluh persen.


"Ck, kuat juga berandalan itu, bukankah kultivasi nya hanya di ranah alam dasar?."


Ya, bagi orang orang yang berasal dari tempat lain, melihat kekuatan di wilayah tersebut sebagai kekuatan dasar.


"Hm, apakah bocah itu memiliki sesuatu yang aku tidak tahu?, Mengapa dia bisa bertahan di alam penjebakan ku ini?."


Pria itu kembali merentangkan kedua tangannya, membalik tangan itu untuk makin merasakan sesuatu di alam itu.


Pria itu terlihat muram lalu menggelengkan kepalanya.


"Benar benar hilang aura nya, ini aneh?, memangnya kemana dia?." pria tersebut berjongkok menempelkan tangannya ke tanah untuk merasakan mungkin saja buronan nya bersembunyi di dalam tanah atau air di tempat itu, namun juga tak bisa dia rasakan.


"Huh, baiklah mungkin kali ini keberuntungan ada di pihak mu bocah." pria itu mendengus pelan, kemudian kembali pria itu membuka telapak tangan nya, dari telapak itu keluar beberapa biji bijian yang bersinar.


"Tumbuh lah dan perbaiki hutan alam ini." kata pria itu sambil melempar biji bijian itu di tanah.


Weeng...


Begitu biji itu di tebar, dalam waktu sangat cepat biji itu menetas, lalu tumbuh dan menjalar memenuhi tempat itu dengan gerakan perlahan namun pasti.


Zou mulai membuka matanya, " T-tuan...t-terima kasih..." ucapnya dengan lemah.


"Hmm," pria tua berbaju katun itu hanya mendengus dan mengangguk.


"A..apakah bajingan itu sudah tuan takluk kan?." dengan masih lemah namun penuh penasaran Zou bertanya di mana keberadaan lawannya tadi.


"Belum," Pria tua itu menggeleng pelan.


Zou terkejut, mengapa berandalan yang mengacau tempat itu belum di bereskan.


"Apakah dia mati?, sehingga tak sempat di kontrak jiwanya untuk menjadi budak tuan?."


Pria tua itu kembali menggeleng kan kepala.


__________


Jangan lupa dukungannya...

__ADS_1


__ADS_2